Tiba-Tiba Membawa Madu

Tiba-Tiba Membawa Madu
18. Permintaan Rania.


__ADS_3

Rania tersenyum lalu dia menatap Khansa yang sedang menahan gejolak emosinya.


"Kamu hanya ingin mengancurkan pernikahan kami kan? Jujur saja Rania, karena emang sebenarnya kamu busuk tidak mau melihat kami bahagia!"ujar Khansa dengan napas menggebu padahal Rania terlihat sangat santai tanpa ada guratan emosi di wajahnya.


"Menghancurkan? Bicara soal menghancurkan bukankah kamu yang mengancurkan pernikahan aku dan mas Adit?" tekan Rania.


Iqbal menoleh sama Rania lalu sama Aditama yang diam saja terlihat dia seperti enggan mau tahu yang sebenarnya.


"Rania, apa ini cara kamu agar kita rujuk?" ujar Aditama menatap mantan istrinya itu dengan tatapan yang sulit di artikan," apa dengan cara kamu seperti ini biar aku perhatian?"


Rania menarik napas berat lalu menatap sinis mantan sumainnya itu sungguh ucapan seperti itu tidak benar lalu kenapa justru dia sendiri yang datang kesini mengacaukan untuk pergi ke Bandung.


"Bukan kah kalian sendiri yang datang terlebih dahulu? Kenapa kamu berfikir ke sana mas? Aku hanya ingin menunjukan kebenaran, agar terungkap siapa Khansa sebenarnya," Rania menoleh sama Khansa sambil menyunggikan senyumannya.


Sementara si Mbok, Liza , hanya menyaksikan empat orang itu bukan tidak peduli sama Rania hanya saja jika mereka ikut campur suasana akan semakin runyam.


Adriana berada di samping Rania dia menggengan kuat tangan sang Mama, seolah dia gak mau lepas.


"Ini bukan masalah tentang rujuk, aku hanya mau menyampaikan kebenaran yang ada. Biar kamu tahu mantan istri kamu ini tidak salah setidaknnya aku pulang tidak dalam keadaan buruk di mata kamu," tekan Rania lalu dia mengambil ponsel yang ada di tangan Iqbal.


Kini Rania memutar Video itu terdengar suara bentakan dan tangisan yang menjadi satu, teriakan Khansa serta tangsian Adriana sangat jelas terdengar dan suara si Mbok yang mencoba untuk melerai namun justru dia yang terjatuh karena di dorong oleh Khansa. Hingga ahirnya Rania datang dan menampar Khansa semua terekam walau rekama Video itu tidak pas karena arah kamera yang tidak tepat mengenai mereka, hanya suara dan tangisan yang terdengar jelas.


Sebelum kejadian si Mbok sempet merekam namun dengan posisi yang tidak pas karena si Mbok buru-buru ponsel itu di taruh di atas meja di mana si mbok sandarkan ke fas bunga dan sediki tersembunyi agar Khansa tidak curiga.


Setelah memutar Video itu Aditama menatap nyalang ke arah Khansa membuat Khansa ketakutan dia mundur satu langkah.


"Mas, itu bohong itu hanya rekayasa mereka," elak Khansa.


Aditama meraih tangan khansa dia genggam kuat-kuat membuat Khansa meringis.


"Kamu tahu apa yang pernah aku katakan sama kamu? Bahwa bukan Rania saja yang akan aku usir siapa saja yang melakukan kesalahan pasti akan di perlakukan yang sama!" tekan Aditama sambil mendekatkan wajahnya ke arah Khansa membuat Khansa memejamkan matanya karena takut.


Aditama melepas genggaman itu dengan sedikit mengayunkan tangan Khansa membuat Khansa meringis sambil memegang peregelangan tangannya yang terasa sakit akibat genggaman tangan Aditama yang kuat.

__ADS_1


Aditama melangkah mendekati Rania kini keduannya saling bertatapan.


"Maaf kan mas, sayang," lirih Aditama membuat Rania menarik napasnya sementara Iqbal membuang pandangannya, dia merasakan cemburu ketika Aditama bilang sayang.


"Sudah percaya sekarang?" ujar Rania menoleh sama Khansa yang terlihat pucat.


Khansa mendekat lalu dia memohon sama Aditama sambil bertekuk lutut.


"Mas aku minta maaf, aku khilaf waktu itu," isak Khansa sambil memegangi kaki Aditama.


"Uruslah Khansa biar bagai mana pun dia istri kamu satu-satunya," kata Rania sambil membalikan badanya.


"Tunggu, Rania," cegah Aditama sambil tangannya memegang pundak Rania sebelah kanan.


