Uniregular Sport School 1

Uniregular Sport School 1
Chapter 35: Secret Ability Gank


__ADS_3

POV (Harlow Elaina)


Selesai mengumpulkan tugas dan berbicara dengan Satomi sebentar, kami berlima memutuskan untuk makan sesuatu di restoran cepat saji.


Jujur saja, aku masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Satomi.


Setelah dipanggil oleh seorang guru untuk mengikutinya, dia langsung sedikit berubah entah itu dari segi ekspresi maupun sikapnya.


Tentu saja itu membuatku bingung, tapi untuk sekarang aku membiarkannya lebih dulu karena kupikir dia membutuhkan sedikit waktu agar bisa terbuka pada seseorang.


"Elaina, cepat makan! Kenapa diam saja?"


"Ah, baik! Maafkan aku!"


Cika kembali menyadarkan ku saat aku sedang kepikiran tentang Satomi.


Kami berlima sudah berada di dalam restoran cepat saji sekarang, kami juga sudah memesan makanan kami masing-masing. Dan sekarang kami tinggal menikmatinya.


Cika dan Weston memesan Burger dan Kentang Goreng, lalu untuk minumannya adalah minuman yang bersoda.


Sedangkan Lina dan Wijaya memesan Spaghetti dan untuk minumannya adalah es kopi yang di dalamnya ada susu.


Mereka semua memesan makanan yang sama seolah-olah seperti sedang berpacaran, sedangkan aku sendiri hanya memesan Hot Dog dan lemon es sebagai minumannya.


Walaupun mereka tidak menunjukkan kemesraan mereka dan hanya fokus dengan makanannya sendiri, tetap saja aku iri karena pada dasarnya mereka memakan makanan yang sama.


Satomi, apakah mencintaimu terlalu berat untuk ku?


Apa kau merasa terbebani dengan itu?


Jika itu benar, maka maafkan diriku yang keras kepala ini.


Aku terus memikirkan Satomi padahal aku sudah berusaha untuk mengabaikannya sebentar saja. Tapi pikiran itu terus datang dan menganggu ku, jadi aku tidak bisa lepas dari itu.


"Aku tahu kau sedang memikirkan Satomi, tapi setidaknya tolong isi perutmu itu!"


Lina yang sudah menggigit sebagian Burger dan Kentang Goreng lalu berbicara padaku, dia menegurku karena aku hampir tidak menyentuh makanannya sama sekali.


"Lina benar, kau seharusnya makan walaupun sedikit." (Wijaya)


"Ayolah Elaina! Kau hanya terlalu banyak memikirkannya." (Cika)


"Kau memang sulit dimengerti, tapi aku sangat yakin kalau kau sangat mencintai Satomi dan mengkhawatirkan nya. Jadi berusahalah!" (Weston)


Mereka lalu ikut berbicara setelah Lina.


"Kalian semua, terima kasih! Dan juga maafkan aku karena sudah membuat kalian merasa tidak nyaman!"


Tentu saja ini membuatku sedikit bersemangat karena mereka mendorongku untuk terus maju.


Benar juga, aku tidak boleh terus murung dan harus melakukan sebuah tindakan berani agar Satomi memandangku.


"Tidak perlu meminta maaf, kita semua harus berteman baik sekarang!" (Lina)


"Benar sekali!" (Weston)


"Tepat." (Wijaya)


"Semangat ya, Elaina!" (Cika)


Melihat mereka yang seperti ini membuatku merasa kalau aku pasti bisa melakukannya. Aku jadi ingin berterimakasih yang banyak kepada mereka semua.


"Ya, sekali lagi. Terima kasih, kalian semua!"


Selesai dengan ucapan terima kasih, aku langsung menyantap Hot Dog yang belum ada kugigit sama sekali.


Jadi seperti ini rasanya memiliki teman pendukung, rasanya sangat menyenangkan.


Padahal kami baru saja berbicara satu sama lain ketika melakukan tugas yang diberikan oleh pak West, tapi kami sudah seakrab ini.


Aku jadi yakin kalau ikatan pertemanan seperti yang sekarang ini akan terus berlanjut.

__ADS_1


"Elaina, bolehkah aku duduk disebelah mu?"


Saat aku sedang berusaha untuk menghabiskan makananku, suara seseorang yang sangat familiar terdengar di telingaku.


"Eh?! Satomi?"


Ternyata aku tidak salah dengar dan dia memang Satomi, orang yang sangat kucintai.


"Yo, Satomi!" (Weston)


"Kau kembali?" (Wijaya)


"Kenapa kau tiba-tiba bergabung?" (Lina)


Kedatangan Satomi juga disambut oleh mereka, aku tidak tahu apakah dia disambut dengan baik atau tidak.


"Bagaimana?"


Satomi bertanya lagi padaku.


"Emm.. eh.. boleh saja, silahkan duduk di sampingku!"


"Terima kasih."


Setelah kupersilahkan untuk duduk, akhirnya Satomi duduk di sebelahku.


Gawat! Ini terlalu gawat karena jantungku terus berdetak tak beraturan.


Saat dia duduk disampingku, aku malah lebih gugup dari biasanya.


"Jadi Satomi, kenapa kau bisa tahu kami ada disini?"


Lina bertanya pada Satomi karena penasaran, sejujurnya aku juga penasaran.


