
Iqbal menatap tidak percaya dengan Aditama, namun dia sendiri belum tahu pasti masalah dari mereka namun Iqbal meyakini tidak mungkin Rania yang salah.
"lantas kenapa kamu tiba-tiba memukul aku? Jika sekarang kamu bukan lagi suaminya!" ujar Iqbal.
"Karena aku masih cinta sama Rania," sahut Aditama.
"Cih," Iqbal mendecih," Cinta macam apa yang kamu berikan jika kamu justru memilih istri kedua," sindir Iqbal, sorot matannya mulai memerah dia tidak terima perempuan yang di cintainya di sakiti.
"Itu bukan urusan mu!" tekan Aditama dia maju satu langkah, Iqbla sedikit waspada.
"Jika kamu merasakan cemburu dengan jalannya Rania dengan ku, lalu apa kabarnnya Rania yang suaminya memiliki perempuan lain?" ujar Iqbal sambil memutari tubuh Aditama. Walau usianya lebih muda tapi Iqbal berani melawan.
"Kamu cinta dia?" tanya Aditama membuat Iqbal berhenti tepat di depan Aditama. Keduanya kini saling bertatapan dengan sengit.
"Iya aku sangat mencintainya bahkan sejak kami di bangku SMA, jika kamu tidak mampu membahagiakan Rania maka aku yang akan membuat dia bahagia," tekan Iqbal dia melangkah meningglkan Aditama yang mematung.
"Satu lagi, jika kamu lebih percaya istri baru mu kamu terlalu bodoh dalam menilai, bukan kah tidak ada asap kalau tidak ada api!" lanjut Iqbal sedikit menoleh lalu kembali melangkah dengan pasti.
Aditama tercengang dengan ucapan Iqbal dia lalu mengingat bagai mana Khansa di tampar oleh Rania lalu kata-kata Rania yang terahir kalinya dia mengucapkan kata yang menjelekan Khansa.
Aditama baru menyadari selama ini Rania tidak pernah sekasar ini, apa lagi main fisik. Terus luka di pundak Adriana?.
Aditama mulai berfikir, benar, selama sepuluh tahun Rania tidak pernah menunjukan sifat arogan, namun semenjak kedatangan Khansa baru Rania bersifat seperti itu.
Aditama melangkah sambil menghubungi Rania namun tidak di angkat, kemudian dia masukkan kembali ponsel itu. Langkahnya sangat cepat jika dia tidak ingat akan meeting mungkin sudah pulang untuk menemui Rania. Walau Aditama sendiri tidak tahu keberadaan Rania.
Sementara itu Khansa yang berhasil memisahkan Rania dan Aditama, mengundang sang ibu ke rumahnya mereka sangat bahagia apalagi sudah tidak ada penghalang bahkan si Mbok sudh tidak bekerja di sana.
"Kamu hebat Khansa, jadi kapan Mama tinggal di sini?" tanya sang Mama.
"Tunggu mas Adit mengizinkan jika sekarang terlalu riskan takut nanti mas Adit curiga," sahut Khansa sambil meneguk minum.
"Baiklah, Mama percaya sama kamu," ujar Mamanya Khansa dengan senyum kemenangan. Sang Mama merasa bangga dengan putrinya.
Mereka merayakn di rumah Aditama, Khansa bener-bener merasa berkuasa sekarang.
Sementara itu Iqbal berusaha mencari tahu Rania tapi dia sendiri bingung karena tidak punya nomer Rania, lalu dia iseng mencari di sosial media nama Rania Izzara tapi tidak ketemu.
"Kamu di mana Rania," ucap Iqbal sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
Ada rasa tak tentu di hati Iqbal satu sisi dia kasihan merasa iba, namun di sisi lain dia seperti memiliki kesempatan untuk memasuki hati Rania.
Iqbal berfikir sejenak dengan tatapan menerawang jauh.
"Apa dia balik ke bandung?" gumam Iqbal seorang diri," tapi gak mungkin dia secepat itu pulang,"
Iqbal menyandarkan punggungnya di kursi dengan tangan ia lipat diperut.
"Tidak bisa di biarkan," Iqbal lalu bangkit dia keluar.
Iqbal mengndarai mobilnya walau tanpa tujuan mencari Rania kemana, tapi dia terus mengikuti di mana waktu pertama kali bertemu, berharap dia bisa bertemu di sana.
