Tiba-Tiba Membawa Madu

Tiba-Tiba Membawa Madu
14. Aditama dan Iqbal.


__ADS_3

Rania memejamkan matanya dia membekap mulutnya agar sang anak tidak terganggu dengan isakannya, air mata itu mengalir deras berulang kali Rania menghapus air matanya.


Adriana terjaga dia membalikan badannya terlihat sang ibu sedang duduk memunggunginya bahunya sedikit berguncang dia nagis tersedu-sedu.


"Mama," ucap Adriana sambil memeluk dari belakang. Rania segera menghapus air matanya.


"Apa sayang," ujar Rania di tengah isakkannya lalu dia membawa sang anak ke dalam pelukannya.


"Mama, pundak Adriana terasa perih," kata sang Anak sambil mendongakan kepalannya.


Mereka melerai pelukannya Rania menatap sang anak dengan genangan air mata, Rania mencoba berusaha untuk tidak menangis namun dia tidak bisa, sesak yang dia rasa membuat dia rapuh terlebih tahu sang suami sedang memadu kasih padahal dia baru beberapa jam meninggalkan rumah.


"Sayang buka baju dulu ya, Mama kasih obat, kamu pasti ketakutan melihat perlakukan bunda, cengkraman dia sangat kuat, sehingga terdapat luka lebam,"ujar Rania sambil membuka baju Adriana lalu dia mengoleskan cream agar luka lebam itu perlahan memudar, Adriana sedikit meringis ketika di sentuh.


"Sakit mama, pelan-pelan," ujar Adriana, Rania lalu kembali memotret luka itu jaga-jaga jika suatu saat foto itu akan di butuhkan.


"Sudah selesai, pake lagi bajunya," titah sang ibu sambil menaruh cream itu.


Sebuah ketukan di pintu membuat Rania bangkit lalu dia membuka pintu itu.


"Makan dulu Nduk," kata Si Mbok. Rania menoleh ke dalam terlihat Adriana sudah selesai memakai bajunya. Rania mengangguk kemudaian mereka berjalan menuju ruangan tengah di mana di situ ada empat kursi dan lemari es.


Liza menyiapkan makanan terlihat dia sangat senang menyambut Rania, karena bagai manapun Rania begitu baik sering memberi apalagi mainan buat anaknya itu dari Rania semua.


"Kursinya cuma ada empat jika kita makan di sana gak cukup, apa kita lesehan saja? duduk di atas tikar,"ujar Rania menatap Liza lalu si Mbok yang sedang menatap anaknya.


"Tapi kita gak enak sama Ibu, jika makan di bawah," sahut Liza.


"Sebelum aku nikah sama Mas Adit aku juga pernah makan di bawah ketika Ambu sama Bapak masih ada," ujar Rania sambil tersenyum.


Liza pun mengangguk lalu dia ambil tikar, makanan yang ada di atas meja di taruh di atas tikar, Rania pun ikut membantu sementara Adriana sedang bermain sama anaknya Liza yang bernama Mahya usianya beda dua tahun dengan Adriana.


Setelah selesai menaruh makanan, mereka pun menikmati makanan walau dengan lauk sederhana ikan tongkol yang di masak pake bumbu balado serta tumis kangkung dan sambal terasi serta lalapan.


Rania menikmati hidangan itu dia teringat akan dulu di mana orang tuannya masih hidup.


"Maaf ya bu, kami hidangkan lauk yang sederhana," ujar Liza sambil mengunyah makanannya mereka makan menggunakan tangan, Rania pun ikut menggunakan tangan.


"Ini sangat enak, justru suasana seperti ini aku rindukan, teringat akan Ambu dan Bapak."


Adriana pun tak kalah menikmatinya walau dia mencoba makan pake sambal dia terlihat kepedasan.


Usai makan Rania membantu membereskan bekas makanan walau berulang kali si Mbok dan Liza menyuruhnya untuk istirahat.


Rania bukan terlahir dari orang kaya jadi dia bisa menempatkan diri.

__ADS_1


Setelah selesai mereka ngbrol di ruang tamu mereka bicara ngalor ngidul namun lebih banyak si Mbok yang bercertia mengisahkan masa lalunya yang bikin ketawa.


Rania terhibur dengan cerita si Mbok di mana waktu masih gadis si Mbok jadi rebutan.


Sementara itu Adriana sedang asik main boneka dengan Mahya.


Sebuah dering telepon membuat mereka berhenti, Rania melihat ke layar ponsel terlihat Aditama memanggilnya. Rania menghembuskan napasnya dengan kasar ketika tahu Aditama yang memanggil.


"Angkat saja bu," kata Liza yang selalu memanggil Ibu karena tidak enak walau usiannya seumuran, Liza menghargai karena Rania seorang majikan di mana si Mbok kerja walau berulang kali Rania suruh memanggilnya nama.


"Baiklah aku pamit ke kamar dulu," pamit Rania kemudian dia ngasih tahu Adriana akan ke kamar.


Setelah di kamar Rania ragu untuk menjawab hingga panggilan terputus, tak lama detik berikutnya ponsel itu kembali berdering, Rania menarik napas berat sebelum ahirnya dia mengangkat telepon itu.


"Ada apa?" tanya Rania datar.


"Aku sudah melihat video kamu dengan laki-laki itu, apa kamu dendam Rania? Aku kecewa sekali sama kamu!" ujar Aditama di sebrang sana to the point.