Rania menatap sekilas tangan yang ada di pundaknya lalu dia membalikan badannya dan di saat itu Aditama membangunkan Khansa.


"Rania aku benar-benar menyesal, apa kita bisa rujuk kembali?"


Iqbal yang mendengar ucapan Aditama berdecih tidak habis pikir dengan laki-laki yang ada di hadapnnya.


Iqbal yang mendengar penuturan Rania menoleh, tidak percaya sahabatnya bicara seperti itu.


Khansa terbelakak mendengar permintaan Rania yang bagi dia sangat lah takut jika nanti Aditama menceraikannya.


Sementara Liza mengulas senyumannya dia salut dengan sang mantan majikan yang terlihat santai namun bisa memporak porandakan musuh.


"Bu Rania hebat, ya bu," bisik Liza sama si Mbok yang sudah ada di dekatnya.


"Iya, ibu saja salut sama si Nduk, dia tidak lagi menangis," jawab Si mbok.


Jika dulu Rania sering menangis dan terus Khansa yang menang, kali ini Rania tunjukan siapa Khansa sebenarnya dia tidak ingin namanya buruk di mata mantan suaminya.


Aditama menoleh sama Khansa yang sudah terisak sambil memegangi perutnya Aditama menarik napas berat sebuah keputusan yang menurut Aditma sangat berat.

__ADS_1


"Apa tidak ada pilihan lain selain itu?"


"Tidak ada," jawab Rania pasti.


"Mas, apa kamu akan tega meninggalkan aku sementara aku sedang mengandung anak kamu," ujar Khansa sambil menghapus air matanya dengan kasar.


"Apa kamu puas hah! Telah menghancurkan rumah tangga aku!" bentak Khansa sambil menatap Rania tajam.


"Waw, hebat anda bicara soal mengancurkan rumah taangga, lantas apa kamu sendiri tidak menghancurkan rumah tangga orang!" teriak Liza yang tidak mau melihat Rania di bentak oleh Khansa.


"Diam kamu! Tidak usah ikut campur!" sahut Khansa yang tak kalah tinggi suaranya sambil menunjuk ke arah Liza.


"Mas, maaf kan aku atas semuanya, aku janji akan berubah," Khansa memohon dengan mengatupkan kedua tangannya di dada, lalu menoleh sama Rania dengan tatapan tajam. Mereka saling menatap cukup lama.


"Disaat seperti ini kamu masih bersandiwara Khansa, sorot mata kamu tidak ada penyesalan di dalamnya, tangisan kamu hanya takut kehilangan Aditama," ucap Rania dalam hati.


"Lihat Rania suatu saat nanti aku akan membalas kamu," kata Khansa dalam hati.


"Sepertinya tidak ada jawaban yang memungkinkan baiknya kita pulang sekarang," ujar Iqbal dia gak mau jika Aditma menuruti apa yang Rania katakan. Rania mengangguk lalu Iqbal menggenggam tangan Adriana dia tersemyum ke arah si mbok dan Liza serta Mahya, senyum tanda pamitan.


"Rania," panggil Aditama membuat Rania yang sedang melangkah berhenti.


Aditama sendiri dia bingung satu sisi Khansa sedang hamil satu sisi dia juga tidak mau kehilangan Rania jika dia boleh meminta mereka tetap tinggal di dalam satu rumah tanpa harus ada yang pergi.


"Mas, aku mohon maaf kan aku," rengek Khansa dia tidak mau menjadi janda apa lagi sedang hamil, Aditama memanggil Rania membuat Khansa takut akan menceraikan dia saat ini juga.


"Diam Khansa!" bentak Aditama.


Khansa yang di bentak seperti itu terus meneteskan air mata yang terus membanjiri pipinya, dia tidak mau dan tidak siap jika harus kehilangan Aditama, dia bisa gila jika Aditama jauh darinya, rasa cinta yang terlalu dalam hingga tidak bisa berfikir jernih seakan dunianya akan berhenti jika Sang kekasih menjauh.


Pandangan matanya mulai meremang tubuh Khansa seolah tidak kuat hingga ahirnya Khansa terjatuh pingsan.


"Khansa!" pekik Aditama yang langsung membawa Khansa ke pelukannya.

__ADS_1


Rania menarik napas berat dan panjang lalu melangkah begitu saja sebelum ahirnya dia pamitan lagi sama si Mbok dan Liza serta ucapan terimakasih sebelum ahirnya dia benar-benar masuk ke mobil dan meninggalkan halaman rumah si Mbok.


__ADS_2