
Mantra tertanam kembali ke sukma badan halus sang dewi. Badan kasar manusia pemilik sang Bening bertolakan tidak tahan menerima membuat sang dewi merasakan kebekuan dalam dirinya yang dia tempati. Ramuan penangkal, obat dari tabib dan segala upaya yang di perjuangkan Demusa agar kesehatannya kembali pulih belum menuai hasil.
Di suatu pagi berudara dingin dan lembab, Demusa melihat pengumuman dari kerajaan yang tertempel di salah satu kedai kopi di pasar. Dia memakai tongkat berdesakan melihat isi penting di dalamnya. Sebuah pertarungan mencari sosok panglima kerajaan penjaga perbatasan negara. Dia mengingat semua isi pengumuman dan menghafal nama hari tepat satu minggu depan. Di perjalanan, Demusa pergi ke sungai mengasah pedang dan keahlian seni bela diri.
Syat-syat-syat
Krang-
Suara bebatuan, percikan air dan udara yang menggumpar. Dia belum lihai melakukan semua itu. Hanya tersisa beberapa percikan sinar petir dari Zeus yang di milikinya.
“Bagaimana ini? bagaimana bisa aku menjadi panglima perang terkuat dan bisa melindungi Bening?” gumamnya hampir berputus asa.
Dia kembali ke kediaman melihat keadaan Bening yang masih tampak sekarat. Besok seolah adalah malam terakhir wanita itu menghembuskan nafas di dunia. Sekujur tubuhnya sudah di penuhi dengan es membeku sampai sepenggal leher. Siluman kelinci putih sudah mengeluarkan satu bola ajaib miliknya tapi tidak menyembuhkannya.
“Apa lagi usaha yang harus aku lakukan? Dewi, kapan kau bangun?” ucapnya menangis.
Brugh
“Argh! Sakit”
“Awas Laida, biar aku duluan yang masuk.”
“Hei kalian jangan berisik!” bisik sang kelinci.
“Untung saja kami sudah tau siapa kau, kelinci imut ini ternyata adalah jelmaan siluman yang sangat bawel. Huhh” kata Ukaha berbisik di telinganya.
“Sudah Ukaha, jangan engkau ganggu kelinci kesayangan nyonya besar itu. Siluman kelinci pemarah bisa sewaktu-waktu memakan kita jika nyonya tidak di tempat.”
“Sttthh! Laida, Ukaha. Apakah kalian tau dimana tempat pendekar seni bela diri?” tanya Demusa.
“Maksud tuan, pendekar yang lihai memainkan pedang dan kungfu jurus seni bela diri?” laida mengetukkan dagunya.
“Ya.”
__ADS_1
“Aku tau, pria itu dulu pernah datang ke wilayah ini. Dia pernah mengatakan tidak perihal ke kerajaan manapun atau mau menjadi salah satu pendekar pelindung raja. Dia berkelana sampai ke ujung dunia seperti sedang mencari sesuatu. Apakah kau ingat kelanjutan kisah itu Ukaha?”
“Kisah itu sudah tertanam lama, bagaimana aku mengetahui kelanjutannya. Dia adalah pria yang misterius. Jika kau mau mencarinya maka tanyakan pada seorang wanita yang tinggal di gurun seberang kota” jawab Ukaha.
......................
Demusa segera pergi mencari orang yang mereka katakan. GErakannya terbilang cukup kuat meski menggunakan satu kaki. Garis nasib harus dia telan demi menyelamatkan Bening dari si raja siluman iblis. Tekad gigih berhari-hari melewati gurun pasir mengandalkan petunjuk arah dari arah angin yang berhembus dan cahaya matahari.
Dia sudah sangat lemas, perut kosong, mata sedikit kabur terkena serpihan pasir. Demusa terjatuh berbaring di atas pasir bawah terik matahari. Tanpa di duga, sinar orange keputihan menuntunnya memperlihatkan sebuah bangunan di arah selatan.
“Itukan tempat yang di katakan Ukaha dan Laida?” gumam Demusa meraih tongkatnya kembali tergesa-gesa.
“Hei! Permisi!”
“Apakah ada orang!”
Berkali-kali dia berteriak berharap ada yang melihat atau mendengarnya dari kejauhan.
