
Ini menarik sekali. Bagaimana tidak, aku dan Fisa dihadapkan pada situasi yang sangat jarang terjadi. Layaknya seperti penculikan, mereka membawa kami ke dalam gudang dan berencana melakukan hal yang tentu saja bukan sesuatu yang baik.
Apa yang menarik dari situasi ini?
Tentu saja semuanya. Dari rasa penasaranku bagaimana cara Fisa menanganinya, lalu disusul dengan rencana yang mereka jalankan. Tentu saja itu sangat menarik.
Saat ini tubuhku mungkin agak sulit bergerak karena dipegang oleh tiga orang di bagian tangan, kaki, dan juga kepala. Memang sulit, apalagi aku akan dihujani pukulan dan tendangan oleh mereka.
Mereka mengajak Fisa untuk memainkan sebuah permainan sederhana yang tentu saja aturannya juga sederhana. Jika Fisa menangis saat aku sedang dipukuli, maka kami berdua akan dibebaskan. Tapi jika Fisa tidak menangis sama sekali, mereka akan terus menyiksaku sambil merampas paksa poin yang kumiliki.
Nah, ini juga menarik. Sebenarnya pak Smith tidak menjelaskan banyak tentang sistem poin. Ini sama seperti aturan dalam ujian pasangan kemarin, para siswa kelas E disuruh bertanya sendiri ke siswa kelas A mengenai aturannya.
Untuk saat ini aku hanya bisa menduga kalau mereka akan merebut poinku secara paksa, caranya sudah pasti melalui jam tangan. Tidak ada cara lain lagi dan aku cukup yakin akan hal ini. Nantinya aku akan memberikan kode kepada Fisa dan kuharap dia mengerti maksudku nanti.
Sekarang aku harus menahan rasa sakit selama beberapa menit dan membiarkan mereka menyerangku secara bebas. Dipertengahan nanti aku akan berusaha untuk mencari celah dan melepaskan diri.
Sebenarnya aku dapat langsung melepaskan diri, tapi itu harus memakai setengah kekuatanku agar bisa melakukannya. Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang seperti ujian atletik kemarin, aku malah mendapat nilai sempurna saat memakai setengah kekuatan. Untuk itu aku harus menahan diri dan memanfaatkan celah yang mereka buat sendiri.
"Ayo mulai! Tuan putri lebih baik menyaksikan saja. Kau bisa anggap dia seperti penjahat yang ingin membunuh pangeran!"
Disini Fisa sudah tidak berdaya. Dia terlihat pasrah, matanya sedikit merah, dan juga badannya agak bergetar. Bahkan sifat dewasanya tidak terlihat lagi disini.
Namun sangat disayangkan, aku tidak merasa kasihan padanya. Seharusnya aku merasa kasihan dan kesal, tapi entah kenapa aku tidak merasakan apapun sekarang.
"BAKK!!"
"BUK!!"
"Sa-satomi!!"
Saat sesi pemukulan dimulai, Fisa hanya bisa berteriak memanggil namaku. Dia sangat khawatir, tapi dia bisa melakukan apa-apa lagi. Satu melawan delapan, tentu saja itu akan sulit. Ditambah lagi Fisa hanyalah seorang gadis yang memiliki kekuatan fisik jauh dibawah seorang lelaki.
"AHH!!"
"ARGG!"
Aku sengaja mengeluarkan suara seolah aku kesakitan agar mereka merasa puas, walaupun sebenarnya rasa sakit yang kurasakan pasti hilang dalam beberapa detik.
"Menangis lah, tuan putri! Maka aku akan melepaskan kalian berdua."
"Hoi! Pacar tuan putri! Dia tidak ingin menyelamatkanmu loh, padahal jika dia menangis maka semuanya akan selesai."
"Aku tidak peduli."
"Hah?! Kau bilang apa? Rasakan ini!"
__ADS_1
"Ayo menangis, tuan putri!"
Sambil terus memukuliku yang terlihat lemah, mereka juga memaksa agar Fisa menangis. Tentu ini akan menjadi tekanan tersendiri bagi Fisa. Aku yakin kalau dia memiliki alasannya sendiri untuk tidak menangis. Sepertinya tangisan seorang tuan putri sangat diperlukan dalam rencana mereka.
Melihat keadaan yang semakin memanas, kurasa sudah cukup main-mainnya. Mereka sudah memukuliku sangat banyak hingga menghasilkan banyak celah juga. Sekarang, aku akan membalas perbuatan mereka.
Aku mulai menegakkan tubuhku, sontak membuat mereka ber-delapan terkejut.
"Kau! Jangan bergerak!"
Aku diam sejenak ketika disuruh untuk jangan bergerak oleh mereka. Walaupun begitu tangan kananku tetap bergerak perlahan menuju tempat jam tangan yang ada di tangan kiri ku. Tentu saja mereka tidak curiga, itu karena aku bergerak seefektif mungkin tanpa menimbulkan gerakan tubuh yang berlebihan.
Tujuanku sekarang adalah melepas jam tanganku sendiri dan melemparnya ke arah Fisa, hanya itu yang bisa kulakukan. Untungnya, Fisa mengerti dengan gerak-gerik yang kulakukan dan bersiap di posisi menangkap benda.
Kini jam tanganku mulai melonggar.
"Fisa!! Sekarang!!!"
Tentu saja teriakan dan gerakan tubuhku yang mendadak langsung membuat mereka terkejut, itu juga memberikan sedikit celah dan aku pun melemparkan jam tangannya tepat dihadapan Fisa. Beruntung dia bisa menangkapnya dengan sangat baik.
