Tidak Ada Yang Namanya Pahlawan

Tidak Ada Yang Namanya Pahlawan
Handsome Bastard ( 2 )


__ADS_3

Karena hari ini tanggal merah, aku jadi harus menunda rencana penyerangan ku pada Ra'is.


dan yang sedang aku lakukan saat ini adalah hal yang lumayan menyenangkan, yaitu menyiram tanaman di halaman rumah ku.


aku tidak memiliki niat khusus seperti melihat Swan di pagi hari saat liburan atau memperkenalkan diri sebagai calon menantu pada orang tuanya.. hal seperti itu sama sekali tidak terlintas dalam pikiran ku.


“kak.. kenapa kau menyiram tanaman di pagi hari seperti ini?”


Agan tidak mendengar panggilan dari adiknya karena sedang tenggelam dalam pikiran beja– ehemm.. dalam pikirannya.


Alia langsung merasa kasihan pada kakaknya karena dia masih mencintai Swan meskipun sudah pernah di tolak.


Alia berjalan mendekati Agan kemudian menggenggam tangannya dan menyuruh sang kakak masuk.


“ada apa Lia..?”


“aku mengerti perasaan mu kak, tapi tolong setidaknya sayangilah dirimu sendiri”


Agan merasa sangat kebingungan dengan pernyataan adiknya, namun karena Agan baru pertama kali melihat adiknya seperti itu.. sepertinya ini bukan hal yang buruk, begitulah kira-kira yang dipikirkan olehnya.


“Lia.. mau menemani ibu belanja nggak?”


“jam segini.. belanja? memang ada tempat dekat sini yang sudah buka?”


Agan bertanya karena penasaran.


“toserba depan komplek biasanya sudah buka jam segini, Agan mau nyoba nganter mamah?”


“Agan bisa nolak nggak?”


“loh, mamah kan nawarin bukan maksa.. kalau Agan nggak mau ya mamah ngajak Lia”


Alia menyenggol lengan Agan menyuruh kakaknya untuk ikut membantu, atas desakan dari adiknya Agan memutuskan untuk ikut belanja bersama dengan mamah.


mereka berangkat jalan kaki, mamah mengatakan kalau inilah alasan selama ini dirinya jarang sakit yaitu jalan pagi..


setelah sampai di toserba depan komplek, Agan tidak menyangka akan bertemu dengan 2 orang kenalannya secara bersamaan.


“kamu Anais kan? temen deketnya Sain dulu saat SMP”


“iya tante, tapi tante tidak kelihatan berubah ya.. awet muda banget, aku pikir tante Alia tadi..”


“bisa aja kamu..”


di saat yang bersamaan Agan bertemu dengan Swan, di lokasi yang lumayan berdekatan dengan mamahnya yang sedang mengobrol.


“hmmph..”


Agan menggunakan tangan kanannya untuk menutup mulut Swan sesaat setelah melihatnya.


“sstt.. aku ingin buru-buru pergi sebelum ketahuan oleh mamah..”


tepat setelah melepaskan tangan kanannya, mamah memanggil Agan untuk menemui seorang teman lama.


Swan yang juga tertarik langsung menyeret Agan untuk mendekati mamahnya.


“Swan juga disini? kok kamu diem aja sih Gan”


“perkenalkan, namaku Anais”


Anais langsung menyapa Swan sesaat setelah melihatnya.

__ADS_1


“nama ku Swan, kita seangkatan kan?”


“kamu tahu?”


“kita sempat berpapasan beberapa kali di lorong sekolah, tapi kamu benar-benar cantik ya kalau di luar sekolah”


para gadis tersebut berbicara dengan akrab seolah mereka sahabat lama yang di pertemukan kembali.


“Gan, kok temen cewek mu cantik-cantik tapi kamu masih jomblo sih?”


dalam hati..


mamah..!! kok ngomongnya kenceng banget..!?


Agan mengintip untuk melihat reaksi mereka berdua, dan ternyata.. keduanya tersipu malu karena ucapan mamah.


mereka berdua teringat dengan momen dimana Agan menggoda mereka.


“wah.. kamu pria yang jahat ya Gan, cobalah untuk lebih mengerti perasaan perempuan bla.. bla.. bla..”


Agan mendorong mamahnya menuju kasir untuk membayar belanjaan yang sudah masuk keranjang.


“maaf ya.. aku harus pulang duluan, jika ada yang kalian inginkan dariku katakan saja, jika aku sanggup akan ku coba untuk memenuhinya, dadah”


singkat tapi sempat terbayangkan, kedua gadis tersebut membayangkan sesuatu yang cukup liar tepat setelah mendengar perkataan 'jika ada yang di inginkan katakan saja' dan terhenti setelah mendengar suara tangisan seorang anak kecil.


“maaf Swan, aku akan bertanya langsung karena penasaran.. tapi apakah kamu juga menyukai Agan?”


“eh.. juga? maksudmu kau..”


“ah..bu-bukan begitu, aku.. maksudku anu, ah.. sudahlah aku pergi duluan”


Anais pergi meninggalkan Swan karena malu, namun dia meninggalkan keranjang belanjaannya tepat di hadapan Swan.


