Unite For Revenge

Unite For Revenge
Bab. 17


__ADS_3

Satu tahun kemudian.


Kebahagiaan Yuan dan Putri Aurora pun semakin terlihat, keduanya sangat romantis bahkan selalu membuat iri orang-orang disekitarnya. Entah mengapa Yuan lama-kelamaan bisa mencintai Aurora dengan sepenuh hati padahal awalnya dia hanya merasa kasihan sewaktu menikahi sang Putri kerajaan. Namun, hal yang saat ini menyedihkan bagi kedua suami-istri itu ialah keturunan. Sudah satu tahun mereka menikah tetapi Aurora belum juga hamil dan itu membuat dirinya sering berkeluh kesah.


Yuan selalu mendukung Aurora agar dia tidak putus asa atau merasa rendah diri.


Saat ini Yuan sedang dalam perjalanan untuk memburu rusa, Aurora memintanya karena dia ingin memakan daging Rusa. Namun, di tengah perjalanan pulang, Yuan mendengar suara teriakan seorang perempuan. Dirinya berlari mencari sumber suara dan akhirnya menemukan perempuan itu.


Seorang perempuan cantik dengan rambut di gerai indah yang panjangnya hingga sepinggang, bajunya terlihat robek dan dia terduduk di tengah dengan dua orang pria berdiri di depannya. Terlihat dari raut wajah perempuan itu dia sangat ketakutan, dirinya sebisa mungkin mundur kebelakang mencoba untuk menghindari gerayangan pria di depannya.


"Tolong! Siapapun tolong aku!" teriak perempuan tersebut dengan Isak tangis.


Bugh!


Tendangan Yuan tepat mengenai punggung kedua pria tersebut hingga keduanya terkapar di tanah. Mereka bangun dan menatap Yuan dengan tajam, sepertinya terlihat dari raut wajah jika mereka tidak terima dengan kedatangan Yuan yang sok ingin menjadi pahlawan.


"Lepaskan dia." ucap Yuan dengan gagah dan berwibawa.


Kedua pria itu menatap Yuan dari atas sampai bawah, mereka tersenyum tipis lalu salah satu pria itu menunjuk Yuan menggunakan dagu.


"Mau apa kau anak muda? Kau ingin ikut Campo dengan urusan kami, pergilah jika kau masih sayang dengan nyawamu."


Mereka tidak tahu jika Yuan adalah seorang Raja karena gaya berpakaian Yuan terbilang cukup santai. Dia memang tidak suka pakaian yang berlebihan.


"Jika aku tidak ingin pergi, maka apa yang ingin kalian lakukan?" tantang Yuan dengan keberanian penuh.


Kedua pria tersebut hanya tersenyum sinis.


"Baik, kalau begitu jangan salahkan kami jika kau tidak akan pulang ke rumah dalam keadaan selamat."


Perkelahian terjadi dan wanita itu segera berdiri dari duduknya. Dia bersembunyi di balik pohon besar dan menyaksikan pertarungan antara Yuan juga kedua pria berbadan besar itu.


Yuan yang memang memiliki kemampuan tinggi dan keberanian kuat mampu melumpuhkan lawannya dengan mudah. Dia menepuk kedua telapak tangannya seperti habis memegang sesuatu yang kotor.

__ADS_1


"Banyak bicara tidak akan baik untuk kalian, sekarang pergilah atau aku akan menghabisi kalian berdua. Ingat! Jangan pernah melakukan hal yang memalukan lagi seperti ini. Jika sampai aku mendapati kalian melakukannya, maka aku akan menggantung kalian hidup-hidup lalu mayat kalian akan aku lempar ke kolam buaya. Apa kalian berdua mengerti?" peringatan tegas dari Yuan untuk kedua pria itu.


Mereka mengangguk paham dan segera pergi dari sana dengan lari terbirit-birit, Yuan melawan mereka tanpa menggunakan senjata apa pun.


Setelah pria itu pergi, Yuan mencari keberadaan perempuan yang tadi dia tolong.


"Kemana perempuan itu?" Yuan bertanya sendiri pada dirinya.


Dia terus mencari hingga dari kejauhan, dirinya melihat seseorang sedang bersembunyi di balik pohon. Yuan pun menghampiri orang itu yang dia yakini jika itu perempuan tadi.


