Uniregular Sport School 1

Uniregular Sport School 1
Chapter 20: Diskriminasi


__ADS_3

POV (Lina Lyubochka)


Satomi Adney, aku berencana untuk menjadikannya pesuruh, tapi ternyata dia adalah orang yang benar-benar sulit untuk dimengerti. Bahkan sekarang, dia berpacaran dengan seorang gadis di kelas A. Kalau tidak salah namanya adalah Fisa Campbell.


Aku tidak menyangka kalau orang seperti Satomi bisa langsung berpacaran dengan gadis dewasa sepertinya, terlebih lagi mereka sudah berciuman sebanyak dua kali.


Menyingkirkan seseorang dari kelas A rasanya sangat sulit untuk dilakukan. Seharusnya aku menyerah saja untuk memanfaatkan Satomi. Itu benar, sikap apatis nya itu membuat semuanya menjadi sulit, apalagi dia juga sulit ditebak.


"Lina, kau kenapa?"


Seperti biasa, Wijaya menegurku. Dia tidak berguna, aku menyesal telah berpasangan dengannya. Tapi sayang sekali aku tidak bisa mengganti pasangan.


"Tidak ada."


"Ayolah, kita harus mencari pasangan. Kurasa ujian kali ini agak sulit diawal karena pasangannya harus lawan jenis, berbeda dengan sebelumnya yang boleh dengan siapapun."


"Aku tahu itu."


"Ayo kita ke kelas A dan temui yang lainnya!"


"Baiklah."


Sebelum pergi, aku mengendalikan perasaan ku lalu pergi bersama Wijaya ke kelas A.


"Mereka terlihat atletik sekali."


"Kau benar."


Wijaya kagum melihat banyak siswa kelas A yang memiliki tubuh atletis. Sementara mataku terfokus pada Satomi dan Fisa yang terlihat sangat dekat. Mereka saling menggenggam tangan mereka, tersenyum satu sama lain. Aku iri dengan Fisa yang dapat mengendalikan Satomi dengan mudah.


"Kau masih belum menyerah pada Satomi, kan? Memang wajar sih. Sikapnya aneh, dia bisa akrab dengan guru bela diri yang mengerikan, dan barusan dia mendapatkan nilai sempurna pada ujian atletik kemarin. Beberapa orang jadi tertarik untuk mendekatinya."


"Diamlah! Aku sedang kesal!"


"Oh, maaf."


Aku kesal. Entah kenapa perasanku tiba-tiba menjadi kesal saat melihat Satomi bermesraan dengan Fisa.


"Wijaya, Lina. Kalian datang lebih awal."


Danna menegur kami berdua.


Tenanglah! Aku harus menenangkan diriku karena beberapa teman sekelas ku mulai berdatangan.


"Bukan kami, tapi dia!"


Aku menunjuk jari tanganku ke arah Satomi.


"Hahaha! Benar juga, mereka mesra sekali. Aku juga kagum dengan Satomi karena mendapat nilai sempurna. Terlebih lagi, hanya dia yang mendapatkan nilai sempurna itu. Dalam artian lain, dia mengalahkan semua siswa kelas satu dalam ujian atletik kedua, bahkan kelas A sekalipun."


"39 detik, kurasa dia memang hebat."


"Tidakkah kalian berpikir kalau dia melakukan kecurangan?"


Sudah banyak temen sekelas ku yang berdatangan, mereka asyik membahas tentang Satomi sedangkan aku hanya bisa menyimak pembicaraan mereka.


"Bisa saja, tapi kita tidak bisa menuduhnya begitu saja. Lagipula buktinya tidak ada."


"Ya, kenyataannya memang seperti itu."


"Sebenarnya aku masih benci dengannya, dia jadi besar kepala hanya karena akrab dengan pak West, bahkan memanggilnya Anthony tanpa ragu. Bukan hanya itu, aku benci karena dia sudah menolak untuk berpasangan dengan Lina."


"Eh? Tidak masalah kok, orang aneh sepertinya memang sulit dimengerti."


Topiknya sedikit berubah, jadi aku sedikit menyangkalnya sambil tersenyum.


"Yo, kelas rendahan! Kalian terlambat."


"Apa kau bilang?!"

__ADS_1


Seseorang yang sepertinya dari kelas A datang menghampiri kami, dia menyapa kami dengan buruk. Membuat beberapa teman sekelas ku langsung terbawa emosi.


