
POV (Fisa Campbell)
Kami sudah selesai makan dan membayar apa yang sudah kami pesan di restoran cepat saji tadi. Sekarang kami berdua sepakat untuk datang ke gudang kelas satu sesuai perintah si pengirim pesan misterius.
Walaupun aku merasa kesal karena rencana kencan yang sudah kusiapkan terganggu, tapi aku tetap berusaha untuk sabar dan tidak mengeluh. Jika aku melakukannya, maka hubungan antara aku dan Satomi akan kembali merenggang.
"Fisa, menurutmu apa yang akan terjadi?
"Aku juga tidak tahu, kuharap bukan sesuatu yang buruk."
Padahal aku merasa sangat gugup dengan apa yang akan terjadi, tapi entah kenapa Satomi terlihat tenang dan hanya menunjukkan ekspresi datarnya. Tidak, kurasa tidak sepenuhnya datar. Dia sedikit memasang ekspresi serius.
"Sudah kuduga."
"Eh? Apa maksudmu?"
Satomi mengatakan sesuatu yang tidak kupahami, jadi aku bertanya padanya.
"Umm.. tidak ada, kita lanjut jalan saja."
Lagi dan lagi, dia tidak percaya denganku. Aku yakin dia mengetahui sesuatu tapi dia tidak mau memberitahukannya padaku.
Aku kesal, sebenarnya apa yang membuatnya tidak percaya denganku? Padahal aku sudah berusaha untuk mendapatkan kepercayaan darinya.
"Maaf Fisa, aku tidak memberitahunya karena kau akan tahu sendiri."
"Apa maksudmu?"
"Kita sudah diikuti sejak awal, jadi kurasa ini adalah sesuatu yang buruk."
"Hah? Kau yakin?! Kenapa tidak bilang daritadi!?"
Baguslah, akhirnya dia mengatakannya. Aku jadi lega ketika mengetahui kalau dia masih percaya denganku. Tapi rasa lega itu hanya sesaat karena kami berdua akan menghadapi ancaman yang besar.
Entah benar atau tidak, Satomi mengatakan kalau kita berdua sudah diikuti sejak awal bertemu sebelum kencan. Jika itu benar, maka situasinya akan benar-benar berbahaya. Aku jadi khawatir dengannya, kupikir aku harus melindunginya jika sesuatu yang buruk terjadi.
"Lalu bagaimana? Apa kita akan tetap datang ke gudang? Ataukah kita perlu melaporkannya ke pihak sekolah?"
Sebenarnya aku sedikit bingung karena Satomi terlihat sangat tenang, dia hanya memasang wajah dengan ekspresi datar seolah-olah dia meremehkan kejadian yang akan terjadi.
Tidak, kurasa bukan itu. Dia hanya berusaha menyembunyikan rasa takutnya dan dia juga tidak ingin membuat ku khawatir. Bahkan dia bertanya dan meminta saran ku tentang situasi yang terjadi sekarang.
"Tenang saja, Cool-boy! Aku akan melindungi mu! Bagaimanapun kita harus datang ke gudang, kita memerlukan informasi lebih lanjut tentang apa yang sebenarnya terjadi."
"Begitu ya? Baiklah."
__ADS_1
Aku menyarankan agar tetap datang ke gudang dengan tujuan mendapatkan informasi dan beruntung dia langsung menyetujuinya.
"Cool-boy, apa kita masih diikuti? Kenapa aku tidak merasakan keberadaan mereka?"
"Tetap lanjut jalan, kita akan tahu siapa yang mengikuti kita saat sampai di gudang nanti."
"Ya, baiklah."
Dengan penuh waspada aku berjalan bersampingan dengan Satomi. Aku harus melindunginya apapun yang terjadi, aku tidak ingin dia terluka karena diriku. Karena itulah aku harus benar-benar serius sekarang.
Kami terus berjalan hingga akhirnya sampai di area kelas satu, kami pun lalu pergi menuju gudang yang dimaksud oleh si pengirim pesan misterius.
Belum sempat memasukinya, kami sudah dihadang oleh tiga orang. Sepertinya mereka adalah seorang siswa kelas sebelah, aku tidak terlalu mengenal mereka tapi aku yakin akan hal ini.
"Cepat juga datangnya, kupikir kalian akan mengabaikan pesan itu."
"Apa yang sebenarnya terjadi? Untuk apa kalian memanggil kami kesini? Terlebih lagi, kalian melibatkan pacarku."
Dengan penuh perasaan kesal, aku bertanya pada mereka seperti mengintrogasi seorang pelaku kejahatan. Aku juga menatap mata mereka satu persatu sambil menunjukkan tatapan diskriminasi. Tapi sayang sekali, mereka tidak terpengaruh dan bertindak seperti biasa.
"Masuk lah! Kalian akan mengetahuinya sendiri."
Salah seorang dari mereka membuka pintu gudang dan mempersilahkan kami masuk ke dalam. Tanpa pikir panjang, aku dan Satomi pun langsung masuk ke dalamnya. Walaupun mereka bertiga tidak ikut masuk, tetap saja aku terus waspada dengan apa yang akan terjadi. Itu karena aku sudah merasakan firasat buruk sejak Satomi mengatakan kalau kita sedang diikuti oleh seseorang.
