Tiba-Tiba Membawa Madu

Tiba-Tiba Membawa Madu
7. Salah Faham.


__ADS_3

"Tak perlu bukti, karena belakangan ini kamu juga berubah sama Mas, kamu sering marah-marah gak jelas, sosok Rania yang dulu perlahan memudar," ucap Adtiama sambil menepikan mobilnya.


"Tidak kah Mas menyadari bahwa perubahan Aku penyebabnya ada di Mas, akar masalahnya kamu," timpal Rania.


"Jadi kamu menyelahkan mas?"


"Ya,"


Aditama membuang pandangannya dia pegang kemudi itu dengan eratnya, rahangnya mengeras dia ingin marah namun dia mencoba untuk tidak meluapkan emosinya sama Rania terlebih ini sedang di jalan.


Rania kemudian turun dari mobilnya namun Aditama masih bergeming bahkan pandangannya pun masih sama dia tidak menoleh sama sekali.


Rania menarik napas berat lalu dia menoleh berharap Aditama mengejarnya dan meminta maaf setidaknya membuka kaca jendela namun harapnya tidak sesuai, Aditama masih diam.


Rania menyeka sudut matanya, lalu dia melangkah dengan perasaan berkecamuk.


Aditama lalu membuka kaca mobilnya dan menatap punggu Rania yang semakin menjauh.


"Maaf kan aku Rania," Lirih Aditama lalu dia tutup kembali kaca mobilnya dan kembali melanjukan mobilnya, namun pikirannya dia ke dua wanita, Aditama sendiri enggan menyakiti Rania namun perasaan buat Khansa sudah tumbuh di hatinya.


Rania sendiri mulai memilih apa saja yang harus dia beli dari mulai keperluan dapur hingga kebutuhan pribadinya dan Adriana.


Namun ketika dia sedang asik memilih sebuah suara memanggil namanya.


"Rania Izzara?" ucap seseorang membuat Rania menoleh dan sedikit mengerutkan alisnya.


"Iya, maaf siapa ya?" Rania balik bertanya karena dia ingat-ingat lupa akan sosok seseorang yang ada di hadapnnya.


"Ya ampun kamu sudah lupa sama aku? Aku temen sekolah mu dulu.," sahut seseorang itu.


"Tunggu! Kamu iqbal bukan sih?" tanya Rania memastikan.


"Ya, kamu benar aku Iqbal," jawab Iqbal sambil tersenyum.


"Ya ampun, Iqbal yang dulu sering di juluki si black hahaha," tawa Rania membuat Iqbal menatapnnya dengan tak berkedip.


"Dari dulu kamu gak berubah Rania," gumam Iqbal dalam hati.


"Tapi ko sekarang pangling lihatnya kulit hitamnnya sudah tidak ada," lanjut Rania di tengah tertawanya.


"Issh jangan salah aku juga bisa putih, buktinya sekarang," canda Iqbal dengan membusungkan dadanya dengan kedua tangan di taruh di pinggang seolah raja yang telah memenangkan pertaruangn dan lagi Rania di buat ketawa geli oleh Iqbal dengan melihat ekspresi wajahnya.


Rania sedikit melupakan masalahnya dengan Aditama pertemuan dengan Iqbal membuat dia sedikit terhibur.


Rania kembali melanjutkan langkahnya dan di ikuti oleh Iqbal.


"Ko kamu bisa ada di sini?" tanya Rania yang tangannya hendak mengambil mentega di rak paling atas namun tidak sampai. Iqbal pun langsung mengambilnya," terimakasih,"


"Aku kerja di dekat kawasan sini, gak nyaka aku bakalan ketemu kamu di sini," ujar Iqbal yang terus mengikuti Rania kemanapun melangkah.


Mereka dulu satu kelas dan sangat akrab, bahkan sempat di gosipkan pacaran dengan temen sekolahannya sewaktu SMA, namun Rania menganggap Iqbal adalah teman terbaiknya berbeda dengan Iqbal yang menaruh rasa sama Rania dan sampai sekarang Rania tidak tahu Iqbal ada rasa karena Iqbal lebih memilih diam. Iqbal takut jika dia mengungkapaknya justru persahabtan dia akan hancur hanya karena sebuah rasa.

__ADS_1


"Suami mu ke mana gak ikut?" tanya Iqbal pada ahirnya.


"Mas Aditama lagi kerja dia hanya bisa mengantarkan aku tanpa bisa menemani," balas Rania membuat Iqbal menganggukan kepalanya.


Setelah di rasa cukup Rania pun mendorong trolinya ke kasir untuk melakukan pembayaran, di saat Rania ngantri Iqbal menunggu Rania di luar.


"Kenpa harua di pertemuakn lagi dengan Rania, tuhan! padahal aku susah payah untuk melupalan dia," ucap Iqbal seorang diri sambil menarik rambutnya.


Rania sudah selesai dan dengan sigap Iqbal membatu Rania membawakan barang belanjaannya.


"Mau nunggu taxi apa pesan di aplikasi online?" tanya Iqbla sambil menenteng barang belanjaannya.


"taxi aja kali ya, soapnya banyak taxsi yang lewat juga," balas Rania yang terlihat keberatan membawa belanjaannya.


"Biar aku yang bawa, kamu cukup bawa yang itu saja," ucap Iqbal sambil menyisakan belanjaan yang ringan.


"Terimakasih, kamu dari dulu emang gak berubah," kata Rania. Iqbal hanya tersenyum kenanggapi ucapan Rania.


