
Malam harinya, Blue mengajak Honey makan malam di sebuah restoran sederhana yang memiliki menu yang cukup enak.
"Ini enak, Blue," ucap Honey sambil memakan makanannya.
Blue hanya tersenyum dan mereka menghabiskan waktu di sana sampai hampir jam 9 malam.
Setelah itu, Blue mengantar Honey pulang ke rumah sang kakek.
Sesampainya di sana, Blue mengantar Honey sampai masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Marilyn.
"Halo, Sayang. Kau baru pulang. Apakah kau bersenang-senang hari ini?" tanya Marilyn.
"Ya, Mom," jawab Honey..
"Terima kasih, Blue," ucap Marilyn.
"Baiklah, aku pulang dulu," pamit Blue.
Honey dan Marilyn kompak mengangguk.
"Bye." Honey melambaikan tangannya pada Blue.
*
Marilyn mengantar Honey masuk ke kamarnya.
"Apa saja yang kalian lakukan sepanjang hari tadi?" tanya Marilyn.
"Aku berenang dan naik perahu di danau," jawab Honey.
"Danau? Apa kalian pergi ke sebuah danau?" tanya Marilyn.
"No, Mom. Ada danau di rumah Blue. Dan mommy tahu rumahnya? Sangaaaat besar seperti istana," ucap Honey.
"Oh ya? Lebih besar dari rumah kakek?" tanya Marilyn.
"Berkali-kali lipat lebih besar, Mom," jawab Honey dengan mata berbinar.
Marilyn hanya mengangguk saja dan mendengarkan cerita Honey yang tampak bersemangat menceritakan kegiatannya bersama Blue seharian ini.
Honey tak masih belum mengatakan permintaannya pada Blue untuk mencari ayah kandungnya.
Dia ingin memastikan dulu tentang keadaan ayahnya terlebih dulu agar sang ibu tak terlalu kecewa jika Blue tak menemukannya.
*
*
Keesokan harinya, Blue dikejutkan dengan kedatangan beberapa anggota keluarganya yang datang secara bersamaan.
Sang keponakan yang masih berumur 6 dan 5 tahun itu tampak menaiki ranjangnya.
"Uncle Blue!! Bangunlah!!" panggil Jeth -- anak sulung dari Ocean dan Joy -- kakaknya.
"Hmm, kalian sudah datang?" tanya Blue dan si bungsu yang bernama Farrow pun naik ke atas perut Blue.
"Ya, ayo kita bermain di danau, Uncle," ajak Farrow.
"Nanti siang saja, oke?" ucap Blue dan memeluk Farrow lalu menjepitnya dengan kakinya.
Farrow tertawa karena merasa geli ketika perutnya tertekan dengan paha Blue. Jeth pun ikut naik ke punggungnya dan mengganggu Blue tidur.
__ADS_1
"Come on, Uncle," rengek Farrow.
"Kalian bisa pergi bersama daddy kalian," jawab Blue.
"Daddy pergi bersama mommy dan mereka menitipkan kami di sini," sahut Jeth.
"Pintar sekali mereka," gumam Blue menanggapi kelakuan sang kakak.
"Baiklah ... Baiklah," ucap Blue yang akhirnya bangun karena gangguan dari keponakannya itu tak ada hentinya.
"Uncel Sky belum datang?" tanya Blue.
"Belum," jawab Jeth.
Blue menggendong Farrow di pundaknya dan menggandeng tangan Jeth.
Dia keluar dari kamarnya dan masih tak menggunakan bajunya.
"Di mana nenek?" tanya Blue pada keponakannya.
"Di dapur," jawab Jeth.
"Aunty Red?" tanya Blue lagi sambil berjalan ke arah dapur.
"Masih tidur bersama Berrry," jawab Jeth lagi.
"Uncle akan makan dulu," ucap Blue.
Blue meleawatkan makan paginya dan ini sudah hampir menjelang siang.
Blue memasuki area ruang makan dan melihat Honey sudah berada di sana sedang mengobrol bersama sang mommy.
"Blue? Kau sudah bangun?" ucap Honey dan menghampirinya.
"Kau tak bilang akan kemari," kata Blue dan mengecup bibir Honey.
"Ya, aku ingin bertemu keluargamu lebih awal. Tak masalah, kan?" ucap Honey sambil mengacak rambut halus Farrow.
