
Udara pagi hari di kota Bandung sangatlah sejuk, apalagi rumah Rania masi asri di mana begitu banyak tumbuhan di sekitaran rumahnya. Bukan hanya Rania tetangga yang lain juga mereka memiliki pohon rata-rata mereka memiliki pohon mangga, yang mudah untuk di tanam. Rania membuka pintu serta jendela agar udara di pagi hari masuk ke dalam rumahnya agar hawa bau has rumah yang lama tidak berpenghuni menghilang dengan hembusan angin yang sepoy-sepoy.
Rania mulai membersihkan halaman rumah dia menyapu di mana daun-daun berjatuhan berserakan.
"Rania, kamu teh datang Iraha?" tanya tetangga itu menanyakan datangnya kapan.
"Semalam, Ibu dari mana?" tanya Rania dengan logat ciri has orang Bandung.
"Habis dari tukang sayur, belanja. Suami mu mana? Gak kelihatan?" tanya tetangga itu sambil matanya sedikit melihat ke dalam rumah.
Rania hanya tersenyum, dia tidak mau menanggapi ucapan tetanggannya itu baginya itu adalah aib.
"Hayuh atuh masuk ke dalam mampir dulu," ajak Rania mengalihkan pembicaraan.
"Masih pagi, nanti saja mau masak dulu, hayu Rania," tolak ibu itu dia langsung melangkah meningglkan Rania.
Rania menggelengkan kepalanya dia kembali membersihkan menggunakan sapu lidi. Setelah selesai Rania mengumpulkan sampah itu lalu di masukan ke dalam karung. Rania menatap kesekeliling sebuah pemandangan yang enak di pandang mata karena sekarang sudah bersih.
"Ahirnya, selesai juga," ujar Rania sambil mengelap keringatnya di kening menggunakan tangannya sendiri.
Setelah selesai semuanya Rania mencuci tangannya di mana di depan rumahnya ada keran, ketika sedang asik terdengar langkah kaki mendekatinya, Rania menoleh setelah mematikan keran itu, di lihatnya Iqbal yang sedang tersenyum sambil membawa rantang di tangannya dan gorengan di tangan kanannya.
Iqbal lalu melangkah begitu saja kemudian dia langsung duduk di teras di mana di situ ada kursi dua serta meja.
Rania menyipitkan matanya menatap Iqbal yang santi duduk sambil mengunyah gorengan yang ada di tangannya lalu melihat rantang yang ada di atas meja.
"Kenapa?" tanya Iqbal santai.
"Main nylonong aja, langsung duduk belum juga tuan rumahnya mempersilahkan masuk," ujar Rania sambil melangkah lalu duduk dan mengambil rantang itu dia hendak membuka rantangan itu.
"Jangan," cegah Iqbal sambil sedikit menepuk tangan Rania.
"Buat aku kan ini? Dari mama kamu?" Rania menebaknya karena emang dari dulu mamanya Iqbal sangat baik.
Jaraknya dari rumah Rania dan Iqbal hanya beda gang saja, jika rumah Rania gang melati kalau Iqbal gang Anggerek, entah kenapa dulunya di beri nama itu.
__ADS_1
Iqbal tersenyum sambil memamerkan giginya, mereka lalu berbincang, lalu lalang tetangga menyapa mereka yang kadang terlihat serius kadang tertawa, tapi gak jarang tetangga menatap mereka sinis kadang ada yang julid.
"Itu si Rania, sudah punya suami masih saja deket sama Iqbal,"
"Aturan dulu nikah saja sama Iqbal jangan sama orang kota,"
"Jangan-jangan Rania ke sini menghindari suaminya agar tidak ke tahuan selingkuh,"
Kasak kusuk tetangga setelah melihat Rania dan Iqbal terlihat akrab dan tidak ada kecanggungan di dalamnya, padahala hal wajar jika mereka becanda karena dari dulu emang temen dekat sekali, walau tidak ada persahabatan yang murni di antara laki-laki dan perempuan karena salah satunya akan menggunakan perasaan. Dan benar Iqbal yang menaruh rasa sama Rania.
Sebuah mobil mewah memasuki pekarangan rumah Rania, mereka mengerutkan alisnya.
"Siapa?" tanya Iqbal.
Rania hanya mengangkat kedua bahunya.
Seseorang turun dari mobilnya menggunakan hak tinggi dengan pakaian minimnya, Iqbal dan Rania terbelalak melihat perempuan yang kini telah membuka kaca mata hitamnya.
Khansa tersenyum menyeringai lalu dia mendekati mereka, dengan wajah angkuh dan sorot mata yang penuh emosi.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Rania datar.
"Tujuan ku sangat jelas, ingin balas dendam sama kamu karena sudah berani melawan aku!" tekan Khansa. Membuat Rania bangkit dari duduknya kini mereka saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat.
