
"Fufu- terima kasih, Cool-boy! Berkat mu aku bisa melakukannya."
"Tidak masalah, lagipula itu hanya masalah kecil."
Aku baru tahu kalau pembelajaran dilakukan secara berbeda setiap kelas, jadi karena itulah ada jadwal khusus seorang guru yang akan menjadi pembimbing ujian.
Berbeda dengan kelas E yang melakukan ujian selama dua Minggu penuh, kelas A hanya melakukannya selama tiga hari dan dinilai pada hari itu juga. Tantangan untuk siswa kelas A ternyata lumayan berat bagi mereka.
Edgar Bark, dia adalah orang yang mendapatkan peringkat satu saat ujian tiga hari itu dan karenanya dia menjadi sombong. Namun siapa sangka dibalik peringkat satunya itu, ternyata dia hanya menyogok seorang guru pembimbing yang akan menilai mereka.
Menurutku Edgar lumayan hebat, tapi sangat disayangkan dia tidak percaya diri dengan kemampuannya. Hal itu juga membuatnya akan langsung di dropout ketika pihak sekolah mengetahuinya, terlebih lagi yang mendengarkan rekaman suaranya hampir seluruh siswa kelas E.
Tidak ada lagi cara untuk melarikan diri, Edgar hanya perlu keluar dari sekolah dan meliburkan diri satu tahun lalu mendaftar ke sekolah lain. Hanya itu satu-satunya solusi terbaik untuknya.
"Darimana kau tahu kalau jam tangan ini juga mempunyai fitur merekam suara?"
"Saat aku hendak mengecek total poinku. Tiba-tiba aku melihat logo kecil seperti mic dan aku langsung menekannya, ternyata itu berguna untuk merekam suara. Aku mendapatkan keberuntungan yang luar biasa, saat itu aku melihat Edgar berjalan sambil membawa amplop. Aku pun mengikutinya sampai bagian belakang gudang dan menguping pembicaraan mereka berdua, sepertinya dia bersama dengan guru yang akan melakukan penilaian pada ujian. Edgar menyerahkan amplop itu dan beliau menerimanya. Perbincangan mereka cukup singkat, tapi kupikir perbuatannya itu sudah melanggar aturan, jadi aku langsung merekamnya."
"Begitu ya? Sekarang bagaimana nasibnya?"
"Tentu saja mereka berdua akan di dropout, penyogokan dan transaksi rahasia antara guru dan murid. Itu melanggar peraturan sekolah."
"Bahkan seorang guru juga bisa terkena dropout, ya. Aku sedikit kagum denganmu yang bisa mengingat beberapa peraturan sekolah, sepertinya kau sangat disiplin dalam segala hal."
"Fufu- Tidak juga, terkadang aku bisa sedikit ceroboh. Ngomong-ngomong, apa maksud dari rencanamu ini? Padahal aku bisa langsung menyerahkan rekamannya ke pihak sekolah, tapi kau bilang dengan sedikit permainan tidak buruk juga. Aku tidak mengerti."
"Sederhananya, aku yakin diskriminasi akan terjadi ketika kelas A dan E dipertemukan dan sesuai dengan perkiraan ku, Edgar adalah orang yang paling mencolok dalam melakukan diskriminasi. Mungkin karena dia merasa sangat bangga karena memiliki poin tertinggi di kelas, bahkan di seluruh angkatan kelas satu. Kita hanya perlu bermain-main sebentar dengannya dan setelah dia terus memaksa Elaina. Sesuai rencana, aku menyelamatkan Elaina dan kau membiarkan para siswa kelas E mendengarkan rekaman suaranya."
"Kau memang sulit ditebak, Cool-boy! Aku suka pemikiran mu itu."
"Begitu ya?"
"Fufu- sebagai permulaan, kita harus saling menghubungkan jam tangan kita. Lalu kita akan terus bersama-sama selama satu Minggu ini."
