Turun Dari Khayangan

Turun Dari Khayangan
Keinginan dewi Titanca


__ADS_3

Pertarungan siluman kelinci dan siluman serigala sempat terhenti merasakan gempa hebat tersebut. Mereka juga melihat fenomena alam itu sampai si kelinci putih bisa menyerang secara mendadak dengan gigitan berbisa tepat di leher si serigala.


Suara aungan serigala kembali bersahutan. Gerombolan serigala menyerbu siluman kelinci dan sang dewi. Zeus hadir memukul dengan cahaya kilatan api petir. Para serigala mati hangus terbakar, di sisi lain sosok pemimpin serigala menghilang menuju tempat tuannya kembali.


“Kenapa kita di serang serigala itu? Bukan kah sang dewi memberikan ampunan padanya?”


“Siluman tetap lah siluman. Jauh di dalam bersarang hati busuk tidak bisa di tutupi” ucap Zeus.


“Wahai dewa yang kuat, jauh di dalam hati ku tidak pernah sedikit pun ingin melukai dewi.”


......................


“Aku harus segera memberikan tanaman ini” ucap Demusa sambil berjalan pincang.


Dia pikir sudah kehabisan waktu karena dia tiba tepat saat fajar menyingsing. Di hadapannya masih terlihat wanita itu memejamkan mata. Demusa terduduk sangat kecewa pada dirinya sendiri karena tidak nosa menyelamatkannya.


“Apakah bening sudah_ lalu ruangan ini kenapa berantakan? Apa yang sudah terjadi?”


“Tuan muda, tolong jangan ganggu nyonya. Dia baru saja pulih, tadi kediaman di serang hewan jadi-jadian aneh. Untung saja sosok pemuda tampan membantu kami” ucap Laida.


“Siapa pemuda yang kalian maksud? Syukurlah dia selamat, siapa yang sudah mengobatinya? Oh iya, kelinci putih, ini tumbuhan yang kau ingin kan.”


Sosok Zeus berdiri tersenyum melihatnya, dia masih ingat bagaimana dewa petir itu memberikan kekuatan di dalam tubuh dan senjatanya. Rasa sedikit was-was kini hadir melihat sejarah Zeus di masa lalu. Kini Yumna di jaga oleh dua orang pendamping, dia membuka mata melihat kehadiran mereka.


“Zeus? si dewa petir ini selalu saja mengikuti ku” gumamnya.

__ADS_1


“Nyonya ini bubur hangatnya” ucap Laida.


“Nyonya pelan-pelan saja, mari kami bantu” Ukaha membantu posisinya bersandar.


Mereka seperti orang-orang yang hilang ingatan. Saat pingsan, siluman kelinci putih memukul kepala bagian belakang mereka lalu memasukkan pil pelupa ke dalam mulut. Sesekali keduanya memegang kepala merasakan sakit.


“Nyonya, ini adalah uang hasil penjualan sayur di pasar.”


“Maaf atas kelancangan kami. Tapi ini semua salah ku yang memaksa Ukaha untuk memanen sayuran dan menjualnya tanpa seijin nyonya” kata Laida menunduk.


“Tidak perlu meminta maaf, kalian simpan uang itu di tempat penyimpanan. Seperti biasa, kunci brankas kotak berada di salah laci kamar ku.”


Keduanya tersenyum lega karena majikan mereka itu tidak memarahi mereka. Zeus yang mendengar pembicaraan mereka hanya sedikit menarik senyuman. Di dalam benaknya si dewi Rembulan seakan sudah sangat nyaman dengan penghuni bumi. Dia juga terbilang bisa hidup menderita dan sangat akrab dengan siluman yang seharusnya dia bunuh demi menyelesaikan misi catatan langit.


“Aku semakin tidak mengerti dengan semua takdir ini” gumam Zeus.


......................


“Bu, aku sangat lapar. Bisakah kita berbelanja ke pasar? Aku juga sangat merindukan Opila” ucap Faga.


