
Yuan dan Julian pergi ke padepokan untuk melihat keadaan Guru Ling, tetapi sesampainya di padepokan mereka malah menerima kabar buruk yang menimpa sang Guru dan lainnya. Terlihat padepokan itu hancur, Yuan masuk ke dalam dan dia berteriak memanggil sang Guru. Naasnya, tidak ada jawaban dan begitu banyak para murid tergeletak di lantai dengan darah yang mengalir dari lengan mereka. Yuan semakin penasaran siapa seseorang yang sudah berani menghancurkan padepokan sang Guru.
Semuanya pingsan, mereka di ekseskusi oleh Yuan dan dia berniat untuk memerintahkan kepada seluruh anggotanya agar membantu mengurus murid padepokan. Ketika Yuan hendak melangkah pergi, dia melihat pintu peristirahatan sang Guru terbuka sedikit. Dirinya penasaran barangkali guru Ling ada di dalam sana.
"Guru?" Yuan memanggil dengan nada pelan. "Guru, apa kau ada di dalam?" lanjutnya masih mencari sang Guru.
Yuan syok ketika menemukan sang Guru terkapar di bilik dengan darah yang mengalir dari perut.
"Guru!" teriak Yuan dan membuat atensi mata Julian teralihkan.
Yuan menghampiri sang Guru, dia menggoyangkan tubuh Guru Ling.
"Guru, apa yang terjadi? Bangun, Guru! Kenapa semuanya bisa menjadi seperti ini?" Yuan meneteskan air mata, baru kali ini dia menangis setelah berpuluh-puluh tahun menangisi kepergian sang Ibu.
"Guru, siapa yang sudah berani mencelakaimu?" Yuan memeluk tubuh Guru Ling, tubuh tua itu kini sudah tidak lagi bernyawa.
"Guru bangun, aku tidak bisa menerima ini semua. Maafkan aku yang tidak mampu menjaga Guru dan murid lainnya, maaf aku lebih fokus pada pembalasan dendamku." Yuan terisak.
Julian mendekati sang kakak dan dia menepuk pundak Yuan.
"Gurumu sudah tenang di alam sana, kak. Relakan kepergiannya dan kita akan mencari jejak tentang sosok yang sudah berani menghancurkan padepokan ini." saran dari Julian untuk menenangkan Yuan yang pastinya sangat terpuruk.
"Tapi aku masih belum bisa menerima semua ini, aku merasa gagal menjadi murid yang Guru banggakan." Yuan tidak bisa mengendalikan emosionalnya.
Julian hanya mampu menepuk pundak Yuan, dia menyalurkan kekuatan kepada sang kakak. Di tengah-tengah tangisannya, Yuan teringat jika ada seseorang yang mempunyai dendam padanya.
"Julian, aku tahu siapa yang sudah melakukan semua ini." Yuan menatap lurus ke depan.
"Siapa?" tanya Julian dengan rasa penasaran.
Yuan terdiam dan dia mengeraskan rahangnya.
πΊπΊπΊπΊ
Raja tertawa dan dia merayakan kedatangan satu perguruannya yaitu Balend. Balend adalah seorang laki-laki yang kuat, senjata andalannya adalah kapak beracun sementara teman Balend bernama Zean, dia memiliki keahlian dalam tombak. Raja sengaja memanggil mereka semua untuk membantu membereskan Julian dan Yuan, dia yakin jika kedua anak muda itu sudah bersatu maka semuanya pasti akan terasa ringan. Raja tidak ingin kekalahan ada di tangannya, dia juga harus bisa menandingi kekuatan Yuan dan Julian.
"Apa kau yakin jika mereka akan datang kesini untuk sebuah balas dendam?"
Raja mengangguk. "Ya, aku sudah membunuh Ibunya dan aku yakin jika kedua anak itu pasti akan datang ke kerajaan untuk membalaskan semuanya. Aku tidak bisa melepaskan apa yang sudah aku bangun selama ini, kita semua harus bisa memusnahkan kedua anak muda itu."
"Maka dari itu kau memanggil kami bukan?"
"Benar sekali! Tujuanku memanggil kalian adalah untuk menghancurkan mereka, para prajuritku tidak terlalu hebat sehingga mereka pasti akan sangat mudah dikalahkan oleh Julian dan Yuan. Apa kalian tahu, Julian memiliki kekuatan dan kemampuan sangat hebat, sementara Yuan aku belum tahu apa kehebatannya." ucap Raja sambil meneguk air dalam gelas.
Kedua teman Raja hanya mengangguk.
βοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈ
Yuan dan semua anggotanya telah selesai, mereka akan melakukan pembantaian di kerajaan Maxime. Darah Yuan sudah mendidih hingga dia tidak sanggup untuk menahan amarahnya. Selesai bersiap mereka bergegas menuju ke kerajaan.
