
Setelah keesokan harinya, Yuan dan anak buahnya pun pergi ke negeri seberang untuk mencari pasukan tambahan agar pasukan mereka bertambah banyak dan mampu melawan pasukan kerajaan Maxime.
Setelah hampir mendekati hutan kerajaan Venom, mereka mendengar suara kegaduhan, mereka langsung bergegas menuju arah kegaduhan tersebut dan melihat apa yang terjadi disana. Setelah sampai ditempat tersebut mereka melihat pasukan kerajaan Maxime diserang oleh sekelompok preman, Raksa pun bingung melihat kejadian itu.
"Siapa mereka? Kenapa mereka menyerang para prajurit itu?" tanya Yuan kepada anggotanya.
"Entahlah, apa mungkin mereka perampok juga?" salah satu anggota Yuan ikut heran.
"Bisa jadi mereka warga dari kerajaan Venom yang tidak suka dengan kerajaan Maxime dan ingin merampas pajak itu juga, sama seperti kita." ucap Yuan.
"Jadi kita bantu mereka atau bagaimana?" tanya sang anggota.
"Kita lihat dulu, mereka mampu tidak mengalahkan prajurit itu." ucap Yuan kembali.
"Baiklah." balas sang anggota.
'Sepertinya mereka adalah orang yang sama dengan kami, ingin memberontak kepada kerajaan Maxime.' ucap Yuan di dalam hati.
Mereka pun melihat pertarungan itu dari kejauhan, tak lama kemudian mereka melihat para perampok itu kewalahan menghadapi para prajurit tersebut apalagi prajurit itu juga dipimpin oleh Panglima Abimara yang tangguh dalam berkelahi, mereka pun ikut terjun untuk membantu para perampok itu, para perampok itu pun heran atas kedatangan Yuan yang membantunya.
"Siapa mereka? Kenapa menolong kami?" ucap Fang salah satu ketua perampok tersebut.
"Siapa lagi kalian? Apakah kau yang bernama Yuan?" tanya panglima Abimara kepada Yuan.
"Ya, akulah Yuan Li! Apakah ada masalah denganku panglima?" jawab Yuan sambil tersenyum.
"Berarti kau juga yang sudah merampas hasil pajak kami kemari? Apa begitu hebat kemampuanmu itu sehingga beraninya merampas pajak milik kerajaan dan juga apakah ini pasukanmu?" ucap panglima Abimara meremehkan kemampuan Yuan.
"Ya, ini adalah pasukanku juga. Kita buktikan saja siapa yang lemah, aku atau kau panglima!" tantang Yuan terhadap Abimara.
"Besar juga nyalimu anak muda, baiklah aku akan menghadapimu dan juga membawamu pada Raja." jawab Abimara dengan yakin.
"Haha, jangan mimpi!" ucap Yuan berdecih.
Pertarungan pun dimulai kembali, terlihat mereka berdua berkelahi sangat sengit, keduanya sangat mahir dalam urusan pedang, mereka saling balas serangan satu sama lain. Tak berapa lama kemudian, panglima terkena serangan dari Yuan yang mana membuat Abimara tersungkur dan terkena sambaran pedang di bahunya pedang Yuan pun diarahkan ke leher Abimara, Yuan mampu mengalahkan Panglima tersebut.
"Sudah kubilang panglima, jangan mimpi! Sebaiknya kau menyerah saja dan berikan hasil pajak ini pada kami lalu kau pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran dan menghabisimu." ucap Yuan sambil tersenyum kecil.
Rasa malu dan juga tidak mampu mengalahkan Yuan, Abimara pun memilih mundur dan menyerahkan hasil pajak tersebut.
"Mundur!" perintahnya kepada para prajurit sambil menatap mata Yuan.
Mereka pun gembira karena mampu merampas hasil pajak, mereka berkumpul di bawah pohon besar untuk beristirahat karena lelah setelah berkelahi. Salah satu ketua perampok itu pun mendatangi Yuan.
"Terima kasih Tuan." ucap Fang pada Yuan.
__ADS_1
"Tidak masalah, apa tujuan kalian merampas pajak kerajaan?" tanya Yuan pada Fang.
"Kami semua adalah pemuda yang ingin memberontak pada kerajaan Maxime dan kami ingin membagi kembali hasil pajak ini kepada warga karena sejak kami dijajah dan di bawah pimpinan kerajaan Maxime, kami merasa kelaparan dan tidak tentram. Itulah alasan kami merampas kembali hasil pajak ini." jawab Fang menjelaskan.
"Kalau begitu tujuan kita sama, kami juga ingin memberontak kerajaan itu. Jika memang kau mau bagaimana kalau kita bersatu untuk menaklukkan kerajaan Maxime?" ajak Yuan kepada Fang.
"Fang!" seorang perempuan datang menghampiri mereka.
"Oh, perkenalkan ini rekanku untuk memimpin pasukanku, Melisa" Fang memperkenalkan rekannya.
"Ya, aku adalah Yuan yang biasa disebut si pedang kilat" ucap Yuan.
"Saya Fang, biasa dipanggil si tangan besi dan Melisa sering dipanggil si panah beracun." ucap Fang memperkenalkan dirinya dan Melisa serta kemampuan mereka.
