
Aditama keluar dari sekolahannya dia melangkah dengan sedikit berlari menunju mobilnya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sebuah dering telepon membuat Aditama menoleh, Khansa memanggilnya namun sama Aditama gak di angkat dia fokus ke jalan.
Aditama sendiri tidak kepikiran bahwa Rania di rumah si Mbok justru dia akan menuju ke bandung walau jarak yang di tempuh kurang lebih tiga jam.
Khansa terus berusaha menghubungi namun masih tetap tidak di angkat.
"Kemana sih kamu mas?" ucap Khansa yang masih mencoba untuk menghubungi entah ini sudah ke berapa kali Khansa telepon Aditama.
Aditama yang merasa terganggu dengan dering dari ponselnya dia menepikan mobil itu lalu dia ambil benda pipih itu dan di saat bersamaan Khansa kembali menghubunginya.
"Mas di mana? Kenapa telepon aku gak di jawab?" ujar Khansa langung memberikan pertanyaan ketika telepon itu tersambung.
"Aku mau ke bandung, jaga rumah, baik-baik di sana," jawab Aditama yang menatap lurus.
"Apa? Bandung? Mau ngpain mas?" tanya Khansa di sebrang sana sampai dia pun berdiri.
"Aku mau ke rumah Rania, Adriana keluar dari sekolahnya aku rasa dia ke Bandung ke rumah asalnya," jawab Aditama.
Khansa memejamkan matanya dia menarik napas berat kobaran api cemburu mulai mengusik dirinya.
"Mas, tidak seharunya seperti itu. Kalian sudah bercerai gak harus sampai segitunya, kalian jalani kehidupan masing-masing," sahur Khansa dia sudah mulai tak tenang mendengar suaminya akan menemui mantan istrinya.
"Aku hanya ingin bertemu dengan Adriana saja," jawabnya.
"Oh, tuhan! Ayo lah Khansa gunakan ide berilian agar Aditama bertekuk lutut pada ku, setidaknya mencegah dia ke bandung," ucap Khansa dalam hati.
"Tapi kan mas... Itu sudah bukan tanggung jawab kamu," tukas Khansa mencoba untuk menggagalkan Aditama.
"Sudahlah Khansa, kamu baik-baik ya di sana,"
Panggilan pun terputus.
"Aghhhhh,"
Khansa melempar ponsel itu ke kasur.
"Apa aku harus nekat supaya dia gak jadi ke bandung," gumam Khansa.
__ADS_1
Sementara itu Iqbal yang sudah ada di rumah si Mbok dia duduk di teras bersama dengan Rania sementara si Mbok dan Liza merapihkan barang belanjaan, Adriana dan Mahya dia main bersama
"Rania, kenapa kamu tidak certia ada masalah sebesar ini," kata Iqbal memulai pembicaraan.
Rania menghela napasnya pandangannya jauh menatap ke depan di mana terlihat ada ibu-ibu yang lalu lalang.
"Rania," panggil Iqbal.
"Karena bagi aku ketika aku masih menjadi istri orang, aku tidak berhak cerita sama lawan jenis, walau kamu dulu teman terbaik aku mungkin sampai sekarang," Rania menoleh lalu tersenyum kemudian dia kembali menatap lurus.
"Bukan kah kita sudah kena fitnah gara-gara pertemuan tidak sengaja di cafe? Bagaimana jika aku selalu sering menghubungimu nanti malah mereka makin kuat dugaan bahwa aku selingkuh," lanjut Rania kemudian dia menunduk.
Iqbal menarik napasnya benar apa yang di katakan Rania namun Iqbal belum puas karena dia belum tahu akar masalahnya seperti apa.
"Rania, aku tahu itu kamu sangat menjaganya, namun dari mana suami kamu tahu bahwa kamu pernah ketemu aku?" kata Iqbal membuat Rania menoleh.
"Itu Khansa, perempuan yang waktu itu kamu curigai, aku yakin dia, namun saat itu aku juga tidak curiga sama sekali bahwa itu adalah Khansa karena aku belum begitu hafal bentuk fisiknya sehingga ketika melihat punggung wanita itu aku gak mengenalinya,"
"Lantas bagai mana kamu bisa bertemu dengan Aditama?" tanya Rania yang kembali menatap lurus.
Iqbal pun menjelaskan awal mula dia bertemu dengan Aditama sampai ahirnya Iqbal di kasih bogeman sampai mengakibatkan ada luka di bagian sudut bibirnya.
