
Sosok itu pun memutar waktu berhenti, telapak tangan kiri sang dewi menyala kobaran api.
“Dewi, waktu awal mu sebelum matahari tergelincir, kau harus mengingat jalan pulang.”
Hawa bara api di tempat itu terasa panas, sang dewi menahan menembus lorong masuk ke dunia lain. Dia melihat seonggok kayu berjalan sendiri di tengah medan pertempuran berubah menjadi raja siluman iblis. Dia membunuh para prajurit hanya dengan sekali tiupan mengeluarkan api menghanguskan tubuh mereka. Darah tumpah, suara teriakan kesakitan nyawa berguguran.
Musuh itu utama yang harus di berantas, sang dewi menyerang raja iblis mengeluarkan kekuatan sinar rembulan. Dia sudah bisa mengendalikan elemen air namun elemen cakra api di tangan kiri semakin panas. Waktunya sudah mau habis, dia mengingat perkataan cakra kekuatan api.
......................
Suara panggilan Demusa semakin jelas, melihat langit yang mulai menandakan pergerakan waktu. Sang dewi berlari masuk kembali menuju pintu garis api. Dia menembus paksa kembali ke dunia sekujur tubuh keringat hingga sebagian gaunnya hangus terbakar. Dia membuka mata menoleh ke Demusa yang memperhatikan perubahan pada diri Bening.
“Kau siapa? Bening atau dewi yang di katakan siluman kelinci?”
“Jawaban ku tetap sama, secara wujud nyata adalah Bening dan di dalamnya adalah dewi Rembulan.”
“Pantas saja setengah gaun mu hangus, wajah mu terkena asap seperti habis membakar sampah.”
“Siapa pun aku, tidak pernah sedikit pun keinginan ku melukai manusia di bumi.”
“Tidak penting sekarang, aku harus segera kembali ke perbatasan kerajaan. Ayo ikut aku pindah ke kediaman istana.”
“Demusa, aku tidak mau melibatkan orang lain dalam masalah ku. Siluman kelinci putih sudah menjadi bukti kesengsaraan hidupnya bagai di ujung tanduk tidak memiliki bola siluman penyembuh lagi.”
“Lantas kau mau mengorbankannya lagi setelah dia tidak memiliki kekuatan istimewa. Ikutlah dengan ku, aku akan menjaga kalian.”
“Nyonya besar, tuan Demusa, utusan kasim memberi pesan agar kita segera kembali ke istana” ucap Laida berdiri di depan pintu.
“Dewi. Apapun keputusan mu . Aku akan ikut dengan mu” bisik siluman kelinci.
__ADS_1
“Demusa dengar lah, aku mau pergi di samping menjaga para dayang dan siluman kelinci putih sementara aku bermeditasi memulihkan kekuatan mantra ku kembali. Tapi suatu saat berjanjilah satu hal, jangan halangi aku jika aku melepaskan tubuh kosong ini dan kembali ke khayangan.”
“Ya, aku akan berjanji.”
Mereka mengemasi barang-barang menuju ke kediaman istana bagian wilayah Demusa. Tanpa mereka sadari, siluman kelinci putih mengintai memata-matai setiap gerakan Bening atas perintah Opila. Mengetahui kabar perpindahan wanita itu, Opila menyusun rencana untuk menyerang Bening secara sembunyi-sembunyi. Setelah peperangan di tengah hutan, dia berhasil kabur dari jeratan Togu.
Bekerja sama dengan ular siluman putih untuk membunuh dewi rembulan, merebut kekuatannya dan mengambil kembali mahkota siluman ular putih yang di curi Togu. Sebelum menyerang sang dewi, mereka mencari informasi tentang keberadaannya lalu mengumpulkan kubu pasukan ular putih. Opila belajar ilmu sihir dari siluman ular putih. Hingga pada suatu hari untuk mendapatkan kekuatan racun yang mematikan dia harus mengorbankan diri berubah menjadi siluman ular pula.
“Tapi__”
“Tapi apa ular siluman putih? Pengorbanan apa lagi yang harus aku lakukan?”
“Tidak mudah mencampurkan darah siluman ular berbisa ke darah manusia biasa. Resikonya sangatlah besar.”