Meran masih setengah setan mencampakkan tikus mati ke arahnya lalu melanjutkan sihir. Faga terkejut hingga menangis keluar rumah. Dia tidak menyangka sifat ibunya berubah berbalik arah acuh tak acuh bahkan seperti orang lain baginya. Faga sangat lapar, dia terpaksa kembali meraih tikus mati tadi terpaksa memasaknya di dalam wadah di atas tungku api. Selesai memasak, dia menempatkan makanan daging tikus itu ke dua batok kelapa. Dia memberikan satu untuk Meran dan satunya lagi untuknya.


“Hueekk! Hiks” Faga tidak tahan mengeluarkan muntahan sambil menangis.


Dia tidak sanggup lagi menelan makanan itu, aroma bangkai masih menyengat bercampur amis. Dia pun membuang makanan itu lalu berlari masuk ke dalam hutan. Faga kini berharap bisa mengakhiri dirinya sendiri dengan bertemu hewan liar yang memangsa.

__ADS_1


Sang dewi duduk di tarik oleh Zeus di sisi kiri dan Demusa di sisi kanan. Sikap bertentangan meminta agar dia duduk di salah satu kursi dekat mereka. Sang dewi menepis mengangkat piring yang berisi makanan berjalan ke salah satu bangku panjang. Suasana makan malam itu menjadi kacau Karena keduanya tampak saling ingin lebih dekat dengannya. Meskipun Demusa telah mengetahui siapa sebenarnya sosok di dalam tubuh Bening. Dia tetap ingin menjaga wanita itu.


“Semua ini salah mu! lihatlah sikap dinginnya!” bentak Zeus membawa piringnya mengikuti sang putri.


“Apa? Aku berpikir ulang melihat sifat sang dewa ternyata tidak bijaksana. Lihatlah kau sekarang rakus melahap makanan di bumi.“


“Sudah jangan bertengkar!” bentar siluman kelinci putih.


Demusa hanya melotot membentuk huruf O, dia tidak mau bertengkar atau adu pendapat. Setelah menghabiskan makanan, dia menuju lahan tanaman sayuran memperhatikan kedua pelayan sibuk menanam bibit tanaman. Saat mengetahui Tron melihat mereka, keduanya menunduk menyapa lalu melanjutkan tugas mereka kembali.


“Kenapa kalian bekerja pada waktu malam? Bukan kah di hari esok lebih baik untuk waktu menanam dan merawatnya?” tanya Demusa.


“Tidak apa-apa tuan, justru tanaman ajaib ini akan tumbuh kembali dalam satu malam” jawab Ukaha.


“Apa benar yang engkau katakan itu?” tanya Demusa sedikit tidak percaya.


“Ya tuan, kami berdua tidak mungkin berani berkata bohong” balas Laida.


Sesaat setelah melihat keduanya pergi, Demusa ingin membuktikan sendiri perkataan mereka bersembunyi di salah satu pohon melihat tanaman itu. Langkah suara berjalan menuju ke arah tanaman melihat Bening berdiri di tengah-tengahnya, tangannya mengadah ke atas langit. Kekuatan dewi Rembulan miliknya di gunakan sebagai cahaya ghaib untuk menumbuhkan semua bibit tanaman. Sinar cahaya putih menerangi semua tanaman yang tumbuh dalam hitungan beberapa menit saja.


Demusa menyaksikan kekuatannya dengan penuh rasa takjub, tanpa sengaja dia menginjak ranting pohon. Mengetahui ada orang lain yang melihatnya, sang dewi mencari sumber suara bergerak mencekiknya. Dia menurunkan tubuhnya kembali lalu melepas dengan dorongan kuat. Wajahnya menunjukkan rasa ketidaksukaan, dia menunggu penjelasan dari pria itu mengapa memata-matainya sampai larut malam.


“Maafkan aku Bening, aku hanya ingin membuktikan apa yang di katakan oleh kedua pelayan itu.”


......................

__ADS_1


“Wahai kaisar langit, tunjukkan kekuasaan mu! tarik kembali dewi rembulan naik ke Khayangan. Kasihani lah dia” ucap dewi Titanca menekuk lutut di atas mimbar keadilan.


__ADS_2