
Rania berusaha bangkit dari duduknya, lalu menoleh pada Aditama yang memunggunginya yang di peluk oleh Khansa yang tersenyum dengan tatapan membanggakan seolah inilah aku.
Rania membalikan badannya yang di bantu oleh si Mbok sedangkan Adriana menggengam tangan sang Ibu.
Dengan langkah gontai Rania melangkah menapaki anak tangga terdengar helaan napas yang sangat berat keluar dari mulutnya. Dia membuka kamar dan kembali menangis di mana kenangan bersama Aditama seolah napak nyata ketika mereka sedang bercanda, saling memuji satu sama lain.
"Sabar Nduk, setelah ini mau kemana? Jika berkenan ke rumah Mbok dulu untuk menenangkan pikiran," ujar si Mbok menawarkan karena si Mbok tidak tega sama majikannya walau bisa saja Rania tinggal di sebuah apartemen.
"Adriana mau ya?" lanjut si Mbok meyakinkan.
"Baiklah Mbok untuk sementara aku tinggal di rumah Mbok," jawab Rania sambil membuka lemari.
"Sayang, kamu juga kemasi baju-bajunya, masukan sekirannya yang penting bawa seperlunya saja," Titah Rania menatap anaknya yang terlihat sedih. Rania mengerti dengan perasaan anaknya.
Adriana lalu masuk ke dalam kamar di temeni oleh si Mbok.
Setelah hampir tiga puluh menit mereka sudah selesai mengemas, Rania dan Adriana beserta si Mbok keluar dari kamar . Rania menggengam tangan Adriana mereka turun dan si Mbok berada di belakang.
Aditama yang sedang duduk tidak melihat sama sekali ke arah mereka justru dia membuang pandangannya ketika melihat mereka yang sedang menuruni anak tangga.
"Kita pamit, surat gugatan cerai biar aku yang mengurus,"kata Rania menahan isakan.
"Baiklah kaka madu," jawab Khansa lalu dia bangkit dari duduknya.
"Inilah aku yang sebenarnya," Bisik Khansa ketika mereka sedang cipika cipiki lalu melerai dengan tersenyum kebahagiaan.
Rania bukan gak mau melawan atau membongkar kejahan Khansa namun dia merasa percuma karena saat ini yang di percayai suaminya yang sekarang sudah menjadi mantan lebih percaya Khansa dari pada dirinya.
Adriana melangkah mendekati sang Ayah lalu mencium pipi itu di saat bersamaan Aditama meneteskan air matanya, ini lah sebabnya Aditama tidak mau melihat mereka dia takut menangis siapa sangka ternyata anaknya lah yang mendekat.
"Ini terahir Adriana melihat Papa, mencium Papa,"ujar Adriana, Aditama masih bergeming dia tidak menatap anaknya sama sekali.
"Adriana pergi," pamit Adriana dia berdiri lalu melangkah dan kembali menggnggam tangan sang ibu.
Aditama menahan keinginannnya untuk memeluk sang buah hati dia takut goyoh dengan keputusan dia menceraikan Rania.
Langkah mereka kian pasti Rania menatap rumah itu yang telah ia huni selama sepuluh tahun, dia menatap bagunan dua lantai itu dengan perasaan yang teramat sakit.
__ADS_1
Mereka berjalan karena arah dari rumah Aditama ke ruamh si Mbok hanya berjarak dua puluh menit jika berjalan kaki.
"Mama kita akan tinggal di mana? Gak mungkin tinggal di rumah si Mbok terus kan?" tanya Adriana ketika mereka sedang berjalan sambil menyeret koper.
"Nanti kita pikirkan jika sudah di rumah si Mbok ya," jawab Rania sambil mengusap kepala anaknya.
Sementara itu Aditama nampak melamun dia tidak menyangka akan semudah itu mengucapkan talak terhadap istrinya yang telah membersamai dia.
"Terimakasih sudah menuruti maunya aku," kata Khansa sambil bersandar di pundak Aditama sebelah kiri. Aditama tidak menjawab dia menatap kosong.
"Kamu sudah bertindak benar sayang terimakasih untuk semuanya," lanjut Khansa yang sekarang memeluk pinggang Aditama dengan erat.
"Aku akan melakukan hal sama jika kamu melakukan kesalahan, ini berlaku bukan buat Rania saja tapi buat siapa saja," ujar Aditama pada ahirnya. Khansa yang mendengar jawaban dari suaminya menelan paksa salivanya ternyata bukan semata-mata karena dia benar-benar cinta walau cinta itu sudah hadir tapi nyatannya Aditama belum sepenuhnya mencintai Khansa.
"Ya sudah dari pada mas memikirkan yang tidak-tidak lebih baik kita keluar untuk menenangkan pikiran apa mau aku pijitin?" ucap Khansa mencba mencairkan suasana.
"Tidak Khansa, beri aku waktu untuk sendiri, aku mau istirahat di kamar Rania," Aditama bangkit dari duduknya meningglkan Khansa yang terlihat kecewa.
"Setidaknya aku berhasil membuat mereka berpisah," Khansa tersenyum sambil melihat punggung Aditama yang semakin menjauh.
