Uniregular Sport School 1

Uniregular Sport School 1
Chapter 29: Seperempat Kekuatan


__ADS_3

Aku merasa bosan dengan kejadian menariknya, jadi aku ingin segera keluar dari gudang ini sekarang.


Keputusan ku sudah bulat, aku tidak akan berhubungan dengan Fisa lagi karena akan sangat merepotkan. Tidak juga, kurasa aku masih berhubungan tapi bukan sebagai pacar lagi.


Aku tidak ingin berpacaran dengan siapapun ketika masalah ini sudah selesai. Alasannya sederhana, berhubungan dengan perempuan dalam waktu yang lama ternyata sangat merepotkan.


Sekarang, aku harus menyelesaikan dan melawan delapan orang yang bersiap untuk menghajar ku tanpa ampun.


Melawan mereka tanpa mengeluarkan kekuatan ku sama sekali adalah hal yang mustahil, jadi aku akan mengeluarkan seperempat kekuatanku untuk mengalahkan mereka semua.


Sebenarnya aku ingin mengeluarkan setengah kekuatan, tapi jika itu kulakukan maka mereka akan mengalami luka berat dan kemungkinan aku di dropout akan sangat besar. Apalagi pihak sekolah pasti akan mempercayai cerita mereka dibanding dengan ceritaku yang ingin membela diri.


"Jangan pedulikan yang lain, tumbangkan dia dulu!"


"Oke!!"


Mereka semua maju dan menyerang secara bersamaan, mengabaikan Fisa dan ke-empat teman sekelas ku.


Pertama menunduk untuk menghindari serangan, kedua memukul dua kepala mereka dengan tanganku, lalu yang terakhir menendang kedua kaki yang menjadi tumpuan mereka berdiri. Dengan begitu empat orang akan tumbah sekaligus, jadi aku benar-benar diuntungkan jika mereka menyerang secara bersamaan.


"AGGH!!"


"BUHH!!"


"UH!"


"EUG!!"


Sesuai perkiraan, mereka berempat langsung terdiam tanpa bisa bergerak lagi. Sedangkan empat yang lainnya juga terdiam karena terkejut atas perlawanan yang kulakukan.


Mungkin apa yang sudah kulakukan membuat Fisa dan teman sekelas ku terkejut, tapi aku tidak memiliki pilihan lain.


Aku jadi berpikir kalau terus menyembunyikan kekuatan maka akan menjadi hal yang percuma, lagipula aku hanya menggunakan seperempat kekuatanku.


"Kau! Kenapa masih bisa melawan walaupun sudah sangat lemah?!"


"Entahlah. Jadi bagaimana dengan negosiasi nya? Aku masih bisa memberimu kesempatan."


"Tidak, kau tidak akan bisa menghindari ini!"


Serangan dadakan?


Padahal aku sudah memberi kesempatan agar mereka mundur dan menikmati kehidupan sekolah yang tenang. Tapi apa boleh buat, mereka benar-benar menolaknya.


"Serangan dadakan seperti ini sangat mudah ditebak."


"Apa?!"


Mereka hanya melemparkan debu yang sudah ada di tangannya kepadaku. Kurasa mereka berencana untuk menghilangkan pandanganku lalu menyerang secara bebas.


Tentu saja mereka terkejut karena aku bisa menghindarinya. Aku hanya perlu melompat kebelakang sedikit menjauh dari mereka agar debunya tidak menjangkau bagian mataku. Kini salah satu senjata rahasia mereka sudah terpakai sia-sia.


"Sa-satomi!"


Aku mendengar teriakan Lina dan menatap ke arahnya sesaat. Sepertinya Lina khawatir padaku, begitu juga dengan Fisa dan teman sekelas ku.


Aku tidak mengatakan apapun pada mereka dan memilih untuk menumbangkan mereka semua terlebih dulu.


"Kenapa? Kalian tidak mau maju, mana kepercayaan diri kalian tadi?"


"Bajingan! Beraninya sudah meremehkanku!"


Akhirnya salah satu dari mereka maju. Itu adalah pilihan yang bagus karena mereka tidak ingin ceroboh dan menyerang secara bersamaan lagi. Kupikir mereka membaca situasinya dengan baik dan mengetahui kalau menyerang secara bersamaan akan menguntungkan ku.


Sekarang mereka ingin mencari cara untuk mengalahkan ku saat pertarungan satu lawan satu.


Serangan datang, tendangan kaki kanan segera menuju rusukku.


"Masih terlalu lambat."


"HH!!"


