
Raja iblis mendapatkan jejak keberadaan sang dewi dari para pengikutnya. Dia tersenyum menyeringai mengutus para pasukan berpencar menangkapnya. Kekuatan bening sinar keabadian langit. Sang dewi berharap kekuatannya kembali. Dia melakukan meditasi di gua persemedian ibu bumi, di luar sana ada Demusa menjaganya sedangkan Zeus kembali ke langit menjalankan tugas sebagai dewa petir. Sang Kaisar langit tidak menyetujui dia turun ke bumi sebagai manusia seutuhnya. Dia sudah di karuniai sebagai dewa petir abadi.
Petua langit tertua Sakafa menyampaikan titah Kaisar langit supaya sang dewa tetap menjalankan kewajiban dan boleh leluasa turun ke dunia dengan catatan jangan mencampuri urusan dunia dan membantu memperbaiki catatan sang dewi rembulan.
“Demusa, aku serahkan sang dewi supaya engkau jaga untuk sementara waktu. Aku akan mengawasi kalian dari khayangan” ucap Zeus menghilang meninggalkan cahaya kilatan petir.
Demusa mengepalkan tangan tanda setuju melihat kepergian Tron sampai kilatan itu menghilang. Dia bertahan menjaga siang dan malam, sesekali berkeliling mengawasi sekitar terdengar suara aneh serta gerombolan tapak kaki kuda berlari semakin dekat. Pasukan berjubah merah bertanduk hitam mengeluarkan empat gigi taring berhenti di depannya.
“Mau apa kalian kesini?” tanya Demusa mengeluarkan pedangnya.
“Kami mencari dewi Rembulan, cepat serahkan dia pada kami. Raja iblis menunggunya di singgahsana” kata ketua iblis yang berada di barisan paling depan.
“Hei manusia lemah, kami akan mengirim mu ke neraka menghalangi jalan kami.”
Demusa enggan memperdulikan perkataan mereka, dia berkelahi menghalangi para pria berfostur tubuh aneh yang sudah menyatu dengan iblis. Manusia iblis nyata di muka bumi, Demusa di kepung hingga dia hampir kalah dalam pertarungan itu. Sang kelinci datang membawa pasukan kelinci siluman, jelmaan mengerikan seluruh alam menyaksikan ribuan hewan jadi-jadian itu berkumpul membantu Demusa yang di pimpin si kelinci putih peliharaan sang dewi.
“Maaf aku lama datang membantu mu, aku sibuk memanggil sekutu untuk menjaga sang dewi. Setelah melihat kilatan petir Zeus, aku langsung mencari bantuan kepada seluruh kaum ku” ucap si kelinci putih.
“Terimakasih.”
__ADS_1
Siluman dan iblis berperang memecah ketenangan di muka bumi. Banyak para siluman yang gugur di Medan peperangan itu. Kekuatan iblis terbesar merobek tubuh, melahap isi nya lalu menghirup kekuatan hawa siluman. Suara jeritan kesakitan para siluman kelinci, si kelinci putih sangat marah melihat para suadaranya mati mengenaskan. Siluman kelinci menyerang ketua iblis bertanduk lancip, dia mengeluarkan kuku siluman berbisa mematikan sementara si iblis membuka rahang melancipkan empat gigi taring.
“Siluman kelinci awas!” teriak Demusa.
Demusa menepis serangan si ketua iblis menggunakan pedang, namun tidak di sangka kekuatan kecepatan si iblis yang akan menancapkan taring ke tubuh si kelinci malah mengenai kaki kanan Demusa.
“Arggh! Arggh!”
“Demusa, kenapa kau bodoh sekali menyelamat ku!! Lihatlah kau akan kehilangan kaki mu!”
Goa persemedian ibu bumi berhasil dia tembus menghubungkan kolam keabadian di negeri Kahayangan. Sang dewi mendapat gambaran di masa lalu mengenai Bening, kolam keabadian Yin dan Yang pada peperangan di masa lalu. Sang dewi melihat titik kelemahan energi rembulan yang di lenyapkan menggunakan elemen api.
“Dimana kolam keabadian bumi? Yang aku tau di ibu bumi hanya ada gua persemedian dan kolam keabadian ada di negeri khayangan” batin sang dewi.
