Turun Dari Khayangan

Turun Dari Khayangan
Umpan


__ADS_3

Penjaga istana Kotun menyelidiki kasus mendetail. Dia mencari sumber memasuki setiap rumah warga hingga menyusuri setiap jalan. Para pasukan di bagi menjadi beberapa kelompok berpencar bersembunyi, menyamar sebagai warga biasa bahkan ada yang sampai menyamar menjadi seorang gadis berpenampilan seksi. Mereka mempoles sesuai karakter gaya fostur tubuh masing-masing.


Anak kecil pertama yang hilang bernama Resa, dia menemukan potongan kain berwarna hitam yang sepertinya sengaja di tarik paksa olehnya. Dia mengenal baik serpihan kain mirip jubah para pria yang sering terbang di malam hari. Yeti mencari Demusa, tidak ada tanpa kemunculan sosok panglima perang yang baru di lantik itu. Para prajurit memberitahu sang panglima sudah tidak terlihat sejak tadi pagi.


“Lalu kemana perginya Semi?”


“Penjaga pendamping sang panglima di tugaskan menjaga rumah kediamannya selagi beliau tidak di tempat” jawab sang prajurit.


Kotun menggeledah ruang kerja Demusa, tidak terlihat tanda-tanda mencurigakan. Dia meneruskan pencarian mengikuti para pria bertopeng terbang masuk ke ruangan raja. Tebaran asap hitam membekas di sela udara. Sang penjaga memperhatikan mereka berdiri menghadap sang raja sikap penuh keangkuhan. Pria yang berdiri di memakai topeng menendang tubuhnya, sang raja tidak marah malah kedua tangannya di satukan di depan dada seperti orang ketakutan meminta ampun.


“Rahasia apa yang tersembunyi hingga raja terlihat takut?” gumam Kotun.


......................


Pagar yang di pasang Zeus berhasil di tembus, sang dewi segera terbang keluar mencari mereka terutama si siluman kelinci. Medan peperangan masih riuh suara gesekan pedang, teriakan orang kesakitan perebutan wilayah memperebutkan kekuasaan. Raja iblis sudah pergi begitupun para penyihir, sang dewi menarik si kelinci dan Demusa kembali ke kediaman sang panglima.


“Tuan, saya pikir seharian tuan ada di dalam. Tapi suara tabu gendang dan shofar membuat ku ingin tau dimana letak peperangan. Aku mengawasi kediaman di perbatasan kota berjaga jika mereka masuk. Oh ya tuan selain itu aya menemukan informasi penting, para pria bertopeng berjubah hitam ternyata adalah kaki tangan sang raja. Sekte hitam itu menyembah iblis, tidak tau pasti kebenaran kabar ini” ucap Sem memberi penjelasan.


“Terimakasih Sem, kerja mu sangat bagus.”


“Dewi, kau tidak apa-apa kan?” tanya siluman kelinci mendekatinya.


“Tu_tuan! Kelinci itu bisa berbicara. Argghh!” teriak Sem.


“Tenangkan diri mu. Kau begitu berani memainkan pedang melawan musuh tapi bernyali kecil hanya melihat kelinci berbicara” sindir Demusa.

__ADS_1


“Maafkan saya tuan.”


Sosok siluman mendekati sang penjaga, dia tersenyum mengibaskan ekor mengedipkan mata mengganggunya. Sedikit geli, takut dia berjalan mundur. Demusa dan sang dewi meninggalkan mereka menuju kolam teratai.


“Dewi, kami baru selesai berkebun, ada yang aneh. Biasanya tumbuhan ini cepat tumbuh dalam satu malam sesudah mendapat sinar rembulan dari tangan mu. Tapi lihatkan, bibit daun pucuk hijau pun tidak terlihat” kata Ufaka.


“Jaga kata-kata mu Laida, dewi sudah banyak kehilangan kekuatannya demi melindungi kita.”


“Kalian bersabar, menggunakan sistem bercocok tanam menggunakan energi matahari. Sampai kekuatan dewi pulih baru semua tumbuhan segar bisa subur dalam satu malam lagi” ucap Demusa.


......................


