
Di bumi tidak setengah ruh piruk hingar bingar berbagai urusan manusia. Ada banyak perjalanan kesusahan yang di jalani. Saling memperebutkan percikan sinar anugrah dari khayangan, ternyata tidak semua bisa menerima anugrah secara Cuma-Cuma.
Contoh nyata pada Demusa kehabisan tenaga dalam ketika mengeluarkan kekuatan yang di transfer dari Zeus untuk menolong sang dewi.
Para penyihir memanfaatkan pertengkaran di udara, menampung di dalam botol atau tempat wadah sihir lainnya. Di peperangan ini terbilang hampir cukup seri. Perseteruan langit menangkap iblis menyisakan waktu dari Zaman ke zaman. Seolah makhluk itu kekal sebelum dunia atau bumi binasa.
Harapan dewa Zeus di kolam keabadian melupakan kata reinkarnasi atau melepaskan tanggung jawab kewajiban yang di emban. Sesekali dia naik ke khayangan memukul bumi menurunkan petir sesuai gerakan waktu takdir langit. Di peperangan hari besar ini, dia memisahkan semua kekuatan, menghanguskan serangan si raja iblis.
“Kita belum menang maupun kalah” ucap dewi Yumna.
Mereka duduk di alun-alun kediaman sang dewi. Wajah dewi rembulan terkena debu dan asap hitam. Rambut berantakan tampak bajunya seperti orang compang-camping. Sang dewi yang bersinar indah di atas langit setara berkedudukan menapak kaki di atas bumi.
“Bening apakah engkau tidak lelah, kumpulkan energi mu jika ada serangan mendadak agar bisa melawan raja iblis itu. Nanti jika Laida kemari biar aku saja yang menyuruh membawakan teh seduhkan bunga teratai ke ruangan mu” ucap Demusa.
“Aku sedang menunggu Zeus. Ada pesan yang ingin aku kirimkan padanya.”
Bunyi Guntur, kilatan petir di atas langit masih menggelegar keras. Pukulan Zeus salah satunya pada hari itu berhasil membakar sosok siluman yang bersembunyi di tubuh manusia. Bau darah, jiwa tidak bersalah melayang akibat kejahatan sang iblis.
“Demusa, apa engkau tidak mendengarnya? Suara jeritan arwah kesakitan seolah sukma terlepas dari raganya.”
“Maksud mu engkau bisa melihat kematian seseorang?”
__ADS_1
“Demusa, ada banyak hal di dunia ini yang mempunyai rahasia tersembunyi tidak bisa di sebutkan secara terperinci. Oh ya, Aku mau lihat siapa manusia itu. Apakah engkau mau ikut dengan ku?”
“Ya tentu saja. Kalau saja aku bisa mengomando jalan maka tidak engkau yang sekarang aku ikuti di depan ku.”
Zeus masih menjalankan tugasnya di negeri langit. Akibat tubuh terbanting di bumi, dia tidak bisa memegang pukulan cemeti petir leluasa seperti biasanya.
“Wahai tetua penasehat negeri khayangan, apa yang terjadi pada tangan ku ini? senjata semakin lama terasa sangat berat.
“Wahai dewi petir penguasa negeri langit, tanyakan lah hal ini ke penghuni tetua kolam keabadian. Dampak besar memaksa turun ke bumi hanya sebuah demi alasan yang tidak pasti mengakibatkan urusan negeri khayangan berubah-ubah tidak ada yang bisa membaca takdir dan nasib dalam tabir kehendak kaisar langit.”
Zeus pun pergi menemui tetua kolam keabadian di antara batas goa persemedian. Dia menyampaikan keluhannya, akan tetapi tetua leluhur kolam keabadian hanya bisa menyampaikan pesan terakhir yang pernah dia pilih. Sebuah keinginan sederhana sang dewa petir mengorbankan kehidupannya demi dewi Rembulan. Tapi takdir tetaplah takdir langit yang tidak bisa di hapus sedangkan nasib bisa berubah sesuai garis tangan setiap makhluk hidup merubahnya sendiri.
