Uniregular Sport School 1

Uniregular Sport School 1
Chapter 9: Pelajaran Matematika


__ADS_3

Seperti apa aku harus bertindak?


Mungkin akan lebih baik jika aku melakukan beberapa hal yang bodoh dan payah hingga mereka percaya kalau aku adalah orang yang seperti itu.


Pembelajaran dimulai seperti biasa, materi yang diajarkan oleh pak Smith adalah matematika. Beliau sudah menjelaskan panjang lebar tentang materi peluang, tapi sepertinya banyak siswa yang masih tidak mengerti.


Walaupun ini adalah sekolah khusus olahraga, tetap saja pelajaran seperti matematika dan yang diperlukan untuk ujian Minggu depan.


Pak Smith mulai menggambar beberapa kartu di papan tulis sambil menuliskan pertanyaan yang mungkin akan menjadi soal yang harus dijawab.


"Silahkan satu orang maju dan kerjakan soal di depan ini!"


Tidak ada jawaban, para siswa mengalihkan pandangannya dari pak Smith dan beberapa dari mereka berpura-pura sibuk agar tidak dipilih olehnya.


"Satomi, seharusnya kau bisa menjawabnya kan?"


"Kurasa jawabannya 1/26."


"Hebat sekali kau langsung tahu!"


"Pertanyaan biasa ini bukanlah apa-apa."


Perbincangan singkat antara aku dan Elaina sepertinya menarik perhatian pak Smith dan tak lama kemudian beliau langsung menatap ku.


"Satomi Adney, kerjakan sekarang!"


"Hmm.. aku tidak bisa menjawabnya."


"Kerjakan saja!"


"Baik."


Tentu saja aku sudah menduga kejadian ini, jadi aku akan menjawabnya dengan salah.


Aku berjalan ke depan kelas lalu mengambil spidol dan bermain-main sebentar dengannya. Tatapan para siswa dapat kurasakan dengan jelas, tapi aku tidak peduli dan terus berpura-pura berpikir walaupun aku sudah tahu jawabannya.


"Kenapa kau bingung? Ini masih mudah dan jenis peluang itu sendiri masih ada banyak."


"Maaf, berikan aku waktu untuk berpikir."


"Lima menit!"


"Baik."


Lima menit untuk menjawab soal peluang tingkat awalan seperti ini kurasa masih terlalu banyak. Pada dasarnya peluang adalah besarnya probabilitas atau kemungkinan berlangsungnya suatu kejadian. Masih ada banyak tingkatan untuk kemungkinan itu dan yang diajarkan oleh pak Smith sekarang masih sangat mudah untuk dipahami.


Aku melihat ke arah papan tulis sekali lagi dan berpikir kalau gambaran yang digambar oleh pak Smith sangat buruk, jadi aku hanya fokus ke tulisannya karena inti untuk menemukan jawabannya ada disana.


Dari seperangkat kartu bridge, akan diambil kartu merah bernomor 10. Tentukan peluang terambilnya kartu merah bernomor 10!


Jika tentang kartu bridge, maka aku perlu memecahkan beberapa hal terlebih dahulu.


Seperangkat kartu bridge terdiri dari 52 kartu. Artinya, banyaknya ruang sampel percobaan tersebut adalah 52, jadi rumusnya adalah n(S) \= 52.


Terambilnya kartu merah bernomor 10 menunjukkan 2, jadi rumusnya adalah n(A) \= 2.


Yang ditanyakan adalah peluang terambilnya kartu merah, jadi dituliskan dengan P(A)


Berarti rumus yang tepat adalah...


P(A) \= n(A)/n(S)

__ADS_1


Berdasarkan teori peluang klasik maka diperoleh:


P(A) \= n(A)/n(S)


\= 2/52


\= 1/26


Jadi, peluang terambilnya kartu warna merah nomor 10 adalah 1⁄26.


Itu adalah jawaban yang tepat untuk pertanyaannya, tapi aku akan menjawabnya dengan salah agar aku dianggap bodoh oleh mereka.


Aku mulai menarik spidol dan menuliskan angka di papan tulis. Angka itu adalah 100. Singkat saja, ada dua angka 10 disana, jadi mereka akan menganggapku mengalikan kedua angka itu.


"Bagaimana pak Smith, apakah benar?"


"Astaga. Jangan membuatku kesal!"


"Lalu kenapa kau menyuruhku?"


"Tetap berdiri disitu hingga ada yang bisa menjawabnya dengan benar!"


Tanpa memberitahu alasannya, beliau tetap menyuruhku untuk berdiri di depan kelas sampai ada yang bisa menjawabnya dengan benar.


"Pak Smith, bolehkah aku menjawabnya?"


Lina mengangkat tangannya dan menawarkan diri untuk menjawabnya, kurasa dia akan menjawabnya dengan benar.


"Ya, Lina. Silahkan!"


"Jawabannya adalah 1/26."