"Akhirnya datang juga, kalian berdua!"
Kali ini jumlah mereka lebih banyak dari yang diluar tadi, mereka berjumlah lima orang sekarang.
"Cepat katakan urusanmu! Aku tidak punya banyak waktu."
Agar kencan yang kurencanakan tidak sepenuhnya gagal, paling tidak aku harus bisa bermesraan dengan Satomi dan menikmati waktu kami bersama.
"Tidak perlu terburu-buru, tuan putri! Ayo kita bermain-main sebentar."
"Kau kira aku akan mengikutinya?"
"Kau harus mengikutinya, jika tidak ingin kejadian buruk terjadi."
"Apa-apaan kau ini?!"
Ini memang sesuai dugaan, mereka pasti tidak memiliki niat baik. Ini salahku, aku terlalu naif dan malah masuk ke sarang musuh tanpa berpikir panjang. Dan sekarang kami malah terjebak di situasi yang benar-benar berbahaya.
"Permainannya mudah saja, kau hanya perlu membiarkan kami memukul pacarmu itu hingga babak belur. Jika kau menangis dalam 10 menit, maka kami akan melepaskan kalian berdua. Tapi jika kau tidak menangis, maka kami akan merampas banyak poin yang dimiliki pacarmu ini. Tentu saja akan jadi pengecualian jika kau ingin menggantikannya, tapi kau akan langsung turun kelas secara drastis. Bagaimana?"
"Tunggu, aku tidak mengerti! Kenapa harus memukulnya? Dia tidak memiliki kesalahan apapun!"
__ADS_1
Jujur saja, aku sedikit tidak mengerti dengan perkataannya. Aku hanya mengerti tentang aturan awalnya, tapi dipertengahan aku benar-benar tidak mengerti.
Merampas banyak poin? Apa itu bisa dilakukan? Aku pun tidak tahu.
Situasi macam apa sekarang ini? Aku tidak ingin melihat Satomi terluka, tapi bagaimana caraku melindunginya jika seperti ini?
Aku lemah, aku bodoh, aku tidak berdaya. Dari kejadian sekarang ini, mental ku sangat diuji dan kupikir aku harus bisa melaluinya. Itu benar, aku tidak boleh menyerah begitu saja. Aku adalah pacarnya. Aku mencintainya. Aku tidak ingin dia terluka karena diriku. Jadi, aku harus melindunginya.
"Kemari kau, bocah pengganggu!"
"Ya."
Saat Satomi hendak diseret oleh mereka, aku menghentikannya.
"Tuan putri, kau lebih baik diam dan lihat saja pacarmu yang babak belur nanti!"
"Eh.. begitukah? Tapi bagaimana jika kalian yang babak belur?!! HIAT!!"
Aku sedikit melompat dan melayangkan kakiku ke arah orang yang hendak menyeret Satomi, untungnya seranganku tepat mengenai bagian rusuknya hingga dia tersungkur.
"Kau, sialan!"
Sebenarnya mereka itu sangat kuat dalam adu kekerasan, jadi aku hanya bisa memberikan serangan kejutan pada mereka. Sekarang aku harus bisa bertarung dengan sisa empat orang, jika aku bisa menang maka kami akan aman dan bisa segera pergi dari situasi berbahaya ini.
"SWUISH!!"
Suara angin terdengar ketika aku hendak menendang salah satu diantara mereka. Sepertinya seranganku berhasil dihindari olehnya dan dengan cepat aku langsung menurunkan kaki ku agar tubuhku tetap seimbang.
"Kau telah memilih jalur kekerasan. Hahaha.. bagus sekali! Sekarang semuanya akan jadi lebih mudah."
"Apa yang kau maksud?!"
"Kau akan mengerti setelah melihatnya."
"Ah! Satomi!!"
Ini gawat sekali, Satomi telah berhasil ditangkap oleh mereka dan kini tubuhnya sedang dikunci, tentu saja dia tidak bisa bergerak jika semua anggota tubuh alat geraknya dipegang dengan kuat.
Sepertinya mereka bertiga yang menjaga diluar juga ikut masuk ke dalam. Sekarang aku ada di posisi satu melawan tujuh, aku benar-benar tidak diuntungkan.
Sungguh, ada apa dengan diriku? Kenapa aku begitu naif kalau aku bisa mengatasinya? Aku jadi kesal dengan diriku sendiri yang tidak bisa apa-apa, aku bahkan melibatkan orang yang kucintai. Jika saja aku menyuruh untuk mengabaikannya, maka kejadian ini tidak akan terjadi.
Aku terus mengutuk diriku sendiri sambil dipenuhi rasa bersalah karena membuat Satomi dalam bahaya.
Oh kakak, apa yang harus kulakukan? Bukankah kau bilang mental adalah segalanya? Tapi sekarang aku harus apa? Tolong bantu aku, kakak!
__ADS_1