Turun Dari Khayangan

Turun Dari Khayangan
Perseteruan


__ADS_3

Membungkus Putaran Masa masehi waktu yang rumit.


Catatan langit perlahan terisi memperbaiki tatanan dunia di sela takdir dan nasib yang harus di terima oleh si dewi Bulan dari sang Kaisar langit. Para tetua di kolam keabadian sibuk menghapus kekuatan di dalam serpihan energi keabadian di dalam serpihan kekuatan kilatan halilintar Zeus.


“Kenapa Si Bening bisa menjadi kuat seperti itu?” gumam Opila.


Mantan kakak tiri itu masih menyimpan dendam padanya. Dia memutar gerakan cepat dan sinar yang keluar dari jari-jemarinya. Opila mengambil botol kecil dari dalam kantung bajunya kemudian menuangkan cairan ke telapak tangan. Dia secara sembunyi-sembunyi telah mempelajari ilmu sihir dan ramuan ajaib yang ada di dalam buku catatannya. Sihir pertama berhasil menjatuhkan siluman kelinci putih. Dia terasa seperti ada Sesuatu yang menarik kakinya. Mata tajam si dewi Rembulan menangkap cahaya aneh di kaki si kelinci. Dia menerbangkan kembali sihir itu sehingga Opila terbanting di depannya.


Brughh.


“Uhuk.. Cukup Bening! Kau semakin lama bertindak sesuka mu saja!"


Sang dewi enggan memperdulikannya, dia menyerang penyihir Togu yang tampak kembali berdiri setelah terkena petir Zeus dan kilatan yang di terima Demusa dari si dewa petir. Kekuatan cahaya Rembulan mengelupas salah satu wajahnya. Togu menjerit kesakitan, dia menghilang menggunakan kekuatan terakhir di balik jubah hitamnya.


“Tunggu pembalasan ku!” jeritnya.


Opila membebaskan kedua ular yang ada di dalam kandang berselubung sihir. Siluman ular putih yang sudah berjanji padanya tidak akan memakannya itu hanya melata di dekat kakinya tanpa menganggu nya. Perlahan badan si siluman ular putih membesar, bahkan sampai setinggi pohon yang berada di dekatnya. Suara desis keras, ekor mengibas menyapu semua yang ada di dekatnya. Begitu pula si siluman ular hitam, dia mengincar siluman kelinci untuk mendapatkan bola siluman hijau.


Pertarungan sengit, sang dewi hampir saja terkena semburan berbisa yang mematikan itu. Zeus mengeluarkan petir menghanguskan si siluman ular hitam. Kematian si raja siluman ular hitam menerbangkan asap berbentuk ular mengakibatkan ribuan ular hitam datang dari segala penjuru menyerbu mereka.

__ADS_1


“Ayo cepat kita pergi dari sini!” teriak Demusa.


Mereka kesulitan mencari jalan karena ular-ular ganas itu bergerak cepat menyemburkan bisa. Sang dewi mengeluarkan kekuatan membunuh semua ular sampai menjadi debu. Sinar terik menyilaukan mata, suara arwah para siluman menggema di udara. Catatan buku langit milik sang dewi pun terisi, mereka melanjutkan langkah menuju kediaman rumah paviliun teratai. Karena terlalu banyak menggunakan kekuatan di dalam tubuh manusia bumi, sang putri terjatuh terkulai lemas tidak berdaya. Sesampainya di kediaman, pelayan Laida dan Ukaha panik melihatnya. Mereka langsung ikut membantu membantu membawa ke dalam ruangan.


“Apa yang terjadi dengan nyonya besar?” tanya Laida.


“Nanti saja penjelasannya, sekarang cepat tutup semua pintu dan jendela” perintah Demusa.


Zeus membungkus rumah agar aroma bekas darah yang mereka bunuh tidak terdeteksi oleh para siluman lainnya. Dia melihat beberapa siluman ular hitam itu berhasil melarikan diri bersama siluman ular putih. Di sisi lain, raja siluman iblis yang masih berada di sarangnya ikut berperan menabur kekuatan jahat di udara untuk mengincar jiwa murni dan gangguan demi gangguan lainnya.


