Uniregular Sport School 1

Uniregular Sport School 1
Chapter 32: Perasaan Lega


__ADS_3

FLASHBACK TEMPO HARI


POV (Harlow Elaina)


Aku panik dan sangat khawatir pada Satomi ketika mendengar kalau dia sedang mengalami kejadian buruk di gudang yang berada dekat dengan kelas satu.


Aku ingin menerobos masuk ke dalam, tapi sayangnya aku terlalu lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa.


"Elaina, panggil pak Smith sekarang! Kami akan masuk ke dalam gudang sekarang."


Lina menyuruhku untuk segera memanggil pak Smith karena takut kalau keadaannya semakin memburuk.


"Eh?! Kau yakin?"


"Tenang saja, kami masih bisa sedikit mengancam jika mereka berbuat hal yang buruk."


Wijaya dengan tenang berkata seperti itu, seolah-olah sedang berusaha meyakinkan ku.


"Baiklah, aku akan memanggilnya sekarang. Berhati-hati lah, kalian semua!"


"Ya, kuserahkan padamu!"


Mereka semua langsung berpisah dan meninggalkan ku sendirian ketika hendak memanggil pak Smith.


Aku tahu kenapa dari 5 orang hanya aku yang disuruh untuk memanggil pak Smith. Itu karena akulah yang paling lemah diantara mereka.


Tidak, sebaiknya aku jangan terlalu memikirkan itu. Sekarang aku harus berlari menuju ke kantor guru untuk melaporkan kejadiannya pada pak Smith.


Aku takut untuk berbicara padanya, tapi bagaimanapun taruhannya adalah orang yang sangat kucintai. Jadi aku harus melakukannya.


Seharusnya tidak seperti ini, kenapa aku malah mengikuti mereka berlima?


Sebenarnya kami berlima sedang berkumpul karena pak West menyuruh kami untuk membawakan barangnya ke kelas kami sendiri yaitu 1-E. Kami pun tidak bisa menolaknya karena tatapannya yang terlalu menakutkan.


Ketika selesai mengantar barangnya ke kelas, kami melihat Satomi yang sedang berkencan dengan Fisa. Entah kenapa, Lina malah menyuruh kami untuk bersembunyi sambil mengikutinya.


Menguntit seseorang yang sedang berkencan adalah hal yang buruk bagiku. Tapi, kurasa itu berubah menjadi hal baik karena kami semua mengetahui kalau Satomi dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


Dengan keadaan panik aku terus khawatir padanya hingga banyak keringat keluar dari tubuhku. Sekarang aku harus melaporkan kejadian ini secepat mungkin agar Satomi baik-baik saja.


Padahal aku yakin kalau Satomi itu kuat, tapi entah kenapa firasat ku tetap buruk dan itulah yang membuatku khawatir.


Aku tidak memanggil pak Smith karena secara kebetulan pak West sedang berada di luar kantor.


Aku dapat melihatnya yang sedang memotong rumput di bagian dekat jendela lalu tanpa pikir panjang aku mendekatinya.


"Oh, Elaina. Bagaimana? Barangnya sudah dibawa?"


"Euhh.. uh.. sekarang tolong kami!!"


Dengan nafas yang terengah-engah aku meminta tolong padanya.


"Ada apa? Apakah barangnya terlalu berat?"

__ADS_1


"Uh.. uh.. uh.."


"Tenanglah! Tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan. Setelahnya ceritakan padaku apa yang terjadi."


"Baik."


Aku pun melakukan apa yang diperintahkan olehnya dan saat aku sudah tenang kembali, barulah aku menceritakannya.


"Satomi dalam bahaya! Kumohon tolong dia!"


Sambil menundukkan kepala, aku meminta tolong padanya.


"Apa maksudmu?"


"Aku juga tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi Satomi dalam bahaya."


"Umm.. baiklah, kau tahu dimana dia sekarang?"


"Gudang kelas satu, dia ada disana!"


Aku memang takut dengan tatapan mata pak West, tapi aku harus memberanikan diri demi orang yang kucintai.


"Oke, ayo pergi!"


Beruntungnya, pak West langsung mengajakku pergi ke tempat yang aku maksud yaitu gudang.


Sesampainya disana, aku dapat melihat keadaan Satomi yang sangat buruk. Tanpa pikir panjang aku langsung mendekatinya dan memegang bagian wajahnya yang terluka.


Aku sangat khawatir dan ingin menangis ketika melihatnya seperti ini, namun aku berhasil menahannya.


