
Julian sudah mengetahui semua kebenarannya, dia kaget ketika Ying menceritakan tentang kisah hidup sebenarnya. Dia pun memutuskan untuk ikut bersama dengan Ying yang tak lain adalah kakak kandungnya. Ying bersyukur karena akhirnya dia menemukan Julian, dia yakin setelah ini kekuatan mereka pasti akan semakin bertambah dan tidak akan terkalahkan. Bahkan, ada beberapa prajurit dari kerajaan Maxime yang ikut bergabung dengan Julian. Mereka tidak ingin kembali ke kerjaan Maxime yang dipimpin oleh Raja tamak
Di kerajaan, Raja terlihat murka ketika mendengar ucapan dari sang prajurit yang mengatakan jika Julian ikut bersama dengan ketua pemberontak dan identitas Julian juga sudah diketahui. Raja menghajar semua prajuritnya hingga babak belur, dia bahkan meminta kepada beberapa prajurit untuk mencari jejak Julian dan Ying.
Keesokan harinya.
Julian sedang berburu di hutan, dia juga akan mencari buah untuk teman-temannya. Namun, saat Julian ingin memetik buah apel, sebuah anak panah menembus punggungnya. Julian meringis menahan sakit, dia memegangi punggung dan mengedarkan pandangan. Saat sang pemanah ingin melayangkan anak panahnya lagi, tiba-tiba hal itu dihentikan oleh sebuah suara tembakan.
Dor!
Sang pemanah terjatuh dari atas pohon karena peluru tembak itu mengenai tepat di pundaknya, dia berlari dan kabur dari tempat itu.
Sementara sang penembak jitu, dia berjalan cepat ke arah Julian.
"Tuan, apa kau baik-baik saja?" ucap wanita cantik yang membawa tembak, wanita itu berjongkok di samping Julian.
"Bisa tolong cabut 'kan anak panah yang ada di punggungku?" pinta Julian dengan keringat yang membasahi wajahnya.
Wanita cantik itu mengangguk, dia mencabut anak panah tersebut dengan kencang hingga mengalir-lah darah segar dari sana. Wanita itu dengan cepat mencari daun obat-obatan untuk menghentikan darah yang mengalir, dia meminta Julian agar membuka bajunya.
"Buka bajumu!" perintah wanita itu.
"Hah!" Julian melongo heran.
"Aku tidak akan berbuat hal jahat, turuti saja ucapanku sebelum kau kehabisan darah."
Julian membuka pakaiannya, wanita tersebut dengan cepat meletakkan daun-daun obat ke luka anak panah. Setelah itu, dia meminta Julian agar memakai pakaiannya kembali.
"Luka ini harus segera di obati, jika tidak maka akan mengalami infeksi."
Julian mengangguk paham, dia mengucapkan terima kasih dan bertanya tentang nama wanita di depan tersebut.
"Aku, Anka."
"Kenapa perempuan seperti dirimu berada di dalam hutan sendirian? Apa kau tidak takut ada binatang buas atau yang lainnya?"
Anka tertawa. "Kenapa aku harus takut? Bahkan binatang buas saja takut denganku."
"Lalu, apa yang kau lakukan di dalam hutan seperti ini?"
__ADS_1
"Aku sedang berburu, ini sudah menjadi hal wajib untukku. Kau tau, aku ini mahir dalam menembak."
"Benarkah?" Julian masih menahan rasa sakit di punggungnya.
"Ya, jika kau tidak percaya maka akan ku tunjukkan sekarang juga." Anka berdiri, dia mengarahkan tembaknya ke satu buah apel.
Setelah peluru meluncur, ternyata tepat mengenai buah apel hingga terjatuh.
"Bagaimana? Apa kau masih tidak percaya?" Anka berkacak pinggang.
Julian hanya mengangguk. "Aku sangat salut dengan kemampuanmu."
Anka mengedikkan bahu.
Mereka akhirnya memutuskan untuk mengobrol. Anka adalah anak yatim-piatu, dia dibesarkan oleh paman dan bibinya yang tinggal dikampung. Pada masa itu, Anka di ajarkan jurus menembak karena itu amanah dari orang tuanya, Anka memiliki satu orang sepupu perempuan yang bernama Maynar dan sangat pintar mengandalkan busur panah.
⚔️⚔️⚔️⚔️⚔️⚔️⚔️
Di kerajaan.
Raja sedang mempertemukan putrinya dengan anak dari kerajaan Boleyn yang akan di jodohkan oleh putrinya. Putri Aurora sebenernya tidak setuju dengan perjodohan ini tetapi Raja tetap bersikeras menjodohkan agar kerajaan mereka bisa menjadi lebih kuat.