"Mudah saja, itu karena Elaina."


"Eh?! Uhuk.. Uhuk!!"


Ditengah aku sedang berusaha untuk menghabiskan makananku, Satomi mengatakan sesuatu yang tak terduga dan tentu saja aku jadi terkejut karenanya. Ditambah lagi aku jadi tersedak sosis yang tengah kumakan.


Satomi lalu mengambil gelas yang berisi lemon es dan mengarahkan sedotannya tepat ke mulutku.


Tanpa pikir panjang aku langsung meraih sedotan dan meminumnya.


"Kau baik-baik saja?"


"Ya, terima kasih Satomi."


Entah apa lagi kejadian yang akan terjadi setelahnya, tapi sekarang aku sangat yakin kalau Satomi akan kembali mengejutkan diriku.


Bagaimana tidak, Satomi kembali mengeluarkan tatapan yang biasanya dia keluarkan saat dia hendak melakukan sesuatu tak terduga.


Saat wajahnya bergerak, aku mendadak menutup mataku karena alasan yang aku sendiri pun tidak mengetahuinya.


Ini seperti aku mengharapkan sesuatu darinya tapi aku tidak ingin melihatnya.


"CUP!"


Aku merasakan sebuah bibir yang menempel pada bagian pipi kiri ku sesaat lalu menghilang. Tidak, itu hampir mendekati bibir. Dan itu, apakah itu sebuah ciuman? Aku benar-benar takut untuk membuka mata sekarang.


"EH?!"


Tentu saja aku terkejut karenanya.


"Hahhh!" (Lina)


"Wah." (Cika)


Aku juga mendengar suara Lina dan Cika yang sepertinya juga sedang terkejut.


Aku harus membuka mataku, itulah yang kupikirkan.

__ADS_1


Dengan penuh keberanian, akhirnya aku berani membuka mataku dan kurasa suasananya agak berbeda dari sebelumnya.


"Sa-satomi?! Apa ya-yang.. kau lakukan?"


Saat melihatnya yang terus menatapku, caraku bicaraku juga menjadi sedikit aneh.


"Aku tidak menyangka kau bisa melakukan itu, Satomi." (Cika)


"Romantis sekali, aku juga menginginkannya." (Lina)


"Kalian, apa yang sebenarnya terjadi?"


Aku hanya bisa bingung dan bertanya karena suasananya benar-benar berbeda dari sebelumnya.


"Ada saus di pipimu, jadi aku membersihkannya."


Satomi menjawab pertanyaan ku dengan santainya.


"De-dengan.. bibirmu?!"


"Jika kau merasa jijik, kau boleh menjauhiku setelah ini."


"Tidak, aku tidak keberatan. Tapi kenapa tiba-tiba?"


"Entahlah, kurasa aku hanya ingin melakukannya."


"Baik, sudah cukup! Kalian menjadi pasangan yang paling mesra di antara kami."


Lina menyela pembicaraan kami dengan ekspresi wajah yang mungkin sedikit kesal.


Suasananya menjadi agak canggung karena tindakan Satomi tadi.


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Masih ada sesuatu yang harus kulakukan."


Lalu tak lama Satomi bangkit dari tempat duduknya dan kembali meninggalkanku. Dia juga menyempatkan diri untuk membelai rambutku sebelum benar-benar pergi.


Jadi Satomi benar-benar menyukai rambut perak ini, aku benar-benar senang.


Aku tidak tahu kondisiku sekarang karena perasaanku campur aduk. Aku merasa senang karena Satomi mencium ku secara tiba-tiba dan disisi lain aku merasa sangat malu karenanya, kurasa aku bisa saja mati karena tindakannya itu.


"Apa sih yang dia lakukan? Kurasa dia jadi sibuk akhir-akhir ini." (Lina)


"Aku tidak tahu, tapi kita tidak boleh ikut campur akan itu." (Wijaya)


"Aku tahu itu! Sekarang aku juga ingin membicarakan sesuatu dengan kalian." (Lina)


"Wah! Apa itu?!" (Cika)


"Bagaimana kalau kita membentuk suatu grup dan kita akan terus melakukan banyak hal bersama? Kupikir yang seperti ini tidak buruk juga, ini pertama kalinya aku banyak bicara pada orang lain." (Lina)


Tiba-tiba Lina ingin mengajak kami untuk membentuk grup.


"Kurasa aku akan setuju jika ada Satomi juga."


Aku mengusulkan seperti itu.


"Ya, anggotanya memang enam orang termasuk pacarmu itu. Apa ada masalah lain?"


"Eh?! Pacar?"


Aku kembali merasa malu karena aku dianggap sebagai pacarnya Satomi.


"Kalian terlihat lebih mesra, jadi wajar saja." (Cika)


"Aku setuju dengan pembentukan grup ini, tapi bagaimana dengan namanya?" (Wijaya)


"Tenang saja, aku sudah memikirkannya sejak tadi." (Lina)


"Kuharap bukan nama yang aneh." (Weston)


"Apa namanya?" (Cika)

__ADS_1


"Secret Ability Gank." (Lina)


Secret Ability Gank? Itu terdengar aneh, tapi aku hanya bisa mengikutinya dan bergabung dengan sukarela karena ada Satomi.


__ADS_2