Bangunan itu berada di tengah-tengah kolam yang berwarna merah. Karena tidak ada yang mendengar atau melihat keberadaannya, Demusa mengeluarkan pedang terlilit di tali pinggang mengarahkan ke atas langit. Sinar terik memantul masuk menyinari tempat itu menyilaukan salah satu mata wanita yang tinggal di dalamnya.
Demusa berputus asa, usaha terakhir sia belaka. Kompetisi akan di selenggarakan empat hari lagi sedang jarak yang dia tempuh melewati gurun pasir berkisar tiga hari. Maka satu hari tidak lah cukup berlatih ilmu bela diri. Saat Demusa membalikkan tubuh berjalan pulang, dia terjatuh terkulai lemas dari arah belakang di sanggah oleh seorang wanita sambil tersenyum.
“Tuan, apakah tuan membutuhkan sesuatu, kami tinggal disana” tunjuknya ke tempat yang dia tuju.
“Benarkah engkau tinggal disana? Aku mau mencari seseorang.”
“Kalau begitu tuan ikut saya saja.”
Sungguh aneh di dalam benaknya, dia sedari tadi tidak melihat ada titi kecil yang menghubungkan kolam berwarna merah itu dengan rumah. Pandangan sihir yang tidak terlihat Demusa atau orang asing lainnya. Hanya sihir Hanbo yang bisa merubah dan memberikan penglihatan kepada orang tertentu.
Hanbo adalah seorang penyihir yang mengetahui banyak hal dengan mata lahiriah jiwa murni yang dia miliki. Dia salah satu penghuni istana langit yang turun ke bumi karena suatu kesalahan.
...❄❄❄...
__ADS_1
Pada masa sebelum atau sesudah bumi di ciptakan.
Cinta berkasih sayang sangat di larang di larang di negeri Khayangan. Hanya wanita itu yang mencintai salah satu sosok penghuni negeri langit. Sesudah dia mengatakan rasa cinta dan kasih sayangnya yang berlebihan itu tanpa di sangka dia lompat dari negeri Khayangan turn ke bumi.
...❄...
“Tidak! Hanbo!”
“Wahai Raja Naga putih, terimakasih atas hari-hari yang terlewatkan, diam-diam aku menyukai mu!” ucapan terakhirnya.
Hanbo jatuh di atas pasir yang panas dan kasar, tubuhnya hancur berkeping-keping. Darah penghuni negeri langit itu mengalir sederas-derasnya hingga membentuk sebuah kolam yang sangat besar. Sosok sukmanya melihat remukan patahan hancur tubuhnya sendiri. Dia menangis menatap ke atas langit.
“Wahai Raja naga putih, semoga aku bisa bersama mu di kehidupan selanjutnya.”
......................
“Siapa wanita cantik yang duduk menghadap kolam itu? Dia tersenyum sendiri seperti menikmati pemandangan yang indah” gumam Demusa.
Demusa duduk di sebuah kursi yang terbuat dari bambu hitam berhias dedaunan hijau. Di tengah-tengah meja tersedia sebuah teko berisi teh beraroma sangat wangi. Wanita yang membawanya tadi menuangkan segelas cangkir di dekatnya.
“Silahkan di nikmati teh nya tuan.”
“Terimakasih.”
Dia berjalan menuju wanita yang satu lagi, mereka berbisik sesekali menoleh melihatnya. Dia menghampiri Demusa memperhatikan penampilan pria itu dengan seksama.
“Sepertinya tuan berasal dari tempat yang jauh.”
“Ya benar, nona tolong bantu aku menemukan dimana pendekar yang memiliki kekuatan seni bela diri luar biasa itu? Waktu ku tidak banyak. Bisakah kau membantu ku?”
“Tuan jangan terlalu tergesa-gesa. Silahkan di cicipi teh hangat ini untuk mengisi energi tubuh.”
Satu nampan berisi berbagai hidangan, memenuhi isi meja. Dia tersenyum berdiri di samping wanita yang berpakaian seperti seorang putri. Hiasan di kepalanya sama dengan dedaunan yang berada di setiap benda atau tempat lainnya.
__ADS_1
“Kenapa tidak di makan hidangannya tuan? Apakah tuan berpikir di dalamnya sudah kami masukkan racun di dalamnya?”