"Akulah Edgar Bark, peringkat satu di kelas A. Kalian tidak memiliki kesempatan untuk menang melawanku. Oh iya, kau! Aku hanya ingin seorang gadis cantik untuk berpasangan denganku."


Menunjuk jari tangannya padaku, orang yang bernama Edgar Bark ini mengatakan sesuatu dengan sombongnya.


"..."


Aku hanya bisa diam menatapnya.


"Aku melupakan satu hal, seseorang di kelas kalian. Kalau tidak salah namanya Satomi, dia memang hebat karena bisa menang tipis denganku. Tapi dia hanya beruntung saja, tidak lebih dari itu. Aku pasti akan menang selanjutnya!"


Edgar Bark, dia adalah orang yang benar-benar atletis, tapi aku membencinya karena dia begitu sombong.


"Tidak, kurasa kau bukan tandingannya."


"Ehem.. kau manis juga, bisakah aku memegang rambut perakmu itu? Berpasangan lah denganku! Kurasa kau lebih manis darinya."


Kali ini giliran Elaina yang digoda olehnya. Dia bahkan membandingkan aku dengan Elaina, membuat situasi menjadi panas.


"Aku menolak! Aku tidak akan berpasangan dengan orang sepertimu, tidak akan pernah!"


"Sikapmu manis sekali."


"Sialan kau! Lina adalah gadis tercantik dan sempurna di kelas kami, tidak ada yang lain."


"Huhuhu! Lucu sekali, kau bilang gadis yang masuk kelas E sepertinya sempurna? Paling tidak gunakan matamu dengan baik."


"Bajingan sepertimu harus diberi pelajaran!"


"Kau tidak akan bisa menang, anjing kecil!"


"Jangan meremehkan ku, sialan!"


Tinju kanan Edgar melayang di perut Beny saat dia hendak menyerang, membuatnya langsung tersungkur ke tanah.


"Itu hanya pukulan tidak serius tapi kau sudah tumbang. Satu kata, lemah!"


Itu juga sama seperti teman sekelas ku, mereka hanya bisa terdiam setelah melihat Beny dipukul oleh Edgar.


"Sial!"


Beny berusaha untuk bangkit, tapi sepertinya pukulan Edgar terasa sangat sakit untuk diterima. Membuatnya tidak bisa bangkit lagi.


"Kau bisa mendapatkan pengurangan poin, aku akan melaporkan mu!"


"Coba saja! Pihak sekolah akan lebih mempercayai siswa unggulan daripada siswa rendahan seperti kalian. Huhuhu!"


Aku berusaha melawannya dengan kata-kata walaupun kurasa tidak akan berguna sama sekali. Edgar tertawa puas setelah meremehkan kami semua. Sementara kami semua hanya bisa terdiam menatapnya.


"Kembali ke topik awal, aku hanya ingin mencari pasangan saja dan aku sudah menentukannya. Kau! Siapa namamu?"


Edgar menunjuk jari tangannya ke arah Elaina, aku dapat melihat wajah Elaina yang penuh dengan ketakutan.


"Jangan membuatnya takut!"


Saat Edgar hendak mendekat, West menghalangi jalannya. Dia seperti pahlawan kesiangan yang ingin melindungi seorang gadis.


"Kau menghalangi!"


"UGHH!!"


"West!"


Teriakan Elaina terdengar ketika West jatuh setelah dipukul oleh Edgar.


Aku ingin memberitahu Elaina kalau lebih baik menerimanya daripada menolak mentah-mentah. Semuanya akan berjalan baik jika Elaina menerima tawaran pasangan dari Edgar.


Namun kenyataannya aku tidak bisa, aku hanya seorang penakut yang menyembunyikan diri dengan menggunakan topeng. Wajah cantik yang selalu dipuji orang lain ini, aku hanya bisa memanfaatkannya. Aku akan memohon dan menipu orang yang terpesona dengan kecantikanku, seperti itulah kiranya.

__ADS_1


Aku menyadari beberapa hal semenjak masuk ke sekolah atletik ini, yang paling utama adalah aku tidak akan bisa menipu dan memanfaatkan Satomi.


Pada akhirnya, kami semua para siswa kelas 1-E mendapatkan diskriminasi dari kelas 1-A. Kami semua diam tidak bisa melawan, kecuali Satomi. Dia mendekat ke arah kami bersama dengan Fisa.


