
Satu bulan kemudian.
Yuan berusaha untuk tetap adil kepada kedua permaisurinya, dia membelikan sesuatu untuk Ratu Aurora dan dirinya juga membelikan hal yang sama untuk Mini. Namun, sesuatu untuk Aurora lebih mewah dibandingkan Mini. Hal itu karena Yuan tidak ingin Aurora berpikiran negatif, sementara Mini selalu terima apa yang Yuan berikan padanya. Mini sadar jika dia hanyalah seorang selir di Istana itu.
Terlihat saat ini Yuan dan Aurora tengah duduk di halaman belakang.
"Aku harap kalian berdua bisa terus akur." permohonan dari Yuan.
"Aku akan berusaha." jawab Aurora sedikit datar.
"Aurora, terima kasih karena kamu sudah mengizinkan aku untuk menikahi Mini. Aku sudah menceritakan semuanya padamu bukan? Tetapi, jika lama-kelamaan aku mencintai Mini maka tidak akan menjadi masalah untukmu 'kan?"
Aurora menatap Yuan secara spontan, dia tercengang mendengar penuturan dari Yuan. Akan tetapi, Aurora tentu saja yakin jika Yuan pasti bisa saja jatuh cinta kepada Mini. Apalagi, Mini masih muda, cantik dan lemah lembut. Aurora hanya menunduk sedih.
"Aku akan tetap adil," ujar Yuan menangkup wajah Aurora.
"Sejujurnya aku tidak sanggup berbagai kasih seperti ini, Raja. Namun, aku bisa apa karena semua keputusan ada di tanganmu. Dulu, sewaktu Ibunda masih ada, dia juga merelakan jika Ayah ingin menikah lagi. Ya, aku sempat berpikir apakah semua keturunan kerajaan akan melakukan hal seperti itu?"
Yuan pun terdiam, dia menatap wajah Aurora yang sangat cantik dan semakin bersinar.
"Meskipun nanti aku mencinta Mini, aku janji tidak akan menyia-nyiakan dirimu." Yuan memeluk tubuh Aurora, dia sangat mencintai Aurora walaupun awalnya mereka menikah karena Aurora meminta bantuan agar Yuan memimpin kerajaannya.
Aurora membalas pelukan Yuan. Namun, pelukan itu hanya sebentar karena Aurora membekap mulutnya dan segera beranjak dari tempat duduk itu. Dia berlari ke menjauh dari Yuan lalu memuntahkan seluruh isi perutnya. Aurora merasa kepalanya pusing dan dia akhirnya terjatuh pingsan.
"Ratu!" teriak Yuan sambil menghentikan langkahnya.
Yuan berlari menghampiri Aurora yang tergeletak di atas rerumputan, dia membopong tubuh Aurora dan membawanya masuk ke dalam.
Sesampainya di dalam Istana, Mini terkejut ketika dia melihat Yuan membopong Ratu Aurora.
__ADS_1
"Raja!" panggil Mini berjalan cepat ke arah Yuan.
Yuan berhenti, dia menoleh sejenak kemudian berjalan kembali menuju kamar.
"Raja, apa yang terjadi?" tanya Mini mengikuti langkah Yuan dari belakang.
"Ratu, kau perintahkan pada prajurit untuk memanggil tabib. Ratu Aurora tiba-tiba pingsan dan aku sangat khawatir dengan keadaannya." Yuan melangkah lebih cepat dibandingkan Mini.
Mini menuruti perintah dari Yuan, dia kembali turun ke lantai bawah dan memanggil prajurit.
"Prajurit! Prajurit!" teriak Mini membuat dua orang prajurit datang menghampirinya.
Kedua prajurit itu menunduk ketika berada di dekat Mini.
"Raja meminta agar kalian segera memanggil tabib dan bawa ke Istana ini. Cepat! Ratu Aurora sedang membutuhkan pertolongan." Mini sengaja menakut-nakuti agar prajurit bisa cepat memanggil tabib kerajaan.
Mini menghela napas pelan dan berdoa semoga tidak terjadi sesuatu apa pun kepada Aurora. Menurutnya, Aurora sangat baik dan tidak pernah iri dengannya jika dia bersama dengan Yuan. Aurora menerima semua perlakuan Yuan kepada Mini, hal tersebut membuat Mini semakin tidak enak hati dan merasa jika Yuan sangat beruntung bisa mendapatkan perempuan seperti Aurora.
Beberapa menit kemudian.
Tabib kerajaan datang dan dia mulai menghadap kepada Yuan.
"Permisi, Paduka Raja. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Tabib kepada Yuan yang saat itu duduk di tepi ranjang sambil menggenggam jemari Aurora.
"Tabib, coba kau periksa keadaan permaisuriku. Dia tiba-tiba pingsan dan aku takut terjadi sesuatu dengannya. Lakukan yang terbaik untuknya."
"Baik, Paduka. Saya akan memeriksanya." tabib tersebut mulai memeriksa keadaan Aurora.
Setelah selesai memeriksa, tabib bernapas lega karena Ratu Aurora dalam keadaaan baik-baik saja.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa yang terjadi dengan Ratuku?" Yuan bertanya dengan tidak sabaran.
Sementara Mini, dia pun memasang raut wajah khawatir juga penasaran dengan apa yang terjadi dengan Ratu pertama kerajaan itu.
"Keadaan Yang Mulia baik-baik saja dan saya ingin mengucapkan selamat kepada Paduka." ujar sang tabib membuat dahi Yuan sukses mengerut.
"Selamat? Apa maksudmu?"
"Yang Mulia pingsan karena dia saat ini dalam fase kehamilan."
"Apa!" Yuan berteriak spontan, dia menajamkan pendengaran agar dapat mengerti dengan jelas apa yang tabib katakan.
"Benar, Paduka. Yang Mulia Ratu sedang mengandung dan usia kandungannya baru menginjak empat minggu. Mungkin selama ini Yang Mulia tidak menyadarinya."
Yuan mengembangkan senyum, dia bersyukur karena pada akhirnya Aurora bisa mengandung buah hatinya. Dia berjalan cepat ke arah ranjang, dirinya duduk di tepi dan mengecup dahi Aurora.
"Selamat, Ratu. Terima kasih karena kau telah membuat hidupku terasa lebih sempurna." Yuan tak henti-hentinya mencium dahi Aurora yang empunya masih terlelap.
"Apa ada yang bisa saya bantu lagi, Paduka?"
"Tidak! Pergilah, terima kasih atas bantuannya, tabib." ucap Yuan tanpa mengalihkan padangan dari Aurora.
Tabib keluar dari kamar itu, sementara Mini tersenyum bahagia akan tetapi hatinya juga merasa sakit karena dia sendiri belum bisa mengandung. Mini hanya bisa bersabar dan tidak boleh iri dengan sang Ratu pertama.
•
•
TBC
__ADS_1