Suara kesakitan Tron, nyawa siluman terserap habis menyisakan beberapa saja. Sang dewi memejamkan mata mengarahkan telapak tangan kanannya ke atas langit. Permohonan sepenuh sesepuh bumi, balasan permintaan hening beberapa detik kemudian gemuruh angin kencang di sertai hujan memperlihatkan kilatan petir Zeus.
Matahari di sembunyikan di balik awan hitam, ketua dan anggota iblis mengurungkan panggilan meminta pada raja iblis karena kumparan api tidak bisa memuja dewa matahari untuk meminta kekuatan api abadinya.
Membaca garis pada waktu lalu
__ADS_1
“Mempertanyakan lagi pada rahasia langit, apakah iblis bersekutu atau menyembah matahari?” sang dewi membatin berjalan di antara bumi dan langit.
Kini dia bagai arwah gentayangan yang tidak berpijak memilih satu kepastian. Sang dewi masuk ke dalam area pertempuran. Dia terkejut melihat kaki kanan Demusa yang terlepas dari anggota tubuhnya. Mayat ke siluman menjelma menjadi kelinci kembali. Aura kekuatan siluman di hirup serapan suara kesakitan di santap habis para iblis dan tubu si kelinci putih bersimbah darah. Tanah merah mengalir darah bercampur merah dan hitam. Hanya ada beberapa jiwa iblis yang melayang, merasuki tubuh manusia di dekat wilayah itu lalu menyerang mereka dengan kekuatan iblis dari kekuatan iblis api abadi.
Sang dewi mengucapkan mantra Geumurat kuat sebanyak tiga kali.
Dia membanting para iblis menggunakan kekuatan murni sejat cahaya rembulan. Merasakan kekuatan cahaya kuat melenyapkan mereka, ketua iblis mengomando anggotanya untuk mundur. Tapi melihat kejahatan dan kekacauan yang di sebabkan para iblis, sang dewi mengikat membekukan mereka.
Cahaya hunus sinar rembulan membunuh mereka semua, bahkan panggilan si ketua iblis terhenti terputus terhunus kekuatan sang dewi. Setelah semua iblis berhasil di singkirkan sang dewi lemas terjatuh di tangkap Demusa dengan menjatuhkan tubuhnya.
Siluman kelinci putih kewalahan membawa Demusa dan sang dewi pulang. Laida dan Ukaha mengurusnya hingga tabib datang mengobati menggunakan jarum akupuntur. Selesai mengehentikan pendarahan di kaki Demusa, dia memintanya agar tidak bergerak selama jahitan penutup luka mengering. Kini pria itu kehilangan satu kakinya, wajahnya muram di sela menahan rasa perih dan sakit.
Selesai mengobati, sang tabib menggeleng melihat memeriksa denyut nadi, tekanan darah tidak normal pada sang dewi. Dia memberikan ramuan dan beberapa obat tradisional lainnya, wajah masih menggerutkan dahi berulang kali menekan tekanan titik nadi. Tempat tidur dimana Demusa berbaring tepat bersebelahan dengan sang dewi.
Dia adalah dewi Rembulan yang berada di dalam tubuh Manusia. Tubuhnya masih menggigil kedinginan. Ada empat lapisan menyelimuti tubuhnya. Setelah sang tabib pergi, Demusa bergerak bersusah payah meraih tangan sang Dewi.
“Demusa apa yang lakukan? Lepaskan tangan ku” ucap sang dewi bersuara parau.
“Tapi, aku hanya ingin mengusap,menghangatkan telapak tangan mu.”
__ADS_1
“Tidak, tinggalkan aku sendirian.”
Cahaya rembulan di malam hari meredup menunjukkan kekuatan sang dewi sedang melemah. Kilatan petir Zeus melukis cahaya petir di langit. Dewi melepaskan diri melakukan pemisah sukma ke alam lain. Membaca kaca langit dari bawah bumi, dia melihat sisa bayangan dirinya sendiri masih berada di dalam Bulan. Sosok kosong tidak berisi, dia menanti masuk kembali ke tubuh aslinya.