Seisi kelas langsung bertepuk tangan setelah diperintahkan lalu suara tepukan tangan terdengar dengan keras. Wajah pak Smith yang tadinya kesal kini berubah menjadi senyuman tipis setelah Lina berhasil menjawab pertanyaan yang diberikan olehnya.


"Karena jawabanku benar, tolong lepaskan Satomi!"


"Baiklah, sekarang kau boleh duduk. Lain kali perhatikan penjelaskan ku dengan baik!"


"Aku mengerti, maafkan aku."


Berjalan santai ke tempat duduk semula, aku melihat wajah Elaina yang tidak bisa kutebak ekspresinya. Aku sedikit bingung apakah dia merasa takut, sedih, atau marah. Namun setelah melihat kerutan di dahi Elaina, sepertinya dia merasa marah.


"Pelajaran hari ini aku cukupkan sampai disini dan kalian bisa pulang setelahnya. Terima kasih!"


"Baik!"


Pak Smith mengakhiri pelajaran dengan tatapan dinginnya lalu keluar kelas.


Aku sedikit merasa lega karena setidaknya aku berhasil menipu pak Smith dan beberapa siswa di kelas.


"Wah Lina, kau hebat sekali!"


"Aku bahkan tidak mengerti dengan apa yang dijelaskan, seorang jenius matematika memang hebat!"


"Berbanding terbalik dengannya, 100. Apa-apaan itu?"


"Dia hanya melihat angka 10 lalu mengalihkan keduanya."


"Kau sangat baik karena hanya membuatnya berdiri sebentar saja."


Lina dibanjiri oleh pujian dan kekaguman teman sekelasnya atas jawabannya yang benar, dia sekaligus menjadi penyelamat kelas bagi mereka.

__ADS_1


Tanpa memperdulikannya lagi, aku keluar kelas dan berniat untuk bersantai terlebih dahulu di rerumputan taman. Sepertinya Elaina juga akan mengikutiku.


"Kau tidak langsung pulang?"


"Ya, aku masih ingin bersamamu."


"Begitu ya?"


"Woh, ternyata rumput ini nyaman juga!"


Elaina ikut berbaring di rumput walaupun biasanya dia hanya akan duduk di sebelahku.


"Begitulah, seperti di lapangan golf."


"Satomi, sebenarnya. Ada yang ingin kubicarakan."


"Apa itu?"


"Kenapa kau menahan diri?"


"Bukankah aku sudah menceritakannya padamu?"


"Bukan itu, setelah melihatmu yang bisa akrab dengan seorang guru yang mengerikan. Kurasa kau terlihat menyesal."


Apa yang dikatakan oleh Elaina mungkin setengah benar, tapi sebenarnya aku hanya merasa lelah karena tidak tidur nyenyak beberapa hari ini.


Jika dihitung-hitung, total aku tidur selama tiga hari ini hanya 11 jam. Yang mana waktu itu sangat kurang bagi remaja dan bisa berdampak pada kesehatan.


"Aku tidak bisa menyesali atas apa yang sudah terjadi, jika boleh jujur aku hanya merasa lelah dan mengantuk."


"Kau tidak bisa tidur?"


"Tidak juga, hanya waktu tidurku saja yang kurang."


"Kalau begitu bagaimana kalau kau tidur sekarang?"


"Maksudmu disini? Ya, tempat ini memang membuatku tenang. Tapi tetap saja aku tidak akan bisa tertidur jika berada di tempat terbuka."


Aku tidak mengerti perkataan Elaina, aku yakin dia akan melakukan sesuatu tak terduga lainnya.


"Kau salah, aku ingin menawarkan.. pahaku.. sebagai bantal."


Ternyata memang benar.


"Maaf Elaina, aku tidak ingin merepotkan mu. Bukankah kau akan merasa tidak nyaman? Aku akan pulang dan langsung tidur."


"Aku tidak keberatan jika itu adalah Satomi, bagaimana jika beberapa saat saja? Aku akan membangunkan mu ketika hari sudah hampir malam."


Elaina sudah terbawa suasana, aku yakin kalau aku menolaknya maka dia akan bersedih, mungkin dia juga terlihat marah karena tidak bisa membantuku saat di kelas tadi dan menawarkan pahanya sendiri sebagai gantinya.


Kurasa tidak ada salahnya jika aku mengikuti keinginannya, lagipula keadaan taman sudah sepi karena banyak siswa memutuskan untuk beristirahat di kamar mereka sendiri yang terasa lebih nyaman.


"Baiklah, aku akan menggunakan pahamu sebagai bantal. Jika terasa berat dan pegal, kau bisa membangunkan ku."


"Silahkan, maaf jika pahaku terlalu kecil."


"Ya, kalau begitu permisi."


Aku langsung menaikkan kepalaku dan meletakkannya di paha Elaina. Rasanya sangat lembut dan kenyal, bahkan melebihi kenyamanan rumput taman ini.


Aku memejamkan mata sejenak dan tak lama, aku tidak merasakan apa-apa lagi.

__ADS_1


__ADS_2