Tiba-Tiba Membawa Madu

Tiba-Tiba Membawa Madu
12. Ucapan Talak.


__ADS_3

Rania dia akan keluar sebentar dia ingin menenangkan pikirannya, kali ini Rania menggunakan gamis yang berwarna navy dan menggunakan pasmina yang berwarna hitam terlihat anggun dengan pakaian seperti itu.


Khansa melihat Rania yang sedang turun sambil menenteng tas yang bermerek.


"Mau kemana kamu?" tanya Khansa.


"Bukan urusan kamu," jawab Rania lalu menoleh sama si Mbok yang sedang menyapu.


"Mbok, aku mau keluar sebentar, nanti kalau keburu Adriana datang bilang ya, aku pergi," ujar Rania sambil tersenyum.


Si Mbok menganggukan kepalannya sebagai jawaban sambil tersenyum. Lalu kembali melanjutkan aktifitasnya.


"Kamu sudah izin sama mas Adit gak?" kata Khansa dengan nada mengejek.


Rania yang sudah melangkah berhenti lalu menoleh dan menatap Khansa.


"Tak perlu untuk memberi tahu kamu aku sudah izin apa belum."tegas Rania dia pun langsung melangkah meningglkan Khansa.


Rania memasuki mobilnya lalu menghidupkan mesinnya kemudian dia menyandarkan punggungnya sambil memejamkan mata.


Bayanganya senyuman suaminya begitu melekat, bayangan-bayangan ketika Aditama begitu manis memperlakukan dia seperti ratu.


Rania menarik napas ketika bayangan itu tatkala Aditama yang tiba-tiba membawa perempuan lain ke rumahnya, lalu dia membuka matanya kemudian dia melajukan mobilnya meningglkan halaman rumah.


"[mas aku keluar mau ke caffe tempat pavorit aku]"


Rania mengirim pesan itu kepada suaminya, dan langsung centrang biru terlihat sedang mengetik.


"[Iya sayang, hati-hati ya, jangan lama-lama,]" balas Aditama.


Rania yang melihat balasan dari suaminya dengan menyebut kata sayang sedikit miris karena kata itu sekarang m bukan untuk dia seorang melainkan dia ucapkan dengan wanita lain yang sebagai istri sirinya.


Rania membelokan mobilnya ketika sudah berada di caffe tempat paforitnya, di mana caffe itu menyajikan ruangan yang terbuka dengan suasana masih asri.


Rania turun dari mobil namun sebuah panggilan membuat Rania menoleh.


"Iqbal," sapa Rania ketika tahu Iqbal yang menyapanya.


"Kita ketemu lagi di sini," ujar Iqbal dengan tersenyum. Keduanya kini sedang tersenyum dengan manisnya.


Dari kejauhan Khansa memotret mereka, ia tersenyum sambil melihat layar ponsel lalu kembali melihat di mana Rania dan Iqbal sedang melangkah masuk ke dalam caffe, Lagi Khansa memotert mereka dan kini terlihat Rania sedang menatap Iqbal, dengan cepat Khansa langsung memotretnya siapa saja yang melihat foto itu pasti menyangka mereka sedang pacaran.


"Sempurna," ucap Khansa lalu dia memasukan ponsel itu ke dalam tas dan kembali berjalan mendekati mereka.


"Kamu kenapa? Aku lihat kamu tidak baik-baik saja?" tanya Iqbal ketika mereka sudah duduk, Rania hanya menghembuskan napasnya.


"Kamu tahu dari mana aku tidak baik-baik saja?" tanya Rania yang pandangannya mengarah keluar.


"Mata kamu tidak bisa berbohong, Rania." balas Iqbal.


"Kamu dari dulu emang selalu tahu walau lewat mata," Rania menatap Iqbal lalu tersenyum.


Iqbal melihat sekeliling caffe terlihat ada sosok wanita menggunakan kaca mata hitam di mana ponselnya sedang mengarah ke arahnya, namun Iqbal tidak curiga sama sekali.


Khansa yang melihat Iqbal sedang menatap ke arahnnya langsung dia berfose, seolah sedang selfi dengan kedua jari ia angkat lalu tersenyum.


"Huuff hampir saja ketahuan," gumam Khansa," baik, sudah cukup," Khansa memasukan ponsel itu ke dalam tas.


Rania yang melihat Iqbal seperti sedang menatap seseorang itu langsung menoleh di mana arah mata Iqbal berada, terlihat seorang perempuan menggunakan baju yang sangat ketat sehingga lekuk tubuhnya sangat kentara, namun Rania hanya bisa melihat punggung wanita itu.

