Uniregular Sport School 1

Uniregular Sport School 1
Chapter 33: Panggilan Tak Terduga


__ADS_3

Entah apa yang sedang dilakukan oleh beberapa orang yang seperti tukang bangunan ini, mereka seperti sedang menutupi area perbatasan kelas satu dengan sebuah papan yang lumayan tinggi.


Seolah-olah mereka ingin membarikade kelas satu dan tentu saja hal ini menarik banyak perhatian siswa kelas satu termasuk kami ber-enam.


"Mereka sedang apa?"


Elaina bertanya.


"Entahlah."


Aku menjawab dengan santai.


Ngomong-ngomong, kami sudah membentuk kelompok sesuai yang ditugaskan oleh Anthony.


Aku, Elaina, Lina, Cika, Wijaya, dan juga Weston kini sedang berjalan bersama untuk mendapatkan sebuah suara voting yang ditugaskan.


"Bukankah papan itu terlalu tinggi?"


Kali ini Lina yang bertanya.


"Kita tidak tahu apapun, lagipula sekolah ini penuh dengan kejutan."


Wijaya menjawab pertanyaan Lina.


"Benar sekali, aku merasa tertekan sejak masuk ke sekolah ini. Kukira aku akan bersenang-senang karena tidak ada pelajaran matematika lagi. Tapi ternyata pelajaran matematika diadakan saat ujian kemarin."


Cika berkata sambil mengeluh.


"Matematika itu selalu diperlukan untuk kehidupan sehari-hari termasuk olahraga, jadi jangan terlalu banyak mengeluh."


Weston memperingati Cika yang sedang mengeluh.


"Oke."


Cika yang diperingati hanya bisa menjawab singkat.


Sepertinya ini pertama kalinya aku melakukan pembicaraan secara berkelompok, karena sebelumnya aku sering berbicara ketika empat mata saja ketimbang berkelompok.


"Elaina, kau kenapa?"


Elaina terlihat murung, jadi aku menanyakan keadaannya.


"Tidak ada masalah. Hanya saja aku terpikir apakah tugas kali ini akan mendapatkan pengurangan poin."


Jadi dia merasa khawatir tentang pengurangan poin.


Benar juga, Anthony tidak memberitahu kami apakah penambahan dan pengurangan poin akan terjadi pada tugas yang diberikannya.


Kupikir tidak akan ada diantara keduanya, karena sepertinya beliau menyuruh kami untuk melakukannya agar jam kelas tidak benar-benar kosong ketika pak Smith sedang ada urusan.


"Kau benar juga, aku jadi penasaran."


Kini Cika ikut bingung bersama dengan Elaina.


"Jangan terlalu dipikirkan! Kita selesaikan saja tugasnya lebih dulu, barulah nanti kita bersenang-senang."


Karena Cika mulai terpengaruh, Weston berusaha menyadarkannya.


Dari yang kulihat, tingkah laku Weston terasa lebih baik ketimbang sebelumnya saat ingin mendekati Elaina. Baguslah, dia belajar dari kesalahannya.


"Kupikir kelompok ini tidak buruk juga."


Lina yang sedari tadi diam menyimak pembicaraan kini ikut berbicara.


"Apa maksudnya?"


Wijaya bertanya karena tidak mengerti perkataan Lina.


"Yah, awalnya aku berpikir kalau kita berkelompok secara terpaksa dan mungkin kita menjadi tidak akur karenanya. Namun setelah kita berbicara satu sama lain, kurasa ini tidak buruk juga."


"Oh, seperti itu. Aku juga berharap kalau kita bisa terus akur dan aku tidak ingin kita mendapat masalah. Jadi Satomi, tolong jangan berbuat hal aneh lagi!"

__ADS_1


Kali ini Wijaya merespon penyataan Lina sambil menyuruhku untuk tidak berbuat hal aneh.


Sebenarnya aku juga tidak ingin melakukannya, tapi apa boleh buat. Mencari sisi manusia tidak akan bisa didapat jika aku hanya diam saja.


"Ya."


Aku pun hanya bisa menjawab singkat atas pernyataan Wijaya.


"Permisi, maaf mengganggu!"


Suara seseorang mengejutkan kami dari belakang dan tentu saja kami langsung melihat ke arah belakang untuk merespon suara itu.


Ternyata dia adalah seorang guru laki-laki yang lumayan tinggi, mungkin sekitar 175 cm.


"Ada apa?"


Lina bertanya mewakilkan kami semua.


"Aku datang kesini untuk mencari Satomi Adney."


Dia mencariku?


Walaupun aku tidak tahu alasan kenapa beliau mencariku, tapi tetap saja aku menjadi sedikit waspada karena hal ini.


"Ada perlu apa mencariku?"


"Oh, jadi kau yang namanya Satomi Adney? Ikutlah denganku!"


Beliau menundukkan kepalanya sebelum pergi menjauh, sepertinya dia ingin agar aku mengikutinya.


