
Beberapa hari berlalu semenjak kejadian dropout massal yang melibatkan Fisa dan beberapa teman sekelas ku.
Aku memutuskan hubunganku dengan Fisa dan aku tidak akan berpacaran dengan siapapun untuk saat ini.
Perlahan, aku mulai diperlakukan dengan baik oleh teman sekelas ku. Mungkin itu semua karena ulah Anthony yang dengan santainya memberitahukan tentang ku.
Jika sudah seperti ini, maka aku tidak memiliki pilihan lain selain menunjukkan sedikit kemampuanku.
Memakai setengah kekuatanku adalah pilihan terburuk, jadi aku akan memakai seperempat-nya saja.
Saat ini kelas hanya diisi oleh sedikit orang karena masih terlalu pagi.
Walaupun begitu, aku merasakan suasana yang agak berbeda. Biasanya aku hampir tidak pernah disapa oleh teman sekelas ku sendiri kecuali Elaina. Tapi sekarang, aku mulai disapa dan diperlakukan dengan baik.
"Yo, Satomi! Bagaimana keadaanmu sekarang? Kau terlalu banyak menutupi wajahmu."
Weston yang barusan memasuki ruang kelas datang menyapaku, dia menanyakan tentang keadaanku yang penuh dengan perban.
Sebenarnya aku bisa melepas semua perbannya, tapi wajahku akan terlihat sangat aneh karena beberapa luka lebam yang kualami. Jadi aku memutuskan untuk terus memakainya sampai lukanya benar-benar hilang.
"Aku baik-baik saja dan rasa sakitnya perlahan menghilang sekarang."
"Baguslah, aku tidak menyangka kau bisa mengalahkan kakak kelas yang dianggap berpengalaman. Terlebih lagi kau tidak mengalahkan satu orang saja, tapi delapan orang!"
Dengan penuh kekaguman, Weston terus memujiku.
Aku hanya bisa menanggapinya dengan ekspresi wajah datar yang hampir tidak terlihat karena penuh dengan perban.
"Ya, terima kasih."
"Aku sudah menduga kalau kau adalah orang yang luar biasa. Ketika aku melawanmu dan berani membuat Elaina ketakutan, aku terlalu bodoh karena tidak menyadari kekalahan ku."
"Begitu ya? Lalu apa kau masih menginginkan Elaina?"
"Uh, sepertinya tidak lagi. Aku sudah menemukan penggantinya."
"Begitu ya?"
"Ya,"
"Selamat pagi, Weston! Satomi juga!"
Saat kami sedang asyik berbicara, tiba-tiba seorang gadis yang tidak kukenal datang menyapa Weston dan juga aku.
"Pagi, Cika!"
"Selamat pagi."
Tanpa pikir panjang kami pun membalasnya.
"Apa dia penggantinya?"
Aku bertanya pada Weston.
"Pengganti apa?"
Gadis yang kuketahui bernama Cika ini bertanya balik padaku bingung.
"Tidak- tidak ada! Dia hanya ngelantur!"
Dengan cepat Weston menyangkal lalu wajahnya mendekat ke telingaku, sepertinya dia berniat berbisik sesuatu padaku.
"Satomi, jangan katakan itu terang-terangan! Ya, dia memang penggantinya tapi tolong jangan katakan saat ada dia!"
"Baiklah, maafkan aku."
Cika menatap kami dengan ekspresi curiga.
__ADS_1
"Apa yang kalian bicarakan?"
Dia lalu bertanya.
"Bukan masalah besar, Weston hanya sedikit merusak jam tangannya sendiri dan dia berpikir apakah bisa mengganti jam tangannya dengan yang baru."
Aku menjawab dengan santai dan kupikir Weston tidak keberatan dengan pernyataanku.
"Oh, jadi masalah jam tangan. Sayangnya aku tidak tahu, maafkan aku!"
"Tidak apa-apa, jam ini tidak sepenuhnya rusak dan masih bisa digunakan."
