TOO BEAUTIFUL

TOO BEAUTIFUL
#39


__ADS_3

Ciuman Honey dan Blue semakin lama semakin dalam dan seakan enggan melepaskan tautan bibir mereka.


Blue bahkan sudah menindih Honey di atas sofa dan tangan nakalnya sudah masuk ke dalam dress Honey.


TOK TOK TOK ...


Terdengar bunyi ketukan dan membuat kedua manusia yang dimabuk asmara itu langsung tersadar dan menghentikan ciumannya.


Honey mendorong dada Blue dan membenarkan pakaiannya yang sudah kusut.


Blue mengumpat dalam hati karena hasratnya terpotong akibat bunyi ketukan.


Blue berdiri dan langsung menuju ke kamar mandi. Sedangkan Honey segera membuka pintunya ketika sudah merapikan baju dan rambutnya.


CEKLEK ...


"Ya, Mom?" tanya Honey ketika melihat sang ibu di depan pintunya.


"Sayang? Kau belum tidur?" tanya Marilyn.


"Hmm, ada Blue di kamar mandi. Dia ingin ke kamar mandi lalu kami akan jalan-jalan keluar. Tak masalah, kan?" tanya Honey.


Marilyn hanya tersenyum melihat sikap Honey yang sedikit salah tingkah.


"Baiklah, Sayang. Mommy hanya ingin memastikan bahwa kau tak lelah," ucap Marilyn.


Honey mengangguk dan tersenyum kemudian Marilyn pun pergi dari sana.


Honey menutup pintunya dan menghampiri Blue yang ada di kamar mandi.


"Blue? Kita jadi keluar?" tanya Honey.


"Ya, tunggu sebentar aku harus menyelesaikan sesuatu, Baby," teriak Blue dari dalam kamar mandi.


Honey mengedikkan bahunya dan kemudian mengambil tas kecilnya lalu menyampirkannya ke bahunya.


Honey duduk di tepi tempat tidur sambil melihat ponselnya.


Dia menunggu Blue cukup lama dan Honey berpikir mungkin Blue sedang sakit perut.


Beberapa menit kemudian, Blue pun keluar dari kamar mandi.


Honey melihat ke arah Blue.


"Apa perutmu sakit?" tanya Honey dengan polosnya.


"Ya, sedikit sakit. Ayo kita pergi," jawab Blue dan menggandeng tangan Honey.


Mereka pun keluar dari kamar Honey dan langsung menuju ke halaman depan.



Blue telah berganti mobil lagi menggunakan ferari hitamnya.


"Kau mengganti mobilmu lagi, Blue?" tanya Honey.


"Tidak, ini mobil yang ada di garasi mansion. Aku hanya mengajaknya keluar jalan-jalan," jawab Blue yang membuat Honey bingung.


"Aku tak mengerti," ucap Honey.


Blue merangkul bahu Honey dan memeluknya gemas.


"Mobil di garasi terlalu banyak, jadi aku akan menggunakan mobil yang berbeda agar mereka mendapatkan udara segar," jawab Blue yang membuat Honey semakin tak mengerti.

__ADS_1


Blue menyesap bibir Honey yang wajahnya semakin lucu jika sedang berpikir keras.


"Sudahlah, ayo naik," ucap Blue dan mereka pun naik ke dalam mobil.


Blue mengajak Honey ke sebuah restoran di pusat kota yang pemandangannya adalah langit malam London.


"Ini sangat indah, Blue," ucap Honey yang langsung duduk di kursi yang disediakan sambil menatap ke arah langit.


"Ya, aku dulu sering kemari bersama teman-temanku," sahut Blue.


Honey melihat ke arah Blue. "Teman? Kau memiliki berapa teman?" tanya Honey.


"Banyak karena aku suka berteman," jawab Blue.


"Apakah kau punya teman sepertiku?" tanya Honey.


Blue tertawa kecil dan mengecup bibir Honey.


"Tidak. Tak ada yang semenarik dirimu," jawab Blue.


Honey tersenyum dan membalas kecupan bibir Blue.


"Thank you," jawab Honey.


Blue mengusap pipi Honey yang terasa dingin karena angin.


Kemudian mereka memesan makanan.


Sembari pesanan mereka datang, Blue banyak bercerita tentang keluarganya.


"Blue!!" panggil seorang pria dari samping.


Blue menoleh dan melihat seorang teman lamanya.


"Bagaimana kabarmu?? Apakah petualanganmu sudah berakhir?" tanya Wilner sambil melihat ke arah Honey.