Sesampainya di dekat perempuan itu, Yuan menepuk pundaknya dan sang perempuan terlonjak kaget.


"Tuan, aku mohon jangan lakukan apa pun padaku." ucap perempuan itu dengan wajah memelas.


Yuan menatap sang perempuan dari atas sampai bawah, terlihat sangat kumuh dan dekil. Akan tetapi, satu hal yang membuat Yuan tidak habis pikir. Meski wanita itu terlihat dekil, namun aura kecantikannya tidak berkurang sedikit pun. Wajahnya yang manis membuat siapapun pasti akan terpesona, pipinya chubby, hidungnya sedikit mancing dan bibirnya mungil. Perempuan itu terlihat imut-imut.


"Aku bukan orang jahat, kau tidak perlu takut." ujar Yuan pelan sambil mencoba tersenyum.


Perempuan itu menatap Yuan yang matanya memancarkan ketulusan.


"Apa yang terjadi? Kenapa mereka mengganggumu?" Yuan bertanya karena dia meras penasaran.


"Mereka ingin menodaiku, sudah berulang kali hal ini ingin terjadi dan syukurnya aku selalu bisa lepas dari mereka berdua."


Yuan menggeleng.


"Kenapa kau ada di hutan sendirian? Bukankah kau tahu, jika di dalam hutan sangat berbahaya? Bukan hanya manusia tetapi binatang buas juga banyak disekitar sini."


"Aku tahu, akan tetapi aku harus mencari kayu bakar untukku jual. Ya, sedikit membantu biaya hidupku kedepannya."


Yuan mencerna ucapan perempuan di depannya, dia menyimpulkan jika perempuan itu adalah tulang punggung.


"Siapa namamu? Dan, kau tinggal dimana?"

__ADS_1


Perempuan tersebut mendongak agar bisa menatap wajah Yuan.


"Namaku Mini, aku tinggal di desa seberang sana." perempuan bernama Mini itu menunjuk ke Utara.


Yuan hanya menganggukkan kepala. "Apa kau tulang punggung di dalam keluargamu?"


Mini terlihat sedih, dia menunduk dan duduk di tanah.


"Aku bukan hanya tulang punggung tetapi aku hidup sebatang kara. Kedua orang tuaku tiada akibat kebakaran yang dilakukan oleh pemimpin kerajaan Ethan. Mereka sengaja melakukan itu agar kami para rakyat kecil bisa mengabdi pada Raja mereka." Mini terlihat sedih ketika menceritakan kejadian itu.


Yuan turut bersedih, dia berjongkok di samping Mini.


"Apa kau mau ikut bersamaku? Aku tidak akan berbuat jahat, aku hanya ingin menolongmu saja. Jika kau bersedia, maka aku akan merasa sangat senang." Yuan tersenyum.


Sungguh hati Mini sangat tersentuh karena sikap Yuan yang sangat ramah dan sopan. Dia ingin ikut tetapi dirinya takut sebab Yuan adalah orang asing baginya. Saat Mini sedang berpikir, Yuan pun tahu apa yang ada didalam pikiran perempuan manis itu.


"Kau masih ragu? Aku berjanji tidak akan berbuat jahat, percayalah."


Mini pun akhirnya mengangguk setuju, dia berdiri dan mereka berjalan secara beriringan menuju kereta kuda milik Yuan.


Sesampainya di kereta kuda, Mini heran karena Yuan dikawal oleh begitu banyak prajurit. Dalam hati Mini pun mulai bertanya-tanya tentang siapa Yuan sebenarnya.


'Sepertinya dia bukan orang biasa, lihat saja pengawalnya, banyak dan ketat. Apa mungkin dia seorang Raja? Atau dia putra Raja? Astaga, mimpi apa aku bisa bertemu dengan orang kerajaan seperti ini.' batin Mini kagum dengan pengawalan itu.


Kereta kuda pun melaju pergi, Yuan dan Mini duduk bersebrangan.


"Tuan, siapa Anda sebenarnya?" Mini pun memberanikan untuk bertanya karena rasa penasarannya begitu besar.


Yuan hanya melirik Mini sejenak. "Nanti kau juga akan tahu sendiri jawabannya." lanjutnya membuat Mini semakin penasaran.


Keduanya pun terdiam selama perjalanan pulang ke Istana.


__ADS_1



TBC


__ADS_2