
POV (Fisa Campbell)
Setelah beberapa hari sebelumnya berdamai, akhirnya hubungan antara aku dan Satomi mulai membaik. Aku sangat senang ketika dia mulai kembali percaya padaku, kurasa mungkin sekarang saatnya aku mengajak Satomi untuk berkencan.
Kami telah melakukan kencan saat ujian pasangan kemarin, tapi sayangnya selalu berakhir dengan kegagalan. Penyebabnya macam-macam, entah itu topik obrolan yang buntu maupun suasana canggung yang dialami oleh kami.
Dan sekarang, aku telah menyiapkan rencana kencan terbaik sepulang sekolah. Aku juga telah menyusun sedemikian rupa agar Satomi dapat menikmatinya. Kuharap dengan ini kepercayaannya padaku semakin meningkat.
"Fisa, ada apa? Memanggil ku pagi-pagi begini."
"Cool-boy, ayo kita kencan!"
"Hmm.. aku tidak keberatan, tapi apa kau yakin?"
"Tenang saja! Aku sudah menyiapkan rencana terbaik dalam kencan kali ini, kau hanya perlu mengikuti alurnya!"
"Umm.. baiklah."
"Sekarang sebagai awalan, ayo kita makan lebih dulu!"
"Baik."
Kuharap ini berjalan sesuai dengan rencana ku. Setelah memanggil Satomi untuk bertemu di taman, aku langsung mengajaknya untuk berkencan dan makan sesuatu sebagai awalan. Untuk saat ini Satomi masih belum menikmati apapun, bahkan ekspresinya masih terlihat datar.
Kami terus berjalan ke tempat yang ingin aku tuju, yaitu restoran cepat saji. Aku tahu kalau Satomi tidak keberatan jika makan dimana saja, oleh karena itulah aku mengajaknya makan di restoran cepat saji agar mempercepat ke tahap selanjutnya.
"Kemana kita akan pergi makan?"
Satomi bertanya tapi dia tidak menatap ke arahku, kurasa dia sedang menatap sebuah tiang lampu yang terpasang di pinggir jalan.
"Kita akan ke restoran cepat saji dan memakan burger, bagaimana? Apa kau keberatan?"
"Tidak, tidak sama sekali."
"Baguslah kalau begitu. Ayo, kita hampir sampai!"
"Ya."
Setelah cukup lama kami berjalan, akhirnya restoran cepat saji terlihat dengan desainnya yang mewah. Kami pun masuk ke dalamnya.
"Selamat datang!"
__ADS_1
Salah satu pelayan menyambut kami dengan penuh senyuman, aku pun membalasnya dengan senyuman tipis. Dan Satomi, kurasa dia tidak bisa tersenyum.
Aku tahu alasan kenapa dia menjadi orang yang minim ekspresi, itu karena masa lalunya sendiri. Sebenarnya aku penasaran dengan hal yang berhubungan dengan Satomi termasuk masa lalunya, tapi untuk sekarang aku tidak boleh mengetahuinya lebih jauh.
Aku tidak ingin terburu-buru, jadi aku harus mengetahuinya secara perlahan. Aku juga tidak ingin memaksa Satomi untuk bercerita secara lengkap tentang masa lalunya, itu hanya akan memperburuk keadaannya.
"Cool-boy! Ayo duduk disini!"
Kami berjalan ke arah meja yang sudah aku incar sejak awal. Posisi mejanya sangat bagus karena kami dapat melihat tampilan layar televisi jika duduk disana. Itu membuat kami mengetahui berita tentang dunia luar.
"Ya, baiklah."
Kami pun sampai di tempatnya dan langsung mendudukinya. Aku dan Satomi duduk bersampingan, jadi perasaanku sangat senang karena bisa dekat dengannya.
"Apa pesanan kalian?"
Seorang pelayan datang menghampiri kami sambil membawa sebuah catatan, sudah pasti itu digunakan untuk mencatat pesanan kami.
"Aku ingin burger daging ukuran sedang dan untuk minumannya, aku ingin es coklat manis!"
"Satunya?"
"Samakan saja."
"Burger daging ukuran sedang, 2 buah dan es coklat manis, 2 buah. Terima kasih, silahkan menunggu!"
"Ya."
