
POV (Fisa Campbell)
Ada apa ini? Astaga, aku benar-benar lelah dengan apa yang terjadi. Aku terus berlari seperti anak kecil yang dikejar oleh banyak orang jahat. Tapi, untuk apa aku berusaha sekeras ini? Padahal aku sudah pasti akan tertangkap. Ah benar juga, mungkin itu demi orang yang kucintai.
Lagi-lagi aku merasa kesal karena gagal melindungi jam tangannya dan malah memilih untuk meratapi kegagalan ku sendiri. Setidaknya biarkan aku bersenang-senang sedikit dengannya. Memangnya kenapa? Padahal aku sudah menangis sekarang, tapi mereka tetap tidak melepaskan kami berdua.
Sekarang aku hanya bisa menangis sambil menutupi bagian wajahku. Aku tidak ingin Satomi melihat wajahku yang sedang menangis, jadi aku berusaha untuk menutupinya.
"GUBRAKK!!"
Kami semua dikejutkan oleh suara pintu yang didobrak paksa dan tentu saja itu membuat kami menatap ke arah pintu. Aku menyeka air mataku sendiri dan mulai bertanya-tanya.
Ada apa lagi ini? Kuharap bukan sesuatu yang memperparah keadaan. Aku sudah tidak tahu harus berbuat apa jika kejadiannya semakin memburuk, untuk itu aku perlu berpikir cara menanganinya.
Tidak, kurasa tidak perlu. Mereka yang mendobrak pintu berjumlah sekitar 4 orang, 3 laki-laki dan 1 perempuan, sepertinya semuanya adalah kenalan Satomi. Singkatnya, mereka semua adalah siswa dari kelas 1-E.
"Satomi! Keadaanmu parah sekali!"
"Kau baik-baik saja? Satomi?! Bisa berdiri?"
"Kurasa tidak."
"Kalau begitu tetaplah di posisi seperti itu! Kami akan mengurusnya."
"Ya, tolong ya!"
"Satomi!!"
Dia pingsan dan tak sadarkan diri setelah teman sekelasnya datang. Tentu saja itu membuat salah satu gadis khawatir dengannya, termasuk aku yang juga khawatir tapi hanya bisa diam menatapnya dari kejauhan.
Gadis berambut pirang, aku mengingatnya. Dia orang yang berbicara dengan Satomi waktu itu. Lalu dimana yang berambut perak? Dia tidak ada disini. Lupakan saja, aku harus mengambil jam tangan Satomi ketika mereka lengah.
"Siapa kalian? Dasar murid rendahan yang suka ikut campur!"
Mereka saling berhadapan setelah melihat ke arah Satomi selama beberapa saat.
"Kami bukan siapa-siapa dan kau tidak berhak tahu."
"Huhu.. aneh sekali, kalian tidak memiliki alasan untuk berada disini. Cepatlah kembali sebelum terluka parah!"
"Kau kira kami akan semudah itu mengikuti perintah?"
"Jadi kalian ingin terluka?"
"Itu kekerasan! Kami akan melaporkannya pada pihak sekolah dan kalian akan dikeluarkan."
"Huhu.. lucu sekali, mereka belum tentu mendengarkan keluhan kalian. Karena apa? Karena kalian tidak lebih dari sekedar sampah. Sekolah tidak menginginkan orang dengan kemampuan rata-rata, mereka ingin lebih dan lebih."
"Sial! Siapa yang kau panggil sampah!?"
Ternyata situasinya semakin memburuk. Salah satu laki-laki yang tidak kukenal mulai marah karena provokasi darinya. Kejadian besar akan terjadi lagi disini.
"Tentu saja kalian. Memangnya siapa lagi? Kau! Tutup paksa pintunya! Kita harus memberinya pelajaran karena telah ikut campur urusan kita."
"Baik!"
"SIALAN KAU!! AKULAH YANG AKAN MEMBERIMU PELAJARAN!"
__ADS_1
Suara teriakan terdengar dengan keras, lalu dia mulai maju dan bersiap menyerang orang yang memprovokasinya.
"Hentikan! Charles! Kita sudah meminta Elaina memanggil guru, jadi jangan lakukan sesuatu yang tidak perlu."
Baru maju beberapa langkah, laki-laki yang bernama Charles ini langsung menghentikan langkahnya setelah mendengar perintah dari gadis berambut pirang. Sepertinya dia memiliki pengaruh yang kuat terhadap para lelaki.
"Jangan lengah saat kau menyerang!"
"AHH!!"
"Charles!"
Charles menghentikan serangannya tapi tidak dengannya, dia malah memukul bagian wajah Charles dengan keras hingga terpental dan tertunduk di lantai. Sebenarnya Charles masih bisa menghindar, tapi sayangnya dia lengah karena terdiam sejenak dan pada saat itulah orang licik ini memanfaatkannya untuk menyerang.
"Satu tumbang. Kini tiga lagi, sisakan perempuan untuk yang terakhir! Kita akan memberinya sesuatu yang belum pernah dia lihat."
"Bisa hentikan? Aku sudah memanggil guru untuk datang kesini."
"Ya, aku mendengar itu sebelumnya. Tapi kami juga bisa memanggil guru untuk melakukan perlawanan."
"Apa maksudmu?!"
"Maaf, aku tidak bisa menjawabnya sebelum ketiga temanmu tumbang. Umm.. mungkin empat orang."