Aku menumbangkannya dengan cara yang sama yaitu menendang rusuknya dengan kaki kananku. Ini hanya soal adu kecepatan dan sudah jelas kalau aku lebih unggul dibandingkan dengannya.


"Siapa kau sebenarnya? Meski sudah dipukuli dan ditendang beberapa kali dengan keras. Kau masih bisa bergerak secepat itu!"

__ADS_1


"Sudah kubilang bukan, kalian akan menyesal jika menolak negosiasi dariku. Walaupun kalian masih memiliki banyak cara licik untuk melawanku, kalian tetap tidak bisa menang."


"Ya, kau sangat kuat dan aku mengakuinya."


"Apapun yang ingin kalian lakukan sekarang, itu tidak ada gunanya lagi. Semuanya terekam jelas di jam tanganku ini. Selamat menikmati libur satu tahun!"


"Apa?!!"


Karena hanya mereka yang terus berinisiatif menyerangku duluan, jadi kali ini aku yang menyerang mereka duluan.


Aku berlari ke arah mereka. Pertama, aku memukul pimpinan mereka di bagian rahang. Kedua, aku menendang rusuk bawahannya yang tersisa dua orang ini.


Mereka masih sangat lemah, jadi aku hanya menyerangnya dengan serangan dasar bela diri.


"UHH!!!"


"AKH!"


"EH!"


Sesuai perkiraan, ini mudah sekali dan akhirnya dua bawahannya tumbang. Kini hanya tersisa seorang pemimpinnya, kemungkinan dia adalah dalang dibalik pesan misterius yang dikirim padaku.


"Bangunlah! Kau masih bisa bertarung, lawan aku sampai titik darah penghabisan!"


Aku akan melakukan penyelesaian terakhir dan mengintograsinya karena aku masih penasaran motif hingga alasan kenapa dia melakukan semua ini.


"Tidak mau, dasar monster!"


"Begitu ya? Memangnya sekarang kau bisa apa selain mengamuk sepuasnya?"


"Kau benar, aku akan dikeluarkan dan kehidupanku akan berakhir."


"Jadi?"


"Aku sudah menyerah, kau sangat kuat seperti monster. Kenapa kau menahan diri? Sial! Aku terlalu bodoh karena meremehkanmu."


"Kau tidak perlu tahu."


Monster ya? Pertama kalinya aku disebut dengan sebutan seperti itu. Aku tidak tahu harus menganggapnya sebagai hinaan atau pujian, karena aku juga tidak peduli.


"Uhh.. begini, aku hanya disuruh oleh seseorang yang mengaku sebagai pihak sekolah. Dia memberi kami poin yang sangat besar asalkan kami bisa mendapatkan tangisan seorang tuan putri. Seperti yang kau tau, tuan putri itu adalah Fisa Campbell dari kelas 1-A."


"Lalu pesan misterius, bagaimana kau tahu kalau aku membenci kopi?"


"Aku tidak tahu apapun tentang isi pesannya, dia hanya berkata kalau dia sudah memberikan pesan ancaman padamu. Dan sekarang, dia menyuruh kami untuk berjaga di gudang hari ini karena kalian berdua akan datang."


"Begitu ya?"


Aku mengerti sekarang, mereka hanya disuruh oleh seseorang yang bisa memberinya banyak poin.


"Ngomong-ngomong, kau bertaruh pada tahun ketiga mu kan?"


"Kenapa kau bisa tahu?"


Ternyata memang benar, aku menebak kalau mereka adalah kakak kelas tahun ketiga yang akan lulus.


"Mudah saja, orang yang lulus dari kelas A akan sangat menguntungkan. Jadi kalian mengincarnya dan membutuhkan poin yang banyak."


"Ya, tepat sekali. Kami semua berada di kelas 3-D dan tentu saja kami menginginkan untuk lulus di kelas A."


"Bagaimana perasaanmu sekarang?"


"Aku sangat sedih dan kecewa dan tentu saja aku menyesal karena sudah melakukan ini. Tapi, semuanya sudah terjadi dan aku harus siap menanggung akibatnya. Kau bisa mengirimkan rekaman suara itu dan berbagai bukti kekerasan lainnya untuk mengeluarkan kami."


Aku agak kagum dengan kejujurannya dan rasa penyesalan yang amat dalam ketika dia mengatakannya. Semuanya terasa tulus dan itu sangat berbeda dengan diriku.


"Sebelum itu,"


"Ya?"


