Uniregular Sport School 1

Uniregular Sport School 1
Chapter 34: Dia Sedikit Berubah


__ADS_3

POV (Harlow Elaina)


Ini sangat melelahkan karena kami harus berkeliling satu sekolah untuk mendapatkan banyak suara.


Bukan hanya itu, kami juga harus berani berbicara dengan beberapa orang yang terlihat mengerikan. Andai saja Satomi berada disini, aku pasti akan merasa aman.


Namun untungnya, kami sudah mendapat total 214 voting sekarang.


Anggar: 50 Voting


Panahan: 88 Voting


Tinju: 76 Voting


"Bukankah ini sudah cukup?"


"Kurasa seperti itu."


"Jam berapa sekarang?"


"Pukul 2 siang."


"Huh.. akhirnya selesai juga. Aku ingin segera minum sesuatu yang segar."


Mereka ber-empat sedang asyik berbicara satu sama lain sedangkan aku hanya bisa menyimak obrolan mereka.


"Apa sih yang dilakukannya? Kenapa Satomi lama sekali?"


Lina tiba-tiba mengeluh saat kami dalam perjalanan menuju kelas untuk mengumpulkan tugasnya.


Sebenarnya aku juga sama seperti Lina, aku merasa khawatir karena Satomi tidak kunjung kembali. Dia bahkan tidak ada di taman tempat biasanya bersantai.


"Padahal dia mengatakan akan bertemu kembali disini, tapi dimana dia sekarang?"


"Lina, kurasa Satomi tidak mengatakan seperti itu. Dia hanya menyuruh kita untuk mengerjakan tugasnya dan menjaga Elaina."


Mendengar Lina yang terus mengeluh, Wijaya berusaha menenangkannya.


"Huh.."


Kini Lina mulai sedikit tenang.


"Fisa, bagaimana Satomi menurutmu?"


Lalu dia mulai bertanya padaku.


"Kenapa bertanya tiba-tiba?"


"Benar juga! Bahkan aku merasa kalian sangat cocok sejak saling berpelukan di dalam kelas."


Cika lalu mengikuti alur percakapan dan menyela kami berdua.


Mendengar perkataannya, aku jadi malu sendiri ketika mengingat kejadian itu. Padahal aku hanya melihatnya dalam keadaan baik-baik saja, tapi aku sangat bersyukur akan hal itu dan tubuhku bergerak sendiri untuk memeluknya.

__ADS_1


"Jadi bagaimana? Jangan diam saja!"


"Kau benar. Apakah kalian pernah berciuman atau semacamnya?"


"Hentikan itu! Aku merasa malu!'


Aku pun meminta mereka untuk berhenti karena perasaan malu ku yang hampir mencapai batas.


"Hentikan Cika! Elaina merasa tidak nyaman karena mu."


"Heh? Kenapa hanya aku?"


Untungnya Weston segera menyuruh Cika untuk berhenti.


"Aku hanya bisa menegur mu karena satu-satunya perhatianku hanyalah untukmu."


"Heh? Apa-apaan itu? Kau membuatku ikut malu saja!"


Wajah Cika langsung merah padam ketika Weston menjelaskan alasan kenapa dia hanya menegur dirinya.


"Sepertinya kalian juga sangat cocok."


Kini Lina ikut bicara sambil terus membuat Cika merasa malu.


"Lina, jangan menyiram bensin saat kebakaran!"


"Tidak ada kebakaran disini, lagipula aku tidak tahu kalau sekolah ini memiliki bensin."


"Itu hanya kiasan, jadi kuharap kau mengerti maksudnya."


Aku hanya bisa mendukung hubungan mereka karena aku juga berharap kalau Satomi akan mengatakannya dalam waktu dekat.


Tidak ada salahnya bukan jika aku berharap seperti itu?


Tidak terasa akhirnya kami sudah sampai di kelas dan Wijaya lah yang mengumpulkan tugasnya karena suruhan dari Lina.


"Eh?! Satomi?"


Aku terlalu fokus dengan jumlah hitungan voting hingga tidak menyadari kalau Satomi sedang tertidur dengan pulas di atas mejanya sendiri.


"Dia tidur?"


Wijaya bertanya pada kami.


"Memangnya apa lagi? Kau kira dia sedang berenang? Hahaha!"


Weston menjawab sambil tertawa ringan.


"Apa kita perlu membangunkannya?"


"Tolong jangan lakukan! Aku tidak ingin dia merasa terganggu."


Saat Lina memberikan usul untuk membangunkannya, aku menghentikan hal itu karena aku tahu betul kalau Satomi tidak suka diganggu saat dia sedang bersantai.

__ADS_1


"Lihatlah, calon pacarnya sedang berusaha membuatnya nyaman. Romantis sekali!"


"He-hentikan! Aku jadi malu."


Lagi-lagi Lina mulai mengeluarkan kata-kata yang membuatku malu setengah mati. Wajahku pasti menjadi merah karenanya.


"Kalian semua, maaf karena aku masuk ke kelas lebih dulu."


Eh? Dia bangun? Sejak kapan? Aku tidak menyadarinya.


"Jadi kau sudah bangun?"


Wijaya kembali bertanya.


"Ya, bagaimana tugasnya?"


"Sudah kami selesaikan."


"Begitu ya? Maaf karena aku tidak ikut serta."


"Tidak masalah, ini tugas yang mudah."


Tugas yang mudah kau bilang? Padahal Wijaya selalu gugup dan merasa takut saat menegur seseorang yang hendak ditanyai.


"Satomi, kenapa kau dipanggil tadi?"


Aku lalu mendekat pada Satomi dan bertanya padanya, tapi aku merasakan tatapan matanya yang sedikit berbeda dari biasanya.


Biasanya tatapannya tidak seperti ini saat sedang berbicara denganku. Aku tidak tahu kenapa, tapi ini membuatku terus bertanya-tanya.


Apa alasannya dipanggil?


Kenapa dia sedikit berubah?


"Bukan masalah besar, aku hanya membahas tentang beberapa hal kecil."


Beberapa hal kecil? Kurasa itu bukan sesuatu yang kecil jika ekspresinya seperti berusaha menyembunyikan sesuatu.


"Seperti itu? Syukurlah, aku lega karena kau tidak terlibat apapun lagi."


"Ya, begitulah."


Selesai mengatakan kata-kata singkat itu, Satomi langsung beranjak dari bangkunya dan pergi keluar kelas meninggalkan kami.


"Ada apa dengannya?"


"Aku tidak tahu tapi kurasa dia sedikit menjadi aneh sejak dipanggil guru tadi."


"Elaina, kau harus mencari tahu! Dia pasti memiliki masalah. Tenang saja, aku yakin kau pasti bisa."


Cika menepuk pundak ku sambil menenangkan diriku.


Sungguh, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Satomi tiba-tiba berusaha untuk mengindari ku. Tidak, sepertinya dia berusaha menghindari semua orang yang dikenalnya.

__ADS_1


Tentu saja, dia menjadi sedikit berubah.


__ADS_2