Swan tertawa kecil melihat tingkah ceroboh Anais.


“ tapi apakah dia gadis yang dimaksud oleh Agan ya..? lalu kenapa dadaku sesak sekali mengetahui Anais suka pada Agan.. uhh, pagi yang menyebalkan”


saat Agan dan mamahnya sudah sampai di rumah, dia bertanya kenapa mamah melakukan semua hal tadi saat di toserba.


“itu karena mamah merasa momentum nya pas, lagipula mamah tahu kalau Agan anak mamah itu orang nya cerdas.. mamah juga penasaran ingin liat reaksi kamu kalau lagi salting”


“begitu ya.. tadi itu perasaan ku bingung banget soalnya”


“kok gitu..?”


“iya, rasanya kayak takut melihat istri ketemu sama pacar mah..”


mamah Agan langsung mencubit pipi anak laki-lakinya sambil sedikit mengomelinya.


“becanda mah.. lepasin, Agan cuman becanda doang tadi”


“inget.. kamu jangan kayak ayah kamu, ok?”


“baiklah..”


Agan orang yang menyiksa seorang preman sampai tidak berdaya, sekarang merasa sangat tidak berdaya saat bersama dengan ibunya..


“capek kak?”


“boleh bantu pijetin punggung kakak gak?”

__ADS_1


“dibayar?”


“tergantung sama seberapa enak kamu mijetinnya.”


“baiklah..”


di saat Alia sedang memijat punggung kakaknya terdengar suara ketukan di pintu depan yang menandakan ada seorang tamu.


“kak, bangunlah..”


Agan yang sudah tertidur cukup pulas di atas sofa terpaksa harus di bangunkan oleh Alia karena ada tamu, Agan diminta untuk pergi ke kamarnya jika masih ingin melanjutkan tidur atau dia boleh ke kamar mandi dan mencuci mukanya.


Agan yang masih mengantuk memutuskan untuk kembali tidur dengan pergi menuju ke kamarnya.


setelah membuka pintu, orang yang menjadi tamu di pagi hari ini adalah kak Swan.. tetangga mereka.


“eh.. kak Swan, ada apa kak?”


“begini Lia, ibuku ingin berkunjung ke sini siang nanti.. aku hanya ingin memastikan, apakah ibumu ada rencana lain siang nanti?”


mamah datang menghampiri mereka berdua yang sedang berbicara di pintu masuk dan menyuruh Swan masuk, Alia bersyukur karena kak Agan sudah masuk ke kamarnya untuk tidur..


setelah duduk, mamah langsung menyerang Swan dengan pertanyaan..


“Swan, kamu kok bisa cantik banget sih.. mamah pengen banget kalau bisa punya anak perempuan kayak kamu..”


“bukankah Alia juga cantik ya tante?”


“tentu saja, tapi Alia mirip dengan ayahnya.. coba saja Agan seorang gadis.. mungkin rumah ini akan menjadi lebih ramai”


Alia langsung paham dengan apa yang dipikirkan oleh ibunya, mamah berusaha menjadi penghubung antara kakak dan kak Swan.. berikutnya pasti..


“kak Swan punya orang yang sedang disukai tidak?”


“ma-maksud Lia gimana??”


dalam pikiran Swan sempat terlintas wajah Agan.


“maksudku kak Swan kan memiliki wajah yang cantik, tidak mungkin kakak belum pernah menerima pernyataan cinta dari seseorang.. ya kan?”


“itu benar.. tapi aku belum terlalu mengerti tentang hal-hal yang seperti itu, jadi selalu menolak mereka..”


mamah melihat kak Swan seperti mangsa, dan sekarang mamah sedang memberikan jempol padaku karena sudah mengerti tujuannya..


maaf ya kak Swan, aku tahu kau sudah pernah menolak kakak ku.. tapi aku sebagai adik akan mencoba untuk membantu usaha ibuku sebagai penghubung diantara kalian berdua.


“lalu kalau tentang kak Kuga bagaimana, apa yang kakak rasakan saat bersama dengannya?”


“dia sudah ku anggap seperti kakakku, orang-orang selalu menganggap kami sebagai pasangan.. tapi aku tidak bisa melihat kak Kuga seperti itu.”


melihat kak Swan yang selalu menjawab dengan reaksi imut dan natural, membuat Alia juga merasa sangat bersenang-senang saat menggodanya.


tapi belum sempat bertanya tentang pendapat kak Swan tentang kak Agan, dia sudah di panggil oleh ibunya untuk membantu membersihkan rumah.


“benar kata Agan..”


“kenapa mah, mamah kelihatannya puas sekali setelah menggoda kak Swan tadi..”


“kamu itu anaknya cerdas banget, mamah jadi bingung keturunan siapa sih kalian berdua ini..”


tentu saja kami anak mamah.. itu pertanyaan aneh yang mamah sendiri sudah sangat yakin dengan jawabannya, eh.. tapi, aku benar-benar bukan anak adopsi kan?

__ADS_1


Next →


__ADS_2