"Satomi, apa kau yakin?"


"Tenang saja, aku akan baik-baik saja. Untuk kalian semua, tolong kerjakan tugasnya dan juga jagalah Elaina untukku!"


"Eh?!"


Mendengar perkataan ku, Elaina agak terkejut. Wajahnya juga memerah entah karena apa.


"Ya."


Sebelum pergi meninggalkan mereka, aku menyempatkan diri untuk membelai rambut Elaina sesaat hingga akhirnya aku benar-benar meninggalkan mereka.


Aku tidak dapat melihat ekspresi Elaina karena aku memang tidak ingin melihatnya.


Sekarang aku pergi bersama dengan seorang guru yang tidak kukenal, apalagi aku juga tidak tahu tujuan tempat kami akan berhenti.


Aku hanya bisa terus mengikutinya tanpa menanyakan apapun, tentu saja aku sambil bertindak sedikit waspada untuk menjaga diri.


"Kita sudah sampai."


"Kantor guru?"


Ternyata tempat yang dituju adalah kantor guru.


Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan disini, jadi aku hanya diam saja dan terus mengikuti alurnya.


"Masuk saja! Aku akan membawamu ke sebuah ruangan."


"Baik."


Beliau masuk ke dalam lalu disusul oleh ku sendiri.


Jadi seperti inilah suasana di dalam kantor guru sekolah khusus atletik.


Pada dasarnya ini sama seperti kantor guru sekolah pada umumnya, tapi yang berbeda hanyalah tiap guru memiliki ruangannya masing-masing dan ini membuatku hanya bisa melihat bagian ruang tamu tanpa alat pekerjaan apapun.


Sepertinya ruangan ini digunakan para guru untuk bersantai ataupun beristirahat.


Beliau berhenti di sebuah ruangan yang memiliki pintu nomor 05 lalu mengetuk pintunya.


"TOK! TOK!"

__ADS_1


"Silahkan masuk!"


Tak lama suara seorang perempuan terdengar mempersilahkan kami masuk.


Beliau lalu membuka pintunya dan masuk ke dalam, lalu disusul dengan diriku sendiri.


Dan benar saja, seorang guru perempuan duduk di sofa beserta beberapa sajian cemilan dan minuman.


"Permisi, aku sudah membawanya kesini."


"Kerja bagus, kau boleh keluar sekarang!"


"Terima kasih! Kalau begitu aku permisi!"


Setelah menundukkan kepalanya, beliau langsung pergi keluar ruangan dan menutup pintunya.


Sekarang situasi macam apa ini?


Aku berada di sebuah ruangan yang hanya ditemani seorang perempuan.


"Duduklah!"


"Baik."


Beliau mempersilahkan ku untuk duduk dan aku pun langsung menurutinya.


Kini kami berdua duduk berhadapan sambil saling menatap satu sama lain.


Kupikir beliau adalah orang yang penting dan terhormat di sekolah ini karena dari caranya duduk, caranya berbicara, dan caranya untuk meminum teh pun terlihat sangat elegan.


Jadi kenapa orang sepertinya mengundangku untuk datang ke sini?


Aku pun tidak tahu dan yang pasti aku akan mendapatkan jawabannya sesaat lagi.


"Satomi Adney, itu namamu bukan?"


"Ya, nama saya Satomi Adney."


"Tidak perlu formal seperti itu, bicara saja seperti sedang mengobrol dengan temanmu!"


"Baik, jadi ada perlu apa memanggilku kesini?"


"Tidak perlu terburu-buru, tolong nikmati teh dan beberapa cemilannya lebih dulu!"


"Baik."


Aku mengambil segelas teh dan meminumnya sebanyak dua teguk, lalu aku meletakkannya kembali.


"Maafkan aku yang telah membawamu tiba-tiba kesini! Izinkan aku memperkenalkan diri lebih dulu, namaku adalah Paul Newton, tolong panggil aku Paul! Jabatanku di sekolah ini adalah sebagai wakil kepala sekolah."


"Baik! Nama saya adalah Satomi Adney, panggilannya Satomi. Saya sendiri berada di kelas 1-E!"


Tanpa pikir panjang aku langsung memperkenalkan diriku saat mendengar kalau beliau menjabat sebagai wakil kepala sekolah.


Sejujurnya aku tidak menyangka kalau aku malah diundang oleh beliau untuk datang kesini.


"Sudah kukatakan tidak usah terlalu formal. Aku hanya ingin berbasa-basi denganmu."


"Berbasa-basi? Apa maksudnya?"


"Yah, sebenarnya ini lumayan penting."


"Begitu ya?"


"Begitulah. Jadi Satomi, apa kau ingin tahu alasanku memanggilmu kesini?"


"Hmm.. ya."


"Aku ingin kau melakukan dropout terhadap Harlow Elaina."


"Eh?!"

__ADS_1


__ADS_2