"Aku ingin memberikan semua poin kami padamu. Mungkin itu cukup untuk membuatmu jadi peringkat teratas. Cara melakukannya cukup mudah, kau hanya perlu saling melingkarkan jam tangannya. Yang diatas adalah yang menerima poin sedangkan yang dibawah adalah yang memberikan poin. Kau mengerti?"


Jadi begitu, dia berencana memberikan semua poinnya dan yang lain kepadaku.


"Aku mengerti. Tapi apa tidak masalah?"

__ADS_1


"Lakukan saja! Aku sudah muak sekolah disini. Jika boleh jujur, aku tidak tahan lagi."


"Baiklah kalau itu maumu. Aku akan menerimanya, terima kasih!"


"Ya, ambil saja jam tangannya. Aku sudah malas untuk bergerak."


Aku pun mengambil jam tangannya satu persatu ditangan mereka lalu mengumpulkannya.


Awalnya aku berniat untuk menolak pemberian poin darinya. Namun sekarang aku harus menerimanya karena akan sangat disayangkan poin yang sudah dikumpulkan selama dua tahun hilang begitu saja, ditambah lagi jumlahnya ada 8 orang.


"Bisakah kau memberitahu caramu bertahan? Aku masih bingung kenapa kau masih bergerak tanpa beban."


"Jujur saja, tidak ada cara apapun."


"Kau tidak mau memberitahu jadi apa boleh buat."


Aku mengabaikan dan pergi meninggalkannya sambil membawa beberapa jam tangan yang aku kumpulkan tadi.


Aku mendekat ke arah Fisa dan mulai melingkarkan jam tangannya. Benar saja, ada tampilan dua opsi yang harus kupilih yaitu Yes dan No. Jika memilih Yes maka poin akan terbagi lalu aku dapat memilih nominalnya. Sebaliknya, jika aku memilih No maka poin tidak akan terbagi dan tampilannya akan kembali normal.


"Cool-boy? Apa kau serius? Padahal kau yang mengalahkan mereka semua."


"Ini perpisahan."


Aku menekan opsi Yes dan kini poin Fisa bertambah menjadi 874 Poin ketika aku selesai melakukannya.


"Hah? Apa maksudmu?"


Selesai mengatakannya, aku meninggalkan Fisa dan mulai mendatangi Lina dan tiga teman sekelas ku yang tidak terlalu kukenal, meninggalkan Fisa dengan ekspresi yang kebingungan.


"Satomi? Aku benar-benar tidak mengerti."


"Kau tidak apa-apa?"


Aku juga melakukan hal yang sama dengannya dan kini poin mereka bertambah secara drastis.


"Sudah kubilang aku baik-baik saja."


"Tapi kau terluka. Lihatlah wajahmu yang penuh memar itu!"


"Ini bukan masalah bagiku."


Sambil memegangi bagian wajahku yang memar, aku mengatakan seperti itu pada Lina.


"Ta-tapi,"


"Kalian bisa baik kelas dengan poin sebanyak itu."


Walaupun mereka adalah kakak kelas 3 dan berada di kelas D, poin yang mereka miliki bisa dibilang cukup sedikit karena poin tertingginya hanya 874 poin yang kuberikan pada Fisa sedangkan yang terendah 232 poin yang akan kupakai sendiri.


Aku berencana untuk membagikannya:


Jam Tangan 1: 874 Poin (Fisa)


Jam Tangan 2: 788 Poin (Elaina)


Jam Tangan 3: 701 Poin (Elaina)


Jam Tangan 4: 692 Poin (Lina)


Jam Tangan 5: 677 Poin (Charles)


Jam Tangan 6: 426 Poin (Wijaya)


Jam Tangan 7: 310 Poin (Beny)


Jam Tangan 8: 232 Poin (Aku Sendiri)


Kenapa aku tidak mengambil yang tertinggi?


Jawabannya tentu saja karena aku tidak ingin mencolok. Akan sangat merepotkan jika aku memiliki poin yang sangat tinggi dibandingkan dengan yang lainnya. Mereka bisa saja berasumsi bahwa aku melakukan kecurangan atau apapun itu.


Lagipula kenaikan kelas berdasarkan jumlah poin individu hanya ditentukan ketika akhir semester nanti, jadi aku memilih untuk mendapatkan poin secara perlahan.


"Apa yang terjadi?"

__ADS_1


Suara yang cukup tegas terdengar. Itu membuat pandangan kami semua yang ada di dalam gudang langsung teralihkan ke pintu depan. Beliau adalah seorang guru yang bersama dengan Elaina disebelahnya.


Sepertinya Elaina memanggil Anthony untuk datang kesini dan kupikir mereka sangat terlambat.


__ADS_2