
Arsila yang masih betah menatap pada layar laptopnya,dan pikirannya pun berputar² kemana²,belum juga masalah pemilik tubuh,sudah ada beberapa orang yang ia curiga atas meninggalnya Arsila,ia pun bingun dengan semua data² seseorang yang sungguh sulit untuk di jebak.
" Huffhh..jika mereka ada hubungan keluarga,berarti Arkana saurada tirinya?" gumam Hana serta helaan nafas kasarnya.
" Apa mungkin gue harus minta bantuan dari seseorang!" ucap batin arsila yang masih tetap mengotak Atik laptopnya.
Karena tidak ingin pusing ia pun bangkit dan berjalan ke arah pintu,serta tidak lupa membawa sesuatu yang ia akan selipkan di beberapa tempat yang mungkin bisa mengintai orang yang di curigai,dan sambil mengotak Atik handponnya seperti mengirim pesan pada seseorang.
" Ok gue harus ikuti Arkana,agar gue tau siapa dia sebenarnya!" Ucap batin arsila.yang berjalan menuruni tangga,ia pun mengedarkan pandangannya tetapi tidak ada siapa² disana.
****
Sedangkan Amel yang baru sampai di mension sepupunya,ia memasukkan mobilnya ke dalam.setelah gerban di buka oleh satpam.
Setelahnya ia turun dari mobil dan mengedarkan pandangannya keliling Mension,yang ia lihat ada beberapa penjaga mension.
" Lumayan ketat,semoga firasat aku tidak sampai terjadi" ucap batin Amel yang masih setia menatap keliling mension,setelah di rasa aman ia pun langsung melangakah dari sana,menuju pintu masuk.
Di dalam kamar devano,Arthur yang sudah sedari tadi jengah melihat sepupunya itu,yang terus mengotak Atik laptopnya dan tidak menghiraukan dirinya.
" Bang" ucap Arthur yang tengah memanggil devano,kerena tidak ada respon dari sang empu ia pun melempar bantal pada abangnya itu.
Bukk!
" Anjing! umpat devano yang terkejut,kerena ke asikan nya ia jadi lupa jika adik lacnatnya ada di sampingnya.ia hanya menatap datar pada Arthur dan kembali sibuk dengan laptopnya,tetapi tatapan itu membuat Arthur memumatar bola mata malas.
" Bang Van" ucap Arthur dengan nada yang seperti di buat² lembut.
" Hmm" jawab devano datar hanya berdehem saja.
" Gue mau nanya" ujar athur.
" Hmmm" jawab devano seperti biasanya.
" CK! emang susah ya ngomong sama kulkas 1000 pintu" sewot Arthur kesal.
Hal itupun tidak di hiraukan oleh devano karena menurutnya selalu aja adik sepupunya itu suka menjahilinya dengan cara mengerutu.
" bang!" Ucap Arthur yang kembali memanggil devano.
" Hmm" jawab devano ketus.
" CK! Muka Lo kaku amat!" Ujar Arthur malas.
" Bang! Lo ada rasa sama Arsila ya?"tanya Arthur to the point.yang membuat devano terkejut bukan main.
" CK! dari mana dia tahu?" Ucap batin devano bertanya² dalam hatinya.
" Bang! Napa Lo diam? tanya Arthur yang mengagetkan devano.
__ADS_1
" Gak!" Jawab Devano datar mencoba menutupi keterkejutannya,tetapi ha itu bisa di lihat oleh arthur.
" Lo gak usah boong!" sahut Arthur kesal.
" Hmmm" balas devano hanya berdehem saja.
" Oh! kalo gitu buat gue ya! Ucap Arthur dengan senyuman jahilnya dan alis yang di turun naikkan.
" Gak! Lo gak boleh dekat² sama dia!" sahut devano kesal,dan hal itu membuat Arthur terkejut karena abangnya itu mengucapkan kata lebih dari 3 kata.
" Waahh! Abang gue!!! Lo sadar gak? lo udah ngomong lebih dari 3 kata bang!"ujar Arthur heboh.sedangkan devano hanya memutar bola mata malas melihat adik lacnatnya itu.
Tiba² pintu terbuka sehingga membuat mereka mengalihkan pandangannya ke arah gadis cantik yang masih berdiri di depan pintu.
" Ngapin lo kesini? tanya Arthur yang melihat adik sepupu lacnatnya.
" Gak di suruh masuk ni bang" ucap Amel menatap pada devano.
" CK! masuk lo!" Ujar arthur malas.
Amel pun berjalan ke arah devano dan langsung duduk di sampin Abang sepupunya.
" huuffffhhh...cape gue!" gumam Amel pelan yang masih bisa di dengar oleh devano.
Sehingga hal itu membuat devano mengerditkan dahinya menatap Amel dengan tatapan ingkn bertanya.
" Gak!" Sahut Amel ketus.