“Wahai dewa pemilik sejatinya dua urusan bumi dan langit, semua akan terjawab pada tiap takaran pemilik nyawa penghuni langit dan bumi."
Zeus tidak menemukan jawaban apapun, dia berpikir bagaimana bisa menemukan jawaban atas semua pertayaannya itu. Saat dia turun ke bumi mencari sang dewi, bisikan setan bersembunyi di sela hembusan godaannya mencoba mencuci pikirannya.
Bisikan iblis pertama
“Wahai dewa bijaksana, kau sudah repo-repot turun ke dunia demi dewi pujaan mu bukan? Jangan kau pungkiri atau ingkari hati besar mu menginginkan kalian bersama di kehidupan ini. Cepat buat senjata petir yang kau bangga-banggakan itu. Jadi lah manusia biasa dan bawa kekasih mu ke tempat yang hanya ada kalian berdua. Ahahah.”
Bisikan setan menyerang hati dan pikiran Zeus
__ADS_1
“Dewa penguasa dua alam bisa bersusah hati memikirkan takdir besarnya sendiri. Mari aku bisikkan sesuatu yang bisa membuka pikiran mu. Dahulu seekor ular terbang menyelusup ke istana khayangan demi melihat takdir manusia dan para penghuni langit. Belum semua catatan rahasia itu di abaca sampai pada akhirnya keberadaannya di ketahui salah satu penghuni khayangan. Dia meminta pengampunan atas nyawanya. Setelah berada di mimbar keadilan, pengampunan tetap di layangkan untuk para makhluk hidup penghuni khayangan. Dia tidak di eksekusi mati atau garis memutuskan garis jiwa kehidupannya. Dia di turunkan ke bumi, sayap, kaki dan tangannya di putus. Saat berada di bumi, dia menceritakan rahasia langit pada garis gennya dan mengabarkannya pada iblis. Sebagai balasan, si ular mendapatkan kehidupan kekal dari jaman ke jaman dan bisa berinteraksi dengan para iblis memperdaya manusia yang tidak setia dan penuh dusta.”
“Wahai setan, aku bukan lah manusia.”
“Dewa, engkau bisa menjadi manusia dan leluasa mengikuti jejak sang dewi yang kini menjadi manusia Bening. Jika kesempatan besar ini tidak kau ambil maka seumur hidup mu akan menyesal. Pikirkan hal secara baik-baik. Ahahhh.”
Zeus sepanjang jalan menembus benda-benda di sekitar menggunakan kekuatan tubuh halus menghilang sambil memikirkan semua hal yang mengguncangkan dirinya. Memaksa memiliki sang dewi seutuhnya pasti disebut sebagai dewa pembangkang pada kaisar langit.
“Tapi tetap di masa kehidupan ini aku menyalahi takdir atau nasib sebagai dewa petir!” gumamnya.
Di kejauhan adegan kedekatan Demusa terlalu akrab hingga memperlihat dua sosok manusia itu pernah bersama memiliki kehidupan sebelumnya. Kematian seorang manusia akibat terkena sambaran petir miliknya.
“Zeus, kau tersangka utama membunuh manusia tidak berdosa ini. Apakah amarah mu kini tidak bisa di redam setelah turun ke bumi?”
“Apa yang katakan Demusa, petir ku bukan berniat membunuhnya. Ada iblis yang masuk ke tubuh manusia itu saat aku memukul cemeti di langit.”
“Di depan jasad yang harus segera di ke bumikan ini tidak sepantasnya kalian berdebat saling menyalahkan. Kematiannya sudah menjadi garis tangan catatan daun gugur” ucap sang dewi.
Siluman kelinci putih selesai mempersiapkan tanah yang dia gali dengan kuku silumannya. Sang dewi bergerak mengangkat jasad wanita itu di bantu Zeus dan Demusa. Di atas kuburannya sang dewi memberikan setangkai bunga yang terbuat dari cahaya rembulan. Dia berharap arwahnya tenang di dalam peristirahatan terakhir. Sedikit wajah kekecewaan tampak pada sang dewi.
“Maaf aku tidak bisa menyelamatkan mu di kehidupan ini. Kematian mu ulah dari para pengikut” gumam sang dewi.
__ADS_1