Uniregular Sport School 1

Uniregular Sport School 1
Chapter 22: Trust Issue


__ADS_3

Hari-hari ku melakukan ujian pasangan bersama dengan Fisa akan berakhir dua hari lagi. Kami terus berkencan setelah tiga jam bersekolah, tapi semuanya selalu menjadi kegagalan. Entah itu topik percakapan yang begitu canggung ataupun ada satu hal yang cukup menganggu.


Aku sudah menjelaskan beberapa hal tentang diriku sendiri. Tapi, Fisa terlihat tidak peduli dan hanya menyuruhku untuk jangan memaksakan diri. Hal inilah yang cukup mengganggu dalam pikiranku.


Setiap manusia memang memiliki sisi terang dan sisi gelapnya sendiri. Melihat Fisa yang seperti ini, aku jadi ragu kalau dia bisa mengeluarkan sisi manusia ku.


Aku tidak mengerti, tujuan awal ku bersekolah disini hanyalah untuk merasakan kehidupan dan perasaan manusia yang normal. Namun hingga sekarang, aku hanya mendapatkan perasaan tertarik dengan lawan jenis.


Perkembangannya tidak begitu pesat, tertarik dengan lawan jenis juga bisa terjadi hanya karena nafsu semata. Setelah nafsu itu hilang, maka ketertarikan tidak terjadi lagi.


Benar sekali, aku tertarik dengan beberapa tipe lawan jenis. Salah satunya adalah gaya rambut pendek, itu terlihat imut saat aku melihatnya. Terlebih lagi jika dia memiliki poni yang cukup panjang untuk menutupi satu matanya, keimutannya semakin bertambah.


Tipe gadis imut yang memiliki sikap dewasa adalah tipe yang digambarkan oleh Fisa sekarang, mungkin karena itulah aku tertarik dengannya sebagai lawan jenis.


"Cool-boy, akhir-akhir ini kau sering melamun. Apakah sakitnya semakin parah?"


"Tidak, bukan itu."


"Lalu kenapa?"


"Lupakan saja. 17 jam, kita perlu 8 jam lagi."


"Oh, benar juga. Karena tersisa dua hari, kita akan membaginya selama 4 jam dan setelah itu kita akan pulang."


"Ya, baiklah."

__ADS_1


Perkelahian, keributan. Sebuah masalah yang normal ketika sedang berpacaran. Seperti sekarang ini, kami sedang memiliki masalah. Tidak, sepertinya hanya aku yang menyebabkan masalahnya.


"Hmm.. Fisa."


"Ya?"


"Kenapa kau disebut sebagai tuan putri?"


"Untuk apa aku memberitahu? Apakah sangat penting bagimu untuk mengetahuinya?"


"Tidak masalah jika kau tidak ingin memberitahu."


"Aku bosan dengan pertanyaannya itu."


"Ya, maafkan aku! Sekarang apa yang harus kita lakukan dalam 4 jam ini?"


"Aku tidak tahu!"


Fisa mengalihkan pandangan, jelas-jelas dia merasa kesal denganku.


"Bagaimana dengan kencan?"


"Kita terus gagal melakukannya dan berakhir tanpa kesenangan satupun. Jadi aku tidak mau melakukannya lagi! Sisanya terserah padamu, ayo selesaikan ujian ini dengan canggung!"


"Begitu ya?"

__ADS_1


"Ya, kita akan terus berbaring sepanjang hari di taman yang kau sukai ini sambil merasakan suasana canggung."


Jadi dia belum menyadari alasanku terus menanyakan hal yang terus membuatnya kesal.


Aku bertanya karena penasaran. Ya, perbedaan sudah terlihat sejauh ini. Dia sama sekali tidak penasaran tentang diriku. Bahkan saat aku menceritakannya, dia hanya kebanyakan merespon dengan "Oh, Eh, Ya, Begitu."


Kenapa aku penasaran?


Dari banyak cerita fiksi yang kubaca, aku dapat menyimpulkan kalau kehidupan tuan putri tidak semudah yang dikira kebanyakan orang. Dia selalu diberi harapan tinggi oleh orang tuanya dan ketika gagal, harga dirinya akan langsung runtuh.


Kemungkinan untuk mereka diusir atau dibuang oleh orang tuanya juga cukup tinggi setelah melakukan kegagalan, itu karena mereka tidak menerima anak yang gagal.


Aku penasaran apakah Fisa termasuk tuan putri yang seperti itu.


Apa Fisa dapat menjadikan ku sebagai manusia yang berperasaan?


Melihat beberapa kejadian belakangan ini, aku tidak yakin. Sepertinya kepercayaanku pada Fisa lumayan menurun setelahnya.


Dia mungkin memiliki alasan tersendiri dan aku tidak dapat memahaminya. Tidak, Fisa juga tidak memahami ku. Padahal kami sedang berpacaran, tapi kami tidak saling memahami satu sama lain.


Kepercayaan?


Hal seperti itu perlahan menghilang dalam sekejap, ketertarikan ku sebagai lawan jenis juga sedikit berkurang setelah kepercayaanku padanya berkurang.


Pada akhirnya, kami menghabiskan waktu 4 jam kami dengan berbaring di rerumputan taman dan setelahnya aku langsung mengurung diriku sendiri di dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2