Padahal aku sangat khawatir padanya, tapi Satomi masih bisa tenang sambil meminta maaf bahkan menundukkan kepalanya padaku. Dia juga membelai rambutku dengan sangat lembut.


Tentu saja ini membuatku terkejut dan aku merasa tidak enak karenanya, jadi aku menyuruh Satomi untuk berhenti dan mengangkat kepalanya.


Tidak, aku malahan menyuruh Satomi untuk terus membelai rambutku karena rasanya sangat nyaman dan untungnya dia tidak keberatan.


Jujur saja, aku merasa sangat senang karena bisa dimanjakan olehnya.


Selesai dengan jam tangan, Satomi langsung mengajakku untuk keluar dari gudang ini dan aku pun menyetujuinya.


"Kenapa kau bisa terluka? Apa mereka sangat kuat?"


"Yah, maaf membuatmu khawatir."


"Aku sangat khawatir, Hiks!"


Aku tidak dapat lagi menahannya, jadi aku menangis sejadi-jadinya karena rasa khawatirku yang berlebihan. Aku juga merasa lega ketika melihatnya masih berdiri dengan tegak tanpa goyah sedikitpun, bahkan dia masih bisa memeluk ku sekarang.


Kehangatan tubuhnya, aku dapat merasakannya. Aku ingin terus dimanjakan oleh Satomi, jadi aku terus memeluknya dengan erat sambil menangis.


"Elaina, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Maukah kau mendengarkannya?"


"Ya, aku mau!"

__ADS_1


Kini perasaanku sedikit lega dan kami pun sedang duduk di bangku yang ada di dekat mesin minuman. Kami duduk bersebelahan karena bangkunya terlalu kecil dan hanya bisa memuat dua orang saja.


"Sudah tenang?"


"Ya, kurang lebih."


"Elaina, saat ini aku merasakan sebuah perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Itu karena dirimu,"


Aku tidak mengerti perkataannya tapi entah kenapa perasaanku menjadi sangat senang.


"Aku juga tidak berpacaran dengan Fisa lagi setelah menyadari perasaanku."


"Benarkah?!"


Mendengar Satomi yang berkata seperti itu, perasaanku menjadi sangat lega.


Kupikir ini akan menjadi hari terbaik sebelum hari yang terbaik karena aku mendapatkan banyak keberuntungan hari ini.


"Jadi Satomi, kau tahu kan? Itu.. aku.."


Mengatakan kalau aku mencintainya menjadi sangat sulit sekarang. Biasanya aku selalu bisa mengatakannya tanpa malu-malu tapi sekarang aku merasa sangat malu ketika mengatakannya.


"Ya, aku mengerti. Tapi Elaina, untuk saat ini aku tidak bisa mengatakannya."


"Eh?! Kenapa?"


"Suatu hari nanti, aku akan mengatakannya ketika aku sudah layak."


Layak? Apa maksudnya? Aku tidak mengerti.


"Baiklah, aku mengerti."


Walaupun tidak mengerti, tapi perasaanku masih sangat senang dan lega karena Satomi berkata kalau dia akan mengatakannya.


"Satomi, kau itu masih pantas untuk hidup. Sebagai buktinya kau tidak dibenci oleh semua orang. Jadi Satomi, tolong jangan berpikiran buruk tentang hidupmu!"


"Emm.. apa maksudmu?"


"Jika satu sekolah memusuhi mu karena kesalahan yang kau perbuat, maka aku akan menjadi orang yang memihak mu tanpa peduli apapun yang kau lakukan."


Aku mengabaikan Satomi yang kebingungan dan terus mengatakan sesuatu yang mungkin akan berarti baginya nanti.


"Elaina, kau jauh lebih dewasa sekarang."


"Eh?! Tidak juga, aku hanya ingin mengatakan apa yang sedang kupikirkan."


"Begitu ya? Faktanya, kau jauh lebih cepat berkembang dibandingkan diriku. Jadi aku ingin melihatmu terus berkembang, kurasa kau itu lebih baik ketimbang diriku."


"Tidak mungkin, bicara apa kau ini? Satomi, kau itu sangat pintar dan kuat. Daripada membahas itu, ayo kita obati lukamu lebih dulu!"


"Hmm.. ya."


Satomi tidak seperti biasa, dia langsung menerima ajakanku untuk mengobati luka yang ada padanya. Sekarang kami beranjak dari bangku dan berjalan menuju UKS.

__ADS_1


Biar kukatakan dalam hati. Satomi Adney, aku mencintaimu! Sampai saatnya tiba, aku akan terus berhubungan baik denganmu.


__ADS_2