__ADS_1


"Kamu kenal sama wanita itu?" tanya Rania di mana punggung wanita itu semakin menjauh.


"Enggak, gak tahu siapa," jawab Iqbal lalu kembali fokus ke Rania.


"Benar kan kamu ada masalah?" kembali Iqbal bertanya.


"Ada saatnya aku akan bicara namun tidak sekarang," jawab Rania sambil menarik napas berat.


"Baiklah aku tidak memaksa,"


Keduanya pun berbincang namun Rania lebih memilih untuk tidak cerita sama Iqbal tentang prahara rumah tanggannya, baginya itu adalah aib sekalipun Iqbal temennya tapi tidak baik menceritakan masalahnya terlebih Rania masih setatus Istri.


Mereka lebih banyak menceritakan tentang pekerjaan dan masa-masa SMA, sesekali Rania menggoda Iqbal yang sampai sekarang masih jomblo padahal usiannya sudah memasuki kepala tiga.


"Jangan salah, jomblo bukan berarti gak laku tapi karena banyak pilihan jadi sulit untuk memilih," jawab Iqbal dengan jumawa Rania tertawa pada ahirnya.


"Kamu kePDan Iqbal, hahaha" Rania terus tertawa.


"Sudah ah, aku mau pulang nanti malah jadi fitnah, padahal kita tidak janjian," lanjut Rania menyeka sudut matanya karena tidak berhenti tertawa, kemudian bangkit dari duduknya,


Rania jalan terlebih dahulu.


"Rania," panggil Iqbal, membuat Rania menoleh," jika ada apa-apa jangan sungkan untuk hubungi aku,"


"Terimakasih," ujar Rania tersenyum sambil mengangguk sebelum ahirnya Rania keluar terlebih dahulu.


Khansa sudah datang terlebih dahulu ke rumah dia memandangi hasil pemotertan yang dia ambil.


"Sepertinya aku bakat jadi fotografer," gumam Khansa menatap foto Rania yang sedang menatap Iqbal," bentar lagi kamu akan hancur Rania, sekali aku kirim maka suami mu akan langsung mengusir kamu dari sini," Khansa tersenyum menyeringai.


Sebuah ucapan salam terdengar dari luar di lihatnnya Adriana datang dia masuk setelah si Mbok membukanan pintu.


"Mama kemana Mbok?" tanya Adriana.


Khansa melihat Adriana dia tersenyum dengan licik lalu melangkah mendekati Adriana. Dia menggengam pundak Adriana dengan sedikit menekan.


"Mama kamu sedang pacaran dengan laki-laki lain," kata Khansa dengan menatap tajam Adriana .


Adriana yang di tatap seperti itu dia merasakan ketakutan air matanya mulai menggenang.


"Non, lepasin Adriana," ujar si Mbok sambil melepaskan genggaman tangan Khansa, namun sama Khansa langsung mendorongnya sehingga si Mbok terjatuh karena Khansa mendorongnya menggunakan tenaga.


"Jangan ikut campur!"


"Aku ingin kalian keluar dari rumah ini! Jika tidak jangan harap kamu nyaman tinggal di sini," tekan Khansa sambil sedikit mengguncangkan tubuh Adrian.


Adrian yang di perlakukan seperti itu menagis dia sangat takut dengan perlakuan Khansa.


Si Mbok bangkit dari duduknya dan dia berushaha untuk melepaskannya namun ushanya sia-sia karena tenaga Khansa sangat kuat.


"Mama!" isak Adriana dengan cucuran air mata.


"Panggil mama kamu, teriak sekaian!" bentak Khansa membaut Adrian makin takut air matannya sangat deras keluar dari matannya.


"Mama!" teriak Adriana sekuat tenaga walau suarannya tidak begitu keras karena rasa takut yang mendominasi.


Rania yang baru saja datang tercekat dengan Khansa yang sedang mencengkram pundak Adrian lalu melihat si Mbok yang sedang berusha melepaskan.


"Adriana!" ujar Rani sambil menaruh tas sembarangan dia berjalan sedikit berlari.

__ADS_1


plakkk


Sebuah tamparan mendarat di pipi Khansa, Adriana langsung menghambur kepelukan sang mama dengan iskan yang memilukan.


"Jangan menyentuh anak ku," tekan Rania dengan tatapan nyalang.


Khansa memegangi pipinya kali ini tamparan Rania sangat kencang, membuat Khansa meringis.


