
Togu menoleh tersenyum lalu memberikan wadah yang berisi daging ular padanya. Dia menuju meja yang tersusun berbagai macam ramuan dan segala jenis keperluannya. Di bagian sudut dekat akar-akaran, dia mengambil salah satu pisau kemudian dia letakkan ke tangan Opila. Tangannya dingin, kasar dan menyebabkan merah pada kulit.
“Opila, apa yang katakan? Aku hari ini sengaja pergi untuk menikmati hidangan kesukaan ku. Aku tidak pernah meminta mu mencari bangkai tupai itu. Sekarang kau masak daging ular ini dengan ramuan yang ada di dalam botol merah itu.”
“Tapi Togu, engkau sendiri yang memerintahkan ku berburu di hutan__”
“Jangan menyangkal dan cepat ganti baju mu yang kotor itu.”
Si penyihir Togu memainkan putaran tangan di atas meja kebesarannya, dia sedang mengumpulkan kekuatan untuk membentuk dunia sihir yang dia inginkan. Dia sedang berburu siluman untuk di jadikan anggota pengikutnya, kali ini incarannya adalah sosok siluman ular hitam yang sedang terluka di tepi sungai.
Sebelum menemuinya, dia membawa beberapa peralatan, ramuan dan mantra sihir penakhluk hewan. Kedatangannya di sambut amarah siluman ular, dia berkali-kali menyemburkan bisa. Aroma darah kental yang membekas akan darah ular. Dia menarik rambut dengan ekornya terlihat wajah lain melotot menghembus mantra dan menggit ekornya. Mantra penakhluk hewan dan ramuan yang tersiram di tubuhnya. Siluman pemimpin ular itu tidak berkutik melingkar di bawah kaki si penyihir.
“Ahahahhh, akhirnya aku bisa melumpuhkan mu wahai raja ular. Mmmhh, luka ku cukup parah juga, aku akan menyembuhkannya” ucap Togu lalu mencabut mahkota yang berada di kepala si siluman ular dan membawanya pulang.
Dia di kurung di dalam kandang dekat kandang siluman ular putih. Darah ganas ular menggelegar menyimpan dendam pada si penyihir. Siluman ular hitam melihat mahkota di kepalanya. Dia berpikir mengapa si penyihir mengambil mahkota miliknya sedang siluman yang disana masih memiliki mahkotanya.
“Ular putih, apa yang membuat mahkota mu itu enggan di ambil oleh si penyihir?”
“Akhirnya kau mengeluarkan suara mu juga. Ceritanya sangat panjang sehingga penyihir dua wajah itu salah satunya menyelamatkan mahkota ku agar tidak di renggutnya. Sebentar lagi kau harus bersiap-siap mengeluarkan kekuatan tenaga dalam. Sangkar ini menyerap energi kekuatan siluman.”
“Sialan! Penyihir gila itu sesuka hati memanfaatkan siluman!”
“Amarah mu hanya untuk menguras energi saja.”
__ADS_1
“Tapi kau tidak terlihat kesakitan atau lemas di dalam kurungan itu.”
“Aku semula hampir mati, ramuan dan sihir si penyihir terasa seperti mematikan lalu menghidupkan ku kembali. Tapi suatu hari datang manusia yang selalu memberikan ku sebutir telur dan minuman yang berisi dedaunan.”
“Kau adalah siluman yang beruntung.”
Sosok manusia yang baru saja mereka perbincangkan itu sedang mondar-mandir meletakkan makanan di atas meja. Asap panas mengepul, pandangan tajam begitu marah melihat daging ular yang terhidang disana.
“Sepertinya pemikiran ku salah mengenai manusia yang kau bicarakan itu tidak seperti yang ku pikirkan. Tunggu saja setelah aku bisa lepas dari tempat ini. Aku akan membunuhnya!”
“Dia memang telah membantu ku, manusia itu bernama Opila pendamping sekaligus pelayan bagi si penyihir.”
Opila tidak mendengar perkataan para siluman yang membicarakannya. Pandangannya beralih melihat ular hitam yang berada di dalam kandang dekat ular putih. Dia berjongkok, di tangan kirinya memegang wadah yang berisi potongan daging tupai. Dia memasukkan potongan daging kecil itu ke dalam sela jaring-jaring sangkar. Pembagian secara merata, tampak ular putih dalam beberapa detik menghabiskannya. Berbeda dengan ular hitam yang hanya melingkarkan badan membelakangi.