“Apapun akan aku lakukan.”
“Aku tidak akan memaksa kau meminum darah ku, jika tubuh mu menerima maka kau akan hidup tapi sebaliknya.”
Mereka memulai melakukan proses pencampuran energi. Siluman ular putih menampakkan wujud aslinya. Penampilannya memakai gaun, di setiap helai rambut terdapat ular-ular putih kecil menggeliat. Setengah dari ular itu berpindah ke kepala Opila. Langkah mundur ketakutan merasakan hewan berlendir itu menaiki tubuhnya menggeliat di kepalanya.
“Jangan takut, mereka tidak akan mengganggu mu.”
Siluman ular menumpahkan bisa di dalam wadah kecil. Minuman beracun di campur darah siluman ular. Opila meraih dari tangannya bergetar tegukan demi tegukan pun dia minum. Di tegukan terakhir dia menjatuhkan wadah. Dia terjatuh, mulut mengeluarkan buih dan lendir.
“Opila kuatkan diri mu!”
“Opila cepat bangun, buka mata mu atau aku akan memerintahkan semua anak-anak ular itu masuk ke rongga hidung, mulut dan telinga mu!”
Teriakan, bentakan, rasa ular dingin menggeliat salah satunya setengah badan ular kecil masul ke rongga mulutnya. Tangannya menangkap ular lalu mengunyah terdengar suara retakan daging muda.
__ADS_1
“Bagus, ayo berdiri. Aku tau tubuh mu menerima racun mematikan itu. Kau sekarang sudah menjadi manusia siluman. Ahahah!”
Faga berlari membantu Opila berdiri tegak, dia sangat terkejut mendapati sikap saudaranya yang berubah sangat aneh.
“Opila kau kenapa? Ibu berkelakuan aneh dank au juga tampak sama. Argghhh! Banyak sekali ular-ular kecil menggeliat di kepala mu!” teriak Faga.
Dia mengambil sebatang ranting, satu persatu membuang ular yang berada di atasnya. Opila hanya tersenyum menyeringai. Hasrat ingin meneguk darah manusia, aliran denyut nadi yang hangat dan daging yang segar. Dia belum bisa mengendalikan hawa silumannya. Opila memamerkan gigi taring membuka rahang mulut lebar menancapkan taring tepat di lehernya.
‘Argghh”
“Argghhh.”
Teriakan Faga sudah tidak terdengar lagi. Dia meneruskan meneruskan memangsa manusia ingin mengunyah daging Faga namun di hentikan oleh siluman ular putih.
“Opila hentikan. Aku tidak pernah bermaksud merubah mu menjadi pemangsa manusia. Kita harus bekerjasama mencapai tujuan kita.”
Opila tersadar setengah darah ular dan manusia belum bisa di kendalikan dirinya sendiri. Melihat darah di tangannya dan kematian Faga akibat dirinya. Dia menangis memeluk jasad sang adik. Kata maaf dan tangisan tidak akan bisa menghidupkan jiwanya yang melayang. Opila mengubur jasadnya di dekat pohon tempat dia bersama siluman ular putih bersembunyi.
......................
“Zeus dimana kau? aku membutuhkan arah jalan pulang keluar dari dunia dimensi lain ini. Beri aku petunjuk”
Dewi rembulan membuka cakra sinarnya ke arah atas langit. Seketika gemuruh, Guntur kilatan menerjang bumi dengan suara petir menggelegar di langit. Zeus melihat sinar terik kaca rembulan dari atas langit. Mengetahui sang dewi sedang berada di dalam kesulitan maka dia seger menurunkan petir mendorong dan memindahkan tubuhnya ke alam manusia.
Duaarr.
Syat.
Kilatan yang sangat keras itu hampir menggoyahkan bumi menimbulkan gempa. Sang dewi kembali ke tubuh Bening. Kedua tangannya di genggam Demusa yang sedari tadi menunggunya kembali sadar. Dia yang tidak bisa terlepas dari masa lalu, si panglima perang yang berenkarnasi mencari Bening di kehidupan selanjutnya.
__ADS_1
Adanya reinkarnasi menunjukkan takdir tidak bisa di ubar meski manusia memaksakan kehendaknya.