
Adriana nampak murung dia minum es sambil menatap lurus, Rania yang melihat menghembuskan napasnya.
"Papa, kayanya lebih sayang sama Bunda dari pada kita," ucap Adriana.
"Enggak Sayang, Papa mungkin ada alasan kenapa dia jalan sama Bunda. Adriana kan sudah ada Mama," sahut Rania berusaha memberikan pengertian namun lebih mengarah ke hal positif.
"Buktinya tadi Adriana mengajak Papa, katanya sibuk, tapi sekarang jalan sama Bunda!"
Rania yang kembali mendengar anaknya hanya bisa menarik napas panjang, rupannya sang anak masih belum puas dengan jawabannya.
"Mungkin tadi pas Adriana ngajak Papa, pas kebetulan Papa lagi ada kerjaan sayang, jadi gak bisa dan sekarang ada waktu makannya ngajak Bunda untuk jalan," kata Rania dengan lembut.
Dia berusha menjelsakan sama sang anak untuk berfikir positif walau hati Rania juga sedikit perih dan marah melihat Aditama dan Khansa ada di sini.
Terlebih Aditama sudah menolak ajakan anaknya, jelas Adriana kecewa bukan tidak merasakan kekecewaan Adriana namun Rania tidak ingin psikis anaknya terganggu gara-gara sang bapak lebih memilih jalan dengan istri sirinya itu.
"Kita pulang saja Ma," ujar Adriana dengan tetesan air mata yang terjatuh dia bangkit dari duduknya.
Rania yang melihat langsung mendekat lalu dia memeluknya erat.
Tentu Rania lebih sakit lagi melihat sang anak yang kecewa akan ayahnya terlebih Adriana sudah bersemangat untuk mengajak sang Papa, namun dia menolak dengan alsan kerja tapi nyatannya sekarang mereka jalan berdua dengan mesrannya jelas hati Adriana kecewa.
"Sudah sayang, kan ada Mama," ujar Rania sambil membelai rambut Adriana. Yang justru semakin terisak.
Rania kemudian berjongkok untuk mensejajarkan dengan putrinya lalu dia tangkup wajahnya keduanya kini saling bertatapan.
Mata Rania mulai berkaca-laca melihat air mata putrinya mengalir di pipinya.
"Jangan nangis, mulai sekarang Adriana harus terbiasa tanpa Papa, ya! Papa kan sibuk urusan kerja urusan yang lainnya jadi mulai sekarang Adriana harus mandiri, kan masih Ada Mama," papar Rania membuat Adriana menganggukan kepalanya.
Rania membawa Adriana ke pelukannya dan di saat itu Rania meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Kamu harus terbiasa Nak, tanpa Papa. Dan mungkin ini yang terbaik untuk memberikan pengertian agar kamu terbiasa jika suatu saat nanti Mama dan Papa harus berpisah," ucap Rania dalam hati dengan tetesan ait mata yang jatuh. Namun Rania segera menghapusnya sebelum ahirnya mereka melerai pelukannya.
Mereka ahirnya memilih pulang sepanjang jalan Adriana lebih banyak diam dia tidak seceria biasanya.
Sementara itu Aditama sedikit kepikiran dengan perubahan wajah anaknya. Berbeda dengan Khansa yang begitu menikmati momen berdua dengan Aditama karena ini baru pertama mereka jalan keluar.
Sesekali Khansa menggoda Aditama dengan menyipratkan air namun Aditama hanya tersenyum penuh paksaan karena pikiran dia ke Adriana.
"Kenapa si Mas?" tanya Khansa mendekat.
"Kita pulang," kata Aditama sambil bangkit dari duduknya, membuat Khansa mendengus dengan kesal.
Setelah menempuh jarak kurang lebih satu jam Rania sudah sampai di rumah dan si Mbok juga sudah selesai kerjanya.
"Istirahatlah, nanti Mama belakangan," titah Rania. Sementara Adriana menganggukan kepalanya sebagai jawaban lalu dia langsung melangkah dan menaiki anak tangga.