"Apa kamu telepon hanya ingin menanyakan hal itu? Tidak kah kamu berusaha berfikir logis dulu? berusha mencerna jangan kamu telan informasi itu mentah-mentah," kata Rania penuh penekanan.


"Tidak perlu mencerna karena semuanya sudah ada bukti," sahut Aditama.


"Baiklah, jika kamu masih percaya sama Khansa, pembelaan aku percuma di mata mu. Bahkan jika aku kirmkan luka lebam bekas cengkrama Khansa kamu gak akan percaya," tukas Rania sedikit meninggikan suaranya.


"Apa maksud kamu?" tanya Aditama dia berdiri dari duduknya.


Lalu Rania mengirm foto itu yang memperlihatkan pundak Adrian yang lebam.


Aditama tercengang melihat itu lalu dia melangkah menuruni anak tangga di mana Khansa berada.


Khansa melihat perubahan wajah suaminya sedikit ketakutan sorot matanya sangat tajam.


"Apa ini Khansa," bentak Aditama sambil memperlibatkan foto itu.


"Sayang, foto apa itu bahkan aku tidak faham maksud kamu," Khansa berusaha untuk tenang dia tidak boleh terlihat panik.


"Rania bilang kamu yang melakukannya,"


"Sayang percaya begitu saja sama dia? Bukan kah kamu juga melihat bagai mana dia memperlakukan aku seperti apa!" wajah Khansa di buat memelas agar Aditama percaya.


Aditama menarik napas berat lalu dia duduk di samping Khansa, kemudian Khansa menggengam tangan Aditama.


"Kamu lebih percaya dia mas?" tanya Khansa sambil dagunya ia taruh di pundak sang suami.


"Aku butuh sendiri," bangkit Aditama meningglkan Khansa begitu saja.

__ADS_1


Khansa merasa kesal dengan Rania dia sendiri tidak menyangka akan meningglkan luka dibagian pundak Adriana.


"Sial! Kenapa aku tidak hati-hati!"umpat Khansa.


***


Keesokan harinya ini hari pertama Rania di rumah si Mbok dia mau mengantar Adriana ke sekolahnya sekalian mengurus kepindahan sekolah Adriana, karena Rania sudah memutuskan untuk kembali ke bandung dan menetap di sana.


Rania menggunakan aplikasi online untuk menuju ke sekolahan Adriana walau sang supir yang biasa menjemput Adrian menghubunginya tapi Adriana lebih memilih naik ojek.


Adriana tidak keberatan walau dia harus berpisah dari teman sekelasnya karena Adriana mengerti dengan kondisi saat ini. Jika memungkinkan Rania akan pulang besok kebandung.


Duit yang terkumpul cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan Rania dan Adriana jika mereka tinggal di bandung. Rania akan cari pekerjaan di sana.


Sementara itu Aditama yang sedang melangkah menuju kantornya dia menajamkan penglihatnnya terlihat seseorang seperti laki-laki yang ada di video itu.


Aditama mempercepat langkahnya sementara seseorang itu terus melangkah.


"Tunggu!" ujar Aditama di mana kebetulan cuma ada mereka di sana.


Iqbal melihat kesekliling takut orang itu salah memanggil Iqbal pun menunjuk dirinya memastikan apakah panggilannya itu untuk dirinya apa bukan.


"Iya," jawab Aditama memastikan, Iqbal sedikit mengerutkan keningnya berasa kenal dengan orang yang ada di hadapnnya.


"Ada apa ya? apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Iqbal.


"Kamu, temennya Rania, kan?" kata Aditama dengan tatapan sulit di artikan.


"Ahh, saya ingat anda sumainya Rania," Iqbal mengulurkan tangannya namun Aditama tidak membalas uluran tangan itu hingga ahirnya Iqbal menurunkannya kembali.


Bughh


Sebuah bogeman mentah mendarat di wajah Iqbal. Iqbal terkesiap karena tiba-tiba di serang tanpa bisa menghindar bahkan Iqbal sedikit limbung. Dia menghapus darah yang ada di sudut bibirnya, ia tidak mengerti kenapa suami dari sahabtnya menghajarnya.


"Apa-apa ini, kenapa kamu menyerang aku tiba-tiba," ujar Iqbal meringis.


"Itu karena kamu telah berani mendekati istriku," jawab Aditama.


"Aku masih kurang mengerti dengan maksud kamu,"


Aditama mengeluarkan ponsel itu lalu dia tunjukan foto dan Video, Iqbal terbelalak ingatnnya kembali di mana seorang wanita yang duduk di caffe selalu mengarahkan ponselnya ke arahnya.


"Aku sama dia tidak sengaja ketemu di sana, foto itu tidak benar, perempuan itu pasti ingin memfitnah Rania," kata Iqbal sedikit menjauh.


"Dia istri kedua ku, dan sekarang menjadi satu-satunya,"

__ADS_1


"Apa?" pekik Iqbal menatap suami dari Rania itu dengan tatapan tidak percaya dengan ucapannya.


Bagai mana bisa seorang Rania bisa di hianati terlebih suaminya lebih memilih istri keduanya. Iqbal berulang kali menanyakan apakah dia baik-baik saja, ternyata benar dugaannya sahabatnya menyimpan masalah yang sangat pelik.


__ADS_2