Iqbal ikut berdiri dia jaga-jaga takut Khansa nekat melukai Rania.
Dan di saat mereka sedang bertatapan sengit sebuah mobil berwarna hitam masuk kedalam pekarangan.
Khansa membulatkan matanya dia faham betul pemilik mobil itu, dan benar saja Aditama keluar dari mobilnya dan menatap mereka bertiga tanpa ekspresi.
Justru Khansa terlihat panik karena dia berbohong sama Aditama. Mereka saling bertatapan dengan tegang namun sebuah suara teriakan dari dalam mampu membuat mereka mencair Rania masuk lebih dulu lalu di susul oleh Iqbal.
"Mas," kata Khansa sambil menundukan kepalanya. Aditama diam saja justru dia melangkah meninggalkan Khansa.
"Mama, ada kecoa!" teriak Adriana.
__ADS_1
Rania menghebuskan napasanya dia sudah kebiru panik duluan ternyata yang di takuti sang anak hanyalah kecoa.
Iqbal dengan sigap mengusir kecoa itu dengan membuka jendela agar dia keluar lewat jendela.
Adriana memeluk sang Mama, lalu melihat sepatu berwarna hitam tepat di depannya Adriana melihat dari bawah ke atas terlihat Aditama sedang tersenyum ke arahnya, Adriana langsung menunduk. Dia enggan menatap lama sang Papa.
"Sayang," ucap Adotama sambil membelai pucuk kepala sang anak. Adriana hanya diam saja justru dia mengeratkan pelukannya itu.
Rania bangkit sambil menggengam tangan putri semata wayangnya dan mempersilahkan Aditama dan Khansa duduk.
"Mas, lihat mantan istri kamu belum juga resmi bercerai sudah memasuki pria lain ke dalam rumah ini," kata Khansa ketila mereka sudah duduk sementara Adriana bermain sendiri di ruang tengah sambil nonton televisi.
"Aku bosen dengan sandirwara mu Khansa jika kalian datang ke sini hanya untuk mencari keributan dan bikin aku sakit hati, baiknayn kalian pergi dari rumah ini," ujar Rania menatap keduanya.
Iqbal menatap sinis sama Aditama yang di balas tatapan sinis juga.
"Kamu belum ada masa idah sudah satu rumah dengan laki-laki lain, kuat dugaan kalian memang dari dulu selingkuh,"kata Aditama yang pandangannya masih menatap Iqbal.
Rania menghebuskan napasnya dia sendri bingung dengan kedatangan dua orang ini, Aditama berubah haluan awalnya dia mau minta maaf namun melihat pemandamgan yang berada di depannya kini kata maaf itu ia urungkan. Malah dia tidak memarahi Khansa yang datang tanpa sepengetahuannya.
"Iya, kita selingkuh sejak lama dan aku sangat mencintai Rania," ujar Iqbal membuat Rania menoleh,
"Itu kan yang ingin kalian tahu, dan mempermasalahkan. Seolau kami ini harus jujur tentang kedekatan kami,"
Terlihat wajah Aditama yang menegang sorot mata nya memerah rahangnya mengeras dia mengepalkan tanganya kuat.
"Setatus Rania bukan istri kamu lagi jadi kami uris saja istrimu yang bertingkah, kalian selalu menyalahkan orang lain tapi tidak sadar kalian lah yang salah? Di mana istri pertama tidak tahu kalian menikah diam-diam," lanjut Iqbal dengan santai.
"Diam kamu, jangan ikut campur!" Aditama mulai emosi.
"Jangan menemui aku lagi, kalian berbahagialah bukan kah ini inginnya kamu?" ucap Rania menatap Khansa lalu menatap Aditama," dan kamu sudah jelas dengan kesadaran menceraikan aku, lalu sekarang tiba-tiba datang untuk bikin onar? kalian memang cocok datang kesini untuk hal yang tidak penting istrinya ingin balas dendam sedangkan suminya terus menerus menginginkan sebuah pengakuan aku selingkuh.
"Apa aku juga harus mengungkit kesalah kalian yang sangat nampak? Kalian tidak perlu merepotkan diri sendiri dengan urusan hidup aku, terutama kamu, yang emang dari awal ingin menjadi wantia satu-satunya, sekarang keinginan kamu terwujud, dan kamu mas jaga istri kamu baik-baik jangan sampai Khansa merasakan apa yang aku rasakan yang tiba-tiba membawa madu ke rumah," papar Rania yang terlihat tenang bahkan Khansa sendiri sulit untuk bikin Rania emosi, terlihat mimik perubahan wajah Aditama yang berubah hanya Iqbal yang tersenyum mendengar pemaparan Rania.
Rania sadar menghadapi perempuan seperti Khansa bukan lagi dengan cara bar-bar atau emosi yang meledak-ledak.
__ADS_1