"Selamat datang calon menantu, akhirnya kau sampai juga di kerajaan ini." Raja menyambut dengan ramah dan senyuman, dia akan melupakan sejenak masalah tentang Julian yang pasti akan memberontak.
"Terima kasih atas sambutan Anda, paduka Raja. Aku sangat bahagia bisa melihat dirimu apalagi, Tuan Putri Aurora." Nathan melirik Aurora dengan senyum menawan.
Aurora tidak peduli, dia lebih memilih untuk mengalihkan padangan.
Mereka semua masuk ke dalam dan Raja meminta kepada para maid agar membuatkan jamuan istimewa untuk tamu kerajaan.
"Bagaimana, Paduka? Apakah kita bisa mulai mencari hari baik untuk melangsungkan pernikahan kedua anak kita?" tanya Ayah dari Pangeran Nathan.
"Ya, tentu. Aku sudah memanggil orang yang ahli dalam hal itu, mungkin sebentar lagi dia datang." Raja tak henti-hentinya tersenyum ramah.
Tak berselang lama, datanglah orang yang tadi Raja katakan. Dia seperti tabib kerajaan yang sangat di percaya, dirinya mulai duduk dan membuka sebuah buku besar.
"Bagaimana, Guru Zhask? Apakah kau sudah mendapatkan hari yang baik untuk pernikahan anak kami?" Raja segera mengangkat suara.
Guru mengangguk. "Dari perhitungan yang saya lihat, pernikahan bisa di langsung tiga bulan lagi."
__ADS_1
"Apa! Kenapa lama sekali? Apa bisa di percepat?" Pangeran seakan tidak sabar.
Aurora memutarkan bola matanya kesal, dia sangat tidak menyukai sikap Pangeran Nathan.
"Maaf, Pangeran. Itu sudah tanggal baik yang cepat sementara hari lainnya malah membutuhkan waktu lama, sekitar tahun depan."
Pangeran berdecak kesal, dia melirik Putri Aurora yang terlihat santai dan tidak mau menatap ke arahnya.
'Setelah kau menjadi milikku, maka akan ku pastikan kau tidak bisa pergi kemanapun, Putri Aurora.' Nathan menatap tajam ke arah sang putri dan itu tidak diketahui oleh siapapun.
Kedua pemilik kerajaan itu sudah menyepakati hari pernikahan putra-putri mereka yang akan di laksanakan tiga bulan lagi.
Sore harinya.
Putri Aurora berjalan ke taman, dia melihat kupu-kupu yang indah dan dirinya tersenyum sambil berlari kecil mengejar kupu-kupu itu. Gaunnya yang panjang nan indah terlihat menyapu tanah, kakinya yang jenjang membawa dia ke suatu tempat.
Putri Aurora berhenti, dia sudah kehilangan jejak kupu-kupu itu dan dirinya melihat ke sekeliling.
"Kemana kupu-kupu indah itu? Akh, aku sepertinya kehilangan jejak." gumam sang putri sambil ingin berbalik kembali menuju kerajaan.
Tetapi, ada sesuatu yang membuat putri mengurungkan niatnya. Dia melihat seorang pemuda tampan nan gagah sedang berdiri di bawah pohon dan menatap ke arahnya. Tanpa sengaja, tatapan mata mereka bersitubruk hingga membuat putri terpanah dengan tatapan itu. Putri ingin mendekat, dia sangat penasaran dengan sosok pemuda di dekatnya.
"Hei!" teriak sang Putri ketika melihat pemuda itu lari begitu saja ketika tahu dirinya mendekat.
"Ada apa dengannya?" Putri menjadi bingung.
Ya, pemuda itu adalah Yuan yang sengaja datang untuk memata-matai kerajaan. Dia turun tangan sebab dirinya ingin merencanakan sesuatu hal unik pertempuran. Namun, ketika dia sedang melihat ke arah kerajaan ternyata disana dia melihat seorang putri yang sangat cantik. Yuan terpesona hingga matanya tidak fokus ke tujuan, saat melihat sang putri ingin mendekat, Yuan bergegas lari sebelum keberadaannya di curigai.
Napasnya terdengar tidak beraturan, Yuan sudah berada jauh dari kerajaan itu. Dia memejamkan mata sejenak sambil menyadarkan tubuh di batang pohon.
"Huft, apa dia putri dari Raja Maximus?" gumam Yuan bertanya pada dirinya sendiri
Dia teringat dengan rencana dan anggotanya, Yuan segera kembali ke tempat peristirahatan dan akan membuat rencana bersama dengan para anggota.
•
•
•
__ADS_1
TBC