Turun Dari Khayangan

Turun Dari Khayangan
Rahasia belum terungkap


__ADS_3

Malam kian larut, Meran tetap berada di ruangannya meracik ramuan. Setengah tubuh di kuasai penyihir tua. Tubuhnya sedikit membungkuk,di bahkan sudah tidak memperdulikan Faga akan kembali atau tidak. Ruangan rumah mengepul asap, dia sedikit terbatuk mengayunkan tangan mencari sedikit rongga pernasapasannya seolah akan berhenti. Penyihir tertua itu sudah banyak mempelajari ilmu sihir tapi untuk melawan gadis kecil yang di inginkan oleh Meran pemilik tubuh yang dia tempati itu bagai gajah yang kewalahan berperang dengan semut.


Berhari-hari dia meracik campuran kaca bola Kristal. Hingga suatu malam, dia memanfaatkan cahaya rembulan untuk membuka sihir ghaibnya. Semula sihir bertolak belakang hingga pada malam kedua dia memanggil ritual raja siluman iblis sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan.


“Ahahah.. akulah si penyihir terkuat di muka bumi ini!” teriaknya.


Dia melihat siapa sosok asli di dalam tubuh gadis yang sangat di benci Meran. Dia meneguk setengah ramuan racikan.


“Dari awal firasat ku tidak salah. Ada sosok lain bersembunyi di dalam tubuhnya.”


......................


Pekarangan yang luas, lembah bunga yang indah, udara sejuk dan banyak dayang serta pekerja berlalu lalang. Kedatangan mereka di sambut barisan rapi suguhan teh dan cemilan di sebuah meja panjang di taman depat pintu masuk rumah. Laida dan Ukaha saling melirik tersenyum kegirangan. Mereka bagai mendapatkan kartu keberuntungan secara drastis hidup berubah lebih bahagia.


“Laida kita tidak salah mengikuti Nyonya besar Bening. Kebaikannya berbalas dengan semua fasilitas kemewahan ini.”


“Stthh! Kecilkan suara mu Ukaha. Kau jangan senang dulu. Kita harus tetap waspada di tempat baru ini.”


Sang dewi duduk di samping Demusa, lelaki itu menyematkan sekuntum bunga sakura putih di dekat telinga sang Dewi. Ingatannya sedikit membayang pernah duduk berdua menikmati secangkir teh bunga teratai menatap lembah bunga yang indah. Jika hari adalah hari putaran lalu dengan Bening, maka tidak seindah di awal. Sosok lain jelmaan dewi tidak membalas rasa sendu bahagianya di hari itu.


“Panglima, ada tugas penting dari kerajaan. Kita harus segera menjaga perbatasan kerajaan” ucap penjaga pendampingnya.


“Kalau begitu segera siapkan kuda ” perintah Demusa.

__ADS_1


Demusa memberikan pesan kepada para Laida dan Ukaha agar menjada Bening selama dia pergi. Dia juga memberikan seekor merpati putih dan seekor burung elang sebagai hewan penyampai kabar penting kepadanya. Dua kandang khusus hewan itu berada di kamar mereka, Demusa meminta agar merahasiakan semua tugas ini dari siapapun. Dia juga menyuruh Laida dan Bening bergantian berjaga selama semalaman di sekitar ruangan Bening.


“Aku berharap kalian bisa menjalankan tugas ini.”


“Demusa! Jahat sekali kalian meninggalkan ku. Aku masih sibu memperhatikan ketampanan siluman buaya tadi ketika kita berhenti di sungai.”


“Hei kelinci putih, bukan kah buaya itu adalah hewan yang tidak setia. Kenapa kau repot-repot menatap wajahnya.”


“Ya benar yang di ucapkan Ukaha, mulutnya panjang, matanya hampir tenggelam dan dia sangat kotor. Hihhh” ucap Laida menambahkan.


Kepergian tugas Demusa tidak di antarkan oleh sang Dewi. Dia kembali ke dalam ruangan melanjutkan meditasinya. Mantranya belum seutuhnya sempurna, dia masih penasaran ingin kembali mencoba mantra Triangsang sampai pada hal yang tidak terduga ketika melewati pintu dimensi lain. Tanah berguncang hebat, gempa bumi di wilayah yang subur nan hijau menelan pepohonan besar hingga rumah-rumah warga. Sang dewi berdiri di atas perbukitan menyaksikan bencana dahsyat itu.