"Tentu saja tak masalah," jawab Blue dan menggandeng tangan Honey menuju meja makan.
"Uncle, cepatlah makan, kami menunggu di taman," ucap Jeth dan berlari keluar bersama Farrow.
"Ya, jangan ke danau sendiri. Tunggu uncle, oke?" teriak Blue.
"Kau melewatkan makan pagimu, Blue," ucap Yara dan Blue mencium pipinya.
"Di mana daddy, Mom?" tanya Blue.
"Daddy pergi bersama Xander," jawab Yara dan mengoleskan krim ke roti yang baru di panggang oleh pelayan.
"Duduklah, Sayang," kata Yara pada Honey karena Honey menunggu Yara duduk, baru dirinya akan duduk.
Karena Marilyn selalu mengajarkan Honey tentang etika kesopanan pada orang tua.
"Ya," jawab Honey dengan suara lembutnya.
"Oh my God. Kau benar-benar beruntung. Blue," ucap Yara.
Blue tertawa pelan dan Honey hanya tersenyum karena tak mengerti apa maksud perkataan Yara.
Yara berbeda dengan Marilyn yang cenderung sedikit lemah lembut jika berbicara. Di mata Honey, Yara sosok wanita yang ceria dan suka keramaian serta selalu bercanda.
__ADS_1
Dan Honey cukup senang berada di dekat Yara yang sudah menganggapnya putrinya sendiri meskipun mereka baru bertemu sebentar saja.
"Kau tak makan, Sayang?" tanya Yara.
"Tidak, aku masih kenyang," jawab Honey dengan sopan.
Yara membelai pipi putih Honey.
"Kau manis sekali seperti gulali," ucap Yara.
Blue kembali tertawa.
"Mommy tahu kan sekarang?" tanya Blue.
"Ya, mommy tahu. Itulah mengapa kau bergerak cepat," jawab Yara.
Dan sekali lagi, Honey tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Yara dan Blue.
"Kalian membicarakan apa?" tanya Honey dengan lugunya karena dia ingin juga masuk ke dalam pembicaraan mereka.
Yara melihat Honey dan tertawa lalu memeluknya.
"Ya Tuhan ... Jika kau sebuah kue, pasti aku akan memakanmu sampai habis," ucap Yara random seperti biasanya.
Honey semakin bingung dengan apa yang dikatakan oleh Yara.
"Hei ... Kalian tak mengajakku bergabung?" tanya seorang wanita cantik di ujung ruang makan yang sedang menggendong seorang gadis kecil cantik.
Honey melihat ke arah wanita itu.
"Sayang ... Kau sudah bangun?" tanya Yara dan mengambil gadis kecil itu dari gendongan Red.
"Dia Red, kembaranku," ucap Blue pada Honey.
Honey mengamati wajah cantik Red. Red memiliki rambut pirang dan mata biru seperti yang dikatakan Blue kemarin.
Tapi Honey tak melihat kemiripan Red dengan foto wanita yang ditemukannya di buku Blue kemarin.
Honey tersenyum canggung pada Red untuk menyembunyikan rasa galau yang dirasakannya saat ini.
"Jadi kau Red? Kau cantik sekali," ucap Honey tersenyum cantik.
Red mencubit pelan pipi Honey dan memeluknya.
"Akhirnya kakak tengilku akan menikah," kata Red.
Honey hanya tersenyum menanggapinya. Blue akhirnya menyelesaikan makannya.
"Honey, aku akan pergi ke danau. Kau ikut?" tanya Blue.
"Tidak, aku di sini saja," jawab Honey.
"Baiklah, aku akan ke danau dulu," ucap Blue dan dia pun berjalan menuju taman di mana Jeth dan Farrow sudah menunggunya di sana.
Yara dan Red melanjutkan obrolannya bersama Honey. Mereka pun saling mengenal melalui obrolan itu.
Honey cukup menikmati obrolan itu meskipun kini pikiran masih bercabang ke yang lainnya. Foto itu kembali memenuhi pikiran Honey.
'Siapa dia? Apakah dulu mereka sepasang kekasih?' . Pikiran itulah yang kini selalu berputar di otak Honey.
Dan dia cukup mengetahui perasaan yang dirasakannya saat ini yaitu rasa cemburu.
__ADS_1