"Tunggu, bagaimana dengan pelajaran atau yang lainnya nanti?"
"Kalau tidak salah, pelajaran hanya dilakukan selama 3 jam dan sisanya melakukan aktivitas bersama pasangan."
"Aku tidak mengerti tujuan sekolah mengadakan ujian seperti ini, tapi kurasa aku tidak keberatan jika itu bersamamu."
"Eh?!"
Wajah Fisa memerah sesaat, lalu dia kembali seperti biasa.
"Jadi sesuai penjelasanmu sebelumnya, perhitungan poin hanya dilakukan berdasarkan seberapa lama kita bersama."
"Tepat sekali."
Misalkan saja.
Setelah pembelajaran biasa selama 3 jam, waktu ujian langsung berjalan. Itu berarti pengurangan poin akan terjadi jika siswa tidak bersama kurang dari 25 jam.
Kenapa 25 Jam?
Kami masuk ke kelas tepat saat pukul 7 pagi. Karena pembelajaran dilakukan selama 3 jam, maka berdasarkan perhitungan waktu pulang biasa akan tersisa 5 jam.
Dengan kata lain, para siswa harus bersama pasangannya selama yang mereka bisa dengan batas waktu pukul 6 sore. Lewat dari itu, jam tangan yang menghitung waktu mereka bersama akan berhenti.
Total yang bisa dilakukan maksimal adalah 40 jam, tapi rasanya mustahil jika ada pasangan yang bisa bersama selama itu.
__ADS_1
Alasannya?
Mudah saja, karena hari ini mereka membuang beberapa jam untuk mencari pasangan. Termasuk aku dan Fisa yang telah membuang satu jam untuk mengurus masalah Edgar.
"Cool-boy, ayo segera hubungkan! Kita sudah membuang beberapa jam."
"Ya."
Aku dan Fisa hanya perlu mendekatkan jam tangan kami satu sama lain dan tak lama jam tangan yang biasanya menampilkan waktu secara nyata, kini berubah menjadi stopwatch yang menghubungkan seberapa lama kami bersama.
"30 detik."
"1 menit."
"3 menit."
"5 menit."
"Fufu- apa kita tidak memiliki kerjaan lain selain mengucapkan waktu yang sudah berlalu?"
Fisa tertawa kecil dengan sikap dewasanya seperti biasa.
"Kau sendiri mau ke mana? Aku akan ikut denganmu."
"Wah.. wah.. aku ingin kita berkencan total selama lima hari ini."
"Hmm.. aku tidak keberatan, tapi apa saja yang harus kita lakukan? Aku tidak pernah melakukan kencan sebelumnya."
Kehidupan ruangan terbuka, ini pertama kali aku merasakannya. Di sekolah asrama sekarang, akhirnya aku bisa bebas dari seseorang.
Kehidupan SD dan SMP yang kujalani dulu, aku sangat tersiksa karenanya. Diteror setiap hari, diberi siksaan berat hanya karena salah menjawab pertanyaan sulit. Hanya itu yang bisa kuingat.
Ayah? Sejak kapan aku memilikinya?
Tidak, aku memang mempunyai ayah. Aku yakin akan hal itu, suaranya yang lembut selalu masuk ke dalam hatiku.
Siapa seseorang yang mengenakan jas seperti dokter?
Aku tidak tahu, aku masih terbayang ketakutan ku saat melihat wajahnya lalu disiksa olehnya.
Ah, gawat. Tubuhku terasa berat, kepalaku sakit sekali. Inilah kenapa aku sangat membenci masa laluku yang tidak jelas seperti apa. Kuharap ada seseorang yang mengetahui masa laluku dan aku bisa menanyakan banyak hal padanya.
"Cool-boy! Kau kenapa?!"
Saat tubuhku hendak tumbang, Fisa menahannya. Aku dapat melihat wajahnya yang terlihat khawatir.
"Maaf, Fisa. Kepalaku sakit sekali."
