
Sinar yang ingin di curi penyihir tertua. Dia bekerja sama dengan penyihir Togu untuk merampas kekuatan sang dewi Rembulan. Pertemuan panjang, di atas perbukitan Malaka keduanya menggabungkan kekuatan. Kilatan sihir hitam terhebat menyelimuti bumi, pagar pembatas menahan sinar yang datang dari atas langit. Pada hari itu cakra penyihir di aktifkan setelah bersatu untuk menyerang sang dewi.
“Gawat, hawa silumannya kuat sekali!” gumam kelinci putih.
Dia menggigit ujung lengan sang dewi, permeditasian terhenti melirik si siluman gelisah berlari menunjuk ke arah jendela. Sebuah pemandangan langka, kekuatan sinar hitam menyelimuti bumi. Cahaya matahari tertutupi, asap mirip penglihatan Demusa tadi malam terlintas terbang di atas langit.
“Petaka dunia, sihir hitam pasti mengincar seseorang di bumi atau ingin menguasai dunia” ucap dayang tertua di istana.
Mori masuk ke ruang persembahyangan, di depan patung dewa yang dia sembah bersujud meraih butiran tasbih besar melakukan persemedian.
......................
Penyerangan secara besar-besaran pada sang dewi rembulan, apakah dia bisa bertahan dan melawan mereka?
Penghuni khayangan mendengar suara dentuman keras dari bumi. Petua langit Sarkafa mengabarkan kekacauan yang terjadi di bumi akibat ulah siluman dan para penyihir. Ketua penjaga gerbang mengabarkan batas antara alas langit dan bumi di selimuti kabut hitam sihir kekuatan yang besar.
Kekhawatiran para tetua akan nasib atau takdir sang dewi. Kabar daun nyawa sang dewi rembulan meredup di putaran waktu yang akan terjadi.
“Bagaimana kita menyelamatkan sang dewi di bumi?” ucap salah satu tetua.
Petir Zeus membelah langit, sihir hitam yang menentang kehendak alam menutup rapat kembali cakra pelapis antara bumi dan langit tersebut. Bencana besar menggemparkan negeri Khayangan. Zeus memaksa menembus ke bumi. Tubuhnya terhantam energi hitam yang sangat besar.
Dia jatuh di atas gunung Rinjani, ledakan pembawa batu besar raksasa.
__ADS_1
Kedatangannya di lihat salah satu penyihir. Dia di serang secara bertubi-tubi, Zeus mengeluarkan senjata menghantam penyihir Togu di udara. Kilatan petir Zeus membanting hingga membelah langit bumi. Benteng pertahanan cakra lapisan berselubung ilmu sihir hitam iblis berhasil di pecahkan Zeus. Kekuatan langit yang sangat besar itu mengakibatkan guncangan alam gempa bumi.
Siluman kelinci mengikuti yang ingin mengikuti sang dewi di cegah karena dia sudah tidak memiliki bola kristal hijau penyembuh ajaib. Seluruh kekuatan kesaktian siluman itu menghilang.
“Siluman kelinci, kau harus tetap hidup dan menjadi sahabat ku. Ikuti keinginan ku dan jangan masuk ke medan perang apapun yang terjadi”
“Baiklah tapi aku tidak berjanji tidak akan tinggal diam menghentikan siapapun yang berusaha menyakiti mu.”
Sang dewi terbang di serbu para siluman, sosok siluman serigala yang pernah di tolongnya menjadi sosok penghianat menyerang membawa pasukan siluman serigala menyerang secara ganas. Aungan siluman serigala bersahutan, dewi Yumna menggunakan elemen tanah membelah bumi. Para siluman serigala masuk tertelan tanah. Sang dewi menghentakkan kaki menanam para siluman hidup-hidup di dalamnya.
“Auuuww”
Catatan langit terisi, sang dewi membunuh siluman mendamaikan bumi. Tiba di hadapannya sang kakak tiri yang berpakaian aneh berdiri sambil menjulurkan lidah seperti ular. Dia membuka topi penutup pada jubahnya, ular-ular berwarna putih menggeliat di atas kepalanya. Opila memutar tangannya membentuk kumparan kekuatan sinar merah menyerang.
