
Pada akhirnya aku hanya berkeliling sekolah, meninggalkan orang yang mungkin tidak akan berguna lagi. Aku juga tidak menyadari kalau aku hanya berjalan-jalan di tempat yang sama dan terus berputar.
Ketika memikirkan akhir ujian, kopi terlintas dalam pikiranku, aku teringat pesan misterius yang terkirim padaku. Sepertinya orang ini mengetahui kalau aku membenci kopi, tapi darimana dia mendapatkan informasi ini, itulah yang membuatku sedikit bingung.
Tuan putri, itu adalah panggilan untuk Fisa oleh sang pengirim pesan. Semuanya menjadi merepotkan. Tidak, kurasa dari awal aku sudah beberapa kali mengatakan hal itu.
Entah sudah berapa lama aku berjalan tanpa tujuan, tapi yang pasti aku melakukannya dari matahari yang terasa sangat terik hingga mataharinya tertutup oleh awan, sepertinya langit juga terlihat mendung sekarang, ada kemungkinan dalam beberapa menit lagi akan turun hujan.
Hujan pertama di musim panas, akhirnya itu datang. Musim di waktu sekarang memang tidak bisa diduga lagi.
Sekarang hampir memasuki akhir dari bulan September, singkatnya beberapa hari lagi akan berganti ke Oktober. Aku juga akan lulus di bulan September dalam tiga tahun lagi. Waktu akan terus berjalan, aku hanya bisa mengikutinya seperti air yang terus mengalir.
"Kau benar."
Aku mendengar suara yang cukup familiar, sepertinya suara itu berasal dari dalam kafe. Karena penasaran, aku masuk ke dalam.
Ternyata memang benar, itu adalah suara Weston. Dia bersama dengan seorang gadis. Aku tidak mengenalnya, mungkin gadis itu berasal dari kelas A.
"Bagaimana menurutmu?"
"Itu terserah padamu, aku tidak keberatan."
Aku tidak tahu apa maksud pembicaraan mereka dan aku juga tidak peduli.
Karena rasa penasaranku sudah terjawab, jadi aku langsung keluar dari kafe dan tidak memperdulikannya lagi.
26 Jam. Itulah waktu yang kuhabiskan bersama dengan Fisa selama ujian pasangan berlangsung.
Kami sudah berpacaran selama kurang lebih dua Minggu dan sekarang kami memiliki masalah, apalagi tidak ada yang bisa mengalah diantara keduanya.
Tidak, lupakan saja. Aku harus memulainya dari nol lagi. Aku sudah banyak menyakiti perasaan Elaina, jadi kuharap dia menyerah padaku sekarang. Aku sudah memilih Fisa dan karena itulah aku harus bisa menjalaninya.
"Hoii! Satomi."
Seseorang memanggil ku dari belakang dan setelah aku berbalik ternyata dia adalah Danna. Dia terus mendekat dengan wajah cerianya seperti biasa.
"Ada apa?"
"Tidak ada, aku hanya menyapamu. Aku iri padamu yang sangat hebat hingga bisa mendapatkan nilai sempurna saat ujian atletik!"
"Hmm.. begitu ya?"
__ADS_1
"Kalau begitu, sampai nanti!"
"Ya."
Begitulah sapaan singkat dari teman sekelas ku sendiri, dia langsung pergi setelah memuji dan menyapaku dengan senyuman. Jujur saja, aku juga iri dengannya yang bisa mengeluarkan banyak ekspresi tanpa beban sedikitpun.
Sekarang apa?
Aku juga tidak tahu. Kegiatan yang kujalani terlalu sedikit, lagipula aku hanya ingin bersantai dan menikmatinya dengan tenang.
Biasanya beberapa siswa yang tidak memiliki kegiatan akan berlatih lumayan keras di gedung olahraga tempat stasiun berada, atau mereka juga bisa berlatih di taman yang memiliki fasilitas olahraga. Tapi aku tidak akan melakukannya, itu hanya akan membuatku semakin mencolok. Apalagi nilai sempurna pada ujian atletik kemarin memaksaku untuk berusaha lebih keras dalam menyembunyikan kemampuan ku.