Beberapa jam dalam perjalanan, sampailah Yuan dan Julian dia sekitar kerajaan. Mereka melihat kesana-kemari guna memastikan keadaan sekitar, mereka tidak peduli lagi dengan keamanan karena saat ini yang mereka inginkan adalah berhasil membalaskan dendam atas kematian sang Guru dan Ibu.
BRAK!
Sekali dorongan pintu gerbang yang terbuat dari perak itu hancur oleh para anggota dan kedua kakak-beradik tersebut. Semua prajurit mendekat, Raja sudah menduga semua ini pasti cepat atau lambat akan terjadi. Dia tersenyum karena kedua anak muda itu telah mengantarkan nyawa mereka.
__ADS_1
"Bagus, bagus anak muda! Kalian datang ke neraka dan pasti tidak akan bisa pergi dengan selamat." ucap Raja menatap dari atas balkon.s
Para prajurit sudah berkelahi sementara Yuan dan Julian masuk ke dalam Istana.
"Raja! Raja Maximus keluar kau! Apa kau tidak punya nyali, hah?" teriak Yuan dengan emosi memuncak.
Balend dan Zean datang, mereka bersiap untuk mengalahkan Julian dan Yuan.
"Oh, jadi Raja kalian meminta bala bantuan orang luar? Memalukan, apa dia tidak sanggup melawan kami berdua?" Yuan mengejek sambil meludah.
"Tidak usah banyak bicara anak muda, kami penasaran dengan kemampuanmu dan sebaiknya segera lawan kami." Balend dengan tidak sabar mengayunkan kapak beracunnya, dia menyerang Yuan dengan membabi-buta sementara Julian melawan Zean.
Perkelahian terlihat sangat ketat dan susah untuk dimenangkan karena kedua belah pihak sama-sama memiliki kekuatan yang luar biasa. Yuan sudah mencoba segala cara tetapi dia tidak bisa menjatuhkan Balend yang bertubuh besar dan sangar. Yuan mengeluarkan pedangnya, dia kembali menyerang dan terdengarlah suara adu pedang dan kapak milik kedua satria itu.
Dari lantai atas, Raja dan Domani melihat ke Yuan juga Julian.
"Dom, kau harus bisa mengalahkan mereka berdua. Aku yakin jika kemampuanmu lebih dari anak muda ingusan itu."
"Aku akan mencoba dengan sekuat tenaga, Raja." jawab Domani dengan pasti.
Terlihat Julian terlempar dan tubuhnya terbentur ke dinding dengan sangat kuat, dia terjatuh karena Zean melakukan serangan mendadak dan doble. Julian meringis, dia memegangi punggungnya yang sangat sakit.
"Argh," lirih Julian sambil menatap Zean yang ada di depannya.
Zean tersenyum puas. "Hei anak muda, kemampuanmu tidak ada apa-apanya bagiku. Aku adalah pemain lama dan kau hanyalah anak ingusan yang baru belajar ilmu beladiri."
Jleb!
Tombak itu tertusuk di perut Julian dan dia langsung tergeletak di atas lantai, setelah itu Yuan yang melihat sang adik dalam keadaan terkepung langsung melemparkan senjatanya hingga menembus punggung belakang milik Zean.
Zean terkejut, dia menghadap ke arah Yuan yang menahan kapak Balend lalu Zean terjatuh di lantai dengan pedang tertancap di punggungnya.
"Berhenti!" suara seseorang menghentikan niat Balend.
Raja dan Domani turun dari tangga, mereka tersenyum puas sambil bertepuk tangan.
"Bagus, bagus Balend sahabatku. Kau sudah berhasil melumpuhkan anak muda ini, aku sangat bangga padamu." ujar Raja dengan senyum kepuasan.
"Apa hanya sebatas itu kemampuanmu, Yuan? Selama ini apa saja yang kau pelajari di padepokan sehingga kau hanya mendapatkan ilmu sekecil itu? Bahkan, untuk melindungi guru dan padepokanmu saja kau tidak becus." Domani angkat bicara dan semuanya tertawa mengejek Yuan.
Gigi Yuan bergemurutuk, rahangnya mengeras dan tangannya terkepal erat.
"Apa yang sudah kalian lakukan pada Guruku?" tanyanya tajam dan penuh penekanan.
"Kalian? Haha," Domani tertawa. "Bukan kalian tapi aku! Ya, akulah yang sudah menghabisi Guru sial*an itu, dia sudah berani memberikan semua rasa kasih sayangnya untukmu dan tidak ada yang tersisa untukku sedikitpun." lanjutnya kesal jika mengingat hal itu.
"Jadi, kau yang membunuh Guru Ling?"
Domani mengangguk sok hebat. "Aku bahkan menghabisinya dengan tanganku sendiri, malang sekali nasib Guru tua itu."
Yuan semakin emosi mendengar penuturan dari Domani, dia merasa jika Domani adalah seorang murid yang tidak tahu balas budi dan dia pikir Raja-lah pembunuh sang Guru tetapi ternyata dugaannya itu salah.