Aku berharap sesuatu darinya. Tidak, bukan hanya aku. Kami, para teman sekelasnya juga berharap sesuatu.


"Bisa hentikan?"


"Huhu.. Satomi. Lebih baik kalian bermesraan saja sampai puas, jangan lupa untuk merekamnya saat berhubungan badan nanti. Itu penting untuk menjadi kenangan."


"Haha.. lucu sekali. Sekarang apa?"


"Aku tidak ingin melawanmu. Aku hanya ingin sedikit memaksa gadis ini untuk menjadi pasanganku. Tidak ada yang salah bukan?"


Aku sekali lagi menatap ke arah Elaina yang terlihat sangat ketakutan. Jauh di dalam diriku, aku juga dapat merasakan ketakutannya.


"Kau benar, tidak ada yang salah. Tapi sayangnya aku memiliki janji dengannya, dia adalah pasanganku saat ujian tertulis kemarin."


"Huhu.. kau selingkuh dengan Fisa. Aku jadi merasa kesian pada gadis ini."


"Sebaiknya diam saja jika tidak tahu apapun. Janjiku padanya itu, aku akan melindunginya dari semua hal yang membuatnya takut. Seperti sekarang ini."


"Apa dia sedang merasa takut? Aku tidak merasa demikian. Bagaimana kalau kita tanyakan langsung pada orangnya?"


"Itu tidak perlu, kau hanya semakin memperparah keadaan."


"Satomi, sebenarnya aku sangat kesal padamu. Bagaimana bisa seorang rendahan sepertimu bisa mendapat nilai sempurna? Tentu saja itu membuatku kesal!"


"Begitu ya? Aku tidak peduli. Sekarang bisakah kau mencari gadis yang lain?"


"Aku tidak akan menyerahkan gadis ini pada siapapun! Seharusnya kau juga tahu kalau aku tidak akan melepaskannya begitu saja."


"Hmm.. Fisa. Bagaimana menurutmu?"


Percakapan terus berlangsung diantara mereka berdua hingga Satomi memanggil Fisa dan menanyakan pendapatnya.


"Tenang saja, Cool-boy! Aku bisa mengatasi ini."


"Baiklah, kuserahkan padamu!"


Aku tidak mengerti kenapa Fisa berkata kalau dia akan mengatasinya. Satomi mundur dan sedikit menjauh dari Elaina sedangkan Fisa maju mendekat, mereka seperti berganti posisi.


"Huhu.. kau menyerahkan masalah ini pada selingkuhanmu. Kau memang pecundang, Satomi!"


"Wah.. wah.. berani sekali kau mengatakan itu."


"Ada apa, Fisa? Jangan bilang kau mengajakku berkelahi untuk memperebutkan gadis ini? Peringkat bawahan sepertimu tidak akan bisa melawan peringkat paling atas!"


"Tidak, aku hanya ingin menunjukkan sesuatu yang sangat indah padamu."


"Aku tidak akan tertipu!"


Fisa memainkan jam tangannya selama beberapa saat dan kemudian rekaman suara terdengar. Sepertinya itu adalah suara Edgar.


Aku akan memberimu banyak uang. Tolong jadikan aku peringkat pertama! Aku terlalu takut untuk bersaing dengan mereka dan aku sudah pasti akan kalah. Akan sangat memalukan jika aku tidak masuk ke dalam 10 besar.


Sontak hal ini membuat semuanya terkejut.


Benar-benar diluar dugaan, bahkan aku yang sekarang sama seperti tadi. Aku juga bingung harus berkata apa.


"Apa?! Kapan kau merekamnya?! Dasar anjing!"


"Selamat tinggal, Edgar Bark! Kuharap kehidupan mu jadi lebih baik saat di dropout nanti."


Fisa tidak mengancam apa-apa. Setelah menunjukkan rekaman suaranya, dia pergi begitu saja bersama dengan Satomi.


"Tu-tunggu!"


Teriakan Edgar terdengar sangat keras, tapi Fisa dan Satomi tidak memperdulikannya dan terus berjalan meninggalkannya.

__ADS_1


Kami semua hanya bisa menatap diam dengan kejadian tidak terduga ini. Seolah kehilangan kata-kata, kami juga ikut pergi meninggalkan kelas A.


__ADS_2