"Apa?!"
"Sialan! Berani-beraninya!"
Saat jam tanganku dilemparkan, Fisa langsung menangkapnya dan bangkit dari posisi berlutut-nya. Dia terus berusaha berlari ke arah pintu keluar gudang seperti yang kuharapkan, lalu ada beberapa dari mereka yang langsung mengejarnya.
"Maafkan aku, Cool-boy!"
"Pergilah!"
Perlahan keadaan mulai berbalik karena tiga orang yang memegangi ku mulai melonggarkan pegangannya. Ini memang menguntungkan, tapi aku tidak akan bergerak secara bebas.
Mulai dari sini aku hanya akan melihat sisi menarik Fisa. Entah bagaimana cara dia menangani situasi ini, aku hanya bisa menyiapkan panggung yang bagus untuknya.
Fisa terus berlari menghindari kejaran mereka sambil membawa jam tanganku, tentu saja dia merasa lelah karena jalan keluarnya terus dihalangi oleh mereka. Perbandingan kekuatan fisik antara Fisa dengan beberapa lelaki terlihat sangat jauh. Kurasa itu wajar mengingat kondisi Fisa yang penuh tekanan.
"ARHH!!"
Aku kembali dipukul tapi kali ini agak berbeda karena orang yang memukul adalah orang yang sedari tadi hanya memerintah. Dia terus memukuliku hingga secara terpaksa aku harus mengeluarkan suara lagi seolah-olah aku merasakan sakit.
Seharusnya aku bisa langsung melepaskan pegangan mereka bertiga karena mereka tidak terlalu fokus denganku lagi, beberapa dari mereka memfokuskan pandangannya pada Fisa. Namun aku tidak ingin melakukannya dan menyerahkan panggung ini pada Fisa, aku menunggu kejadian menarik yang dilakukan oleh Fisa.
Kuharap kau tidak mengecewakanku, Fisa Campbell. Karena setelah kejadian ini, aku akan memutuskan hubungan pacaran denganmu.
Alasannya? Itu bisa dijelaskan nanti.
__ADS_1
"UHH!!"
"Bagaimana? Ini salahmu sendiri karena mendekati tuan putri! Dan juga, kenapa kau bisa tahu kalau kami bisa merampas poin dari sebuah jam tangan? SIAL! Seharusnya kelas E tidak mengetahui apapun tentang sistem poin!"
"WGHH!!"
"Sialan!! Apa yang lucu?!"
Kini dia merasa kesal karena aku mengeluarkan suara aneh yang terdengar seperti menertawakannya.
"Tidak ada."
"Sudahlah! Apapun yang kalian berdua lakukan tidak akan bisa menghentikan kami."
Dia berhenti memukulku dan berbalik arah melihat Fisa. Begitu juga denganku, aku melihat Fisa yang terus berlari mengelilingi gudang sambil terus menghindari kejaran mereka.
Ini seperti permainan yang dimainkan oleh banyak anak kecil dulu, miripnya ini seperti permainan beberapa gerombolan kucing yang mengejar seorang tikus. Mereka berempat sebagai kucing dan Fisa sebagai tikus yang terus-terusan dikejar.
"Satomi! Tolong aku! Aku sudah tidak kuat."
Aku dapat merasakan getaran saat mendengar suaranya. Maksudku suaranya bergetar saat meminta tolong padaku dan mengatakan kalau dia sudah tidak kuat, mungkin Fisa tidak kuat lagi untuk berlari dan akhirnya dia memutuskan untuk berhenti berlari, membiarkan mereka menangkapnya.
"Dapat kau! Kau boleh juga untuk seorang perempuan, kelas A memang hebat."
Kini Fisa kembali terduduk sambil melepaskan jam tanganku yang sudah dipegangnya dalam waktu yang cukup lama. Sekarang jam tanganku tergelatak di lantai dan tentu saja mereka bisa mengambilnya dengan mudah.
"Cepat ambil jam-nya!"
"Bersabarlah sedikit! Dasar pemimpin yang tidak bisa bersabar!"
Walaupun Fisa sudah melakukan yang terbaik, tetap saja aku kecewa padanya. Jadi begitu, harapanku terlalu tinggi hanya karena dia adalah pacarku. Jika dia sedikit mengandalkan ku maka aku pasti akan membantunya, tapi sayangnya dia tidak melakukannya sama sekali. Fisa terlalu yakin dengan kemampuannya hingga tidak menyadari kalau mereka memiliki jumlah yang banyak.
"Hiks..! Tolong lepaskan! Hiks..!"
Suara tangisan terdengar dari Fisa. Kini dia memakai kesempatan terakhirnya yaitu menangis dan memohon pada mereka untuk melepaskan ku dan dia sendiri.
"Kau baru saja menangis? Waktumu berlari sudah lebih dari 10 menit. Aku akan tetap merampas poinnya dan saat sudah selesai, barulah kalian kubebaskan!"
"Hiks..! Tolong jangan lakukan!"
"Sudah terlambat!"
Pemimpin ini berlajan ke arah Fisa yang terus menangis, sepertinya dia berniat untuk mengambil jam tanganku lalu mengambil banyak poin dariku. Hingga saat dia ingin mengambil dari bawahannya sendiri, suara ketukan pintu terdengar dengan sangat keras. Itu membuat kami semua yang ada di gudang langsung mengalihkan pandangan ke arah pintu keluar. Pintu itu terbuka dengan lebar dan aku melihat beberapa orang yang terlihat familiar.
Ada apa ini? Apakah bala bantuan telah tiba? Jika itu benar, kupikir mereka terlambat.
__ADS_1