
Jarak menuju ke rumah tuan Zafran berkisar satu jam berjalan kaki. Bening kelelahan, dia berjongkok mengucap keringatnya. Demusa menawarkan agar wanita yang keras kepala itu mau naik kuda bersamanya. Dengan sangat terpaksa dia mendengarkan perkataan pria itu. Hari mulai petang, tanpa terasa Bening terlelap menyenderkan kepalanya di pundak Demusa. Panglima perang yang selalu memenangkan medan pertempuran itu bertekuk lutut di hdapan wanita yang sama sekali tidak mencintainya. Dengan rasa sabar dia menggendong Bening masuk ke dalam kamar dan merebahkannya di atas kasur. Dia melepaskan alas kakinya dan menyelimuti tubuh wanita itu.
“Tenang lah, aku akan menjaga mu. Walau pernikahan ini tidak berlandaskan cinta” gumam Demusa.
Dia melihat wajah Bening lebih dekat, perlahan mengusap rambut lalu merapikan selimut yang sudah berantakan. Wanita itu menggeliat miring ke sebelah kiri tampak sangat pulas. Demusa perlahan membersihkan bekas darah yang berada di bibir dan wajahnya. Saat dia keluar dari kamar, kepalanya terasa pusing, dia berjalan tertatih-tatih mencari pegangan pada pilar dan dinding. Penjaga kepercayaaannya itu langsung membantunya berjalan menuju kamarnya sendiri.
“Sudah, jangan kau pikirkan aku. Jaga saja Bening sampai aku merasa pulih” ucap Demusa.
“Saya akan melaksanakan perintah tuan” jawabnya.
......................
Di dalam persemedian sang dewi Yumna, tanpa terasa air mata mengalir di ujung manik matanya. Dia terharu akan perjuangan Demusa di masa lalu yang sangat mencintai Bening. Tiba-tiba meditasi terputus saat merasakan ada hawa siluman yang ingin merasuki tubuhnya. Energi siluman lain yang membuat dia harus membuka mata dan melawan energi yang hampir masuk ke dalam tubuhnya namun tertolak menghempaskan sosok itu.
“Siapa kau?” tanya sang dewi.
Sosok siluman itu berubah menjadi wujud serigala, dia mengeluarkan cakar dan kuku-kuku taring menyerangnya. Tenaganya sangat kuat sehingga sang dewi harus menampakkan wujud asli agar bisa mengeluarkan kekuatannya.
“Ternyata kau dewi rembulan yang turun ke bumi merasuki tubuh ku” ucapnya.
“Kau?” Yumna menghentikan serangan penghancur siluman.
“Aku adalah arwah Bening pemilik tubuh yang kau tempati!”
“Tubuh Bening sudah menjadi milik ku, kejadian di masa silam membuka rahasia siapa kau sebenarnya. Jika kau menginginkan tubuh wanita ini, maka banyak korban jiwa tidak bersalah akan melayang. Bukan kah sekarang engkau menjadi siluman pengisap darah!” ucap sang dewi.
__ADS_1
“Apa hak mu memutuskan tubuh ku sendiri? Aku sudah tidak sabar menikmati darah dan jantung manusia!” bentaknya menyerang kembali.
Dari arah belakang, siluman kelinci putih berubah wujud menyerang siluman rubah. Dia mereka saling bertempur dan beradu kekuatan.
“Dewi, cepat lanjutkan persemedian mu. Aku akan menahannya untuk sementara waktu” ucap siluman kelinci menghilang membawanya ke dunia siluman.
Melihat kebaikan dari siluman kelinci, dia mengerti di dunia ini masih ada siluman yang memiliki arti kebaikan. Kehadiran dari arwah Bening membuat sang dewi berpikir hal apa yang membuat arwah Bening terlepas dari tubuhnya sendiri dan tetap hidup di dunia. Sempat terlintas di pikirannya, jika arwah Bening terlepas akibat dirinya memasuki tubuh miliknya.
“Aku rasa itu hanya pikiran ku saja. Tapi aku masih belum bisa melihat semua yang tersembunyi tentang Bening yang berkaitan dengan cahaya rembulan” gumam sang dewi.
