Turun Dari Khayangan

Turun Dari Khayangan
Mantra


__ADS_3

Demusa terkejut sudah sampai di pertengahan jalan. Arah sang Jafar menyingsing kembali dia kejar, maka sampai lah dia tepat di depan arena pertandingan. Dia tidak ingin bukunya di lihat orang para pendekar lain yang hadir. Dia pun berharap buku itu tidak terkait sendiri pada akar dan dedaunan.


“Ku mohon hanya hari ini dan beberapa jam saja” gumam Demusa.


Petandingan besar itu di saksikan oleh Raja, anggota istana dan seluruh rakyat. Di depan pintu gerbang perbatasan, dari segala penjuru semua pendekar hadir memamerkan tubuh dan senjata kebanggan mereka. Tirai merah merah melambai, bendera merah tanda keberanian berkibar dan simbol bendera Bulan dan matahari tanda kebesaran kerajaan itu.


Dari kejauhan terlihat raja Sansai sangat berwibawa, berkharismatik dan di takuti rakyatnya. Para bangsawan juga terlihat duduk di sana. Kalangan para bangsawan menghadiri acara di perbolehkan memakai pakaian mewah dan bagus. Perbedaan kesenjangan status kedudukan, para wanita kebanyakan memakai pakaian seindah-indahnya.


Salah satu pendekar yang berdiri di sampingnya melirik sinis melihatnya Demusa nyengir kuda membalasnya. Pukulan tabu gendang berbunyi menandakan pertandingan akan segera di mulai. Satu persatu para pendekar bertanding. Beberapa pendekar yang gugur babak belur di medan pertandingan sampai ada yang mengeluarkan muntahan darah.


......................


Pasar biasanya ramai orang-orang melakukan aktivitas transaksi jual dan beli. Hari ini Laida dan Ukaha melongo melihat pasar sepi, mereka sudah bersusah payah menanam tanaman hasil perkebunan. Karena sudah tidak sanggup memikul sayuran di pundak. Keranjang itu di letakkan di dekat meja kosong di salah satu dagangan tempat pengadah sayur.


“Kemana perginya semua orang? Lihatlah pasar ini dalam sekejab seperti kota mati.”


“Laida, kita pulang saja.”


“Tunggu! Apakah kau tidak mendengarnya? Suara bunyi gong dari arah barat. Ayo kita lihat."


“Jangan Ukaha, kita tidak tau hal apa yang terjadi disana.”

__ADS_1


“Jika kau tidak mau ikut dengan ku maka aku akan pergi sendiri” Laida memikul kembali sayuran menuju sumber bunyi gong.


Jalan semakin dekat, suara riuh orang-orang ramai berdesakan disana. Di atas arena pertandingan Laida melihat Demusa bertarung dengan sosok pria bertubuh besar. Urat kepalanya keluar, dia membawa senjata kapak besar di tangannya. Sedikit lagi kepala Demusa melayang jika dia tidak mengelak ke sisi lain.


“Tuan Demusa?” ucapnya.


“Nyonya kau jangan melewati garis pembatas arena pertandingan ini, mundur sedikit lagi” kata seorang pria memakai seragam prajurit istana.


Ukaha menyusul Laida, dia ikut terkejut melihat Demusa. Mata membelalak menyaksikan peperangan hebat. Seni bela diri Demusa lihai menjatuhkan lawan, walau kesulitan membawa beban berat pada kakinya. Hitungan algojo di arena ronde pertandingan. Di saat hitungan menit terakhir kakinya palsunya di tendang kuat oleh musuh. Titik kelemahannya itu tumbang terjatuh, suara kaki palsu terlepas. Demusa berteriak kesakitan, semua orang melongo berteriak menyerukan kemenangan berpihak pada si pria bertubuh besar.


“Cepat pasang taruhannya.”


“Nona-nona muda, berikan uang pada kami. Kalian sudah menyaksikan pertandingan ini. Cepat siapa yang kau pilih!”


Ukaha dan Laida terpaksa memberikan dua keping uang logam. Mereka memilih Demusa berharap pria itu menang dan bangkit dari tempat itu. Keduanya berteriak memanggil Demusa. Pandangannya gelap, kakinya terasa sangat perih, dia hampir kehabisan tenaga. Salah satu daun yang masih berada di akar melingkar di tangannya memberikannya kekuatan hingga dia bisa bangkit kembali.