"Kamu boleh merebut Mas Adit! merebut semuanya!, tapi jagan melakukan sama anak yang tidak tahu apa-apa!" sorot mata Rania memerah dia emosinya sudah tidak tertahan lagi. Adriana mengeratkan pelukannya yang masih terisak.


"Kamu sebentar lagi akan keluar dari rumah ini, dan selamnnya Aditama menjadi milik ku," Khansa memperlihatkan potret dimana Rania sedang bersama Iqbal.


Seketika Rania terbelalak lalu Khansa langsung mengirim foto itu sama Aditama. Khansa tersenyum melihat wajah Rania yang menegang. Bukan karena takut di kira selingkuh namun cara Khansa yang salah dan akan memperkeruh suasana jika foto itu langsung di kirim sama Aditama.


"Kamu jahat Khansa," Rania mendorong Khansa sehingga terbentur ke tembok.


Adriana langsung di peluk sama si Mbok dengan menutup mata Adriana agar tidak melihat pertengakarn dua orang yang sudah dewasa.


"Ya itu lah aku, aku yang gila akan Aditam aku yang gila akan ketampanannya berbagai cara agar aku bisa hidup dengannya, sekalipun harus membunuh kalian,"


plakkk


Kembali Rania menampar Khansa dengan mata memerah hidung kembang kempis emosi Rania sudah tersulut.


"Satu lagi, kami pernah saling jatuh cinta," lanjut Khansa sambil memegang pipinya.


"Seharusnya kamu tidak usah di tolong sama suami ku, biarkan kamu menjadi wanita malam," tekan Rania yang ahirnya tetesan air mata itupun lolos tanpa bisa di cegah," dan kamu lebih pantas menjadi wanita murahan,"


"Rania!" bentak Aditma lalu melangkah ke arah mereka, Adtiama menatap Khansa di mana di pipinya ada luka lembab bekas tamparan. Lalu menatap Rania dengan tajam.


"Den, ini tidak seperti yang bapak lihat," ujar si Mbok sedikit ketakutan karena melihat sorot mata Aditma yang siapa saja yang melihatnya menjadi ciut.


"Diam, Mbok, bawa Adriana ke atas," tekan Aditama.


"Adriana tidak mau," tolak Adriana yang langsung memeluk sang Ibu.


"Mas, ini waktu yang tepat, bukan kah waktu itu kamu sudah berjanji akan menceraikan dia?" ujar Khansa mendekat,


"Lihat dia telah melakukan kejahan terhadapku," Khansa memperlihatkan pipinya yang memang di situ ada luka bekas tamparan.


Aditama menarik napas berat lalu menoleh sama Rania yang sedag menyeka sudut matannya lalu menatap sama Adriana yang sedang memeluk Rania dengan iskan yang memilukan. Si Mbok pun ikut menangis mendengar ucapan Khansa.


"Mas, buruan ucapakan kalimat itu aku punya bukti dia jalan dengan laki-laki apa kamu belum melihatnya?"


Aditama menatap tajam Rania seolah meminta jawaban langsung dari Rania.


"Dia teman aku waktu SMA, kebetulan dia juga akan ke caffe kita bertemu bukan karena janjian," papar Rania berusha membela diri.


"Bohong mas, aku punya video mereka yang terlihat mesra," timpal Khansa membuat Aditama memejamkna matannya rahangnya mengeras tangannnya mengepal sangat kuat.


"Rania Izzara binti Irsyad dengan sadadar aku talak kamu,"


Rania yang mendengar ucapan Aditama menjatuhkan talak kepadannya menggelengkan kepalnya dia menangis tersedu-sedu tangisanya sangat memilukan, si Mbok mendekat lalu langsung memeluk.


Rania tidak percaya suaminya dengan mudahnya mengucapkan talak sebelum dia menjelaskan semuannya.


"Baik mas, jika itu mau kamu," ujar Rania dengan suara bergetar dia menghapus air matanya," hari ini juga aku akan keluar dari rumah ini,"


Namun saat dia mau melangkah kakinya seolah tidak kuat untuk memopang tubuhnya Rania meluruh, yang langsung di peluk oleh Adriana dengan tangisan yang tak kalah memilukan. Si Mbok ikut meluruh kini ketiganya sambil berpelukan dengan tangis yang memilukan.

__ADS_1


Aditama yang melihat itu menitikan air matanya, ada rasa tidak tega melihat mereka hanya Khansa sajan yang tersenyum melihat tangisan yang memilukan dari mereka.


"Luka mereka kebahagiaan aku," ucap Khansa dalam hati.


__ADS_2