Melihat Cika yang meminta maaf padanya, Weston dengan segera memberikan alasan.
"Selamat pagi, bagi siswa yang berada di kelas silahkan duduk terlebih dahulu!"
"Hah?!"
Cika dan Weston mendadak terkejut karena pak Smith datang terlalu awal padahal pelajaran belum dimulai.
"Duduklah di kursi mu sendiri, Weston!"
Aku berbisik pada Weston lalu menyuruhnya untuk duduk.
"Aku tahu itu! Ngomong-ngomong, dia lebih sempurna dari Harlow Elaina."
"Itu menurut pemikiran mu saja."
Dia berbisik balik padaku dan entah apa alasannya dia mengatakan kalau Cika lebih sempurna dari Elaina.
Sebenarnya aku tidak peduli, tapi jika Weston memperlakukan Cika sama seperti yang dia lakukan pada Elaina dulu dan bahkan membuatnya takut, maka aku harus memperingati-nya. Kuharap dia memperlakukan Cika dengan baik.
Keadaan kelas agak sepi karena hanya ada beberapa siswa di kelas, tapi sekarang ditambah adanya pak Smith membuat keadaannya menjadi tambah sepi.
"Maaf karena aku datang terlalu awal! Aku hanya memberi tahu kalau hari ini aku tidak bisa mengajar karena beberapa alasan. Jadi pak West akan menggantikanku mengajar untuk hari ini. Sekian, apa ada yang ditanyakan?"
"Tidak ada? Baiklah aku akan pergi sekarang. Ah, untuk Satomi, tolong jangan mencari perhatian lagi!"
"Umm.. apa maksudmu, pak Smith?"
Sebelum mendapat jawabannya, pak Smith sudah pergi keluar kelas. Aku benar-benar tidak mengerti maksud perkataannya.
Mencari perhatian? Padahal sejak awal aku tidak pernah berpikir untuk diperhatikan oleh siapapun.
Lupakan saja, jika terus memikirkannya maka kepalaku bisa saja menjadi pusing.
"Pagi, Satomi! Kenapa pak Smith masuk kelas lebih awal tadi? Aku jadi merasa takut."
Kukira Elaina akan marah karena kejadian tempo hari, tapi dia masih menyapaku sambil menunjukkan senyuman tulusnya itu.
"Semuanya baik-baik saja, beliau hanya tidak bisa mengajar hari ini dan akan digantikan oleh pak West."
"Pak West?! Aku semakin takut."
"Tenang saja, beliau akrab denganku. Jika dia menakutimu, katakan padaku!"
"Aku mengerti. Terima kasih, Satomi!"
Selesai berterimakasih padaku, Elaina langsung duduk di sebelahku.
Masih ada sekitar 10 menit sebelum pelajaran dimulai, keadaan kelas pun mulai ramai karena banyak siswa yang sudah berdatangan.
Ya, mereka berdatangan menuju tempatku dan Elaina berada. Dan itu membuat Elaina merasa sedikit tidak nyaman.
"Satomi, bagaimana keadaanmu?"
"Kau hebat sekali, Satomi! Aku salah menganggap mu orang aneh."
__ADS_1
"Ya."
Aku hanya bisa menjawab singkat atas kekaguman mereka padaku.
"Semuanya! Silahkan duduk di bangku kalian masing-masing!"
"Eh?! Gawat!"
Syukurlah, aku benar-benar tertolong karena kedatangan Anthony.
Aku agak kesulitan ketika meladeni teman sekelas ku sendiri karena aku tidak tahu cara yang baik saat berteman dengan banyak orang.
Mereka semua langsung berlarian untuk duduk di bangkunya sendiri, mungkin mereka takut dengan tatapan tajam Anthony.
"Baiklah, sekarang. Aku ingin kita belajar di dalam kelas saja karena aku hanya memiliki hak untuk mengajari beladiri. Dan sayangnya hari ini kelas kalian tidak ada jadwal beladiri."
"..."
Suasananya sangat sepi dan hening, mereka hanya bisa menatap ke arah Anthony dan diam membatu.