Iqbal melihat sekeliling rasanya percuma jika dia mencari di sana, Iqbal lalu kembali membuka pintu mobilnya, namun dari kejauhan terlihat seperti Rania yang akan masuk ke pusat perbelanjaan.
Iqbal langsung menutup kembali pintu mobilnya lalu dia sedikit berlari mengejar wanita yang mirip dengan Rania.
"Rania!!" teriak Iqbal namun seseorang yang terlihat mirip itu tidak menoleh sama sekali, hingga ahirnya Iqbal menyentuh pundak yang mirip Rania itu.
Iqbal terperanjat ketika yang ia duga adalah orang yang dia cari tapi ternyata bukan.
"Maaf, aku kira anda orang yang saya cari," ujar Iqbal sambil menarik kedua sudut bibirnya.
Iqbal menoleh namun terlihat gerombolan yang terdiri dari wanita paruh baya dan dua orang wanita dewasa serta dua anak kecil.
Iqbal mempertajam penglihatannya dia melangkah perlahan karena dia takut salah orang lagi.
"Rania," panggil Iqbal ketika sudah pasti yang di lihatnya adalah Rania.
Mereka menoleh dan berhenti terlihat Iqbal sedikit berlari.
"Aku cari kamu Rania," ujar Iqbal sedikit terengah-engah.
"Ada apa?" tanya Rania menatap Iqbal yang terlihat ada luka lebab di sudut bibirnya.
Iqbal menatap semua orang dia tidak mau mereka tahu apa yang akan di sampaikannya.
Bak seolah mengerti tatapan dari Iqbal, Liza pun mengajak mereka untuk berjalan terlebih dahulu.
"Kita tunggu, di sana yuk," tunjuk Liza di mana di situ ada tempat duduk buat istirahat.
__ADS_1
Mereka pun melangkah kini tinggal Iqbal dan Rania, tatapan Rania menatap ke arah Liza namun Iqbal menatap Rania dari samping.
"Rania aku tahu kamu sedang ada masalah," ucap Iqbal pada ahirnya.
"Sok tahu," sahut Rania sambil tertawa dia berusah menyembunyikan masalah itu.
"Jangan bohong Rania, aku di hajar sama suami kamu bukan tepatnya mantan suami kamu," ralat Iqbal membuat Rania menoleh.
"Izinkan aku menjelaskannya Rania tapi tidak di sini," ujar Iqbal lalu Rania kembali menatap si Mbok dan Liza yang terlihat kepansaan walau mereka di atasnnya menggunakan payung besar tapi trik matahari siang ini sangatlah panas.
"Baiklah, kamu ikut aku, kita ke rumah si Mbok," jawab Rania," aku dan yang lain akan menggunakan taxi aku takut nanti jadi fitnah lagi,"
Iqbal menganggukan kepalanya kini keduanya melangkah namun Rania ke arah si Mbok, Iqbal ke arah mobilnya berada.
Beda Iqbal beda Aditama, justru Aditama mengunjungi sekolahan Adriana walau sudah nampak sepi tapi masih terlihat guru-guru masih ada di dalam.
Satpam yang berjaga membukakan gerbang itu lalu Aditama turun dia menyapa guru yang papasan dengannya.
Lalu Aditama mengetuk ruangan di mana di situ ruangan guru. Mereka yang di sana tersenyum.
"Mari masuk pak," ujar salah seorang guru.
"Ada yanng bisa saya bantu?" kembai guru itu bertanaya ketika mereka sudah duduk.
"Saya mau tanya apa tadi Adriana sekolah?" tanya Aditama sedikit Ragu.
"Iya pak, kebetulan saya wali muridnya,"
Aditama menghela napasnya ada keraguan untuk menanyakan sama siapa Adriana kesini tujuan dia tidak ada kaitan dengan sekolah.
Wali murid Adriana menduga keduannya ada masalah hingga sang bapak menanyakan hal itu.
"Tapi Adriana pamitan bahwa dia akan pindah dari sekolah ini,"
"Apa?" pekik Aditama sambil berdiri.
Bu guru itu sedikit kaget dengan tingkah Aditama, dia berusaha untuk tenang.
Namun justru Aditama langsung pergi dia lupa awal niat ke sini.
__ADS_1