
Melihat kekhawatiran dan raut wajah pria itu, dia meminta Kang memakan salah satu makan di atas meja. Demusa pun ikut menikmati makanan sesekali menoleh ke kolam yang mengerikan itu. Dia hanya menghabiskan dua piring makanan dan tiga seduhan cangkir teh. Saat dia akan beranjak membantu Kang memberesi isi meja, tongkat dan pedangnya terjatuh di bantu Hanbo kembali duduk di kursi. Dia melotot memperhatikan pedangnya. Saat akan meraih pedang itu, Demusa merampas menggenggam erat lalu meletakkannya di pinggang.
Dia mengeluarkan uang dari saku lalu meletakkannya ke atas meja. Berpikir tidak ada jawaban atau hasil datang di tempat itu maka dia berpamitan pulang pada keduanya.
“Tuan, katakan dari mana tuan mendapatkan pedang itu?” tanya Hanbo.
“Nyonya, pertanyaan ku saja belum engkau jawab. Oh ya sebelumnya perkenalkan nama ku Demusa.”
“Saya Hanbo dan ini penjaga pendamping saya Kang. Cepat katakan dari mana tuan bisa memiliki pedang itu?”
“Ini pedang pemberian leluhur ku."
“Tapi, kenapa dia bisa mengeluarkan kilatan cahaya dari__”
“Nyonya, sebaiknya nyonya istirahat. Biar saya saja yang menyambut tamu kita ini.”
“Kang, firasat ku mengatakan pria ini ada kaiatannya dengan raja naga putih. Lihatlah ukiran pada pedangnya” bisik Hanbo.
“Kalau begitu nyonya katakan saja sejujurnya.”
Mereka duduk menghadap kolam merah darah, terlihat wajah sedih wanita itu menatapnya. Demusa menunggu jawaban Hanbo akan pertanyaannya. Wanita itu menoleh menunjukkan sebuah gelang kecil berukir naga yang sama dengan pedan Demusa. Pria itu mengambil pedang mendekatkan ke gelang, ukiran bentuk sangat mirip dia mengerutkan dahi memperhatikan lagi keduanya.
“Jika tuan mempertanyakan pendekar itu maka dia sudah tiada.”
“Benar kah yang nona katakan? Jadi apa kaitannya gelang dengan pedang ku ini?”
“Sebelumnya tuan harus tau, tuan hanya mempunyai dua pertanyaan saja. Seluruh penjuru dunia sekipun yang ingin bertanya dengan ku hanya memiliki dua pertanyaan dan dua jawaban. Sekarang pertanyaan tuan tersisa satu saja.”
__ADS_1
“Hanbo, beritahu aku apakah tidak ada harapan menemukan pendekar sakti yang bisa membantu ku lihai memainkan pedang dan ilmu seni bela diri?”
“Kau bisa menemukannya meski pendekar yang kau cari itu sudah tiada. Akan tetapi apa kau siap dengan persyaratannya?”
“Ya, apapun syarat itu pasti aku lakukan.”
“Serahkan pedang mu.”
Mendengar jawaban dari wanita itu maka Demusa segara meraih tongkatnya berjalan pincang meninggalkan tempat itu. Hanbo mengejar hingga dia lupa menggunakan kekuatannya terbang tepat di hadapan Demusa.
“Siapa kau sebenarnya? Apakah kau siluman atau iblis?”
“Aku adalah penyihir yang sangat mengenal naga putih yang terukir di pedang mu.”
“Pantas saja kau bisa menjawab semua pertanyaan orang-orang dari segala pelosok bumi.”
“Tuan demusa kau jangan salah paham dulu, aku sudah ratusan tahun mencari pedang itu untuk mengembalikan diri ku kembali bertemu raja naga putih. Lihat lah kolam merah ini, tidak kah terlintas di pikran mu bahwa ini bukan lah air biasa namun darah ku sendiri? Setiap hari aku memasukkan gelang ke dalam air yag berisi mantra tapi tidak ada hasilnya. Hingga aku melihat cahaya kilau harapan dari pedang mu.”
Hanbo menceritakan pada Demusa, dia meneteskan air mana sambil memegang pedang Demua di tangannya. Keinginannya mendapatkan pedang milik Demusa antara dua pilihan di dalam takdir rahasia langit. Antara bertemu kembali dengan raja naga putih atau sukmanya melebur pengganti segala dosa dan keingkarannya menentang kehendak langit.