Keberadaan dewi rembulan masih menjadi incaran para penyihir dan siluman. Dia balik malam, Togu dan penyihir tertua bertengkar memperebutkan siapa yang terlebih dahulu mendapatkan kekuatan si dewi rembulan. Mereka berhenti bertengkar mendengar teriakan arwah-arwah penasaran di atas wilayah Libria. Aroma amis udara terasa menyengat, bangkai manusia yang di lahap hewan buas memadati ujung benteng istana.


Rakyat menderita melihat sang raja mempekerjakan pasukan jubah hitam sebagai wakil raja. Kedudukan mereka di atas para pejabat dan panglima. Kelakuan mereka semena-mena, keanehan terlihat saat sang raja tinggal diam menyaksikan kabar kematian para prajurit.


Raja yang tinggal diam, bersembunyi di balik tubuh para anggotanya. Dia memainkan peran berpura-pura menjadi pemimpin yang adil dan baik. Banyak para warga masyarakat tertipu dengan kata-katanya yang bertolak belakang dan sikapnya yang penuh pencitraan.


Kesengsaraan rakyat, hak yang di rebut secara paksa. Penuh kesombongan mengumumkan hal yang di anggap penting untuk mengangkat harga diri dan nama baiknya. Semakin lama, sedikit demi sedikit rahasia kotor, sifat dan rencana busuk si penguasa negeri terbongkar.


Kotun sempat berburuk sangka pada panglima perang itu sebagai tangan kanan atau bagian dari anggota sang raja. Hingga dia mencari tau sendiri kebenarannya, sampai pada hari ini dia sendiri menemukan Demusa di alun-alun kolam teratai.


“Panglima, apakah aku boleh tau siapa wanita ini?”


“Kotun, dia adalah kekasih ku. Kami akan hidup bersama. Ahahh.”

__ADS_1


“Tuan panglima, kau terlalu berlebihan. Perkenalkan saya Bening, anak pertama tuan Zafran.”


“Tuan Zafran mempunyai peran penting memberantas para koruptor di negeri ini. Aku ikut turut sedih mendengar kabarnya telah meninggal.”


“Kotun, masuk ke ruangan ku saja. Aku takut ada yang mendengar pembicaraan kita ini.”


Mereka bertiga menuju ruangan pribadi Demusa. Semi di luar bersama siluman kelinci. Wajah siluman itu tampak kesal tidak di perbolehkan ikut masuk. Sang kelinci merubah diri menjadi sosok manusi, duduk di tepi kanan pondasi rumah. Sem memperhatikan wajahnya dari samping tanpa henti.


“Sem, aku apakah kau sudah jatuh cinta dengan ku?” goda si kelinci.


Sam memalingkan wajah meninggalkannya, di dalam benak berkata jika dasarnya siluman tetaplah siluman hasrat ingin merasakan darah manusia.”


Berjam-jam lamanya mereka menunggu hingga keluar wajah murung Kotun. Dia tidak menyangka merasakan kedekatan pada Demua sampai segala keinginannya seperti sosok pendamping di masa lalu sangat mematuhinya.


Orang kedua yang keluar adalah sang dewi, ada Demusa di sampingnya mengikuti. Langkah suara kaki palsu Demusa membuat Sem merasa iba.


“Maaf panglima, jika kau mau saja maka puluhan obat sudah mengantri di depan kediaman mu untuk menawarkan kaki pengganti pada mu.”


“Ahahah, Kotun kau terlalu mengkhawatirkan ku. Sekalipun banyak tabib bisa mengobati tapi tidak menumbuhkan kaki kiri sebelah ku ini.”


“Demusa kau jangan bergerak dulu. Aku mempunyai kenalan tabib handal bisa menyambungkan kaki besi mu kembali.”


Suara teriakan Demusa menahan sakit, tanpa bius atau obat pereda rasa sakit lainnya. Seorang tabib tua yang Nampak kurus dan ringkih itu menekan kaki sambungan sangat kuat seolah akan mematahkan semua tulangnya. Agar tidak menghalangi pengobatan, kedua tangannya yang sudah di ikat tetap di pegang kuat oleh dua anggota si tabib.


“Tuan, jangan berteriak lagi, gendang telingaku terasa mau pecah. Bertahan lah sedikit lagi.”

__ADS_1


Hingga terdengar suara bunyi ‘Kreek’. Kaki palsu sang panglima berhasil di satukan kembali. Dia bermandikan keringat, wajah merah padam menahan rasa saki yang tidak tertahankan.


__ADS_2