⚔️⚔️⚔️⚔️⚔️⚔️⚔️
Raja meminta kepada Julian agar menggantikan Panglima Abimara untuk mengawal hasil pajak dari semua kampung, tetapi Raja memberikan syarat kepada Julian sebelum dirinya memutuskan untuk pergi. Raja memerintahkan kepada Julian agar dia memakai masker seperti ninja, Raja takut jika salah satu dari para pemberontak itu ada yang mengenal Julian.
"Raja, saya pamit untuk pergi. Doakan tidak ada halangan di jalan dan saya berhasil membawa hasil pajak dengan utuh kembali ke kerajaan." Julian menunduk.
"Aku pasti akan mendoakanmu," Raja menepuk pundak Julian.
Julian pun bergegas pergi bersama dengan anggotanya, tak lupa dia membawa senjata andalannya yaitu rantai.
Xin menggoyangkan tubuh Ying, dia menunjuk ke suatu arah.
"Ying, lihat itu pasukan mereka! Tetapi sepertinya ada yang berbeda dengan Panglima kali ini."
Ying memicingkan mata, dia mengangguk perlahan.
"Sepertinya mereka telah membawa panglima baru, tidak masalah karena aku pasti bisa mengalahkannya." ujar Ying yakin seratus persen.
Setelah pasukan Julian mendekat, rombongan Ying mulai menghentikan laju kereta kuda mereka.
"Berhenti! Serahkan hasil pajak itu pada kami atau—"
Belum juga selesai berbicara, ketiga pria itu terhempaskan dengan kasar oleh rantai milik Julian. Teriakan mereka memecahkan keheningan, Ying dan kedua temannya bergegas menghampiri para pasukan, mereka keluar dari persembunyian.
"Hei, berani sekali kau mencelakai anak buahku!" teriak Ying berani dengan menunjuk wajah Julian.
Tatapan mata Julian tidak lepas dari Ying begitupun sebaliknya, mereka mengambil kuda-kuda dan akhirnya terjadilah pertarungan. Julian menggunakan rantai, dia mengarahkan rantai tajamnya ke arah Ying tetapi berhasil di lawan.
Cring!
Ying terus melawan Julian sementara yang lainnya juga saling bertarung. Tanpa sengaja, Ying membuka penutup wajah milik Julian dan seketika keduanya terhenti dalam diam. Julian memegang wajahnya yang terpampang jelas, dia sudah mengingkari perintah dari sang Raja.
__ADS_1
"Kau!" Julian ingin maju tetapi Ying dengan cepat mengangkat sebelah tangannya.
Perlahan, langkah Ying membawa dia mendekati Julian. Dirinya menatap Julian dengan lekat dan seksama, Ying sangat mengenal rambut itu, manik matanya dan bentuk bibirnya.
"Julian?" lirih Ying tanpa melepaskan pandangan.
Julian mengerutkan dahi, dia heran dengan pria dihadapannya saat ini yang mengenal namanya.
"Kau, siapa kau? Mengapa kau bisa tahu namaku!" Julian menodongkan senjatanya.
Ying hanya diam saja dan Julian pun kembali melawan dengan sisa tenaganya. Ying tidak membalas, dia hanya menghindari serangan dari Julian. Saat sudah lelah, Julian menghentikan serangan itu. Dia sangat heran sebab Ying hanya menghindar saja dan tidak berniat membalasnya.
"Kenapa kau hanya diam saja? Apa kau takut, cuma segitu batas kemampuanmu?" Julian tersenyum puas.
"Julian, kau melupakan aku?" lirih Ying terbawa suasana.
Senyum dibibir Julian pun perlahan surut, dia menatap Ying dengan sangat lekat.
"Siapa sebenarnya kau? Aku sama sekali tidak mengenalmu dan kau malah mengenalku?"
"Aku kakakmu, apa kau lupa?"
Julian semakin bingung. "Kakak? Sejak kapan aku mempunyai seorang kakak? Kakakku sudah tiada dan aku tidak lagi mempunyai kakak, apa kau tau itu!" teriak Julian di tengah-tengah suara pedang para anggota yang beradu.
Ying melihat seluruh anggotanya dan dia menghentikan perkelahian itu, seketika semuanya pun berhenti. Ying duduk di akar pohon besar, dia mengingat masa lalunya kembali.
"Julian, apa kau ingat tentang kebakaran beberapa tahun yang lalu? Saat itu usiamu masih menginjak empat tahun. Kampung kita kebakaran dan Ibu tiada dibunuh oleh pemimpin kerajaan jahanam." Ying menahan rasa sesak di dadanya.
Julian mengingat itu semua, dia mengangguk pasti. "Aku mengingatnya dan Ibuku bukan tiada tetapi dia sengaja meninggalkan aku!"
"Sengaja? Kau tidak tahu kejadian yang sebenarnya, Julian." Ying menarik napas, dia mulai menceritakan semuanya dan Julian menyimak dengan seksama.
•
•
**TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN.
TERIMA KASIH BANYAK 😘
BANTU LIKE, VOTE, TAP FAVORIT DAN JUGA RATE 🌟 5 🥰**
__ADS_1