Setelah mendapat kekuatan magis, sehelai daun itu gugur mengering. Demusa berdiri melawan musuh, di hitungan sepuluh detik terakhir gong di pukul. Si pria bertubuh besar jatuh sampai ke luar pembatas arena. Senjatanya hancur berkeping-keping, kemenangan pun berpihak padanya. Sorak beberapa orang yang memilih terutama para pelayan sang dewi bersorak tepukan tangan riang gembira.


Di hari yang cerah penyerahan jabatan sebagai panglima perang di kerajaan. Satu karung kepingan emas, perak dan uang logam hadiah atas memenangkan pertandingan. Satu emas, sepuluh ekor kuda dan sebuah rumah wilayah di sisi timur khusus milik sang panglima. Hadiah dari sang raja itu membuat Laida dan Ukaha hampir pingsan mendengarnya.


Kekeliruan Demusa jika sudah memiliki ilmu seni bela diri maka akan bisa selalu berada di dekat bening menjaganya setiap waktu. Kini dia harus totalitas berada di istana menjaga kedamaian negeri bertugas di perbatasan kerajaan.

__ADS_1


Sebelum bertugas dia meminta ijin untuk mengemasi barang-barangnya dan membawa keluarganya ke kediaman rumah barunya. Raja menyetujui mengirim beberapa pasukan untuk mengikuti Demusa kemanapun dia berada sebagai anggota inti panglima kerajaan. Sang raja juga memberikan sebuah pendamping sang panglima, wajah yang tampak tidak asing membungkuk menyatukan tangan memberi hormat pada sang raja dan Demusa.


Hentakan suara kaki kuda, laida dan Ukaha kesenangan berdiri bersama Demusa memasuki rumah. Melihat banyak manusia asing, siluman kelinci menjelma menjadi kelinci putih mendekati Demusa. Penampilan pria itu berubah drastis. Terlihat barisan para tentara menunggu di halaman dengan tatapan tajam memegang senjata di tangan mereka.


“Dimana Bening?” gumam Demusa.


Dia membuka sedikit pintu kamarnya, Bening duduk di tengah-tengah ruangan sambil memejamkan mata. Demusa terpaksa mengganggu meditasinya. Dia mendekati wanita itu berharap Bening mendengar suaranya.


“Bening, aku ingin bicara.”


“Bening apa kau dengar aku?”


Suara Demusa menembus dimensi lain, sang Dewi masih fokus berada di alam lain menembus ingatan dewi rembulan mencari mantra yang terlupakan. Dia sudah tidak lagi menggigil kedinginan setelah di siluman kelinci memberikan semua bola ajaib miliknya. Kini dia berhasil menguasai elemen air, di dalam kaca perjalanan waktu. Dia mendengar suara panggilan Demusa, namun sang dewi tetap fokus perlahan berjalan ke depan. Semula sekeliling terang benderang hingga berubah mencekam. Langit menghitam, kobaran api berada di sebuah benda rakasasa yang di depannya duduk seseorang tidak jelas wajahnya. Dia memakai jubah hitam menutupi sekujur tubuh maupun wajahnya.


“Wahai Dewi rembulan, aku adalah salah satu kekuatan mu. jika kau ingin melewati lorong yang ku jaga ini maka kau harus bisa membaca ingatan waktu terhenti ketika melewati dan harus kembali sebelum waktu itu berdetak lagi atau jiwa mu akan terkurung selamanya disana. Akulah si mantra Triangsang yang berada di telapak tangan kiri mu.”


“Triangsang, katakan pada ku bagaimana caranya mengendalikan mantra itu?”


“Ahahah, bahkan kau bisa terjebak di bulan pada ratusan tahun masehi lalu kerana tidak bisa mengendalikan elemen api. Dewi lihat lah tulang belulang tengkorak ini, mereka korban mantra sihir yang gagal kau kendalikan.”


“Aku akan mencobanya sekali lagi di kehidupan ini Triangsang. Buka jalan waktu untuk ku” ucap sang dewi penuh keyakinan.

__ADS_1


__ADS_2