Seperti itulah, pelajaran hari ini pun dimulai tanpa praktek di luar melainkan hanya belajar teori di dalam kelas. Untuk pelajarannya tentu saja tentang atletik, lebih tepatnya adalah panahan.
"Seharusnya kalian tahu kenapa aku membahas tentang panahan bukan?"
Lagi-lagi yang lainnya hanya diam saja.
"Satomi, jawab lah! Kau pasti tahu."
"Emm, entahlah."
"Kau seperti biasanya, ya. Lalu wajahmu buruk sekali, lain kali kau harus berhati-hati dalam melawan orang. Walaupun hanya kelas D, mereka semua itu sudah berpengalaman dan bahkan pernah mengalahkan seseorang di kelas A.
"Ya, aku mengerti. Bisa lanjutkan pelajarannya? Kita bisa membahasnya lagi nanti. Dimana profesionalitas mu sebagai guru?"
"Kau memang menarik, Satomi Adney. Aku tidak bisa mengalihkan perhatianku padamu."
"Terserah saja."
"Baiklah, kita lanjutkan pelajarannya!"
Sebenarnya aku mengetahui alasan kenapa Anthony akan mengajar tentang panahan, tapi aku tidak bisa mengatakannya karena aku ingin memberikan kesempatan pada yang lain untuk menjawabnya.
Apa alasan Anthony mengajar tentang panahan?
Aku dapat menduga kalau beliau mengetahui tentang voting ketiga disiplin yang dilakukan sebelum ujian kemarin yaitu anggar, panahan, dan juga tinju.
Yang memiliki suara terbanyak adalah panahan, jadi mungkin saja Anthony mengetahuinya dan ingin kami belajar tentang apa yang sudah kami pilih.
"Kalian perlu mengenal apa itu panahan terlebih dulu sebelum melakukannya. Jadi, panahan adalah suatu kegiatan yang menggunakan busur untuk menembakkan anak panah. Untuk sejarahnya ada yang menunjukkan bahwa panahan telah dimulai sejak 5.000 tahun lalu yang awalnya digunakan untuk berburu lalu kemudian berkembang sebagai senjata dalam pertempuran, dan kemudian sebagai olahraga ketepatan."
Anthony menjelaskan panjang lebar tentang olahraga panahan dan para siswa di dalam kelas hanya bisa menyimak-nya sampai penjelasannya selesai.
"Sekarang, aku ingin kalian mengerjakan tugas yang kuberikan secara berkelompok. Masing-masing kelompok berisi tiga pasangan atau enam orang, juga kalian bebas memilih anggotanya. Lalu untuk yang tidak memiliki pasangan, kau boleh bergabung ke kelompok yang mau menerima dirimu."
"Baik!"
Mungkin karena para siswa terdengar antusias dengan tugas kelompok yang diberikan, jadinya mereka dengan lantang menjawab perintah Anthony.
"Sepertinya kalian akan memiliki sedikit waktu luang hari ini, mungkin tugas yang kuberikan agak berat tapi tolong langsung kumpulkan hari ini juga."
"Anthony, memangnya apa tugasnya?"
Aku bertanya agar meringankan suasana kelas.
"Yang pertama, kalian harus menuliskan sejarah tentang panahan, anggar, dan juga tinju di kertas akan kubagikan. Lalu yang kedua, kalian harus melakukan dan mendapatkan banyak voting tentang ketiga disiplin itu dari seluruh warga sekolah. Kalian mengerti? Aku akan membagikan kertasnya sekarang."
Aku mengerti tentang tugas yang diberikan oleh Anthony. Singkatnya, tugas pertama hanya menulis tentang sejarah ketiga disiplin yang pernah kami voting sebelumnya. Lalu tugas kedua, kami harus melakukan voting dan menanyai tentang disiplin apa yang mereka pilih secara bebas pada semua warga sekolah.
__ADS_1
Sepertinya ini akan menjadi tugas yang tidak kalah merepotkan.