Untuk menyembunyikan bakat dan kemampuan, maka diperlukan bakat dan kemampuan juga.
...****************...
Ujian pasangan akhirnya berakhir, aku dan Fisa mendapatkan total waktu bersama selama 26 jam. Hal itu membuat kami berdua tidak masuk ke dalam 10 besar dan hanya mendapat peringkat 13 dari 16 pasangan yang terdaftar di jam tangan.
"Satomi, aku peringkat 15. Itupun karena Neet lagi-lagi tidak memiliki pasangan."
"Ya, Edgar sudah di dropout jadi itu wajar saja jika ada orang yang tidak mendapat pasangan. Menurut aturan, siswa yang tidak mendapat pasangan akan berada diurutan terakhir."
Elaina berbicara padaku dengan nada pelan, mungkin karena dia merasa sedih dengan peringkat yang didapatnya.
"Ta-tapi, kami hampir saja di dropout."
"Tapi kau tidak di dropout, jadi tenang saja."
"Umm.. Satomi, apa hubunganmu dengannya memburuk? Kau hanya mendapat peringkat 13, ataukah itu termasuk dalam rencanamu agar tidak mencolok lagi?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Sampai nanti, Elaina!"
Selesai dengan obrolan singkat, aku pergi keluar kelas meninggalkan Elaina.
Aku tidak ingin terus tertahan dan ragu dengan pilihanku sendiri, jadi aku memutuskan untuk berbaikan dengan Fisa. Hanya karena dia terlihat tidak peduli denganku, aku jadi memiliki masalah kepercayaan dengannya. Kurasa itu adalah hal yang salah karena bisa saja sebenarnya dia peduli namun tidak bisa mengekspresikannya.
Aku mencari Fisa di kelas A tapi dia tidak ada, aku malah disambut oleh seorang gadis berambut pirang, kalau tidak salah namanya Selena.
"Kau mencari Fisa?"
"Ya, apa dia ada disini?"
__ADS_1
"Dia sedang makan siang, tapi aku tidak tahu tempat dia melakukannya. Maaf, Satomi!"
"Tidak apa, terima kasih sudah memberitahu!"
"Ya, sama-sama."
Fisa tidak ada di kelas A, jika dia sedang makan siang maka pilihannya hanya ada di kantin sekolah. Orang seperti Fisa tidak akan makan di restoran karena kebanyakan makanan yang disajikan tidak sehat untuk tubuh. Apalagi Fisa adalah orang yang serius dan menekuni olahraga bola voli.
Aku berjalan ke kantin sekolah yang jaraknya tidak jauh dari kelas A, jadi aku dengan cepat sampai disana hanya dengan berjalan santai.
Kantin sekolah dipenuhi dengan banyak siswa yang ingin makan makanan sehat dan membentuk tubuhnya dengan baik.
Ditengah banyak orang, aku berusaha untuk mencari Fisa dan tak lama aku menemukannya di sebuah meja tengah. Dia duduk bersama dengan beberapa teman perempuannya yang memenuhi meja itu. Tanpa pikir panjang aku langsung mendekatinya.
"Fisa."
Dia berbalik badan setelah kupanggil.
"Ada apa? Cool-boy?"
Ketika dia memanggilku seperti itu, aku merasa kalau hubunganku dengannya akan baik-baik saja. Aku bersyukur karena dia masih memanggilku Cool-boy ditengah hubungan kami yang agak merenggang.
"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."
"Boleh saja, kau bisa menunggu di taman."
"Fufu- kalian pasangan teraneh yang pernah kulihat."
Teman Fisa yang sedari tadi hanya menatap kami tiba-tiba berbicara menyela kami berdua.
"Apanya yang aneh?"
"Tidak jadi."
Aku melihat makanan yang ada di meja dan Fisa belum menyentuhnya sama sekali, sepertinya dia kurang menyukai oatmeal pisang.
"Selesaikan saja makannya, aku akan menunggumu!"
"Ya, aku akan segera datang!"
Selesai dengan perpisahan singkat, aku keluar dari area kantin sekolah meninggalkan Fisa lalu pergi ke taman dan berbaring di rerumputan taman seperti biasa.
__ADS_1
Seberapa lama pun itu, aku akan terus menunggunya.