"Kita pergi ke UKS sekarang! Mungkin seorang guru yang berjaga bisa membantumu."
Sambil terus memegangi bagian kepalaku sendiri, aku berusaha berjalan perlahan sembari dibantu Fisa sambil menahan rasa sakitnya.
"Apa kau merasa lelah? Maaf Cool-boy! Ini pasti salah ku."
"Kau tidak salah apa-apa. Aku akan memberitahu alasannya ketika sudah merasa baikan nanti."
"UHH.. Bertahanlah! Kita hampir sampai."
Dengan susah payah Fisa membawa tubuhku ke UKS dan akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Kami berdua disambut oleh seorang guru perempuan.
__ADS_1
"Ada keluhan apa?"
"Tolong dia! Dia bilang kepalanya terasa sakit sekali."
"Ya, aku mengerti. Bantu dia berbaring di kasur!"
"Baik!"
Kami masuk ke dalam bersama dengan guru ini lalu mereka berdua membawa dan membaringkanku ke tempat tidur.
Aku terbaring dengan posisi terlentang sambil menahan rasa sakit yang masih terasa.
"Aku khawatir sekali, kuharap ini bukan penyakit yang serius."
"Tidak apa, Fisa. Maaf sudah merepotkan mu."
Fisa duduk di kursi yang ada disamping kasur tempatku berada dan terus menatapku dengan ekspresi khawatirnya.
"Pertama kita lakukan pengecekan suhu tubuh. Emm.. cukup panas. Mari kita ukur, buka ketiakmu!"
"Baik."
Sambil memegang termometer, beliau juga memegang bagian kepalaku dan setelah itu menyuruhku untuk melakukan pengukuran suhu tubuh. Tanpa membantah, aku menggulung baju bagian lengan kanan agar termometer bisa tercapai ke ketiak.
Tak lama kemudian termometer berbunyi dan aku langsung memberikannya pada beliau.
"Emm.. 37,9 derajat. Kau hanya terkena demam ringan. Tidak perlu khawatir, kau bisa sembuh hanya dengan beristirahat dan tidur dengan cukup."
"Begitu ya?"
"Ya, tolong jangan melakukan aktivitas berat apapun!"
"Aku mengerti."
Rasa sakit di kepalaku perlahan menghilang. Bukan karena guru ini, tapi rasa sakitnya secara perlahan mereda dan pada akhirnya menghilang.
Aku bangkit dari kasur dan menatap ke arah Fisa.
"Fisa, terima kasih atas semuanya! Kau repot-repot membawa ku kesini. Kau juga melatihku hingga aku bisa mendapat peringkat ke-empat, bahkan nilai sempurna juga bisa kudapatkan. Aku yakin semua ini karena dirimu."
"Eh?! Tidak, aku tidak pantas menerimanya. Semua itu hasil kerja kerasmu sendiri."
"Emm.. jika tidak ada yang diperlukan lagi. Bisakah kalian segera keluar?"
"Baik! Maafkan kami!"
Kami berdua langsung pergi keluar UKS setelah diusir oleh beliau. Sebenarnya tidak diusir, tapi aku hanya tidak mempunyai kata-kata lain.
"Apa kau merasa mendingan?"
"Ya, perlahan rasa sakitnya menghilang."
"Apa penyebab sakit kepalamu itu? Kau mengetahuinya bukan?"
"Ya, aku tahu."
Kami berjalan tanpa tujuan dan disaat inilah aku menceritakan beberapa hal tentang diriku, itu berhubungan dengan sakit kepala yang kualami tadi. Tentu saja aku tidak memberitahukan kemampuanku padanya karena akan sangat beresiko.
Walaupun sekarang aku adalah pacarnya seorang tuan putri yaitu Fisa, aku tetap harus menyembunyikan hal itu. Aku menganggapnya sebagai hak privasi dan jika aku memberitahukannya, maka itu akan sangat menganggu.
__ADS_1