Demusa terkejut melihat siluman kelinci putih berubah menjadi sosok wanita seperti wujud manusia sempurna. Dia mengeluarkan kekuatan aneh dari mulutnya, sebuah bola hijau yang masih tersangkut di dalam rahang yang semakin membesar. Mata melotot, dia mencekik paksa lehernya sendiri terlihat berusaha agar bola sinar hijau itu keluar.


Karena siluman kelinci tidak mendengar, dia memasukkan kembali bola hijau ttu secara paksa ke dalam tubuh si kelinci. Kekuatan Zeus sekarang sedang menembus tubuh sang dewi di samping tampak Demusa mengamati dengan manik mata membelalak takjub.


“Andai aku mempunyai kekuatan yang dahsyat itu, aku pasti bisa melindungi mu wahai Bening” gumam Demusa.


Dua pelayan setia pendamping sang dewi sedang berdiri di balik pintu menyaksikan kekuatan sinar itu. Namun, suara auangan aneh terdengar di atas atap rumah. Ada bunyi seperti pijakan langkah kaki hewan raksasa seperti akan merobohkannya. Keduanya berteriak ketakutan, dobrakan dari luar yang berusaha masuk.


Zeus mempercepat menyalurkan energi ke sang dewi, telapak kiri beralih mengalirkan kekuatan tegangan tinggi petir membanting sosok yang di luar. Si raja siluman iblis tidak mau kalah, dia menyerang dengan kekuatan api tampak dua kekuatan saling beradu berpecah. Bunyi dentuman, Guntur memperlihatkan kilatan cahaya mengerikan di langit. Orang-orang yang melihat fenomena aneh itu panik begitu pula para penyihir lain dan siluman lainnya.

__ADS_1


“Kekuatan ini terasa sangat tinggi, aku bahkan tidak bisa mengimbanginya.”


“Ada serpihan sinar keabadian di wilayah tanah bumi."


“Kekuatan yang sang kuat! Aku ingin merampasnya.”


Suara para siluman dan penyihir ketika menyaksikan sinar kekuatan itu. Akan tetapi mereka tidak menemukan titik cahaya itu, Zeus masih membungkusnya meski sudah di serang oleh si siluman iblis. Dia memerintahkan kepada semua yang berada di dalam rumah agar tidak keluar selangkah pun. Tapi karena terlalu panik, Laida berlari ketakutan berlari keluar sambil menjerit minta tolong.


“Laida, apa yang kau lakukan! Cepat Kembali!” teriak Ukaha.


Pintu yang terbuka membuat kesempatan si raja siluman iblis untuk masuk ke dalam. Dia menyerang Zeus, kekuatan api iblis berwarna biru memutuskan kekuatan kilatan sinar Zeus ke tubuh sang dewi. Mereka saling menyerang di udara. Di dalam kediaman, suara teriakan Laida histeris saat sosok mengerikan menarik tubuhnya. Siluman kelinci mengeluarkan kuku tajam berbisa, dia menyelamatkan Laida dan Ukaha sekuat tenaga di sela banyaknya siluman pengikut si raja iblis yang menyerang.


“Cepat cari tempat persembunyian!” perintah si siluman kelinci.


Sang dewi perlahan membuka mata, tubuhnya masih sulit di gerakkan. Dia melihat pertempuran besar perlawanan kekuatan yang beradu. Dia memaksakan diri untuk bangkit, walau belum bisa kembali menggunakan kekuatan, sang dewi ikut membantu Zeus dengan menghalangi para siluman iblis lain yang menyerangnya dari arah belakang.


“Dewi cepat pergi!” ucap Zeus.


Para penyihir jahat yang tidak tinggal diam memanfaatkan situasi untuk mendapatkan keuntungan dengan menyerap bekas sinar yang berjatuhan dari atas langit. Mereka menampung di dalam botol ramuan masing-masing. Kesempatan itu juga di manfaatkan oleh Togu di tengah kondisinya yang sekarat. Para penyihir meramu kembali serpihan sinar, menampung secara berebutan hingga perkelahian untuk mendapatkannya.

__ADS_1


Kedai-kedai, toko dan para penjual pedagang di pasar menutup jualan mereka. Anak-anak kecil mereka sebisa mungkin mereka tenangkan agar tangisannya jangan sampai terdengar oleh para siluman dan iblis yang sedang berkeliaran. Pada hari itu suasana kacau balau, dunia di campur aduk dengan para makhluk lain yang ingin menguasainya.


__ADS_2