"Hei, come on ... Jangan membahas itu," jawab Blue.


"Ah ya, kenalkan dia calon istriku dan kami akan menikah bulan depan," ucap Blue.


"Woow ... Congratulation," ucap Wilner dan mengulurkan tangannya pada Honey.


Tapi Honey hanya menganggukkan kepalanya saja sambil tersenyum manis yang pasti membuat siapa pun terpana termasuk Wilner.


"Ada calon suaminya di sampingmu, Wil," ucap Blue.


Wilner langsung tertawa mendengar ucapan Blue.


"Sorry," sahut Wilner.


"Kau sendirian?" tanya Blue.


"Aku bersama teman kita yang lainnya karena kami masih saling berhubungan," jawab Wilner.


"Dan kami juga bersama Hannah," bisik Wilner.


Tampak raut wajah Blue sedikit berubah mendengar nama itu di sebut.


"Dia juga akan menikah dengan Quentin," lanjut Wilner dan masih memelankan suaranya agar tak terdengar oleh Honey.


Blue hanya mengangguk.


"Kau mau kupanggil mereka kemari?" tanya Wilner.

__ADS_1


Honey melihat ke arah Wilner. "Siapa?" tanya Honey.


"Teman-teman Blue yang lain," jawab Wilner.


"Tentu saja boleh. Aku ingin berkenalan dengan semua teman Blue," ucap Honey senang.


Blue tampak memberi kode pada Wilner tapi pria itu justru mengedikkan bahunya.


"Aku akan memanggil mereka," kata Wilner.


"Oh ya, aku belum tahu namamu, Nona," ucap Wilner.


"Namanya True," jawab Blue singkat.


"True ... Nama yang bagus. Aku akan memanggil mereka. Mereka ada di pojok sana," kata Wilner.


Lalu Wilner menuju ke area di mana teman-temannya berkumpul karena kebetulan hari ini adalah malam weekend.


"Blue, duduklah," ucap Honey dan memegang tangan Blue.


Blue tersenyum dan mengangguk.


Tak lama kemudian, ada sekitar 7 orang teman Blue yang terdiri dari 3 wanita dan 4 wanita menghampiri meja Blue.


"Seharusnya dia yang menghampiri kita," ucap Quentin sedikit keberatan.


"Sudahlah, ayo. Kita tak pernah bertemu Blue beberapa tahun, kan?" sahut Quentin.


Blue melihat ke arah temannya yang kini sudah ada di belakang Honey.


"Hai, Blue," sapa salah satu teman Blue.


Honey berbalik menoleh dan langsung tersenyum manis.


"Dia True, calon istri Blue," ucap Wilner memperkenalkan Honey.


"Halo, senang bertemu kalian," sapa Honey dengan sangat ramah dan tak lupa senyum manisnya yang membuat meleleh orang yang melihatnya.


"Hai, aku Ravonna," sapa seorang perempuan berambut keriting berwarna coklat.


Dan akhirnya mereka semua berkenalan satu persatu termasuk Hannah. Honey melihat wajah Hannah dengan seksama dan jelas-jelas dia mengetahui wajah itu.


Honey bersikap biasa saja karena menurutnya mereka adalah teman. Apalagi tadi Wilner mengatakan bahwa Hannah akan menikah dengan Quentin.


Tak lama makanan pesanan Blue dan Honey datang.


"Kalian sudah memesan makanan? Pesanlah jika belum karena aku tak enak jika hanya kami saja yang makan," ucap Blue.


"Belum, kami hanya memesan snack saja. Jadi kami akan memesan makanan berat sekarang," ucap Raph -- teman Blue yang lain.


"Aku tidak, karena sudah kenyang," ucap Quentin yang memang tak berhubungan baik dengan Blue sejak dulu.


Honey bisa melihat hal itu. Dan Blue tak terlalu menanggapinya.


"Honey, makanlah makananmu," ucap Blue.


"Aku akan menunggu pesanan yang lainnya datang, karena tak sopan jika kita makan terlebih dulu, Blue," jawab Honey dengan ucapan lembutnya dan terkesan elegan seperti bangsawan.


Wilner dan Raph yang duduk di sebelah Honey sampai menopang dagunya melihat ke arah Honey dengan tersenyum.


"Kalian masih ingin selamat, kan?" ucap Blue yang melihat ke arah Wilner dan Raph.


Beberapa teman mereka tampak menahan tawanya dan Honey melihat heran pada Wilner dan Raph.

__ADS_1



__ADS_2