Elemen cakra air terbuka di tangan sang dewi, sinar rembulan belum muncul. Jika sekalipun menggunakan sebagian cakra api tidak memungkinkan Karena sang surya di telan pembatas sihir terkuat yang menjahit kembali cakra iblis hitam penutupnya.
Sang dewi menepis serangan Opila, dia terkejut melihat setengah jiwa saudara tirinya itu berubah menjadi siluman ular. Wajah memucat, pupil memerah, kelakuan semakin aneh hingga dia melata mendekatinya. Meskipun begitu sang dewi tidak berniat sedikitpun membunuh Opila demi menyelesaikan catatan langit.
Bumi sudah mengalami musibah besar akibat perbuatannya tapi kenapa sang putri seolah melindungi kejahatannya tidak ingin menghancurkannya?
Opila mengeluarkan tenaga dalam, dia menyemburkan bisa ke sosok pria yang mendekati sang dewi. Demusa menebas kepala ular-ular kecil yang terbang arah sang dewi. Dia tiba-tiba terjatuh di lilit tubuh Opila yang berubah menjadi ular raksasa.
“Kakak, aku tidak menyangka kau sangat membenci ku. Walaupun kita berbeda ibu, tapi aku tetap adik mu bukan?”
__ADS_1
“Ahahah, dasar manusia bodoh. Kau juga bekerjasama dengan sosok lain yang di tubuh mu! seharusnya kau sudah mati di makan si raja iblis pada hari kematian ayah! Pria tidak berguna itu!”
Melihat Demusa dalam bahaya, sang dewi terpaksa mengeluarkan kesempurnaan kekuatan di telapak tangan kanan membekukan Opila. Sementara Zeus masih berperang melawan raja iblis dan sesepuh tertua siluman penyihir. Suara ramai desisan siluman ular putih menyerbu sang dewi. Dia di kepung, ribuan bahkan jutaan bisa ular menyemburnya. Zeus mencambuk ular-ular itu dengan halilintar miliknya, dia membawa sang dewi menghilang menuju ke kolam ibu bumi.
“Zeus, kita tidak bisa meninggalkan Demusa dan siluman kelinci putih! Aku harus kembali menolong mereka!”
“Tidak Yumna mereka mengincar mu. Aku menyelinap masuk ke alam dunia tanpa sepengetahuan kaisar langit. Tidak seharusnya aku mencampuri urusan dunia dan catatan mu”
Zeus menutup kolam abadi ibu bumi, dia mengurung sang dewi di dalam sana. Menggunakan cahaya petirnya dia memberi pagar tembok menjulang tinggi sampai menembus langit. Hingga kekuatan, elemen cakra belum terkumpul dia harus tetap melakukan meditasi persemedian demi menyelamatkan bumi dan mengisi catatan langit.
“Tidak Zeus!” teriak sang dewi.
Zeus kembali ke langit, dia mendapat hukuman dari sang kaisar atas kesalahannya. Tidal boleh turun ke bumi atau menginjakkan salah satu kakinya atau dia akan langsung binasa. Hukuman itu selama seribu tahun lamanya, sejak saat itu Zeus menyesali perbuatannya dan tidak berdaya melihat semua kesulitan, penderitaan sang dewi di dunia.
Kolam ibu bumi di jaga para leluhur menampakkan sinar terang benderang di air keabadian. Disitu merupakan tempat yang aman untuk bersemedi. Tapi, sang dewi tidak mau menjadi seorang yang pengecut bersembunyi sementara banyak yang berkorban di dalam peperangan. Dia memaksa membuka pagar halilintar Zeus dangan cakra apinya.
Semakin dia mengeluarkan cakra api di tangan kirinya maka semakin pula rasa panas menggelegar berapi di sekujur tubuh. Sang dewi tidak tahan menahan tubuhnya seolah akan hangus terbakar, dia menceburkan diri ke dalam kolam ibu bumi keabadian.
Dia baru teringat air yang terlarang diselami atau mandi di alamnya. Air yang bisa membuat keabadian sosok yang masuk hingga menuju dasar.
“Aku sudah terlanjur menceburkan diri ke dalam. Entah aku atau Bening yang akan hidup abadi. Aku menyelam sampai ke dasar” gumam sang dewi.
“Wahai ibu bumi maafkanlah aku masuk kedalam kola mini tanpa seijin mu” ucapnya lalu menaiki permukaan.
__ADS_1