Tiba-Tiba Membawa Madu

Tiba-Tiba Membawa Madu
22. lampu Hijau Dari sang Ibu.


__ADS_3

suara deru mobil dari luar sangat terdengar jelas, Rania bangkit dari duduknya lalu membuka sedikit gorden itu, terlihat Khansa sedang keluar dari mobil dengan perut yang semakin membesar dia di antar oleh supir.


"hhhh, ngpain lagi dia kesini," keluh Rania dia merasa malas jika berhadapan dengan Khansa.


Ketukan di pintu sudah terdengar, terpaksa Rania membuka pintu itu, Khansa langsung menerobos membuat Rania sedikit limbung karena dorongan dari Khansa.


"Mana, mas Adit?" tanya Rania sambil mengedarkan pandangannya lalu menatap Rania dengan tajam.


"Gak ada," jawab Rania santai.


"Jangan bohong kamu!" tekan Khansa.


Khansa yang tidak puas dengan jawaban dari Rania dia menggeledah ke semua ruangan dari kamar utama hingga kamar Adriana tak lupa mengecek kamar mandi.


"Kamu sembunyikan di mana suami aku!" teriak Khansa menatap Rania yang melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kenapa kamu seperti takut sekali dia ke sini? Bukannya wajar karena ada anak di antra aku sama Aditama," ujar Rania tersenyum sinis.


"Kamu jangan macam-macam Rania,"ucap Khansa mengacungkan jari telunjuknya ke muka Rania.


"Seharusnya kamu tidak usah takut, bukannya sekarang kamu sudah menjadi satu-satu nya wanita yang ada di hatinya? takutlah sama wanita lain yang mengincar suami kamu," Rania menjauhkan jari telunjuk Khansa.

__ADS_1


"Aku lupa, maling tetap lah maling, dia akan merasa takut karena hasilnya dari mencuri, begitu pun kamu. kamu merasa takut karena ulah kamu yang merebut mas Adit dengan cara yang tidak baik, maka yang ada kamu di hantui rasa takut,," lanjut Rania sambil menyunggingkan senyumamnya.


"Kamu!" Khansa menatap nyalang.


"Gak perlu menghabiskan energi kamu untuk datang kesini, jika hanya untuk melabrak. Ingat sebaik apa pun kita menjaganya, jika laki-laki itu mau selingkuh maka tidak dapat di cegah, pulanglah dan jangan pernah kesini lagi, aku sudah muak berurusan dengan kamu. Bukankah keinginann kamu sudah terpenuhi?"tekan Rania membuat Khansa diam mematung.


"Kamu baru melihat foto saja sudah seperti ini, apa kabarnya aku waktu kamu datang tiba-tiba, apa lagi dengan kalian membohongi aku! pintu sudah terbuka aku tidak banyak waktu untuk melayani perempuan seperti kamu,"


Khansa kehabisan kata-kata, entah kenapa rasa takut itu menguasai dirinya, dia takut Aditama akan balikan lagi sama Rania, walau apa yang Khansa rasakan bahwa Aditama sudah sagat mencintainya tapi tidak menjamin hati Khansa tenang yang ada di liputi rasa was-was dan takut Aditama berpaling.


Khansa melangkah sambil menghentakan kakinya, namun di ambang pintu Khansa menoleh dan menatap Rania dengan tajam.


Rania menatap balik Khansa sebelum ahirnya Khansa benar-benar keluar.


Khansa yang ada di dalam mobil dia menatap keluar sambil mengelus pertunya, tiba-tiba ponsel dia berbunyi menandakan ada pesan masuk.


Aditama: "kamu di mana? Di rumah tidak ada?"


Khansa:" Aku habis keluar, bosen di rumah terus,"


Aditama melihat balasan dari Khansa menghembuskan napasnya padahal dia tahu dari ARTnya bahwa dia mau kebandung ke ruamh Rania.

__ADS_1


"Kamu berbohong ,khansa," gumam Aditama sambil menaruh ponsel itu ke dalam jasnya.


Aditama sudah tahu semuanya tentang Khansa bahkan rasa cinta yang dulu pernah ada perlahan memudar seiring tahu fakta yang ada, karena pada dasarnya Aditama mencintai Khansa hanya setengah hati berbeda dengan Rania. Namun waktu itu Aditama gelap mata karena hasutan dari Khansa yang bilang Rania selingkuh dengan Iqbal, dari situ Aditama menceraikan istrinya dan lebih memilih Khansa karena apa yang Aditama lihat Rania selalu berbuat kasar itu lah pandangan Aditama waktu itu, walau sudah cukup bukti Rania tidak salah tapi ketika dia ke bandung kuat dugaan bahwa Rania dan Iqbal memang selingkuh dan lebih memilih Khansa biar bagai mana pun Khansa sedang mengandung anaknya.


"Aku menyesal," lirih Aditama dia menyandarkan tubunhnya di kursi tempat kerjanya. Aditama merasa hidupnya sekarang penuh dengan kepalsuan.


***


Hari-hari Rania menikmati hasil jualan onlinenya dia merasa bahagia karena orderannya makin melimpah, bersyukur karena hasil jualan prodak kecantikan dan jualan lainnya dia mampu memenuhi kebutuhan sehari-harinya bahkan bisa menabung.


Rania memberi nama di sosial medianya dengan nama Izzara menggunakan nama belakangnya. Kadang dia meminta tolong sama Iqbal untuk membantu mempromosikan usahanya. Dan Iqbal juga sering pulang dengan beralasan ingin bertemu dengan sang ibu walau tujuan utamnya dia ingin bertemu dengan Rania.


Seperti halnya sekarang dia sedang di rumah di mana sang ibu selalu menyuruh dia menikah karena sudah kepala tiga, itu lah sebabnya dia jarang pulang karena males jika di tanya soal menikah.


"Apa kamu masih berharap sama Rania? Apa lagi sekarang dia mau jadi janda?" tanya sang ibu sambil meletakan maskan ke sukaan sang anak.


"Entahlah, bu. Iqbal ragu jika mengatakan langsung," balas Iqbal menarik napasnya.


"Ibu dukung, gak peduli dia janda dan memiliki anak, Rania orang baik," ucap ibunya Iqbal sambil tersenyum.


"Kamu harus cepetan sat set sat set gitu loh, nanti kamu kedualan lagi sama orang baru nyho,"

__ADS_1


Iqbal hanya terkekeh mendengar ibunya bicara seperti itu, lali menarik napas berat.


"Entah lah kenapa aku tidak ada keberanian untuk mengungkapkan rasa ini sama Rania," gumam Iqbal dalam hatinya.


__ADS_2