Unite For Revenge

Unite For Revenge
Bab. 13


__ADS_3

Julian dengan cepat menusuk Raja menggunakan rantai tajam miliknya, dia tidak ingin melihat sang kakak di hancurkan oleh Raja dan pada akhirnya mereka telah menang melawan sang Raja. Putri Aurora, tubuhnya luruh di tangga. Air mata tidak henti-hentinya mengalir deras di kedua pipi, dia telah kehilangan kedua orang tuanya. Ya, meskipun Aurora mengetahui tentang kejahatan sang Ayah tetapi dia tetaplah menyayangi Ayahnya.


Aurora berteriak histeris dan hal itu mengalihkan pandangan Julian juga Yuan.


"AYAH!" teriak Aurora begitu kencang, dadanya sangat sesak dan dia akhirnya terjatuh pingsan.


Bagaimana tidak, Ayahnya dibunuh tepat di depan matanya.


Julian dengan segera menghampiri putri, dia sudah menganggap putri Aurora sebagai kakak kandungnya sendiri. Sementara Yuan, dia hanya terdiam sambil menatap Julian yang menggendong putri ke kamarnya.


'Hal yang sama seperti dulu sewaktu Ayahmu membunuh Ibuku tepat di depan mataku. Sekarang semuanya sudah impas, aku telah membalaskan dendam Ibu dan Guru.' batin Yuan seraya menatap jenazah Raja, Domani, Balend dan Zean.


Di luar istana, Xin menghentikan perkelahian itu karena Raja mereka telah tiada dan Yuan saat ini menenangkan pertandingan.


Beberapa jam kemudian.


Semuanya sudah dibereskan dan Putri pun terbangun, dia melihat ke sekeliling. Disana ada Yuan, Julian, Xin, Melissa, dan Anka. Putri heran karena dia dikelilingi oleh orang-orang tidak dikenal, dirinya mencoba untuk bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang.


"Argh, ada apa ini?" tanyanya sambil mengingat kejadian yang telah berlalu.

__ADS_1


Aurora kembali menangis saat kejadian yang membuat dirinya pingsan terlintas di benaknya.


"Julian, dimana Ayahku?" lirihnya dengan terisak.


Julian menunduk. "Prosesi pemakaman Raja akan segera di laksanakan, sebaiknya Anda bangun dan ikuti setiap prosesnya."


"Ayah,"


Setelah prosesi selesai, kerajaan terlihat sunyi tidak seperti biasanya. Yuan dan Julian ingin berpamitan pergi tetapi Putri mengentikan mereka.


"Julian! Apa kalian ingin meninggalkan aku sendiri di Istana ini? Aku, aku tidak bisa memimpin istana sendirian. Aku butuh bantuan kalian," ucap Putri tulus dengan wajah sendu.


Julian melirik Yuan sejenak, lalu mereka menjauh dari Putri Aurora.


Yuan memikirkan terlebih dahulu, dia mengangguk dan setuju akan ucapan Julian.


"Baiklah, kita akan tinggal disini dan aku akan memimpin kerajaan. Julian, kau sendiri akan menjadi panglima perang di kerajaan dan Xin, Melissa juga Anka ikut tinggal disini. Mereka akan menjadi teman serta tangan kananku."


Julian setuju, dia tersenyum bahagia dan keduanya berpelukan.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa kalian setuju untuk tinggal disini?" tanya Putri ketika Yuan dan Julian berada di dekatnya.


Julian mengangguk dengan senyum tipis.


"Syukurlah, terima kasih." ucap Putri penuh kebahagiaan, meski dia telah kehilangan orang tuanya tetapi saat ini dia mendapatkan keluarga baru.


"Aku memutuskan untuk memimpin kerajaan ini, dan kau akan menjadi permaisuri yang akan mendampingi aku. Apa kau setuju, Tuan Putri yang terhormat?"


Putri Aurora belum paham apa yang dikatakan oleh Yuan.


"Aku tidak mengerti apa maksudmu." ucap Putri dengan kening mengerut.


"Menikahlah denganku dan jadilah permaisuriku," pinta Yuan tulus dari hati.


Dia terpesona dengan kecantikan Tuan Putri, suaranya yang lemah lembut, keanggunannya membuat siapapun pasti akan terpanah akan Tuan Putri kerajaan Maxime. Begitupun sebaliknya, Tuan Putri sudah tertarik dengan Yuan sejak mereka bertemu tidak sengaja tempo lalu. Dia berharap bisa bertemu dengan Yuan dan pada akhirnya impian itu telah tercapai.


Tuan Putri mengangguk, dia tidak perlu berpikir lama karena dirinya yakin jika Yuan adalah sosok lelaki yang baik, bertanggungjawab juga berjiwa pemimpin. Meski keduanya terbilang cepat menjalani hubungan ke jenjang yang serius, tetapi mereka yakin jika kedepannya hubungan itu pasti akan baik-baik saja.


__ADS_1



TBC


__ADS_2