Dewi Yumna melanjutkan kembali pertapaan untuk melihat kembali rantai kejadian tentang Bening. Dia kembali menembus bayangan tentang manusia itu di masa lalu. Namun, kini dia mendengar suara jeritan siluman kelinci putih di udara.
“Arghh!”
“Kelinci putih bertahanlah, aku akan segera mencari jawaban ini.”
Masih di alam lalu di siang hari teramat terik, Demusa menemui Bening yang tampak masih tertidur. Dia duduk di pinggir ranjang mengamati raut wajah wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu. Beberapa detik berlalu, Bening terbangun lalu buru-buru merapikan baju dengan pipi yang merah merona.
“Sedang apa kau disini?” tanyanya gelagapan.
“Aku hanya ingin memastikan engkau baik-baik saja. Aku menunggu mu di tepi danau untuk menikmati sarapan pagi bersama” ucap Bening berjalan meninggalkannya.
Bening berhati dingin enggan menemuinya, sangat lama pria itu menunggu sampai matahari tergelincir.
“Tuan, nona besar sepertinya tidak bisa hadir. Apakah hidangan di atas meja ini aku ganti dengan yang baru? Tuan belum makan sampai saat ini dan makanan sudah menjadi dingin” ucap penjaganya.
__ADS_1
“Tidak perlu, aku yakin dia akan hadir sebentar lagi” ucap Demusa duduk sambil menikmati pemandangan senja.
Di dalam paviliun, terlintas di pikiran Bening tentang kebaikan pada diri Demusa. Dia sudah menyelamatkannya berkali-kali, tapi tetap saja hati membeku tidak menghiraukan pria baik tersebut.
“Pelayan, katakan pada tuan bahwa aku tidak bisa pergi ke tepi danau karena sedang ada urusan pasar dekat bukit” ucap Bening.
“Baik non.”
Mendengar pesan yang telah di sampaikan membuat Demusa menjadi khawatir. Dia meraih pedang lalu pergi menunggangi kuda menuju pasar dekat bukit. Asap mengepul menambah pandangan menjadi kabur. Demusa menghentikan kudanya, dia mengikat simpul kuda di dekat pohon dan berjalan memasuki pasar.
“Tolong! Arghh, ada siluman!” jeritan para warga histeris.
Sosok wanita yang sudah berwujud setengah siluman berubah menjadi monster menancapkan kuku ke salah satu leher anak kecil. Demusa berusaha melepaskannya, pandangan mata menyala mengejarnya sampai ke atas bukit. Dia menyerang secara brutal, kuku panjang mencakar hingga berhasil merobek bagian lengan. Tron menepis serangan Kahiyang, sebisa mungkin dia tidak ingin melukai tubuh Kahiyang walau sudah berubah menjadi monster haus darah. Efek ramuan sangat ganas sesekali hasrat darah timbul membuat Bening berubah tidak seperti dirinya sendiri.
“Bening tolong hentikan! Sadar lah!” pekik Demusa memeluk tubuhnya dari belakang.
Dia menahan gerakan wanita itu yang akan melompat dari atas bukit. Sementara Bening yang sudah tidak kuat menahan haus darah menancapkan taring di lengan Demusa.
“Ssstthh” suara desis Demusa menahan rasa sakit dan perih.
Namun dia terus menahan sampai Bening kenyang mengisap darahnya berubah menjadi normal kembali. Perlahan Bening merasakan pusing setelah mengisap darah. Dia jatuh pingsan di tangkap oleh Demusa. Setengah pusing Demusa menggendong tubuhnya kembali ke rumah.
“Nona, apa yang sudah terjadi dengan mu? Kenapa sekitar bibirnya berdarah?” tanya pelayan berlari membantu.
“Jangan sampai masalah ini ada yang mengetahui, nona besar hanya tergelincir saat melakukan perjalanan bersama ku” ucap Demusa.
__ADS_1
Dia meminta pelayan mengambil sebuah wadah kecil yang berisi air hangat dan handuk berukuran kecil. Setelah itu Demusa menyuruh pelayan keluar meninggalkan paviliun.