
"Ibumu sehat?" tanya Kim pada putri cantiknya.
Honey mengangguk.
"Appa sehat?" tanya Hoeny lembut sembari mengusap pipi sang ayah.
Kim memegang tangan putrinya yang menyentuh pipinya.
Kim mengangguk tersenyum.
"Kau cantik. Gen Appa sangat mendominasimu," ucap Kim yang tak henti-hentinya tersenyum.
"Halmeoni pasti akan sangat senang melihatmu," kata Kim.
"Halmeoni?" tanya Honey.
"Nenekmu dari pihak Appa," sahut Kim.
"Apakah aku akan bertemu dengan Halmeoni juga?" tanya Honey dengan mata bersinar.
"Tentu saja. Kau adalah cucu satu-satunya di keluarga kami," ucap Kim.
Wajah Honey terlihat sedih mendengar hal itu.
"Jadi Appa adalah anak tunggal sepertiku?" tanya Honey.
"Tidak, hanya saja kakak Appa sudah meninggal," sahut Kim.
Lalu Honey memeluk sang ayah. Honey bisa merasakan bagaimana rasanya kesepian tanpa teman dan saudara.
"Halmeoni pasti sangat kesepian. Apakah kakek masih ada?" tanya Honey yang kemudian melibat kembali ke arah sang ayah.
"Halabeoji sudah meninggal 10 tahun yang lalu," ucap Kim.
"Ayo, kita pergi ke rumah Halmeoni," ucap Kim.
"Kita tunggi Blue dulu," kata Honey.
"Mungkin dia sedang menunggu di cafe bawah," ucap Kim.
"Aku akan meneleponnya dulu," sahut Honey dan mengambil ponselnya di tas.
Honey kemudian menelepon Blue.
"Halo, Baby. Ada apa?" tanya Blue.
"Kau di mana?" tanya Honey.
"Aku di lobby," jawab Blue.
"Baiklah, aku akan turun ke sana," sahut Honey.
"Oke," kata Blue.
Lalu Honey menutup teleponnya.
Honey melihat ke arah Kim. "Dia sudah menunggu di lobby, Appa," ucap Honey.
"Baiklah, ayo kita langsung turun," jawab Kim dengan tersenyum.
Honey mengangguk dan mengapit lengan sang ayah. Kim mengusap kepala Honey penuh kasih sayang dan membuat Honey tersenyum senang.
Honey bahagia ternyata ayahnya orang yang sangat baik dan bijaksana.
Para pegawai perusahaan milik Kim tampak melihat ke arah bos mereka dan Honey.
"Dia anakku," ucap Kim dalam bahasa Korea pada pegawainya yang kebetulan melintasinya.
Pegawai-pegawai itu tampak tersenyum juga melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Kim dan Honey.
__ADS_1
Honey melemparkan senyum manisnya setiap ada pegawai Kim yang menundukkan kepalanya hormat pada sang ayah.
"Gadis cantik itu anak Tuan Kim?" tanya salah seorang pegawai yang melihat pemandangan itu.
"Ya, begitulah rumornya. Mereka baru bertemu setelah berpuluh-puluh tahun berlalu," jawab manager personalia itu.
"Cantik sekali. Mungkin ibu gadis itu adalah orang Eropa," ucapnya lagi.
"Ya, orang Inggris dan dia sudah memiliki suami," sahut sang manajer.
"Pria di lobby itu suaminya?"
"Pria mana?" tanya manajer.
"Ya, ada pria Eropa yang kini menjadi bahan perhatian pegawai wanita di perusahaan ini," jawab pria itu.
Manajer itu hanya menggelengkan kepalanya saja.
*
*
Blue menunggu Honey di lobby dan beberapa pegawai tampak melihat ke arahnya.
Blue menyibukkan dirinya dengan melihat ponselnya saja sampai menunggu Honey datang.
TING ... Pintu lift terbuka. Honey dan Kim keluar dari lift.
Honey melihat Blue yang sedang duduk di sofa lobby dan banyak wanita yang memandanginya dari jauh.
"Appa, apa yang mereka lakukan? Mengapa mereka melihat Blue?" tanya Honey pada ayahnya.
Kim tertawa pelan dan mengusap tangan Honey.
"Suamimu terlalu tampan, Sayang," jawab Kim.
Honey mengerutkan keningnya dan mempercepat langkah kakinya menuju suami tampannya itu.