Sang dewi mengganbungkan kekuatan elemen api dan air di kedua telapak tangannya. Dia mengayunkan tangan dan kaki menghentakkan kaki memukul bumi. Tanah bergerak sesuai gerakan kakinya. Begitu pula retakan tanah yang terbelah menyatu kembali, tanah terbang seperti gerakan tangannya.


Seketika gempa bumi berhenti berguncang. Rumah yang di lahap tanah itu di naikkan kembali oleh sang dewi, tumbuh-tumbuhan bahkan sawah yang menghilang dia susun kembali menggunakan elemen tanah dan air.


“Kita selamat!”


“Hore! Hidup dewa-dewi langit!”


Setelah menggunakan kekuatan menggunakan tubuh halus, sang dewi bermandikan keringat terjatuh terhuyung perlahan menyandarkan tubuh di salah satu pepohonan. Dia kehilangan tenaga, menahan rasa panas dan dan dingin di telapak tangan.


“Aku bisa dan aku harus kuat!” gumamnya.

__ADS_1


Di balik tembok raksasa perbatasan kerajaan, Demusa memperhatikan setiap gerak gerik para prajurit. Dia terkejut melihat sosok hitam melayang di atas langit melintas terbang melewati perbatasan. Dia memberikan perintah untuk memanak sosok itu namun tidak ada satu orang pun prajurit yang berani.


“Tuan, kita tidak boleh memanahnya. Kita juga harus berpura-pura untuk tidak melihatnya” ucap Semi sang penjaga pendamping.


“Apa maksud dari perkataan mu. Memangnya makhluk apa itu?”


“Itu__”


“Cepat katakan Sem, kau adalah orang kepercayaan ku bukan”


Sem di lirik oleh para pasukan, mata mereka menunjukkan amarah terpaksa dia bungkam meninggalkan Demusa. Pada malam selanjutnya penampakan kembali hadir, jubahnya panjang membawa asap hitam. Dia berlari melompat dari satu atap ke atap lainnya hingga sampai di bagian tengah ruangan kebesaran.


Demusa masuk menyelinap ke dalam kerajaan, di ruangan kebesaran raja salah satu sosok yang di ikutinya tadi berhadapan berbicara berbisik. Pembicaraan tidak jelas terdengar, dia hanya melihat sosok berbaju hitam itu memberikan sebuah botol berwarna merah padanya.


Demusa berjalan mengendap-endap mencari tempat persembunyian saat melihat sosok yang menyerupai lainnya masuk ke ruangan itu. Sang raja terlihat sangat patuh terhadap mereka, salah satu sosok berbaju hitam memakai topeng memukul tubuhnya berkali-kali. Mereka menyebut kuat kata kudeta, siluman dan mantra iblis.


“Apa yang sebenarnya di rahasiakan mereka?” gumam Demusa.


Dia mengikuti kembali arah para sosok berjubah hitam yang bisa melayang di udara itu pergi meninggalkan istana. Saat jarak larinya mencapai kejauhan dari pembatan tembok istana, dia di tarik oleh Sami bersembunyi diantara bebatuan besara.


“Ssthh, jangan bersuara tuan” bisiknya.


Para sosok berhenti membentuk lingkaran tepat di dekat mereka bersembunyi. Jika Semi tidak menghentikannya maka dia akan di tangkap dan di adili di mimbar kematian. Mereka seperti menjalankan ritual pemanggilan setan. Sosok mengerikan terbang mencekik salah satu pria yang berada di dalam lingkaran itu. Sosok tersebut menghirup hawa murni hingga tubuhnya mengering dan meninggal. Suara jeritan menerbangkan burung gagak bersiap memakan bangkainya.

__ADS_1


Menunggu mereka pergi, Demusa memperhatikan simbol tengkorak yang sama di pergelangan tangan raja. Melihat mereka pergi, Demusa bersama Semi kembali ke perbatasan istana. Di dalam tenda barak darurat, dia memikirkan penampakan yang di lihatnya juga keanehan pada sang raja. Dia memanggil Semi menanyakan jawaban atas pertanyaannya yang tidak mau di jawab.


“Semi, katakana sejujurnya siapa mereka dan apa kaitannya dengan raja?”


__ADS_2