"Dan perasaan aku juga gak berubah untuk kamu," ucap Iqbal dalam hati.


Terlihat taxi sedang melaju dengan kecepatan sedang Iqbal melambaikan tangan kanannya dan taxi itu mendekati Rania dan Iqbal.


Iqbal dengan sigap langsung membawa belanjaan itu kedalam mobil.


"Terima kasih ya, "ucap Rania sekali lagi.


"Iya, kaya sama siapa saja bilang makasih" sahut Iqbal.


Rania mengehela napasnya dia gak nyaka akan bertemu Iqbal di sini, setelah beberapa tahun lamanya semenjak dia menikah, di tambah perbedaan kota yang membuat mereka gak pernah bertemu. Rania yang tinggal di jakarta ikut suaminya, sementara Iqbal tinggal di bandung.


Tak terasa taxi sudah samapi di depan rumah, Rania membuka gerbangnya sambil mengangkat barang belanjaannya, di saat itu si Mbol ikut membantu membawa belanjaan ke dalam rumah.


Suasana rumah kini tidak lagi sama ketika belum ada Khansa. Rania menarik napas berat sebelum ahirnya dia masuk. Bukan tanpa alasan melainkan Rania teringat akan ucapan suaminya bahwa Khansa mengadu tidak di perlakukan dengan baik.


"Mbok, tolong bereskan ya, maaf aku gak ikut memmbantu, rasanya badan ini sangat lelah," ujar Rania menatap Si Mbok.


"Iya, Nduk. Istirahat saja biar nanti Mbok yang bereskan," balas si Mbok sambil menatap Rania dengan iba.


Ranai melangkah dia sengaja ingin menghindari Khansa, namun saat hendak menaiki anak tangga sebuah panggilan membuat dia berhenti.


"Sudah tahu kan bahwa suami mu sekarang mencintai aku," ujar Khansa sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


Rania membalikan badannya lalu menatap Khansa.


"Aku harus hati-hati dengan mahluk seperti Khansa," gumam Rania dalam hati.


Rania mengikuti Khansa dengan menyilangkan kedua tangannnya di dada.


"Jika mas Adit suka sama kamu, itu wajar karena kamu begitu agresip mengejar cintanya, berbeda dengan aku tanpa aku merayu dia akan menghoda duluan," kata Rania.


"Tapi itu dulu, tidak dengan sekarang," timpal Khansa sedikit mendorong bahu Rania.

__ADS_1


"Oh ya! kita lihat nanti!" balas Rania sambil mendorong bahu Khansa. Rania melangkah mendekati Khansa kini jarak keduanya sangat dekat dan saling bertatapan dan saling mengunci.


"Aku sudah cukup sabar menerima mu wanita ******! tapi jika kamu usik ketenangan aku maka kamu akan tahu akibatnya," tekan Rania sambil jari telunjuknya mengarah ke wajah Khansa.


Khansa sekuat tenaga mendorong Rania sehingga Rania libung bahkan dia hampir saja terkena guci yang ada di dekatnya.


Rania langsung menoleh dengan tatapan tajam giginya gemeretak lalu dia melangkah dan mendekati Khansa.


Plakkkk


Sebuah tamparan mengenai pipi Rania.


Si Mbok yang melihatnya langsung sedikit berlali menghampiri wanita yang sedang bersitegang si Mbok berada di dekat Rania.


Rania yang tersulut emosi dengan mata memerah langsung membalas tamparan itu ke pipi Khansa.


Plakkkk


"Rania!" teriak seseorang dia sedikit tercengang dengan aksi istri pertamanya yang menampar Khansa.


Aditama langsung melangkah, Khansa tidak mau membuang kesempatan yang ada.


"Mas, kak Rania menampar aku," isak Khansa sambil memeluk Aditama. Khansa memang sangat pandai bersandiwara.


"Mas, ini tidak seperti yang kamu kira," ujar Rania berusaha menjelaskan.


"Diam!" bentak Aditama.


Sementara Khansa makin menangis di pelukan Aditama seolah di yang terdholimi. Kesempatan ini di gunakan Khansa sebaik mungkin.


Rania yang melihat aksi Khansa mendengus dengan kesal, ternyata perempuan yang ada di rumahnya lebih berbahaya dari pada singa. Jika singa sudah jelas dia hewan buas namun Khansa yang memiliki muka dua sangat sulit untuk di lawan karena dia pandai membolak balikan fakta.


"Mas, tenang dulu aku ceritakan semuanya," ucap Rania.


"Apa yang akan kamu jelaskan hah! Jelas-jelas mas lihat dengan matq kepala mas sendiri!," kembali Aditama membenatak Rania.


"Den, Nduk, benar-"


"Mbok, diam!" potong Aditama.


Air mata Rania menggenang suaminya sudah sangat berubah, Ranai dan Aditama saling bertatapan sementara Khansa merasa puasa dengan kejadian sekarang.


Aditama membawa Khansa dengan merangkul pundaknya lalu melangkah begitu meninglkan Rania.


Rania menatap nanar pungung suaminya hingga sebuah tetesan terjatuh tanpa bisa di cegahnya.


Rania terduduk hingga isakan Rania terdengar si Mbok langsung memeluk majikannya.


"Mas Adit, Mbok. Dia berubah," ucap Rania di tengah isakkannya. Si mbok hanya menganggukan kepalanya sambil menyeka sudut matanya.


Rania tidak mampu membendung lagi.tangisan Rania makin pecah dia menangis dengan tersedu-sedu.

__ADS_1


__ADS_2