Uniregular Sport School 1

Uniregular Sport School 1
Chapter 30: Dropout Massal


__ADS_3

"Sa-satomi?! Kau kenapa?"


Elaina berlari setelah melihatku, bahkan rambut peraknya itu masih terlihat indah ketika dalam ruangan minim pencahayaan.


Benar juga, rambutnya itu mengingatkanku akan sesuatu. Aku tidak tahu pasti, tapi yang jelas aku juga penasaran kenapa aku sangat tertarik pada rambut Elaina.


Lebih baik untuk mengabaikannya karena perasaan Elaina adalah yang terpenting, kuharap dia tidak merasa takut.


"Wajahmu penuh memar, apa kau baik-baik saja?"


Dia lalu bertanya padaku dengan penuh khawatir sambil memegangi bagian wajahku yang memar.


"Bisa tunjukkan jam tanganmu?"


"Apa maksudmu? Kenapa jam tangan?"


"Tunjukkan saja!"


Walaupun Elaina belum mengerti maksudnya, dia tetap melakukan apa yang kusuruh.


Aku pun melingkarkan jam tangan yang memiliki 788 poin dan ketika sudah selesai, aku menggantinya dengan yang 701 poin.


"Apa ini?"


"Tenang saja, ini tidak akan menyakitimu."


"Aku tahu itu! Tapi kenapa kau jadi separah ini? Siapa yang melakukannya?"


Elaina hanya merasa bingung dalam sesaat lalu dia langsung merasa khawatir lagi setelahnya. Dia bahkan tidak ingin membahas apa yang sedang kulakukan dan memilih untuk membahas tentang kondisi yang kualami.


"Aku baik-baik saja. Apa kau percaya padaku?"


"Maaf Satomi, kali ini aku tidak bisa percaya. Lihatlah kondisimu itu!"


"Maaf, Elaina!"


"Eh?!"


Ada apa dengan diriku saat ini?


Tanpa sadar aku malah membelai kepala Elaina dan membuatnya terkejut.


Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya, jadi aku benar-benar bingung kenapa aku bisa bertindak seperti ini.


"Ah, maaf!"


Dengan cepat aku menurunkan tanganku agar tidak menyentuh kepalanya lagi.


"Ti-tidak masalah, aku hanya terkejut."


"Begitu ya? Maafkan aku!"


"Sudah kubilang tidak masalah!"


"Mm?"


Kali ini aku yang dibuat terkejut olehnya. Bagaimana tidak, Elaina dengan sengaja menaikkan tanganku lagi ke atas kepalanya.


"Ada apa, Elaina?"


"Bi-bisakah kau mengelusnya le-lebih lama? A-aku kesepian."


Nadanya bicaranya agak lambat dan terbata-bata.


"Mm.. baiklah,"

__ADS_1


"Maaf mengganggu kemesraan kalian! Satomi, bisa kau ceritakan apa yang terjadi disini?"


Ditengah aku sedang mengelus kepala Elaina, Anthony datang dan menganggu kami.


"Jangan tanya aku, kau bisa bertanya pada Fisa dan beberapa teman sekelas ku."


"Bukan itu maksudku."


"Lalu apa?"


"Satomi, kau. Melawan 8 orang ini sendirian?"


"Tentu tidak. Mereka yang mengalahkannya, aku hanya diam tak berdaya sambil melihat pertarungan mereka."


Sambil menunjuk ke arah Fisa dan Lina, aku menyangkal pertanyaan Anthony.


"Kau tidak bisa membohongi ku. Ah, biar kutanya pada orang yang masih sadar."


Anthony pergi mendekat ke arah orang yang dimaksud olehnya yaitu pimpinan yang sengaja tidak kubuat tumbang.


Aku sedikit ceroboh karena melupakannya dan tentu saja aku tidak bisa menyangkal apapun lagi ketika dia menjawab dengan jujur.


"Kau, jawab dengan jujur! Siapa yang menghabisi kalian? Bahkan 8 orang berpengalaman bisa dibuat tak berdaya seperti ini."


"Itu.."


Kini mereka hanya bisa menatap Anthony yang sedang berbicara pada pimpinan itu.


Kurasa sudah cukup, tugasku sudah selesai disini. Aku sudah membagi beberapa poin dalam jumlah banyak pada mereka, aku juga sudah membuat mereka semua merasa aman.


"Anu."


Sambil menarik lengan bajuku, wajah Elaina terlihat memerah entah karena apa.


"Ada apa?"


"Entahlah."


"Jika kau berkata seperti itu, maka sudah dipastikan."


Dengan penuh keyakinan, Elaina berbicara sambil menatap mataku.


Sepertinya aku benar-benar terpikat pada Elaina sekarang, apalagi wajahnya yang memerah dengan rambut peraknya itu semakin meningkatkan keimutannya. Ternyata dia juga bisa bersikap dewasa seperti ini.


"Elaina, maafkan aku!"


"Eh? Kenapa meminta maaf lagi?"