" CK! malas gue kalo Lo udah di sini!" ucap Arthur kesal.
" Ngapain dek?" tanya devano lembut pada Amel.
" Kangen bang,hehehe" jawab Amel manja serta cengesan yang menampilkan gigi putihnya.devano hanya tersenyum mendengar omongan adiknya itu.
" CK! Ngapain kangen² di sekolah juga sering ketemu!" Sewot Arthur jengah melihat kelakuan adik sepupunya.ya Amel akan manja pada devano berbeda pada arthur ia akan seperti singa yang kelaparan,terkadang juga mereka seperti kucing da tikus.
" Sirik Lo! Bilang!" sahut Amel,dengan senyuman jahilnya.sehingga membuat Arthur hanya bisa mendengus kesal.
"kamu kenapa dek?" tanya devano Santai.
" gak papa bang" jawab Amel, " cuman cape aja" sambungnya lagi.
" Kalo cape! Minum racun dek!" Ujar Arthur yang mengsesat.
" ck! Lo aja sana minum!" Sarkas Amel kesal.lain halnya dengan devano ia hanya menatap dingin pada Arthur,sehingga membuat Arthur diam.
" udah gak usah di dengarin" ucap devano,yang mengelus pucuk kepala amel.hanya di balas dengan anggukan kepala.tetapi Arthur yang melihat itu semua hanya bisa menirukan cara bicara devano.
"Mulut Lo kenapa? Kayak pantat ayam! Ucap Amel yang melihat bibir Arthur yang komat- Kamit.
__ADS_1
" Lagi boker!" Sewot athur kesal.
sehingga membuat Amel langsung bangkita dari duduknya ingin memberi bogeman pada Abang lacnatnya itu,Arthur yang sudah paham dengan Amel yang berjalan ke arahnya,sehingga ia pun lari dari sana dan terjadilah aksi kejar kejaran.
Sedangkan devano yang melihat mereka hanya bisa tersenyum bahagia.
" Abang akan lindungin kalian berdua,karena Abang tidak ingin kehilangan adik² abang" gumam devano pelan yang hanya bisa ia dengar,serta senyuman yang tidak luntur,ia jadi teringat dengan adiknya yang mati di bunuh.
" Dek,Abang janji akan balas semuanya,Lo yang tenang di alam sana"ucap batin devano yang mengingat adikanya yang di bunuh di depan matanya.
*****
Berbeda dengan Arvin yang masih di jalan dengan mengendarai motor spotnya.
" Siapa mereka semua?" ucap batin Arvin, yang tengah menebak bahwa itu adalah suruhan seseorang yang ingin mencelakainya.
Ia pun jadi teringat dengan gadis yang menolongnya,hingga sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman tipis.
" Amel!sahabat adik gue,cantik!" gumamnya di dalam helm fullface.
Kerena tidak ingin memikirkan itu semua ia pun langsung menaikkan kecepatan motornya karena sudah lama ia di jalan,ia takut si bosnya kwhatir dan langsung menujunya.
****
Arsila yang tengah berada di restorant yang tidak agak jauh dari mensionnya.
" gue harus pantau Arkana dari sini" ucap batin arsila yang tengah mengedarkan pandangannya sekeliling restoran,takut ada yang mengikutinya atau menata matainya dari jauh.
" CK! Ko perasaan gue aneh?" Gumam Arsil pelan.
Tak berselang lama ada dua orang pemuda yang cukup familiar masuk kerestoran itu,tetapi mereka tidak bisa mengenali atau pun curiga Arsila yang duduk sendiri,karena gadis memakai baju hitam serta masker Hita dan topi hitam.
" Jadi gimana ?" tanya seoranga pemuda yang sudah mendaratkan bokongnya.
" lagi menunggu waktu yang tepat bang!" Jawab Arkana menatap pada pumuda di hadapannya.
" Oh!" sahut pemuda itu.
Arsila yang melihat mereka dari meja sebelaj dan juga mendengar omongan mereka.
" Ko, gue merasa kenal sama pemuda itu? Gumam hanya yang bertanya² pada diri sendri.dan mencoba mengingat² siapa pemuda yang ia lihat di depan Arkana.
" Anjingg!!! Itu kan mahen?" ucap batin arsila yang terkejut melihat Arkana dengan mahen.
" Ohh,jadi mereka saudara,sempit juga dunia ini?"ucap arsila pelan yang masih setia menatap pada mereka.
Ia pun bangkit dari sana karena tidak ingin di curigai oleh mereka berdua,ia akan lebih berhati² untuk menjalankan sesuatu rencana yang pas untuk menjebak arkana.
" Apah yang mereka incar dari keluarga William dan Wilson" gumam arsila sambil berjalan menuju motor spotnya." Ok! Jika kalian ingin main² jangan harap Lo bisa menangkan permainan yang Lo buat!" Ucap batin arsila dengan seringai bak iblis.
__ADS_1