Satomi menjawab pelayan itu dengan dingin dan setelahnya pelayan itu pergi meninggalkan kami berdua.
"Lihat televisi itu, Cool-boy! Bukankah dia sangat mencolok?"
Aku menyuruh Satomi untuk melihat layar televisi, layar itu menampilkan sebuah artis ternama yang bernama Leonhart. Dia selalu tampil di acara fashion dengan penampilannya yang mencolok seperti itu. Kurasa dia memang sangat cocok untuk menjadi model, apalagi tinggi badannya juga hampir setinggi atlet-atlet olahragawan. Dia juga banyak dibicarakan karena akan mengadakan acara fashion di sekolah ini, tapi untuk jadwalnya kapan dia datang kami masih tidak mengetahuinya. Mungkin itu akan menjadi kejutan.
"Ya, memang. Rambutnya berwarna merah, mungkin dia mewarnai rambutnya atau bisa juga memakai sebuah wig, terlebih lagi dia juga memakai topeng. Wajar saja jika penampilan seperti itu akan sangat menarik perhatian."
"Aku jadi penasaran dengan wajah aslinya dibalik topeng."
"Aku sama sekali tidak."
"Maaf lama dan selamat menikmati!"
__ADS_1
Ditengah kami berdua asyik menonton acara fashion yang dibawakan oleh Leonhart, pelayan tadi kembali dengan menyajikan 2 burger ukuran sedang dan es coklat manis.
"Ya, terima kasih!"
Aku pun membalasnya dengan senyuman dan tak lama pelayan itu pergi.
Kami langsung menyentuh makanan yang disajikan dan mulai melahapnya.
"Ini seperti burger biasa, hanya saja sayurannya terlalu banyak."
"Jangan mengeluh soal sayuran, terkadang atlet juga memerlukan asupan serat."
Wah, jarang sekali aku melihat Satomi seperti ini. Dia menasehati ku karena mengeluh dengan sayuran di burger yang terlalu banyak.
"Baik, maafkan aku! Sekarang, Cool-boy. Menurutmu kenapa Leonhart mengenakan topeng?"
"Aku tidak tahu, mungkin wajahnya sedikit rusak?"
"Pemikiran mu memang agak aneh dan mungkin itu ada benarnya. Tapi bagaimana jika dia menyembunyikan wajahnya yang sangat cantik? Kupikir bisa saja lelaki yang melihat wajahnya secara langsung akan cepat terpesona dengannya."
"Aku tidak kepikiran hal seperti itu. Jika dia cantik sekalipun, aku tetap tidak peduli."
"Kau dingin sekali, Cool-boy! Ya, aku memang suka sikapmu yang acuh tak acuh itu."
"Fisa, maaf jika aku merusak suasana kencan. Tapi bisakah kita ke suatu tempat saat selesai makan?"
"Memangnya ada apa?"
Ini pertama kalinya aku melihat tatapan tajamnya, kurasa tatapannya menembus kepalaku karena saking tajamnya. Matanya terus menatap mataku dan entah kenapa aku merasa sedikit malu. Apakah dia akan membawaku ke tempat yang berhubungan dengan hal dewasa? Tidak, aku belum siap. Tapi aku juga menginginkannya.
"Pesan misterius kedua kembali terkirim padaku, dan pengirim mengatakan kalau aku harus datang ke gudang yang ada di belakang kelas satu. Terlebih lagi aku harus datang bersama denganmu."
Satomi memainkan jam tangannya dan menunjukkan sebuah pesan misterius padaku.
Datanglah ke gudang kelas satu bersama dengan tuan putri! Kalian bisa datang kapan saja tapi yang terpenting harus hari ini.
Pesan singkat itu memberikan perintah kepada Satomi dan aku agar datang ke gudang yang letaknya di belakang kelas satu.
Aku memang penasaran dengan apa yang akan terjadi dan ingin datang kesana untuk memastikan, tapi aku khawatir dengan Satomi. Bagaimanapun, aku harus melindunginya kalau saja kejadian buruk menimpa kami.
Kuharap kencan hari ini akan tetap berjalan lancar dan tidak memiliki gangguan apapun. Jauh di dalam pikiranku, aku sangat berharap akan hal ini. Tapi sayangnya, ini akan menjadi gangguan yang serius.
__ADS_1