Aditama membuka kamar itu dia menghela napasnya sebelum ahirnya masuk dan menutup pintu, Aditama duduk di tepi ranjang ia memindai ke sekeliling ruangan itu terlihat foto terpajang di atas nakas dimana Rania sedang tersenyum dan memeluk Aditama lalu potret Adriana yang sedang memegang bunga tersenyum dengan manisnya.
"Ini mungkin yang terbaik untuk kita, maafkan aku Rania, maafkan Papa Adriana," gumamnya seorang diri. Lalu dia kembali meletakan foto itu ia bangkit dan membuka lemari terlihat beberapa pakain tidak ada karena nampak berkurang Aditama menutup lemari itu lalu melangkah menuju kamar Adriana.
Dia menatap kesekeliling tak ada yang berubah masih rapih namun boneka kesayangan Adriana tidak ada. Aditama yang melihat hanya di ambang pintu langsung menutup pintu itu namun saat dia membalikan badannya terkesiap karena Khansa sudah ada di belakangnya.
"Bolehkah aku sekarang yang menempati kamar itu,?" Unjuk Khansa ke kamar yang di tempati Aditama.
"Baiklah," jawab Aditama mereka lalu melangkah dan memasuki kamar tersebut.
"lihatlah aku unjukan Video di mana Rania jalan dengan laki-laki itu," ujar Khansa sambil mengeluarkan ponsel dari saku celana.
Aditama mengambil ponsel itu lalu dia melihat foto bersama laki-laki terlihat mesra di mana Rania menatap laki-laki itu. Lalu memutar Video di mana Rania sedang menatap keluar dan seorang lelaki itu menatap Rania dengan tatapan dalam lalu saling tersenyum.
Seketika perubahan wajah Aditama sangat kentara rahangnya mengeras dia mengepalkan tangannya dengan menggengam ponsel itu kuat.
Khansa yang melihat perubahan suaminya dia tersenyum lalu mengambil ponsel itu.
__ADS_1
"Tindakkan kamu sangat benar sayang, menceraikan dia," ucap Khansa yang pandai memperkeruh suasana.
"kamu benar aku sudah benar menceraikan dia," sahut Aditama dengan sorot mata memerah menahan emosi.
"apa kamu dendam Rania sehingga kamu jalan dengan laki-laki lain," kata Aditama dalam hati.
Sementara itu Rania di sambut antusias dengan anak si Mbok lalu cucunya menyapa Adriana yang terlihat bingung.
"Mari non, masuk," ujar anaknya si Mbok yang bernama Liza, usia mereka seumuran namun perbedaan ekonomi dan cara kerja mereka berbeda jadi Liza nampak tua dari Rania.
"Terima kasih,"
"Liza beresi kamar kamu, nanti kita tidur bertiga biarkan Nduk tidur di kamar kamu," titah si Mbok.
Rumah si Mbok sangat lah kecil hanya memiliki dua kamar, ruang tamu serta ruang tegah dan kamar mandi satu.
"Maaf ya Nduk rumah kami memang sangat kecil," kata si Mbok menatap Rania yang nampak lelah matanya sedikit sembab karena lama menangis.
"Kamar sudah beres, baiknya Non dan Adriana istirahat dulu," ucap Liza.
Adriana dan Rania masuk ke dalam kamar di mana kamarnya luasnya sama dengan kamar mandi yang dia tempati dulu.
"Tidurlah, kamu pasti cape," titah Rania sama Adriana yang mengangguk lalu dia naik ke atas kasur yang sudah tidak ada empuk nya sama sekali.
Mereka membaringkan badannya dengan posisi Rania memeluk Adriana.
Rania tidak bisa tidur dia gelisah lalu, Rania menoleh ke pundak Adriana di mana baju yang di pakainya sedikit terbuka.
Rania mengamati itu lalu dia buka dengan sangat hati-hati karena takut sang anak bangun.
Betapa terkejutnya ketika Rania melihat luka lebam di bagian pundak Adriana terlihat bekas cengkraman tangan.
Rania menahan sesak sampai tangan itu sedikot gemetar tidak menyangka Khansa tega melakukan itu sama anak kecil, lalu dia segera mengambil ponsel untuk memotretnya untuk jadi bukti kekerasan yang di lakukan Khansa.
Rania lalu memindai nomer mantan suaminya hendak memberi tahu namun sudah beberapa kali mencoba tidak ada jawaban, hingga di panggilan ke lima baru telepon itu di jawab.
Namun Rania tercengang ketika suara ******* terdengar dari sebrang sana, Rania terbelalak dia menutup mulutnya dengan setetes airmata kembali keluar. Rania menjauhkan ponsel itu dari telinganya lalu ia segera mematikan sambungan itu.
__ADS_1
"Tidak kah kamu merasa kehilangan kami mas," gumam Rania dengan deraian airmata.
Khansa yang di sana tersenyum dia terus melanjutkan ritual suami istri dengan penuh kemenangan sementara Aditama tidak tahu Rania menghubunginya karena ponsel Aditama dalam mode silent.