"Mbok, ini aku bawakan oleh-oleh, ada dodol terus wingko, kebetulan tadi ada yang jualan di pinggir jalan, dan ini ada makanan lauk ikan kakap kuning nanti Mbok tinggal angetin saja, rasanya enak Mbok, tadi aku juga makan sama itu, Dan ini boneka buat cucu Mbok," kata Rania membuat si Mbok terharu.
"Ya ampun Nduk, ini banyak sekali. Terimakasih banyak," ujar Si Mbok dengan wajah bahagia.
Si Mbok dan Rania menoleh ke sumber suara terlihat Khansa yang sedang bergelayut manja di tangan Aditama.
"Adriana mana?" tanya Aditama.
"Jangan di ganggu, biarkan dia tidur agar suasana hatinya lebih baik," sindir Rania.
"Kak Rania, aku sama Mas Adit tadinya gak ada rencana untuk jalan-jalan namun melihat kalian pergi aku mengajak mas Adit untuk pergi dan ternyata dia setuju," ujar Khansa membuat Rania mengepalkan tangannnya.
"Mbok makasih untuk hari ini, Mbok gak papa kalau mau pulang,"
Bukan ngusir namun Rania tidak ingin si Mbok ikut bersedih melihat dia, Apa lagi ini sudah waktunya si Mbok pulang.
__ADS_1
Si Mbok pun pamitan namun sebelum dia pergi Si Mbok memeluk Rania dengan mengusap punggungnya memberikan dukungan agar sang majikan sabar. dia hanya membukukan badannya ketika melewati tubuh Aditama.
"Sepertinya aku harus bermain lembut dengan Khansa, jika dengan kekerasan dia akan mengadu yang tidak-tidak," gumam Rania dalam hati lalu wajah dia langsung berubah tanpa adanya guratan emosi.
"Khansa, Kakak boleh minta tolong untuk membereskan ini?" tunjuk Rania ke arah baju kotor Adriana dan miliknya," tolong masukan baju itu ke dalam mesin cuci, kamu kan adik madu yang sangat baik sampai suami aku saja kagum sama kamu," ujar Rania dengan tersenyum manis lalu dia merangkul pundak Khansa sehingga Aditama sedikt bergeser.
"Tapi kan Kak?" Khansa sedikit menolak.
"Kamu kan baik, iya kan Aditama?" kata Rania menoleh ke arah suaminya yang mengangguk.
Dengan amat sangat terpaksa dia melakukannya jelas karena itu ada Aditama.
Sementara itu Rania mengajak Aditama ke atas, Rania mengulas senyumannya dia berhasil ngerjain Khansa.
Rania langsung mengunci kamarnya lalu menatap Aditama dengan tatapan tajam.
"Apa maksud kamu dengan suma ini? Adriana, dia sangat berharap bisa jalan-jalan sama kamu tapi kamu malah jalan dengan perempuan itu, apa kamu tidak berfikir perasaan Adriana,hah!" Emosi Rania mulai meledak.
"Kamu boleh menyakiti aku Mas, tapi setidaknya jaga perasaan anak kamu!" tekan Rania.
"Aku tidak tahu kalian pergi kesana, seandainya tahu kalian ke sana aku mungkin akan memilih tempat lain," sahut Aditama.
Rania yang mendengar penuturan itu dia makin emosi bukan malah jawaban yang enak namun justru Aditama seolah sengaja menolak ajakan Adriana dan lebih memilih jalan dengan Khansa.
"Kamu lebih memilih dia? Dari pada anak sendiri?" ujar Rania dengan berderai air mata.
Aditama mengusap wajahnya dengan kasar lalu dia tarik ke belakang dan menarik rambutnya.
"Rania tolonglah mengerti aku, aku juga ingin ada waktu buat Khansa," jawab Aditama.
"Aku bisa mengerti jika aku yang mengajak kamu lalu menolak dan lebih memilih Khansa, aku mengeri mas," Rania menghapus air matanya dengan kasar," tapi ini Adriana. Anak kamu. dia kecewa bahkan menangis,"
__ADS_1
Sementara itu di luar kamar Khansa menempelkan daun telingannya ke pintu agar dia dengar pembicaraan suami istri itu. Namun karena ruangan kamar yang kedap suara jadi tidak akan mendengar ucapan mereka dari luar.
"Sialan, aku tertipu!" umpat Khansa sedikit memukul pintu itu.