"?!!"
"Satomi?!"
"Jangan memaksakan diri, Satomi!"
"Aku baik-baik saja."
"Boleh juga kau masih bisa bertahan sejauh ini."
"Satomi! Lebih baik kau jangan berdiri dulu!"
"Sudah kukatakan kalau aku tidak apa-apa. Tenang saja, aku akan mengatasi hal ini!"
Aku akan mengatasi hal ini? Apa aku tidak salah dengar? Aku tidak meremehkannya mengingat dia bisa mendapatkan nilai sempurna saat ujian atletik. Tapi tetap saja melawan mereka akan terasa sangat sulit. Jadi bagaimana caranya mengatasinya? Aku jadi penasaran.
"Apa maksudmu?"
"Kupikir Elaina juga ada disini. Syukurlah, aku merasa tenang ketika dia tidak ada."
Eh? Kenapa? Aku dapat melihat ekspresi Satomi yang berubah, dia terlihat seperti sedang serius sekarang. Setelah sekian lama aku akhirnya bisa melihat ekspresi pacarku selain datar dan tanpa emosi. Entah kenapa aku malah merasa sedikit senang, lalu hal itu memberiku sedikit kekuatan tambahan untuk melawan mereka.
"Kita lupakan dulu soal merampas poinnya, habisi semua laki-lakinya sekarang!"
"Baik!"
Perintah telah keluar dari pimpinan dan tentu saja mereka langsung mengikuti perkataannya dan mulai menyerang orang yang dianggapnya sebagai musuh.
Walaupun bantuan telah datang, tetap saja kami kalah jumlah. Ini akan menjadi pertarungan 8 melawan 6 orang, kurasa sangat mustahil untuk menang karena mereka sangat kuat. Apalagi beberapa diantara kami tidak dalam kondisi yang baik.
Tidak, aku tidak boleh menyerah. Ini demi orang yang kucintai dan demi kakakku yang terus mendukungku. Walaupun terasa sakit dan lelah, aku harus melawan mereka dengan semua kemampuan ku.
Akan kutunjukkan kekuatan sebenarnya dari seorang gadis kelas 1-A.
__ADS_1
...****************...
Apanya yang kekuatan seorang gadis kelas A?
Aku tetap saja kalah telak saat melawan mereka dan hal ini membuat tubuhku terasa sakit sendiri. Aku ingin melindungi Satomi, tapi sayangnya aku terlalu lemah padahal aku sudah sangat serius ketika melawannya.
Kaki dan tanganku terasa sangat sakit, pandanganku kabur dan ditambah lagi kepalaku juga terasa pusing. Ini benar-benar kondisi yang buruk, rasanya fisik dan mental ku dihancurkan sehancur-hancurnya sekarang.
"Tuan putri! Sebaiknya kau diam saja, kau itu sangat payah!"
"Ka-kau benar."
Sambil tertunduk kaku, aku hanya bisa terdiam pasrah ketika mengetahui kalau diriku ini benar-benar payah.
"Cukup, kalian semua!"
Kali ini Satomi berdiri dengan tegak sambil memperingatkan mereka. Ini juga membuatku sangat khawatir, begitupun dengan teman sekelasnya.
"Satomi, jangan memaksakan diri!"
"Cool-boy! Tolong jangan lakukan apapun, maaf karena aku tidak bisa berbuat apa-apa!"
Aku tidak bisa melihat wajah Satomi karena aku terlalu takut untuk menghadapinya, aku juga malu karena membawanya ke situasi berbahaya tapi aku tidak bisa mengatasinya.
"Serahkan padaku, kau sudah melakukannya dengan baik!"
Satomi mengambil jam tangannya sendiri yang masih tergeletak di lantai lalu menatap mereka semua satu persatu.
"Ada apa? Kau ingin aku memukulmu lebih banyak? Majulah!"
"Kalian semua tidak cukup."
"Eh?"
Apa aku salah dengar? Kata-kata Satomi barusan terdengar seperti meremehkan mereka semua. Tentu saja aku terkejut.
"Apanya yang tidak cukup?! Kau meremehkan kami? Jika benar kau akan mati sekarang!"
"Hei! Bagaimana dengan sedikit negosiasi?"
"Untuk apa aku melakukannya?"
"Jika kalian pergi sekarang, kalian akan menjalani kehidupan sekolah yang aman dan tenang. Tapi jangan menyesal jika menolak."
"Kau benar-benar meremehkanku bajingan kecil!"
Aku memang tidak mengerti maksud perkataan Satomi, tapi entah kenapa sebuah negosiasi yang ditawarkannya terdengar meremehkan mereka semua.
Jadi apakah Satomi benar-benar meremehkan semua orang?
Aku memang tidak tahu batas kemampuannya sampai mana. Tapi apa yang membuatnya seyakin dan setenang itu?
Oh benar juga, saat latihan sebelum ujian atletik aku mendapati ada hal yang aneh darinya. Itu seperti seolah-olah dia bergerak satu langkah dariku, tapi dia sengaja memundurkan langkahnya lagi.
"Jawabanmu?"
"Tentu saja aku menolak! Kau akan mati sekarang. Kalian, serang dia sepuasnya!"
__ADS_1
Bagaimana ini? Dia akan diserang habis-habisan oleh mereka, ditambah lagi semuanya hanya fokus untuk menyerang Satomi dan mengabaikan kami berlima.