DIa menghela nafas lalu kembali meneruskan pekerjaannya. Dia telah bersiap-siap mencari kayu bakar lalu menutup pintu rumah. Melihat kepergiannya, si ular hitam mulai memakan daging. Sasaran siluman selanjutnya adalah sosok kelinci putih yang sedang berada di tepi jalan hutan. Dia bersama seorang pria yang membawa pedang besar di pundaknya. Si penyihir menggunakan putaran sihir di tangan menghembuskan mantra pemanggil. Siluman kelinci seperti terhipnotis mengikuti tali mantra.
“Bagus, cepat ikuti aku” ucap si penyihir.
Zeus menyadari siluman kelinci menghilang, dia memanggil berjalan mencari masuk ke dalam hutan. Misi mereka tertunda untuk mencari bunga langka di atas perbukitan dekat hutan. Siluman kelinci putih di bawa sampai terperangkap masuk ke dalam kurungan.
Si penyihir tertawa terbahak-bahak, sangat mudah baginya membawa si kelinci kecil dengan sekali ketukan saja. Tersadar sudah berada di dalam kandang yang perlahan menyerap energinya, si kelinci berteriak minta tolong sekeras-kerasnya. Suaranya membuat kedua ular di dekatnya terbangun dengan tatapan tajam.
“Hei jangan berisik! Kau pikir teriakan mu itu bisa mengeluarkan mu?” bentak siluman ular hitam.
__ADS_1
......................
“Aku harus segera mencarinya!” gumam Demusa.
Dia menghidupkan sinyal meriam di udara, pancaran kilatan itu terlihat oleh sang dewi yang sedang melakukan meditasi di atas pegunungan Himalaya. Putri mengikuti arah sinar sampai ke dalam hutan, dia bertemu dengan Demusa seperti orang kebingungan.
“Apa yang terjadi pada mu?” tanya sang dewi.
“Bening, aku kehilangan kelinci kesayangan mu. Terakhir kali kami bersama di tepi hutan, dia mengikuti ku mencari bunga langka” ucap Demusa.
Sang dewi memejamkan mata memutar bentang telapak tangan kanannya menggunakan kekuatannya merasakan energi siluman kelinci berada di dalam hutan. Dia berjalan menuju si kelinci, berhenti di suatu tempat yang di tutupi akar dan dedaunan. Demusa mengetuk pintu, karena tidak ada jawaban dari dalam maka dia mendorong pintu itu lalu memasukkan sebagian badannya menoleh melihat ke dalam.
Dia di serang sosok wanita tua menggunakan tongkat, pukulan keras mendarat di pundaknya. Sang dewi menyerang si wanita tua itu, dia membantu Demusa berdiri lalu masuk mencari aroma siluman kelinci putih. Sementara Demusa menghalangi si penyihir dengan serangan menggunakan senjata mengeluarkan petir ke tubuhnya.
“Argghh! Argghh!” teriak si penyihir.
Setengah tubuhnya terbakar, dia tidak mau kalah membalas semburan mantra lalu mengobati dirinya sendiri dengan sihirnya. Meleburkan tongkat dengan memasukkannya melalui rahang mulut. Perlahan tubuh si penyihir normal kembali tanpa ada luka sedikitpun di tubuhnya.
“Manusia macam apa kau?” ucap Demusa terkejut.
“Terimalah serangan ku ini! Ahahahh! Hiyaaa!” ucap Togu.
Demusa terkena percikan sihir Togu, dia menjadi batu bahkan belum sempat sang dewi membantunya saat membawa si kelinci keluar. Melihat kejahatan si penyihir yang tidak termaafkan, dia menggunakan kekuatannya untuk menyerang secara bertubi-tubi. Si penyihir tidak bisa menghindari serangan sang dewi, hingga dia tersungkur mengeluarkan muntahan darah.
__ADS_1
“Uhuk! Haahh! Aku tau siapa kau! engkau pikir setelah membunuh ku maka aku langsung mati? Tidak, aku memiliki Sembilan nyawa yang bisa terlahir kembali. Ahahah!” teriaknya bernada sangat keras.