"Kau keterlaluan Domani, kau sungguh keterlaluan!" teriak Yuan dengan mata memerah.
Dia seperti singa yang kepala, perlahan wajah Guru dan sang Ibu berkelebat di benaknya, dia menatap Raja dan Domani yang terus tertawa jahat. Kesabaran Yuan sudah habis, dia berdiri dari duduknya dan itu di halangi oleh Balend. Yuan menatap Balend dengan tajam.
__ADS_1
"Minggir, jika kau masih sayang dengan nyawamu." ucap Yuan tajam dan mengerikan.
Balend tidak takut akan ancaman itu, dia malah berkacak pinggang dan menatap Yuan dengan remeh. Sementara Yuan, dia melakukan serangan mendadak sehingga membuat Balend yang memang belum siap langsung terkapar begitu saja di lantai.
Raja dan Domani mengehentikan tawa mereka dan Domani bersiap untuk melawan Yuan.
Yuan mengambil pedangnya yang tertancap di punggung Zean, dia dengan cepat melompat dan menusuk perut Balend.
"Argh," pekik Balend tertahan dan lalu kencang ketika Yuan menarik pedangnya dengan kasar.
"Kalian sudah bermain-main dengan kesabaranku, pertama Ibuku dan kedua guruku. Kalian mengambil semua orang yang ku sayangi dan aku tidak akan tinggal diam mengetahui itu semua. Demi nama Ibu dan Guru aku akan membalaskan semua penderitaan yang mereka alami hingga merenggut nyawa mereka!"
Haia!
Yuan mulai menyerang Domani sementara Raja mundur perlahan untuk melihat kehebatan keduanya. Dia cukup sakit dengan Domani karena bisa mengimbangi kemampuan Yuan.
Beberapa saat kemudian, karena emosi yang memuncak akhirnya Yuan berhasil mengalahkan Domani. Dia menusuk perut Domani berkali-kali hingga Domani tidak sadarkan diri. Saat ini mata Yuan beralih menatap Raja yang masih terlihat santai.
"Aku akui jika kemampuanmu sungguh luar biasa, kau bisa saja mengalahkan temanku dan anak buahku tetapi kau tidak akan bisa mengalahkan aku, Yuan Xin." ucap Raja tersenyum jahat.
Dia mengeluarkan alat tempurnya yaitu samurai emas, samurai itu adalah peninggalan dari leluhurnya dan sangat berbahaya. Yuan tidak takut dengan itu, dia malah berjalan mendekati Raja.
"Kau pikir aku ajak takut dengan samuraimu itu, hm?" ucapnya mengejek dan meludah.
Raja merasa geram karena Yuan seakan menghinanya, martabat Raja sebagai pemimpin serasa jatuh di mata anak ingusan seperti Yuan.
Meraka mulai melakukan serangan dan Yuan berhasil menghindari serangan itu dengan baik, dia sengaja hanya menghindari agar Raja merasa lemas nanti barulah dia akan membantai.
Cring!
Cring!
Bunyi adu pedang menggema di seluruh penjuru istana bahkan diluar juga seperti itu. Banyaknya prajurit sulit untuk dikalahkan oleh Xin, Melissa, Anka dan lainnya.
Yuan melihat jika Raja sudah mulai sedikit melemah, dia melayangkan serangan pertama dan berhasil menggores lengan sang Raja.
"Raja, apa kau bo*doh? Bertarung bukan hanya menggunakan tenaga tetapi juga harus menggunakan otak." Yuan menunjuk kepalanya sendiri.
Raja memegangi lengannya yang terus mengucurkan darah segar, dia menatap tajam ke arah Yuan. Raja kembali memberikan serangan kepada Yuan bertubi-tubi, dia mengeluarkan jurus terakhir dan mampu membuat Yuan terlempar cukup jauh hingga dirinya menatap dinding dengan keras. Wajah Yuan sudah babak belur sementara kepalanya mengeluarkan darah karena tekena hantaman dinding. Yuan tergeletak di lantai dan Raja segera menghampiri Yuan.
"Hai anak muda, kau jangan terlalu meremehkan kemampuanku!" bentak Raja dengan emosi tertahan.
Yuan hanya terdiam, tidak ada pergerakan sama sekali hingga Raja memutuskan untuk menghabisinya sekarang juga. Kemampuan yang hebat dari keduanya sangat sulit untuk menentukan siapa menang atau kalah.
"Apa kau tidak ingin memberikan kata-kata terakhir sebelum menyusul kedua orang tuamu?" ejek Raja dengan puas.
Dia mulai melayangkan samurainya ke udara dan ingin menusuk Yuan.
"AYAH!" teriak Putri Aurora berketepatan dengan terjatuhnya Raja di atas lantai.
Aurora membekap mulutnya sendiri, dia menangis tanpa suara.
β’
β’
__ADS_1
β’
TBC