"Aku memang sangat egois dan tidak berperasaan, aku juga sudah beberapa kali menyakitimu dan membuatmu menangis. Jadi karena itulah aku meminta maaf padamu. Sekali lagi, maafkan aku!"


Sambil menundukkan kepalaku, aku meminta maaf padanya.


Aku menyadari satu hal, jadi seperti inilah perasaan bersalah yang sebenarnya? Aku benar-benar merasakannya sekarang.


Perasaan tidak tenang ketika aku melakukan kesalahan, itulah yang kurasakan. Dan sekarang, perasaan itu hilang seketika saat aku meminta maaf dan menundukkan kepala pada Elaina.


"Sa-satomi?! Tidak, angkat kepalamu! Aku akan memaafkan mu, jadi angkat kepalamu!"


"Baiklah!"


Aku mengangkat kepalaku dan melihat ekspresi tidak biasa dari wajah Elaina. Aku tidak bisa menebaknya, tapi aku yakin kalau perasaannya sedang tercampur aduk sekarang.


"Elaina, ini permintaan egois ku. Maukah kau ikut denganku?"


"Ya, dengan senang hati!"

__ADS_1


Harlow Elaina, dia benar-benar orang yang menarik lebih dari yang lainnya.


Saat dia tersenyum, aku merasakan hal yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Rasanya aku akan mati karena jantungku berdetak sangat cepat. Aku tidak mengerti maksud dari sinyal tubuhku ini, tapi kuharap aku tidak mati sekarang.


"Ayo pergi!"


"Ya!"


Aku dan Elaina pun pergi meninggalkan gudang yang cukup gelap ini tanpa memperdulikan keadaan sekitar lagi.


...****************...


Semuanya belum berakhir.


Walaupun ke-delapan orang ini sudah diringkus oleh Anthony, tapi tetap saja ada hal yang mengganjal dalam pikiranku. Mereka seolah-olah hanya menjadi sebuah pion yang akan dibuang ketika tidak berguna lagi.


Itu hanya asumsiku sendiri, jadi belum tentu benar. Kalau benar sekalipun, aku pasti akan tetap bisa mengatasi mereka.


Nampaknya hal ini akan menjadi dropout massal yang menghebohkan dan mungkin akan menjadi topik perbincangan hangat dalam beberapa hari kedepan.


Ditambah lagi Anthony dengan santainya menceritakan kalau aku adalah orang yang menangani semuanya. Itu membuatku dipandang seperti orang yang aneh saat berjalan di area sekolah.


"Dia orangnya?"


"Jadi dia yang bisa melawan sekelompok kakak kelas 3 sendirian lalu mengeluarkannya?"


"Kudengar memang dia orangnya, tapi aku sedikit ragu karena dia tidak terlihat hebat sedikitpun."


Kira-kira seperti itulah. Aku dapat merasakan tatapan banyak orang dan aku juga dapat mendengar orang-orang yang sedang membicarakan ku.


"Cool-boy, ada apa memanggilku?"


Ketika masalah di dalam gudang sudah selesai, aku mengirim pesan pada Fisa untuk bertemu saat sore hari ketika aku sudah selesai menghabiskan waktu bersama dengan Elaina.


Dia masih dengan penampilannya saat kami kencan tapi mungkin sedikit lusuh karena kejadian di gudang tadi.


"Langsung ke intinya saja,"


"Sebelum itu, bisakah aku bertanya lebih dulu?"


"Ya, tanyakan saja!"


"Ini perpisahan. Apa maksud kata-kata mu itu?"


"Kebetulan sekali, itulah yang ingin kubicarakan. Fisa Campbell, mulai sekarang berhenti memanggilku dengan sebutan itu! Aku tidak ingin berpacaran denganmu lagi."


"Hah?!"


Ekspresi Fisa terlihat bingung lalu dia merasa sedih setelahnya.


"Kenapa?"


"Mudah saja, itu merepotkan. Aku tidak ingin berhubungan dengan seseorang yang merepotkan sepertimu."


"Satomi, maaf karena aku sangat payah, maaf karena aku merepotkanmu, maaf karena aku tidak mengerti perasaanmu!"


"Ya. Semenjak mereka di dropout massal, namamu dan beberapa teman sekelas ku menjadi sangat populer, termasuk aku juga. Itu juga termasuk hal yang merepotkan. Sekarang, kau harus fokus pada masalahmu sendiri dan aku juga akan fokus pada masalahku sendiri."


"Begitu? Baiklah, aku mengerti. Terima kasih atas segalanya, Adney. Aku benar-benar menikmati waktu ku saat bersamamu."


Fisa tidak memanggilku dengan sebutannya lagi tapi dia malah memanggil dengan nama yang kubenci, sepertinya dia berusaha untuk menerima semuanya begitu saja.


"Ya, ini perpisahan. Tuan putri!"


"Terima kasih atas waktunya, pangeran."

__ADS_1


"Sayangnya, aku bukan pangeranmu."


__ADS_2