"Sayang," panggil Honey pada Blue dan melepaskan tangan Kim.
Blue menoleh ke arah Honey dan tersenyum.
Blue beranjak dari kursinya dan memegang tangan Honey.
"Sudah selesai?" tanya Blue.
Honey mengangguk. "Kita akan ke rumah Halmeoni," jawab Honey.
"Baiklah, ayo," sahut Blue.
Blue menundukkan kepalanya pada Kim untuk memberi tanda hormat seperti yang biasa dilakukan oleh orang Korea.
Kim menghampiri Blue dan menepuk pelan bahunya.
"Terima kasih atas segalanya," ucap Kim.
Blue tersenyum. "Itu sudah tugasku," jawab Blue.
Honey memeluk Blue dan mengecup dagunya.
Blue mengusap kepala Honey dan mengecup puncak kepalanya.
"Ayo kita berangkat sekarang," ucap Kim.
"Ayo," sahut Blue.
Lalu mereka bertiga pun pergi ke luar dari perusahaan Kim dan menuju ke rumah keluarga Kim.
Hanya lima belas menit saja mereka menempuh perjalanan ke rumah Kim.
__ADS_1
Mereka keluar dari mobil dan menuju ke arah beranda rumah mewah keluarga Kim.
Rumah Kim sangat lebar dan desain rumahnya seperti bangunan tradisional Korea tapi terlihat minimalis dan mewah.
Honey dan Blue mengedarkan pandangannya ke penjuru halaman dan rumah mewah itu.
"Rumah Appa sangat indah," ucap Honey.
"Ini rumahmu, Sayang," jawab Kim dan menggandeng tangan kanan Honey. Sedangkan Blue memegang tangan Honey.
"Ayo masuk. Halmeoni ada di dalam. Mungkin dia sibuk dengan tanaman-tanamannya," kata Kim.
Honey mengangguk dan mereka pun masuk ke dalam rumah.
Mereka melewati sebuah lorong panjang dan luas sampai akhirnya tiba di ruang tamu utama.
"Di mana Halmeoni?" tanya Honey.
Keadaan rumah yang sunyi dan sepi membuat suara Honey menggema di rumah yang tinggi dan luas itu.
"Ada di sana," ucap Kim menunjuk ke arah taman yang berbatasan dengan ruangan tengah.
Honey melihat ke arah sang nenek. Meskipun sudah tua, tapi sang nenek masih terlihat segar bugar.
"Ayo kita kejutkan dia," kata Kim.
Honey mengangguk dan menggandeng tangan Honey.
Blue tersenyum dan berjalan di belakang Honey dan Kim.
"Eomma ..." panggil Kim pelan pada sang ibu yang tampak menggunting tanaman kecilnya.
"Kau sudah datang, So Hyun?" tanya wanita tua itu dalam bahasa Korea.
"Hmm, aku membawa hadiah untukmu," jawab Kim pelan.
Lalu wanita itu berbalik dan melihat ke arah Kim dan Honey.
Wanita bernama Go Aera itu tampak melihat dengan seksama pada Honey.
"Dia siapa, So Hyun? Anak temanmu?" tanya Aera.
"Dia putriku, Eomma. Putriku bersama Marilyn," jawab Kim.
Aera seketika kaget dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Kau bercanda, So Hyun?" tanya Aera berbisik.
"Tidak, dia putri kandungku dan aku baru menemukannya," jawab Kim dengan meyakinkan pada ibunya.
Honey tersenyum.
"Halo, Halmeoni," sapa Honey dengan suara lembutnya.
Aera tampak meneteskan air matanya seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Senyum itu mengingatkannya pada mendiang suaminya.
Ya, senyum dan bibir Honey sangat mirip dengan suaminya yang tak lain adalah kakek Honey.
"Ya Tuhan," ucap Aera tercekat.
Honey mengambil tangan sang nenek dan menaruhnya di pipinya.
"Pakailah, bahasa Inggris, Eomma," kata Kim.
Aera hanya mengangguk dan tetap fokus melihat Honey -- cucu satu-satunya.
Sesuatu yang sangat diharapkannya sejak dulu, yaitu mempunyai seorang cucu.
Aera tak bisa menahan tangisnya lagi. Dia menangis dan mengusap-usap pipi halus Honey lalu memeluknya.
__ADS_1
"OOooh, Sayang," ucapnya dan membelai punggung Honey berulang kali seakan masih tak percaya bahwa dirinya mempunyai seorang cucu.