“Lalu apakah kau menyesal jika ternyata kau malah tiada?”
“Tidak Demusa, aku sudah lelah menunggu sampai saat ini, menempati tubuh palsu ini bukan lah ingin ku. Dia seharusnya sudah tenang bersemayam di dalam peristirahatan.”
Demusa memberikan pedangnya, walau pulang dengan tangan kosong setidaknya dia juga pernah berhadapan di dalam posisi yang sulit dan mendapat pertolongan Zeus. Manik mata Hanbo berkaca-kaca melihat pria baik di hadapannya memberikan hartanya yang paling berharga kepada orang asing. Dia seolah tidak berpikir sedikitpun sosok wanita di hadapannya berkata jujur atau berbohong.
Dia berpamitan pulang dengan tangan kosong. Hanbo merasa iba melihat pria pincang yang berhati besar itu. Dia menyihir sebuah kaki palsu kemudian menyambungkan tepat di kaki kanan Demusa. Pri itu yang belum terbiasa menggunakan kaki palsu teramat berat membuatnya terjatuh membenam kan wajah di atas pasir.
__ADS_1
“Ahhh!”
“Demusa, kau harus bisa terbiasa dengan kaki itu. Bukan kah kau pergi ke istana?” teriak Hanbo.
Pria itu memalingkan wajah; “Harapan ku sudah musnah bahkan aku harus berjuang keras kembali dalam tiga hari melewati gurun pasir yang tandus ini.”
“Tetap fokus mengikuti arah bulan dan matahari maka dalam satu hari kau akan sampai ke tujuan mu. Sekali lagi terimakasih atas pedang mu ini” teriak Hanbo.
Tanpa sadar di tangan kanannya terdapat sebuah buku yang melilit tangan dan buku dengan dedaunan yang mirip dengan milik Hanbo. Demusa melepaskan lilitan akar dedaunan pada buku. Dia membuka buku itu.
Lembaran pertama berisi nama-nama pendekar terhebat sepanjang sejarah.
Lembar kedua tentang seluk beluk dan pencapaian mereka mendapatkan ilmu seni bela diri.
Lembaran selanjutnya berisi lukisan.
Dia membuka buku selanjutnya, tulisan aksara yang tidak dia mengerti artinya.
“Buku apa ini? aku hanya ingin belajar seni bela diri.”
Demusa membuang buku itu, namun akar dedaunan menghubungkan buku itu kembali ke tangannya. Dia melepaskan buku, membuangnya sejauh-jauhnya. Buku itu lagi-lagi kembali terkait di tangannya. Menyadari belum semua lembaran itu di buka, dia melepaskan kaki palsu duduk di atas gundukan pasir tertinggi lalu membuka lembar terakhir.
Ilmu sihir mempelajari seni bela diri. Keanehan pada buku itu membacanya lembaran mundur sesuai dari halaman pertama dekat sampul buku. Satu persatu setiap gerakan dia pelajari, tanpa terasa dia sudah melewati dua malam di atas gurun. Hasrat dunia hanya fokus melatih gerakan, meski dengan tangan kosong dia memfokuskan diri seolah sedang memegang sebuah pedang di tangannya. Dia masih mengingat ukuran dan beban berat pada pedang ukiran naga miliknya.
Sampai pada hari ketiga, lilitan akar kecil dan beberapa dedaunan hijau masih melekat di tangannya. Asalkan dia tidak membuang atau berniat memisahkan buku itu maka buku tidak akan kembali terlilit di tangannya.
Sisa waktu pertandingan diakan esok tapi dia kehilangan waktu perjalanan untuk sampai kesana. Mengingat perkataan Hanbo, jarak menuju tujuan dengan mengikuti arah bulan atau matahari. Mendongak wajah ke atas langit, senja menenggelamkan matahari dan rembulan bersinar menunggu beberapa jam di sela badai pasir di malam itu.
__ADS_1
“Apa yang harus aku lakukan?”
Dia memasang kaki palsu mengejar matahari senja dengan kaki sedikit terpincang memaksa berlari hingga matahari menghilang. Tanpa terasa dia sudah berada di setengah perjalanan dearah pasar wilayah kerajaan.