Iqbal menatap Rania dia melihat purubahan di wajahnya ketika Aditama bilang masih cinta, perubahan wajah yang sangat kentara ada rasa benci, emosi, dan rasa cinta tergambar jelas di wajah Rania, itulah pikiran Iqbal menerka-nerka.
"Maaf kamu jadi korban perlakuan mantan suami ku," ujar Rania.
"Rania, aku hanya ingin tahu kenapa kamu sampai di talak? Aku yakin kamu gak salah, aku tahu kamu, sifat kamu, katakan selain kamu di tuduh selingkuh apa lagi penyebab kamu di talak?" Iqbal sedikit memohaon agar sahabat lamanya cerita bukan karena dia akan mudah masuk ke hati Rania tapi setidaknya jika dia dihadapan Aditama dia akan membela Rania dengan fakta yang ada.
Belum juga Rania menjawab justru malah air mata itu menggenang hingga tetesan air mata itu keluar tanpa bisa di cegah, Rania segera menghapusnya.
"Bukan aku tidak mau cerita, namun jika aku cerita maka akan teringat di mana dia mentalak aku dan dengan mudahnya dia membawa madu tanpa sepengetahuan aku," isak Rania pada ahirnya, Iqbal menarik napas dalam lalu mengusap punggung sahabatnya itu untuk menguatkan.
Setelah tenang Rania pun bercertia dari awal mula Aditama membawa Khansa, sesekali Rania menjeda ucapannya karena tak kuasa untuk melanjutkan ceritannya.
Si Mbok dan Liza yang tidak sengaja mendengar cerita Rania ikut menetesakn air mata, apa lagi Liza dia seoalah ikut apa yang Rania rasakan begitupun si Mbok walau dia tahu kejadian di tempat tapi jika ingat dengan cerita itu dia juga ikut meneteskan air mata walau tidak seperti Liza yang berderai air mata, si Mbok menyeka sudut matanya, Liza berulang kali menarik napasnya.
"Ya Allah, kasian sekali ibu Rania," isak Liza sambil menyeka sudut matanya.
Iqbal yang melihat sahabtnya menangis ingin rasannya dia membawa kepelukannya dan menguatkan wanita yang selama ini bertahta di hatinya, namun pasti Rania akan menolaknya.
__ADS_1
"Terus, kamu akan tinggal di mana?" tanya Iqbal ketika Rania sedikit tenang tangisannya.
"Mungkin akan ke Bandung," jawab Rania.
"Kapan?"
"Insya Allah besok,"
"Baiklah, besok aku antar kamu, sekalian aku pulang," ujar Iqbal.
Tak ada lagi obrolan dari keduannya mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Hingga tak terasa waktu sudah menunjukan jam lima sore, Iqbal ahirnya pamit tak lupa dia meminta nomer Rania agar mempermudah komunikasi untuk besok ke Bandung.
Rania pun tidak keberatan jika Iqbal mengantarnya karena dia sendiri akan pulang.
Iqbal pun pamit dia mengendarai mobilnya dengan tidak fokus karena pikirannya ke Rania.
"Bodoh sekali Aditama," umpat Iqbal seorang diri.
Sementara itu Aditama yang sudah sampaii ke Bandung, dia sedikit bingung karena penampilan rumah itu terlihat sepi tidak berpenghuni bahkan pintu itu tertutup rapat lampu hanya menyala di bagian depan debu terlihat masih tebal.
"Kenapa sepi?" gumam Aditama dia melangkah hendak mengetuk pintu namun sebuah sapaan membuat dia menoleh.
"Bapak teh suaminya Rania kan?" tanya seseorang yang melinatas di depan rumah Rania.
"Iya, Ranianya ke mana?"tanya Aditama.
"loh! Bapak kan suaminya kenapa cari Rania kesini?" perempuan itu balik bertanya.
"Saya...hanya... Emmm," Aditama sedikit bingung untuk menjelaskan.
"Ih ari kamu suami sendiri tidak tahu istrinya di mana?" Rania tidak ada di sini, rumahnya aja nampak sepi," ketus ibu-ibu itu merasa geram. Lalu dia meningglkan Aditama yang terlihat kebingungan.
"Kamu di mana Rania, aku cari kamu, kalian tinggal di mana sebenarnya," gumam Aditma kemudian dia melangkah dan masuk ke dalam mobil.
Dia menyandarkan tubuhnya dengan memejamkan mata terlintas di pikirannya bahwa Rania di rumah Si Mbok.
Aditama langsung terperanjat.
__ADS_1
"Kenapa aku tidak kepikiran ke sana," ujar Aditama yang langsung menyalakan mobil itu lalu melesat meningglkan tempat kelahiran Rania.